Revan Sernando. Salah satu anak beruntung yang memiliki keluarga harmonis. Namun sayang dia juga adalah salah satu orang yang tidak pernah merasakan sebuah pertemanan.
Hidupnya selama ini terasa begitu monoton.Hingga suatu ketika Revan mengalami kecelakaan yang membuat jiwanya bertransmigrasi ke dalam raga seorang pemuda dingin yang kehidupannya berbanding terbalik dengannya. Reval Gishara.
"Nama depannya mirip sama nama gue, TAPI KENAPA NAMA BELAKANGNYA KAYAK NAMA CEWEK!!?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OrdinaryGirl_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Setelah berkumpul dengan teman-temannya tadi, Revan langsung pulang guna mencari sempel yang akan ia gunakan untuk tes DNA. Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar Adel, karena Adel sedang keluar kata Sean.
"Nyari apaan ya gue?" gumam Revan bertanya pada dirinya sendiri. Kira-kira apa yang bisa ia jadikan sempel.
"Oh iya rambut" gumamnya lagi kemudian melangkahkan kakinya menuju meja rias. Di sana Revan membuka laci dan tempat-tempat penyimpanan alat rias milik Adel untuk menemukan sisir yang kemungkinan meninggalkan helaian rambut.
Dan beruntung Revan segera menemukan sisir berwarna coklat itu dengan sehelai rambut yang tampak di sana. Revan segera mengambil helaian rambut itu dan ia masukkan ke dalam plastik yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Nah sekarang udah dapet nih" gumam pemuda itu setelah mengembalikan sisir Adel ke tempatnya.
"Ambil sampel dari Reva nggak ya?" tanya Reval pada dirinya sendiri.
"Iya aja lah, dia kan kembar sama Reval, mungkin bisa lebih keliatan kan hasilnya" Revan yang bertanya dan Revan juga yang menjawab.
Tanpa menunggu waktu lama lagi ia melangkahkan kakinya menuju kamar Reva. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia tau Reva ada di dalam.
"Ngapain?" tanya Reva yang tengah duduk di kasur seraya membaca sebuah novel.
"Pinjem...pulpen" ucap Revan sedikit ragu. Ia juga bingung menggunakan alasan apa. Dan kebetulan sekali matanya melirik sebuah bolpoin diletakkan di dekat sisir, bukankan sebuah kebetulan yang menguntungkannya?
"Yaudah tuh" ucap Reva seraya menunjuk bolpoin yang tadi dilirik Revan.
Setelah itu Reva kembali fokus pada novel di tangannya. Segera Revan menuju meja rias Reva dan mengambil helaian rambut Reva yang tertinggal di sisir. Posisinya sekarang membelakangi Reva, jadi gadis itu tidak bila melihat apa yang Revan ambil.
Setelah mendapat helaian rambut itu, Revan menggenggamnya erat dan meraih bolpoin dengan tangan satunya.
"Udah, gue pinjem bentar ya" ucap Revan yang hanya dibalas deheman oleh Reva.
Setelah itu Revan segera keluar dari kamar Reva. dan ketika sudah sampai luar, pemuda itu segera meraih plastik di sakunya untuk memasukkan sehelai rambut itu ke dalamnya.
"Udah, jadi sekarang gue tinggal telfon bang Leon buat gue ajak besok" gumam Revan sebelum kemudian beranjak pergi menuju kamarnya sendiri.
...****************...
Keesokan harinya Revan dan Leon sudah janjian untuk bertemu. Mereka menuju sebuah rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Tak lama kemudian mereka keluar lagi karena memang hasil tes DNA itu butuh beberapa hari untuk keluar.
"Kafe kuy, laper gue" ujar Leon seraya merangkul pundak Revan.
"Yok lah" balas Revan.
Mereka kemudian menuju kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Hingga tak butuh waktu lama mereka sudah sampai.
"Lo sibuk banget ya bang akhir-akhir ini?" tanya Revan setelah selesai memesan.
"Iya lah, gue kan kuliah Van, pasti sibuk" jawab Leon.
Benar juga, pikir Revan. Bahkan Revan juga sering melihat Sean selalu menatap laptopnya akhir-akhir ini. Mereka pasti sibuk.
"Thanks loh udah sempetin waktu lo" ucap Revan.
"Santai aja kali, kayak sama siapa aja lo" balas Leon.
"Oh iya Van, lo udah tau belum?" lanjutnya mengajukan sebuah pertanyaan pada Revan.
"Apaan?" tanya Revan. Tau apa yang Leon maksud itu, pikirnya.
Leon menghela nafas sejenak sebelum menjawab. Namun setelah dipikir-pikir Revan tidak mungkin tau jika tidak ada yang memberi tahu kan.
"Mama sekarang tinggal sama Om Wira" ucap Leon.
Revan bahkan sudah menduga Wira dan Della akan semakin dekat setelah Dion tiada. Namun ia tidak menyangka jika akan sampai tinggal bersama.
"Yaudah sih bang, biarin aja" ucap Revan. Ia juga sudah tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan Revan menduga mungkin Wira akan menikahi Della nanti.
Tapi tiba-tiba Revan sadar sesuatu. Ia teringat dengan perdebatan kecil Wira dan Della di rumah sakit waktu itu. Bukankah saat itu Della terlihat sedikit terpaksa. Terlihat jika Wira lah yang melakukan hal gila demi memiliki Della. Sial kenapa Revan baru sadar sekarang.
"Van?"
"Revan?"
"Revan!!"
Berkali-kali Leon memanggil tapi Revan tetap diam, pemuda itu tengah melamun.
"Revan!" panggil Leon sekali lagi seraya melambaikan tangannya di depan Revan.
"Eh iya, apa?" Revan sedikit tersentak kaget. Ia tidak sadar sedari tadi Leon memanggil karena sibuk memikirkan tentang Wira dan Della. Meskipun ia bilangnya sudah tidak peduli tapi biar bagaimanapun mereka adalah orang tuanya.
"Lo ngelamunin apaan dah"?" tanya Leon bersamaan dengan pesanan mereka datang. Membuat Leon tersenyum tipis pada pelayan yang mengantarkan.
"Gue cuma kepikiran tentang mereka bang, kira-kira kalo mereka nikah beneran gimana ya perasaan papa kalo masih hidup?" ujar Revan setelah pelayan itu pergi.
Leon sedikit tertegun mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah memikirkannya, atau mungkin ia sudah ikhlas dengan apa yang menjadi jalan hidupnya. Tapi Revan. Pemuda itu terlihat masih belum bisa benar-benar ikhlas atas kepergian Dion.
"Udah lah Van, papa juga nggak mau kali liat kita sedih. Dan mungkin papa juga udah tau tentang hubungan mereka" balas Leon.
"Apa iya?" gumam Revan seraya menunduk menatap nasi goreng yang belum sempat ia makan. Pikirannya melayang, ia teringat saat sebelum kecelakaan waktu itu. Saat itu Dion terlihat sangat marah. Segitu cintakah Dion pada Della?