Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perjalanan ke Desa & Penyesalan yang Terlambat
Deru mesin helikopter pribadi milik David Group memecah keheningan langit pagi, bergerak membelah awan menuju sebuah desa terpencil di kaki gunung. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa begitu sunyi dan dingin.
Mireya duduk bersandar di kursi kulit VIP dengan pandangan kosong menatap keluar jendela. Kesadarannya sudah kembali sejak sepuluh menit yang lalu, namun jiwanya seolah tertinggal di mansion. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak kelabu di pipinya yang sepucat kertas. Ia menolak memakai jaket tebal yang disediakan, membiarkan tubuhnya kaku kedinginan.
Calix duduk di hadapannya. Pria itu terus memperhatikan Mireya tanpa berkedip. Ada perasaan tidak nyaman yang terus menggerogoti dadanya—rasa bersalah yang teramat asing bagi seorang pemegang takhta David Group.
"Minum ini," ucap Calix rendah, menyodorkan segelas air hangat ke depan Mireya. "Kamu belum mengisi perutmu sejak pagi. Fisikmu bisa kolaps."
Mireya tidak bergerak. Ia bahkan tidak melirik gelas yang disodorkan Calix. "Jangan berpura-pura peduli, Tuan Calix. Simpan saja air itu untuk dirimu sendiri."
Calix menghela napas berat, meletakkan kembali gelas itu di meja kecil dengan ketukan halus. "Aku tidak sedang berpura-pura. Aku hanya memastikan asetku—rahimmu—tidak rusak karena kamu menolak makan."
Mireya menoleh lambat, menatap Calix dengan senyum getir yang menyakitkan. Mata bulatnya yang biasa memancarkan kepolosan, kini hanya menyiratkan kebencian yang mendalam. "Aset? Ah, ya. Aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa aku hanya barang sewaan di matamu. Tapi tenang saja, setelah aku menguburkan Nenek, aku akan kembali ke mansion nerakamu dan membiarkanmu melakukan apa pun pada tubuh ini sampai aku hamil."
"Mireya, jaga bicaramu," geram Calix, rahangnya mengeras. Kata-kata Mireya entah mengapa terasa seperti tamparan keras yang memicu amarah sekaligus rasa sesak di dadanya. "Aku tidak memintamu membenciku sampai seperti ini."
"Lalu aku harus apa? Berterima kasih karena kamu sudah mengurungku hingga aku tidak bisa melihat Nenek untuk terakhir kalinya?" suara Mireya naik satu oktav, bergetar menahan ledakan emosi. "Nenek adalah satu-satunya orang yang tulus menyayangiku, Calix! Dia tidak melihatku sebagai tumpukan uang seperti orangtuaku, dan dia tidak melihatku sebagai mesin pencetak anak sepertimu! Dan sekarang... dia pergi karena merindukanku!"
Calix terbungkam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang pebisnis ulung yang biasa memenangkan negosiasi miliaran rupiah kehilangan kata-kata di depan seorang gadis desa.
Helikopter perlahan mulai menurunkan ketinggian, mendarat di sebuah lapangan bola luas di batas desa. Begitu pintu kabin terbuka, suara angin gunung langsung menerpa wajah Mireya. Tanpa menunggu bantuan dari pelayan atau pengawal, Mireya langsung melompat turun, setengah berlari menyusuri jalan setapak berbatu menuju rumah kayu milik Neneknya.
Calix melangkah turun mengekor di belakang bersama Doni dan beberapa pengawal. Kehadiran pria berjas mewah di desa terpencil itu langsung menarik perhatian warga yang sedang berkerumun di sekitar rumah duka.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah kayu yang sederhana itu, tangis Mireya kembali pecah. Di tengah ruangan, terbujur kaku sesosok tubuh yang ditutupi oleh kain jarik batik.
"Nenek... Nenek... Reya pulang, Nek..." Mireya jatuh berlutut di samping jenazah, memeluk tubuh kaku itu dengan histeris. Isak tangisnya begitu memilukan, membuat beberapa ibu-ibu tetangga yang hadir ikut menyeka air mata mereka. "Maafkan Reya, Nek... Reya anak bodoh, Reya telat... Maafkan Reya..."
