NovelToon NovelToon
The Two Empresses

The Two Empresses

Status: sedang berlangsung
Genre:Petualangan / Supernatural / Contest / Mengubah sejarah / Perperangan / Romansa Fantasi
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saciel Arakawa

Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.

Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.

Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?

Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.

Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Lama

Istvan berpaling, memasang ekspresi sejutek mungkin dan melipat kedua tangannya di dada. Ia paling sensitif, terutama hal yang berkaitan dengan neneknya.

“Bisa tidak kau tidak membahas nenekku?”

“Oh, apa aku mengenai sasaran?” ejek Rubedo.

“Hmph, terserah. Aku harus segera mengejar buronanku,” putus Istvan sembari berbalik dan berjalan keluar menemui tim kecilnya. “Mereka sudah kabur. Ayo pergi.”

“Hah? Kabur lewat mana?” tanya seorang.

“Ada jalan rahasia di dalam rumahnya. Semakin lama kita menghabiskan waktu, mereka akan semakin jauh dari jangkauan. Kau mau dihukum Tetua Erika?” balas Istvan sembari berjalan menjauhi kediaman Rubedo dengan tenang. Setelah semuanya pergi meninggalkan Archolen, Rubedo mengetuk pintu peti dua kali hingga sepasang telinga serigala perlahan mencuat dari balik pintu.

“Apa mereka pergi?” cicit Kezia sembari menyembulkan sedikit kepalanya.

“Sudah, kau juga bisa mendengar langkah kaki mereka menjauh, kan?” balas Rubedo sembari mengelus puncak kepala Kezia. “Dan kalian ingin pergi ke Kota Mizuki?”

“Benar. Rivendell sudah memperketat penjagaan di dekat perbatasan dan penjaga perbatasan sudah bekerja sama dengan para tetua di Careol. Tinggal menunggu waktu Respher mengeluarkan ultimatum untuk menangkap kami,” celetuk Phillip.

“Sayang sekali kalian tidak bisa pergi ke Kota Mizuki,” celetuk si wanita ketus.

“Apa maksudmu tidak bisa?” balas Saciel garang.

“Kota Mizuki menutup seluruh akses mereka sejak para tetua menunjukkan diri,” balas Rubedo. Saciel mengerang dan mengacak-acak rambutnya, sementara para demi human frustrasi dengan situasi tidak terduga ini. Ia berpaling pada Phillip demi secuil solusi, namun kawannya kali ini juga sama frustrasinya.

“Jadi apakah pilihanku tinggal menantang penjaga perbatasan dan mati di tangan mereka?” gumam Saciel lemas. Ia meremukkan sebuah gelas yang ada dalam jangkauan, mengabaikan rasa sakit akibat pecahan kaca yang tertanam di tangannya.

“Bocah, kau tahu benda itu tidaklah murah,” tegur Rubedo sembari berjalan kembali ke kursinya.

“Persetan dengan harga. Aku bisa membelinya sebanyak apapun yang kumau, tapi menyelamatkan mereka hanya ada satu kesempatan dan kini semuanya pupus,” balasnya lelah. “Kek, boleh tidak kami menginap di sini?”

“Heh, biaya sewanya tidak murah,” ledek Rubedo. “Baiklah, kau bisa beristirahat di sini, tapi jangan harap mendapatkan sesuatu yang mewah seperti di kediamanmu. Aku bukanlah bangsawan. Sara, tunjukkan kamar mereka.”

Wanita itu mengangguk, lalu berjalan ke lantai dua diikuti rombongan itu hingga tiba di kamar mereka yang sederhana namun bersih.

“Kau bisa menggunakan kamar di lantai ini, tapi jangan coba-coba naik ke lantai tiga,” ujar Sara sembari memberikan selimut pada Kezia.

“Kenapa?” tanya Kezia.

“Tempat itu adalah ruang kerja ayahku, jadi kuharap kalian bisa bekerja sama untuk tidak menghancurkannya. Terutama bocah Arakawa di sana,” balasnya sembari mengerling pada Saciel. Gadis itu hanya mengangguk, menarik diri ke kamar paling ujung dan menutupnya sebelum Phillip memanggilnya. Ia berpaling pada Kezia yang kebingungan.

“Kezia tidur sama kakakmu saja, ya?” bujuknya.

“Kezia bobok sendiri saja, Kak Phillip. Boleh?” pintanya lirih. Phillip mengangguk dan mengelus kepalanya, lalu masuk ke kamarnya sendiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Suara lembut nan menggema dari burung hantu mengisi kosongnya malam di Archolen. Saciel perlahan membuka mata dan menghela napas, rasa kantuknya langsung hilang meski ia baru saja menghabiskan waktu kurang dari tiga jam tertidur. Hati-hati ia menjejakkan kaki dan berjalan turun, lalu keluar dari kediaman sang ketua alkemis hanya berbalut jaket yang ia sampirkan di pundaknya. Sebelum tangannya meraih lampion, suara berat mengejutkannya.

