Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Proyek Eclipse
Hyren.
Nama itu terpampang jelas di layar.
Foto lama.
Usianya mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun.
Rambut sedikit lebih panjang.
Wajah jauh lebih kurus.
Tatapan kosong.
Dan di bawah foto itu tertulis satu kalimat yang membuat suasana langsung membeku.
SUBJECT E-01 STATUS: AKTIF
Deg.
Tak ada yang bicara.
Tak ada yang bergerak.
Bahkan suara pendingin ruangan terdengar terlalu keras sekarang.
“Itu nggak mungkin.”
Suara Zavian terdengar datar.
Terlalu datar.
Dan Nayra tahu itu bukan pertanda baik.
“Aku juga berharap begitu.”
Arsen menelan ludah.
Matanya masih menatap layar.
“Sayangnya file ini asli.”
Dokter Han perlahan duduk.
Wajahnya terlihat pucat.
Lebih pucat dari sebelumnya.
“Sudah bertahun-tahun…”
gumamnya.
“Aku kira semua data Eclipse dihancurkan.”
“Jadi apa sebenarnya Eclipse?”
tanya Reina.
Sunyi.
Lalu Dokter Han menghela napas panjang.
Seolah sedang memutuskan apakah mereka pantas mengetahui kebenarannya.
“Project Lazarus diciptakan untuk menyempurnakan manusia.”
Tatapannya turun.
“Tapi sebelum Lazarus…”
Ia mengetuk layar perlahan.
“…ada Eclipse.”
Deg.
“Dan?”
tanya Nayra.
“Eclipse tidak mencoba menyempurnakan manusia.”
Suara Dokter Han berubah lebih pelan.
Lebih berat.
“Mereka mencoba menciptakan senjata.”
Ruangan langsung sunyi.
Nayra merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Karena cara pria itu mengucapkan kata "senjata" terdengar berbeda.
Lebih menyeramkan.
“Senjata macam apa?”
tanya Arsen.
Dokter Han menatap foto Hyren beberapa detik.
Lalu menjawab—
“Senjata hidup.”
Deg.
Tak ada yang bercanda sekarang.
Tak ada yang menyela.
Karena semuanya bisa merasakan sesuatu yang buruk sedang muncul dari masa lalu.
“Mereka mengambil anak-anak.”
lanjut Dokter Han.
“Anak-anak yang dianggap punya potensi tertentu.”
Tatapannya mulai kosong.
Seolah sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.
“Kemudian mereka melatih mereka.”
“Melatih?”
ulang Nayra.
“Melatih untuk bertarung.”
Deg.
“Membunuh.”
Sunyi.
“Mereka ingin menciptakan manusia yang bisa menjalankan perintah tanpa ragu.”
Tatapan Dokter Han kembali ke layar.
“Tanpa emosi.”
“Tanpa rasa takut.”
“Tanpa belas kasihan.”
Nayra langsung menoleh ke foto Hyren.
Dan mendadak—
banyak hal mulai masuk akal.
Cara Hyren selalu terlihat dingin.
Cara ia menyembunyikan emosinya.
Cara ia bisa melakukan hal-hal mengerikan tanpa menunjukkan apa pun.
Bukan karena ia lahir seperti itu.
Ia dibentuk seperti itu.
Deg.
“Kalian gagal.”
gumam Reina.
Dokter Han tertawa pahit.
“Ya.”
“Karena Hyren masih punya hati.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
sedikit senyum muncul di wajah pria tua itu.
“Justru itu masalahnya.”
katanya.
“Hah?”
“Dia satu-satunya yang gagal menjadi monster.”
Deg.
Nayra langsung merasakan dadanya sesak.
Karena kalimat itu terdengar menyedihkan sekali.
Satu-satunya yang gagal menjadi monster.
Padahal itu justru hal terbaik yang pernah terjadi.
“Makanya dia selamat.”
lanjut Dokter Han.
“Yang lain mati.”
Hening.
“Mereka terlalu rusak.”
Tatapannya turun.
“Terlalu banyak tekanan.”
“Terlalu banyak eksperimen.”
“Jadi cuma Hyren?”
tanya Arsen.
Dokter Han mengangguk.
“Subject E-01.”
Tatapannya kosong.
“Anak yang menolak hancur.”
Deg.
Tak ada yang menyadari.
Namun tangan Zavian perlahan mengepal.
Sangat erat.
Karena untuk pertama kalinya—
ia mulai melihat kakaknya dari sudut pandang berbeda.
Bukan sebagai seseorang yang membuat kesalahan.
Tapi sebagai korban.
Korban yang terlalu lama menanggung semuanya sendiri.