Pak RT yang berdiri di dekat sana melangkah mendekat, menepuk pelan bahu Mireya. "Reya... yang tabah, Nak. Nenekmu pergi dengan tenang subuh tadi. Sebelum napas terakhirnya, beliau hanya menitipkan selendang tua ini untukmu. Beliau bilang, kamu harus tetap jadi gadis yang kuat di kota orang."
Mireya menerima selendang lusuh berwarna hijau pudar itu, mendekapnya erat ke dadanya seolah sedang memeluk kehangatan Neneknya untuk terakhir kali.
Tiba-tiba, suasana di dalam rumah duka menjadi hening dan canggung saat Calix melangkah masuk melewati pintu kayu yang rendah. Tubuh tegapnya yang dibalut setelan mahal tampak sangat kontras dengan kesederhanaan rumah tersebut. Warga desa mulai berbisik-bisik, mengenali wajah Calix yang pernah datang bersama Ardan dua minggu lalu untuk membawa Mireya.
Calix tidak memedulikan tatapan orang-orang. Langkah kakinya mendekati Mireya yang masih bersimpuh di lantai tanah. Pria itu menunduk, menatap wajah kaku sang Nenek yang tampak damai.
"Pak RT," panggil Calix dengan suara rendah namun tegas. "Selesaikan seluruh proses pemakaman dengan fasilitas terbaik. Berapa pun biayanya, hubungi asistenku, Doni."
Mireya mendongak, menatap Calix dengan tatapan tajam. "Jangan sentuh pemakaman Nenekku dengan uang harammu, Calix! Nenekku tidak butuh kemewahan dari hasil menyewakan rahim cucunya!"
"Mireya, hentikan kekonyolanmu!" Calix membungkuk, mencengkeram lengan Mireya agar gadis itu berdiri. "Aku hanya mencoba membantu agar prosesnya cepat selesai!"
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Mireya menepis tangan Calix dengan kasar, berdiri dengan kaki yang gemetar namun punggung yang tegak. "Uangmu memang bisa membeli orangtuaku dan tubuhku, Calix David. Tapi uangmu tidak akan pernah bisa membeli sepotong pun kehormatan di rumah ini! Pergilah dari sini! Tempat ini terlalu kotor untuk pria suci dan kaya sepertimu!"
Warga desa yang mendengar perdebatan itu mulai saling pandang, rahasia kelam tentang 'pernikahan mahal' Mireya perlahan mulai tercium oleh lingkungan sekitar.
Calix menatap Mireya dengan kilatan amarah yang bercampur dengan rasa sakit yang aneh di dadanya. Mengapa melihat gadis ini menolak bantuannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan proyek besar di kantornya? Pria itu mengepalkan tangannya di balik saku celana.
"Baik. Aku akan menunggumu di luar," ucap Calix dingin, berbalik dan melangkah keluar dari rumah kayu tersebut untuk meredakan gemuruh di dadanya yang kian tak menentu.
Di bawah pohon beringin dekat lapangan, Calix berdiri bersedekap dada, memandang ke arah rumah duka dari kejauhan. Penyesalan yang terlambat perlahan mulai merayap di benaknya. Jika saja semalam ia tidak membiarkan egonya menguasai akal sehat, jika saja ia membiarkan Mireya pulang lebih awal... mungkin gadis itu tidak akan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian yang menghancurkan seperti tadi.
Doni melangkah mendekat, membungkuk hormat. "Tuan Besar... ada telepon penting dari Tuan Besar William di kota. Kakek Anda meminta Anda segera kembali karena Bibi Saras mulai mempermasalahkan kepergian mendadak Anda ke desa ini."
Calix memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas berat yang terasa sesak. "Katakan pada Kakek... aku tidak akan kembali ke kota sebelum pemakaman Nenek dari istriku selesai."
semangat terus ya Thor...