💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 S. M. O
Di toko Breguet, proses serupa, tetapi kali ini tidak ada orang asing yang muncul. Hanya saja dia kembali dikejutkan lagi dengan harganya, tidak ratusan miliar seperti Graff Diamonds Hallucination. Cartier Love Bracelet yang sistem Sugar Daddy berikan padanya memiliki nilai 300 juta rupiah.
Lusi kini merasa tangannya agak berat, setelah Graff Diamonds Hallucination yang seperti ketiban bulan, sekarang Cartier Love Bracelet yang seperti ketiban nangka. Tangannya membawa beban yang setara dengan beberapa mansion mewah.
Setelah mengambil gelangnya dan menyelesaikan seluruh urusan di butik perhiasan, Lusi akhirnya kembali berjalan menyusuri area pusat perbelanjaan.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pergi ke tempat seramai ini.
Dulu, setiap kali berada di tengah keramaian, ia selalu merasa tidak nyaman. Tatapan orang lain, penampilannya, bentuk tubuhnya, bahkan pakaian yang dikenakannya selalu menjadi hal yang membuatnya tidak percaya diri.
Namun hari ini berbeda.
Entah karena uang di rekeningnya, atau karena hidupnya akhirnya mulai berubah, Lusi merasa jauh lebih santai. Ia berjalan sambil melihat-lihat etalase toko tanpa terlalu memedulikan pandangan orang lain.
Tidak lama kemudian langkahnya berhenti di depan sebuah butik pakaian mewah.
Logo besar Dior terpampang elegan di bagian depan toko.
Lusi sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya masuk.
Berbeda dengan cerita-cerita yang sering ia baca, tidak ada pegawai yang memandang rendah atau mengusirnya karena penampilannya.
Sebaliknya, para pegawai menyambutnya dengan sopan dan profesional.
Terlebih ketika salah satu pegawai tanpa sengaja melihat tas sederhana yang dibawa Lusi berasal dari Adibusana Jewelry.
Mungkin mereka tidak mengetahui isinya, tetapi mereka cukup paham bahwa seseorang yang baru keluar dari sana jelas bukan pelanggan biasa.
Seorang pegawai wanita dengan senyum ramah segera menghampirinya. "Selamat siang, Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Lusi mengangguk. "Saya ingin mencari dua atau tiga set pakaian olahraga wanita dan beberapa pakaian untuk dipakai sehari-hari di rumah."
"Baik, Nona. Silakan ikuti saya."
Pegawai itu dengan cekatan mulai memilih beberapa model yang sesuai. Ia tidak menunjukkan ekspresi aneh ketika melihat ukuran tubuh Lusi.
Sebaliknya, ia dengan profesional mencarikan ukuran yang cocok.
XXL.
Lusi memeriksa beberapa pakaian yang diperlihatkan kepadanya.
Bahan kainnya terasa nyaman, modelnya juga sederhana dan tidak terlalu mencolok. Awalnya ia sempat tergoda membeli banyak pakaian sekaligus.
Namun setelah berpikir sebentar, ia mengurungkan niatnya. Bagaimanapun juga, ia berencana menjalani program diet dan olahraga. Jika semuanya berjalan lancar, ukuran tubuhnya pasti akan berubah dalam beberapa bulan ke depan.
Membeli terlalu banyak pakaian sekarang hanya akan menjadi pemborosan.
Pada akhirnya, Lusi memilih dua set pakaian tidur, tiga set pakaian olahraga, satu buah jaket karena dia begitu menyukai nya dan tiga set pakaian santai untuk kegiatan sehari-hari.
Jumlahnya tidak banyak, namun seluruhnya berasal dari merek ternama dengan kualitas yang jauh lebih baik dibanding pakaian yang biasa ia kenakan.
Saat melihat total tagihan, Lusi sempat melirik angka tersebut. Belasan juta rupiah, jika itu terjadi beberapa hari lalu, mungkin jantungnya sudah berhenti berdetak.
Namun sekarang ia hanya menggesek kartu dengan tenang.
Setelah pembayaran selesai, Lusi membawa beberapa kantong belanja keluar dari toko.
Sudut bibirnya tidak bisa berhenti terangkat.
