Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Sefia malam ini tidak dapat menutup matanya, karena meskipun lelah, suaminya tak kunjung pulang. Ia menunggu dengan gelisah dan juga sudah berulang kali mencoba menghubungi suaminya tetapi ponselnya tidak aktif.
"Ya Tuhan, mas Angga kemana sih? Gak biasanya dia pergi terus sampek sekarang belum juga pulang begini."
Sefia semakin cemas ketika melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
"Apa aku coba hubungi mama aja, ya?!"
Ia pun bergegas menghubungi mama Lidia, mertuanya. Tapi tak kunjung mendapat jawaban karena mereka memang sengaja mengabaikan Sefia jika rencananya berhasil.
Sefia pun semakin bingung dan cemas, ia mondar-mandir di depan pintu rumah seorang diri, hanya mengandalkan selimut tipis untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai kedinginan.
Karena telah lama Sefia menunggu suaminya pulang tapi tak kunjung datang, ia memutuskan untuk menunggu suaminya didalam dan berakhir meringkuk diatas sofa ruang tamu mereka.
****
Ketika sinar matahari menembus mata yang terlelap, Angga pun mengerjapkan matanya, berat untuk terbuka. Tapi ia harus segera membuka kedua bola matanya yang silau akibat terpaan sinar matahari pagi.
Betapa terkejutnya ia, saat membuka mata dan langsung tertuju pada sosok wajah perempuan lain yang tengah berada didada telanjangnya.
"Lia." Angga tersentak kaget ketika mendapati dirinya sudah tak mengenakan sehelai benangpun, apalagi perempuan yang ia kenal sedang berada dibawah selimut yang sama dengannya.
"Mas, kamu udah bangun." sapa Lia dengan suara seraknya, khas orang bangun tidur.
"Lia! Jelaskan semuanya apa yang terjadi, hah?" desak Angga, melotot tak percaya.
"Loh, mas inget? mas sendiri yang maksa aku tadi malam buat layanin mas."
"Kamu bohong! Aku tahu kamu udah jebak aku semalam, kamu licik, Lia!"
Angga pun menggulingkan diri, beranjak berdiri dan bergegas mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai bersamaan dengan pakaian milik Lia.
"Mas, dengerin aku! Jangan Pergi! Aku sayang sama mas." ucap Lia beranjak berdiri, langsung memeluk tubuh Angga dari belakang.
Segera Angga melepaskan kedua tangan Lia yang melingkar dipinggangnya dengan kasar. "Lepas! Anggap saja kejadian ini gak pernah terjadi." ucap Angga kejam, kemudian berlalu pergi meninggalkan Lia sendiri.
Sungguh, Lia sakit hati mendengar penolakan bahkan penghinaan yang terlontar dari mulut Angga padanya.
"Awas kamu mas! Aku gak akan tinggal diam, aku bakalan milikin kamu, bagaimanapun caranya."
****
Angga segera pulang kerumah, sesampainya dirumah ia langsung disuguhkan pemandangan istrinya yang sedang tidur meringkuk diatas sofa.
"Dek, maafin aku." gumam Angga menghapus air matanya yang mulai mengalir begitu saja.
Sungguh ia merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya, bisa-bisanya dia tidur dengan perempuan lain sedangkan istrinya tengah menunggunya untuk pulang, dan menderita.
"Mas, kamu udah pulang?" sapa Sefia serak, matanya masih berat untuk terbuka.
Segera Angga memalingkan wajahnya, mengusap segera bekas air mata yang masih membasahi pipinya.
"Iya, kamu kenapa tidur disini?" tanya Angga duduk disebelah istrinya sembari menepuk-nepuk pelan kepalanya.
"Nungguin kamu-lah mas, kamu kemana aja sih semalaman gak pulang?"
"Maaf ya? Mas nginep dirumah temen." jawabnya berbohong.
"Temen? Bukannya kamu pamitan kerumah mama Lidia?" Sefia mengerut kening, bingung.
"Iya, tadi malam udah pulang dari rumah mama terus tiba-tiba dijalan mobil mas mogok. Untung ada temen yang bantuin mas."
"Oh gitu, syukurlah! Yang penting mas gak kenapa-napa."
"Maaf ya?"
"Udah gak apa-apa, Sefi pergi mandi buat siap-siap ke kantor dulu ya mas." Sefia pun beranjak dari duduknya.
"Ah iya Dek."
Buru-buru Sefia masuk kedalam kamar mandi, lalu mengunci pintu. Tapi ia terisak disana.
Sefia tahu bahwa suaminya tengah berbohong, ada bekas kecupan dilehernya yang tak ia sadari, dan Sefia sangat tahu hal itu.
"Tuhan, aku harus bagaimana?" gumam Sefia terisak.
****
"Selamat pagi, pak?" sapa Sefia pada atasannya.
"Pagi." sahutnya tersenyum seperti biasa. "Oh ya, batalkan semua jadwal meeting hari ini karena aku akan pergi."
