Hani tidak menyangka dia akan menikah di saat karirnya sedang bagus-bagusnya dengan Alex — seorang CEO yang tanpa sengaja dia temui di Paris.
Pertemuan mereka awalnya tidak bermakna, tetapi anehnya Alex melamarnya begitu sampai di Indonesia.
Awalnya Hani menolak tetapi karena umurnya sudah menginjak 27 tahun, kedua orangtuanya menyetujui lamaran Alex Dan dimulailah kehidupan pernikahan yang penuh keanehan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissTheolland_Reihan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH | 32
Begitu sampai di restoran di sekitar rumah sakit, Hani, Aldo, dan Chelsa terus berdiam diri hingga pesanan mereka tiba. Hani dan Aldo hanya memesan kopi, sedangkan Chelsa memesan steak. Hani dan Aldo kehilangan selera makan karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Chelsa namun Chelsa malah terlihat santai dan tenang, seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal kenyataannya pasti ada apa-apa dibalik kedatangannya yang beralaskan dia baru check-up dan Hani sebenarnya tidak sepenuhnya percaya karena menganggap itu hanya alasan untuk menutupi kedoknya dan jikapun benar dia check-up kemudian tidak sengaja menemukannya Hani merasa tidak begitu penting apa yang dilakukan perempuan itu. Dia hanya ingin tahu apa alasannya di sini dan apa yang ingin dibicarakannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Chelsa?" tanya Hani akhirnya karena Chelsa seolah mengulur waktu dengan berlama-lama.
"Tenang, kita nikmati makanan dan minuman kita dulu," jawabnya tenang.
Aldo menatap dua perempuan itu bergantian dan menyadari jika Hani sangat tidak nyaman sekarang, "Tapi kami harus kembali bekerja. Jam makan siang kami hampir habis," ucapnya berusaha membebaskan dirinya dan Hani dari perempuan itu.
"Oh, benarkah?" Chelsa melihat jam tangan mahalnys dengan gerakan anggun, "baiklah kalau begitu. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan kalian."
Chelsa menatap Hani intens, "Aku dengar kau akan menikah dengan Alex dalam kurun waktu sekitar sebulan lagi, bukan?"
Hani benci dengan dengan pertanyaan Chelsa. Kenapa perempuan itu harus menanyakan hal yang sudah dia tahu jawabannya. Padahal saat ia dan Alex berdiskusi tentang rencana pernikahan mereka dengan ayah Alex, Chelsa juga ada di sana sebagai saksinya. Namun entah apa motif perempuan itu menanyakannya lagi.
"Ya, kau betul," jawab Hani singkat, namun masih terdengar sopan.
Chelsa mengangguk seolah baru pertama kali mendengar hal itu, "Bagaimana persiapannya? Apa semuanya sudah terencana dengan baik?" tanyanya lagi.
Sungguh Hani mulai merasa ada yang aneh. Kenapa Chelsa begitu penasaran dengan pernikahan mereka. Apakah perempuan itu berniat merusak pernikahan mereka atau bagaimana, sungguh Hani tidak tahu.
"Sebenarnya beberapa sudah diurus seperti gaun dan setelan yang akan aku dan Alex pakaikan. Tentang tempat dan siapa yang akan diundang, itu urusan orangtuaku dan orangtua Alex," jawabnya lagi seadanya.
"Baguslah jika berjalan dengan baik," kata Chelsa lalu meminum wine-nya, "lalu kemana kalian akan berbulan madu?" tanya lagi.
Hani terdiam sesaat karena dia dan Alex memang pernah membahas tentang hal ini, namun mereka belum tahu tujuan yang pasti. "Mungkin ke Maldives atau bisa jadi di Paris, tempat kami pertama kali bertemu."
"Aku rasa lebih baik kalian ke Maldives saja. Sepi dan nyaman, jadi kalian bisa menikmati honeymoon kalian tanpa gangguan," ucap Chelsa memberi saran.
Ingin sekali Hani berteriak pada Chelsa, Apa urusanmu?! tapi dia memilih menahan diri karena itu hanya akan memancing masalah nantinya.
"Chelsa, jujur, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan? Tidak usah berbasa-basi," tukas Hani tegas.
Chelsa mengangguk kecil, "Alasanku menemuimu hanya satu," dia jeda sesaat, "aku hanya ingin mengatakan, bermimpilah sepuasmu tentang pernikahan dan rencana honeymoon gila itu dengan Alex karena itu hanya akan jadi mimpi, sebab kau tidak akan menikah dengan Alex, aku jamin itu," ucapnya dengan tatapan dingin. Dia segera bangkit dari duduknya, "Aku yang bayar semuanya, permisi," pamitnya lalu pergi.
Aldo hendak ikut bangkit untuk menemui Chelsa atas perkataan perempuan itu, namun Hani menahannya.
"Tidak apa-apa, Aldo. Sungguh, aku tidak apa-apa," ucap Hani lemah dengan mata berkaca-kaca.
"Sungguh, aku tidak apa-apa," ulangnya lagi.
***
lanjut...
selamatkan alex... jangan biarkan bersama ulat bulu... kasian hani