“Ada lagi.”
kata Arsen mendadak.
Semua menoleh.
Cowok itu membuka halaman berikutnya.
Dan ekspresinya langsung berubah aneh.
“Aku nggak suka ini.”
“Apa?”
tanya Nayra.
Arsen memutar layar.
Sebuah diagram muncul.
Kompleks.
Penuh data.
Dan di tengahnya—
ada dua nama.
SUBJECT E-01 SUBJECT L-07
Hyren.
Dan Nayra.
Deg.
“Apa hubungan mereka?”
bisik Reina.
Dokter Han langsung membeku.
Lalu perlahan—
wajahnya berubah pucat.
“Tidak…”
gumamnya.
“Apa?”
tanya Nayra.
Pria itu menatap layar seperti baru melihat hantu.
“Tidak mungkin mereka lanjutkan itu.”
“LANJUTKAN APA?”
Arsen mulai kesal.
Dokter Han menarik napas panjang.
Sangat panjang.
Lalu akhirnya berkata—
“Sinkronisasi.”
Sunyi.
“Bahasa manusia normalnya?”
tanya Arsen.
“Project Lazarus mencoba menciptakan wadah.”
Deg.
“Dan Eclipse mencoba menciptakan inti.”
Nayra langsung tidak suka arah pembicaraan ini.
Sama sekali tidak suka.
“Maksudnya?”
Dokter Han menunjuk dua nama di layar.
“Menurut teori mereka…”
Tatapannya turun.
“…kalau Subject E-01 dan Subject L-07 digabungkan…”
Ruangan terasa membeku.
“Mereka bisa menciptakan manusia sempurna.”
Deg.
Tak ada yang bicara selama beberapa detik.
Lalu—
“Astaga.”
gumam Nayra.
Karena itu terdengar sangat gila.
Bahkan untuk standar Lazarus.
“Mereka mau gabungin manusia?”
tanya Arsen.
“Bukan secara fisik.”
jawab Dokter Han cepat.
“Secara neurologis.”
“Oke itu tetap gila.”
“Sangat.”
Reina menyilangkan tangan.
Tatapannya tajam.
“Jadi alasan mereka menculik Hyren…”
Dokter Han mengangguk pelan.
“Mungkin bukan cuma karena dia mantan anggota Lazarus.”
Deg.
“Mereka masih membutuhkannya.”
Dan itu jauh lebih buruk.
Karena artinya—
Hyren bukan sandera.
Ia bagian dari rencana.
Tiba-tiba ponsel Arsen berbunyi.
Semua langsung menoleh.
Cowok itu melihat layar.
Lalu ekspresinya berubah.
“Aku nggak kenal nomor ini.”
“Jangan diangkat.”
kata Reina.
Namun sebelum sempat ditolak
panggilan berubah menjadi video otomatis.
Layar menyala.
Dan jantung Nayra langsung berhenti sesaat.
Hyren muncul lagi.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak duduk di kursi.
Tidak terikat.
Ia berdiri.
Dan di belakangnya—
ada ruangan besar.
Gelap.
Penuh mesin tua.
Pria bertudung hitam berdiri di sampingnya.
Tersenyum seperti biasa.
“Selamat malam.”
katanya santai.
“Aku harap kalian suka reuni kecil kita.”
“Kalau kamu sentuh dia—”
Zavian langsung berdiri.
Pria itu tertawa.
“Aku belum selesai.”
Tatapannya pindah ke Nayra.
“Karena aku punya kabar baik.”
Deg.
“Apa?”
tanya Nayra dingin.
Senyumnya melebar.
“Kami menemukan bagian terakhir.”
Dada Nayra langsung terasa kosong.
“Dan berkat itu…”
Pria itu melangkah ke samping.
Memperlihatkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di belakangnya.
Sebuah kapsul kaca raksasa.
Retak.
Tua.
Namun masih aktif.
Dan di dalamnya—
ada seseorang.
Seorang perempuan.
Rambut panjang.
Wajah pucat.
Mata tertutup.
Seolah sedang tidur.
Deg.
Deg.
Deg.
Nayra tidak bisa bernapas.
Karena wajah perempuan itu—
sangat mirip dengannya.
Sangat mirip.
Seolah melihat dirinya sendiri dari masa depan.
“Apa…”
Suara Nayra pecah.
Pria bertudung itu tersenyum puas.
“Akhirnya.”
Tatapannya penuh kemenangan.
“Kamu bertemu prototipe pertama.”
Sunyi.
Lalu perlahan—
mata perempuan di dalam kapsul itu terbuka.
Dan tepat sebelum layar mati—
bibirnya bergerak pelan.
Membentuk satu nama.
"Nayra."