"Ah, baiklah."
"Kamu gak mau nanyak aku mau kemana?" Dedi menatap Sefia.
"Emang harus, ya?" Sefia bingung, Dedi pun terkekeh. "Memangnya bapak mau kemana?"
"Mau nganterin calon tunangan beli cincin pasangan."
"Oh." tanggap Sefia seakan tak peduli, tapi tangannya gemetar.
"Ya sudah, yang penting aku sudah memberitahumu." ucap Dedi kemudian berbalik, masuk keruangannya.
"Maksudnya ngomong seperti itu, apa sih?" gumam Sefia tak mengerti.
Tak lama setelahnya, Sherly datang dan tanpa menunggu persetujuan dari Sefia, ia masuk begitu saja.
"Sayang, jadi kan kita keluar sekarang?" tanya Sherly pada Dedi yang sedang duduk dikursi kerajaannya.
"Hm." sahutnya Dedi, kemudian langsung beranjak dan melangkah pergi. Ia berbalik. "Ngapain bengong, ayo keluar!"
Sherly mengerucutkan bibirnya, berlari kecil untuk mengejar Dedi dan mensejajarkan langkahnya. "Tungguin dong." pintanya, memeluk lengan Dedi.
Saat mereka berdua keluar ruangan, otomatis langsung terlihat oleh Sefia dan Dedi sedikit mengubah sikapnya.
"Ikut saya keluar!" pinta Dedi pada sekertarisnya.
"Baik pak." sahut Sefia menunduk, dan berjalan mengikuti mereka berdua.
****
Sefia duduk tegang penuh canggung didepan, sesekali melirik kaca spion untuk melihat Dedi yang tengah bermesraan dengan Sherly.
Dedipun demikian, ia melirik Sefia yang sesekali menahan nafasnya didepan, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Ketika Dedi sengaja memeluk tubuh calon tunangannya, dan Sherly mulai mendekatkan wajahnya untuk berciuman. Sefia yang melirik langsung terkesiap dan memejamkan matanya.
"Kenapa, Non?" tanya Supir pada Sefia yang seakan melihat penampakan.
"Ah, enggak! Gak apa-apa, pak." sahutnya, lebih fokus memandang ke depan.
Sedangkan Dedi menahan tawa, tahu bahwa Sefia telah salah melihatnya.
"Sayang." Sherly mengerucutkan bibirnya ketika ciuman itu tidak mendarat sempurna karena Dedi menghindarinya.
Dedi memilih tak menanggapi Sherly, memalingkan wajahnya. Bersindakap dan melihat keluar jendela.
Sesampainya di toko perhiasan, Sefia memilih menunggu mereka didepan toko.
Sedangkan Dedi dan Sherly masuk kedalam toko perhiasan.
Sherly lebih antusias memilih cincin pasangan untuk pertunangannya.
"Yang ini bagus, gak?" tanya Sherly manja.
"Ya." jawab Dedi sengenanya.
"Kalau yang ini aja, gimana?" tanya Sherly lagi karena bingung pada pilihannya.
"Terserah kamu aja, yang mau tunangan juga kamu kok." sahut Dedi acuh.
"Ih, kok gitu sih, sayang." Sherly mengerucutkan bibirnya, melembutkan suaranya. "Yaudah kita pilih yang ini aja, ya?" menunjukkan sebuah cincin yang terdapat berlian didalamnya.
Dedi tak menjawab, tapi ia malah melirik cincin putih sederhana juga terdapat berlian dan tak kalah mewahnya.
"Sayang, aku sekalian beli perhiasan yang lainnya, ya?" pamit Sherly yang dianggukkan oleh Dedi.
Saat Sherly sibuk memilih perhiasan untuknya, Dedi menggunakan kesempatan itu untuk membeli cincin yang tadi diliriknya kemudian langsung keluar menemui Sefia.
"Fia." sapa Dedi seraya memanggil.
Sefia menoleh. "Ah, iya pak. Anda sudah selesai memilih cincinnya?" tanya Sefia.
Dedi mengangguk. "Sudah, ku harap kamu suka."
Sefia kaget. "Saya?" menunjuk dirinya sendiri.
Dedi tersenyum, lalu menggapai jemari Sefia dan tanpa menunggu persetujuan. Langsung menyematkan benda melingkar itu dijari manis Sefia.
"Maaf, aku gak..." Ketika Sefia ingin melepas cincin tersebut, Sherly sudah keluar mengagetkannya.
"Sayang, kok aku ditinggal sih?" ucap Sherly merengek sambil memeluk lengan Dedi.
"Ah, iya maaf." sahut Dedi malas.
Sherly kemudian melirik cincin dijemari Sefia. "Suamimu seleranya tinggi juga." pujinya.
"Ah, iya terimakasih Nyonya." ucap Sefia menunduk malu, kemudian menutup cincinnya dengan jemari yang lain.
Dedi hanya tersenyum tentang itu.
****
Dedi : Aku belum melupakanmu walaupun itu harus, Fi.
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..