“Akhirnya kau keluar juga, Nona Arakawa.”

Penyihir berambut merah itu berpaling, menembakkan bola cahaya ke sumber suara yang tengah menyandarkan tubuhnya pada batang pohon terbesar di sana. Ekspresi jutek bercampur lelah senantiasa menghiasi wajahnya yang cukup tampan, dengan mata sipit sewarna es dan hidung kecil nan mancung yang menjadi kelebihannya.

“Kau sepertinya lelah sekali,” sindir Saciel sembari mendekati dengan lampion di tangannya.

“Rasakan saja membawa pasukan kecil berputar-putar demi mengelabui mereka hingga akhirnya mereka berhenti untuk istirahat. Kenapa kau masih di sini?” balas Istvan ketus.

“Kau tidak dengar Kota Mizuki menutup semua akses mereka?”

“Benarkah? Tidak, aku belum dengar soal itu. Lalu apa rencanamu?” tanya Istvan. Saciel duduk bersandar pada pohon yang sama dan menghela napas, menatap langit gelap bertabur kilaunya bintang dengan tatapan malas. “Menerobos pertahanan penjaga perbatasan bukan pilihan terbaik, kan?”

“Kalau itu pilihan terakhir, aku hanya akan membunuh mereka. Mereka ada di sini bukan karena keinginan, tapi diculik dan dibawa kemari entah untuk alasan apa. Aku hanya ingin membantu mereka kembali, itu saja,” gumamnya.

“Kebaikanmu bisa saja menjadi senjatamu. Itulah yang membuat kita harus berhati-hati dalam membuat keputusan ini,” ujar Istvan sembari mengarahkan pandangan pada jendela kamar lantai 2 dengan sebuah jarum panjang dan besar di tangan. “Tidak semua orang menghargainya.”

“Kau sakiti mereka, kupatahkan lehermu bocah.”

“Kau kira aku takut dengan ancamanmu?” tantang Istvan kalem. Saciel bangkit berdiri dan mengarahkan sebilah pisau dapur di lehernya dengan tatapan mematikan. “Kenapa bukan pedangmu? Takut dengan Paman Lao?”

“Pedangku lebih berharga daripada darahmu, Nak.”

“Umur kita jauhnya nggak seberapa, ya. Berhenti memanggilku Nak,” tegur Istvan jengkel. “Berlagak tua, padahal tingkah lakumu saja lebih kekanak-kanakan dari bocah. Aku heran bagaimana bisa para bawahanmu patuh padamu.”

“Karismaku kan tidak ada tandingannya,” balas Saciel pongah. “Ini masih larut, kenapa kau tidak tidur?”

“Pekerjaanku masih belum selesai, tidak sepertimu yang bisa berleha-leha,” sindir Istvan. Ia langsung menghilang dalam kegelapan, bersamaan dengan munculnya Kezia yang memegangi Sky dan mengusap mata ngantuknya.

“Kakak?”

“Lho, Kezia kenapa sudah bangun? Ini masih larut, anak manis,” tanya Saciel sembari menggendong dan membawanya masuk ke dalam.

“Mau bobok sama Kak Ciel,” gumamnya sembari menyamankan diri di pelukannya, sesekali mengerang kecil ketika Saciel mencoba memperbaiki posisinya. Pelan-pelan Saciel membaringkan Kezia bersama Sky, lalu menepuk pelan kepalanya sambil bersenandung lirih. Suara lembutnya mampu mengantar bocah demi human tersebut terbang ke alam mimpi. Setelah memastikan Kezia tertidur pulas, ia kembali keluar dan mendapati Rubedo berdiri di depan pintu dengan lentera di tangan.

“...kau nyaris membuatku mati, Kek.”

“Hoho, kalau kau sampai mati, keuanganku bisa seret. Mari mengobrol, kau terlihat tidak ingin lanjut tidur,” gurau Rubedo. Ia menuntun penyihir muda itu ke ruang tamu yang remang, dengan peralatan miliknya yang berantakan dan terlihat cairan yang mengering menodai karpet dan lantai, membuat Saciel meragukan kehigienisan tempat itu. Rubedo duduk di sofa tunggal tak jauh dari jalan masuk dan menyuruh Saciel duduk di manapun yang ia inginkan.

“Kau ingat demi human yang bertanya tentang Aaron?” bukanya tenang.

“Apa kau akan menceritakan padaku siapa itu Aaron, kakek tua bangka?”

“Sopan santunmu sudah hilang, hah? Mau kularutkan dengan asam fluoroantimonat?”

“Galaknya, jangan gitu dong. Nanti keuangannya seret lho,” ujar Saciel mengingatkan dengan senyum kemenangan. “Jadi siapa itu Aaron dan bagaimana bisa dia bekerja sama dengan kalian tanpa ada catatan di Careol?”