Berbelanja tanpa harus melihat label harga ternyata memang menyenangkan.
Karena sudah cukup lelah berjalan-jalan, Lusi segera memesan taksi untuk kembali ke hotel.
Perjalanan pulang berlangsung tenang.
Sekitar setengah jam kemudian ia sudah kembali berada di kamarnya.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mandi. Air hangat menghilangkan rasa lelah yang menumpuk sejak pagi.
Setelah selesai, ia langsung mengganti pakaiannya dengan salah satu pakaian baru yang baru saja dibelinya.
Kaos longgar berukuran besar dan celana elastis yang nyaman dipakai di dalam kamar.
Tidak mewah, tidak glamor. Namun jauh lebih nyaman dibanding pakaian lamanya.
Ketika melihat jam, Lusi baru menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia bahkan melewatkan makan siang, perutnya langsung berbunyi pelan sebagai bentuk protes.
Lusi segera membuka aplikasi pemesanan makanan.
Kali ini ia tidak memesan ayam goreng, mi instan, atau makanan cepat saji seperti biasanya. Setelah membaca beberapa rekomendasi, ia memilih beberapa menu yang terlihat lebih sehat.
Dada ayam panggang, salad sayuran, buah potong dan minuman tanpa gula. Setelah pesanan dikonfirmasi, Lusi meletakkan ponselnya di atas meja.
Namun hanya beberapa detik kemudian ia mengambilnya kembali. Tatapannya menjadi serius, diet saja tidak cukup. Kalau benar-benar ingin menurunkan berat badannya dalam waktu sesingkat mungkin, ia juga harus mulai berolahraga.
Maka sambil menunggu makanannya datang, Lusi membuka mesin pencarian dan mulai mencari pusat kebugaran terdekat dari hotel tempatnya menginap.
Beberapa nama segera muncul di layar. Matanya mulai membaca satu per satu fasilitas, biaya keanggotaan, hingga jaraknya dari hotel.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar mulai merencanakan hidup sehatnya dengan serius. Dan entah kenapa, perasaan itu terasa cukup menyenangkan.
Menjelang malam, tepat sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Lusi akhirnya meninggalkan hotel.
Ia mengenakan salah satu set pakaian olahraga yang baru dibelinya siang tadi. Kaos olahraga longgar berwarna gelap dipadukan dengan celana olahraga elastis yang nyaman untuk bergerak. Sebuah tas polos tergantung di bahunya, berisi botol minum, handuk kecil, dan beberapa barang pribadi.
Sebenarnya ia bisa saja memesan taksi. Namun setelah berpikir sejenak, Lusi memutuskan untuk berjalan kaki. Anggap saja sebagai olahraga pertama dalam program hidup sehatnya.
Dua puluh lima menit kemudian, Lusi berdiri di depan sebuah pusat kebugaran yang cukup besar dan modern. Bangunannya terdiri dari beberapa lantai dengan dinding kaca tinggi yang memperlihatkan berbagai alat olahraga di dalamnya.
Banyak orang keluar masuk, ada yang bertubuh atletis, ada pula yang terlihat seperti pekerja kantoran biasa. Melihat itu, rasa gugup di hati Lusi sedikit berkurang.
Setidaknya tempat ini tidak hanya berisi para model dan atlet profesional. Setelah menarik napas pelan, ia masuk ke dalam.
Ruangan resepsionis terlihat bersih dan terang. Tidak jauh dari pintu masuk, seorang wanita muda dengan tubuh proporsional dan senyum profesional segera menyambutnya.
"Selamat malam, Kak. Selamat datang. Apakah ini kunjungan pertama Kakak ke sini?"
Lusi mengangguk. "Iya."
"Apakah Kakak ingin menggunakan gym harian atau mendaftar sebagai member?"
Lusi berpikir sebentar. Kalau hanya mencoba satu atau dua hari mungkin ia akan malas datang lagi. Namun jika sudah membayar keanggotaan, setidaknya ada dorongan untuk terus berlatih.
"Aku ingin menjadi member."
Senyum resepsionis itu semakin ramah. "Baik, Kak. Kami memiliki beberapa pilihan keanggotaan."
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/