“Mungkin tamu tambahan juga ingin mendengarnya,” balas Rubedo sembari mengerling ke arah tangga yang terhalang tembok. Perlahan sosok pemuda demi human berambut pirus muncul dengan tatapan datar.

“Bagaimana bisa kau menyadari keberadaanku?” tanya Max.

“Karena Aaron pernah tinggal di sini cukup lama, jadi kebiasaan demi human yang suka menyelinap pun aku terbiasa. Duduklah.”

Saciel dan Max memutuskan untuk duduk di atas peti mati yang disegel dengan hati-hati, lalu menatap Rubedo yang menatap lampion di meja dengan tatapan menerawang.

“Aaron dulu adalah budak yang kabur dari Avant Heim dan terdampar di sini lima puluh tahun yang lalu. Karena aku saat itu tidak bisa menolongnya untuk kembali ke Ceshier, kuputuskan untuk mengadopsinya agar penjaga tidak bisa merebutnya dan memenjarakannya, atau malah lebih parah lagi dikembalikan ke pemiliknya. Selama dia di sini, aku mengajarinya ilmu alkimia dan sedikit berpedang dari kakekmu yang kebetulan cukup proaktif tentang kesetaraan hak semua ras, tak terkecuali dari Ceshier.”

“Wow, aku tidak tahu soal itu. Papa jarang sekali cerita tentang kakekku,” ujar Saciel kagum. “Lalu apa yang terjadi?”

“Meski begitu, para alkemis di sini sering mendapat ancaman dari pihak luar untuk segera mengusir Aaron dari Archolen. Dan di saat yang bersamaan, anakku keguguran dan tidak bisa hamil lagi. Dua hal itu cukup merusak mental Aaron hingga ia menjadi sedikit tidak waras.”

“Kau tidak sedang membicarakan tante berbadan kekar yang menemanimu itu, kan?” tanya Saciel ragu.

“Kau dengar sendiri dia anakku, bocah. Dia istrinya Aaron.”

“Wow, pernikahan beda ras memang tidak biasa. Tapi kenapa Kakek Aaron kembali ke Ceshier?” celetuk Max.

“Karena pasukan dari Careol memaksanya pulang dengan membawa masalah ini pada konferensi Respher. Kebanyakan ras tentu saja berpihak pada Careol dan aku tidak punya pilihan selain melepasnya. Sialnya perwakilan Careol saat itu adalah Erika dan kudengar kakekmu sedang mengalami masalah internal,” jawab Rubedo.

“Kau sudah lihat sendiri kondisi Aaron, bocah demi human. Dia sudah gila, namun kecerdasannya mampu menutupi kekurangannya dan membantuku mengembangkan alat yang bisa kalian gunakan di Ceshier. Bagaimana keadaannya saat ini?”

“...Kakek Aaron sekarang mengurung diri di laboratorium, hanya keluar ketika ia menginginkannya. Harus kuakui beliau adalah alkemis terbaik yang dimiliki Ceshier. Sayang, tidak semua demi human bisa mempelajari ilmu yang dia miliki,” ujar Max.

“Apa karena dia terlalu malas untuk mengajari?”

“Lebih tepatnya ia selalu menolak mereka dengan alasan ‘bukan kau penerusku’.”

“Standar dia tinggi juga,” celetuk Saciel.

“Masih ada waktu 3 jam sebelum matahari terbit, kembalilah ke kamar dan istirahat,” ujarnya sembari mengibaskan tangan keriputnya agar mereka segera naik ke atas dan mematikan lampionnya.

1
Srirahayu Rahmadani
mmm
Mega AK
lanjut
@aini*_Thalita
semangat Thor
salam dari Carlos'Revenge
Mega AK
lanjutkan
Mega AK
lanjut
Langit Malam
Semangat dan terus semangat ya kak..

Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
Ania Haris Riyadi
seru banget ceriranya tor
Vronc
menarik sekali
Vronc
menarikkk
Shine
Hallo author, ijin promote, yuk baca novel ku yang berjudul " Pesonamu Memikat Hatiku " yang baru saja update episode, cerita nya menarik loh, jangan lupa tinggalin like, comment, dan share ya dan jangan lupa untuk terus baca ya chapter selanjutnya
Ayu Ungraini
ceritanya seru
@aini*_Thalita
semangat Thor
After.Story
aku mampir nih
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya

AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Senja
Lanjut kakak. Dapet salam dari Senja dan Zona berondong, jangan lupa mampir
Lia
Lanjut thor, semangat
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌 👍
Melisa: mampir juga di novelku kk.

judulnya KESUCIAN YANG TERNODA.

mohon dukungannya ya kk.
terima kasih.🙏
total 1 replies
Laura hussein
karyamu patut diacungi jempol kak 👍 favorit 👌
Dewi Masita
k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!