NovelToon NovelToon
Belenggu Nafsu Kakak Ipar

Belenggu Nafsu Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikahmuda / CEO / Duda / Tamat
Popularitas:64.4k
Nilai: 5
Nama Author: Banana Mango

" Kamu darimana saja Alena, jam pulang kamu sudah lewat 10 menit?"

"Kakak dengar kamu gak masuk kerja hari ini, pergi kemana tadi?"

"Kenapa lama banget di kamarnya? kamu sakit?"

" Pacar kamu gak jelas Alena, putusin aja ya?"

Sean Luther, Dia kakak iparku sejak 2 tahun yang lalu. Perhatiannya kepadaku terlampau berlebihan, awalnya kukira itu memang caranya mengungkapkan perhatian pada adik iparnya.

Sampai puncaknya, aku mengerti segala maksud tersembunyi dibalik perhatiannya.

"Nikah sama saya Alena atau kamu saya buat hamil sekarang juga."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banana Mango, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan gak ?!

Seorang wanita muda di usia-nya menginjak 21 akhir sedang bertolak pinggang, wajahnya mengkerut, siap mengeluarkan ulti matumnya.

" Sean !” gadis itu berseru kesal, kakinya dengan cepat berjalan ke meja kerja milik suaminya. Jangan lupakan tangannya yang sedang bertolak pinggang.

Pria yang tadinya sibuk memeriksa laporan itu, akhirnya menolehkan pandangannya. Sean melepaskan alat bantu lihatnya yang ia gunakan secara khusus untuk mencegah radiasi, meletakkan pekerjaannya, lalu menyandarkan kedua sikunya di meja berikut dengan dagunya. Pria itu tersenyum dengan wajah tanpa dosanya. Ia tidak tahu amarah istrinya sudah siap diluapkan.

" Kenapa sayang?” Sean melebarkan tangannya, hendak mengarahkan Alena untuk duduk di pangkuannya saat gadis itu sudah berjalan mendekat.

" Enggak usah raih-raih.” Alena bergerak menghindari tangan Sean. Membuat sang pria terheran-heran akan kesalahan apa yang ia buat, Sean bangun dari duduknya, mengahampiri Alena yang masih berdiri diam di depan meja kerjanya.

" Jangan dekat-dekat ya! aku mau marah.” Gertakan Alena membuat Sean tersenyum tertahan, memangnya ada manusia yang akan marah malah memberitahu dulu?

Namun bukan Sean Luther namanya jika ia menyerah menghampiri Alena, laki-laki itu dengan secepat kilat menyambar satu lengan Alena yang betah bertolak di pinggangnya, mendekap Alena dari pinggulnya.

Kali ini, Sean tidak menyandarkan kepalanya di bahu Alena. Pria itu menatap dalam netra istrinya, ia tentu harus mendengarkan isi hati Alena, apa yang membuatnya marah secara tiba-tiba. Jika ia menyandarkan kepalanya pada bahu Alena, itu berarti ia tidak bisa menatap langsung mata Alena, ia khawatir nantinya Alena akan merasa bahwa ia tidak terlalu mau mendengarkan keluhannya.

Sama sekali tidak baik jika suatu saat Alena mulai memendam pemikiran dan perasaannya sendiri.

" Ada apa? Kenapa marah, hm?” Dehamannya yang mendalam sempat membuat Alena tertegun. Dengan cepat wanita itu mengenyahkan pikiran itu, dengan melanjutkan apa yang ingin ia bicarakan.

" Sekarang jam berapa?” tanya Alena, masih dengan wajah marahnya, yang tidak ada seramnya di mata Sean.

" 12 lewat 13 menit.” Jawab Sean setelah melihat waktu pada jam yang melekat di tangannya.

Alena mengangguk puas dengan jawaban lengkap Sean. " He’em, jam 12, itu berarti sudah waktunya makan siang. Alarm kamu dari jam 12 tepat udah bunyi, tapi kamu diemin doang. Aku sengaja setel alarm jam 12 biar kamu bisa inget waktu makan. Ternyata orangnya malah mabuk asmara sama kerjaannya.”

" Kenapa enggak mau makan? Kamu selalu ngoceh kalau aku telat makan, tapi kamu sendiri malah ngelewatin makan. " Amarahnya mereda, raut wajahnya berangsur-angsur melembut, menunjukkan kekhawatiran.

" Siapa bilang aku enggak makan?” pertanyaan diajukan dengan suara yang lembut, Sean ingin tahu siapa yang mengadukannya.

" Itu enggak penting Sean, yang jadi masalah itu pola makan kamu. Untung aku tahu, coba kalau enggak.”

Gadis di depannya tak lagi menunggu jawabannya, lengan Sean ia genggam, tarik menuju meja kerjanya yang terletak bersebrangan dengan meja kerja Sean.

Di sana, Alena menekan pundak Sean untuk duduk di kuris kerja Alena. " Duduk. Diam, jangan bergerak!” ucapan Alena sedikit membuatnya merasakan dejavu.

Gadis itu kemudian pergi menuju tempatnya menaruh tas, mengambil dua buah rantang dari dalam tas, mulai membuka, menyajikan makanan satu-persatu.

Bola matanya melirik kesana kemari mengikuti Alena, melirik ke arah lauk pauk yang gadisnya bawa dari rumah. Ia meneguk ludahnya, Sean tak dapat memungkiri bahwa ia merasa lapar, namun sebagai pemimpin sebuah perusahaan ada saatnya dimana ia harus merelakan waktunya agar pekerjaan-pekerjaannya dapat selesai lebih cepat dari perkiraan. Terlebih lagi Sean masih dalam fase pasangan pengantin baru, ia pasti akan melakukan apa pun agar pekerjaannya cepat selesai, kembali bermesraan dengan Alena.

" Ini, minum dulu baru makan.” Alena memberikan botol minumnya yang berisi air putih pada Sean. Selagi laki-laki itu meneguk air, Alena menyiapkan nasi untuk keduanya.

" Udah?” Tanya Alena, dibalas dengan anggukan oleh suaminya.

" Ayo makan, selamat makan !” Gadis itu kembali tersenyum ceria, mengangkat alat makannya, matanya memindai lauk, sudah siap menyantap.

Sean di lain sisi masih sibuk menatap Alena.

Tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagianya ia saat ini. Gadis yang ia cintai menjadi istrinya, hubungannya berjalan kian membaik, saling timbal balik, Alena begitu memperhatikan kesehatannya. Di saat yang lain hanya bertanya sebatas basa-basi atau mengingatkan untuk makan, Alena, gadis itu langsung membawakan makanan, duduk bersamanya makan.

" Sean? " Alena menegur Sean yang larut dalam lamunannya.

" Maaf, aku enggak maksud marah-marah kayak tadi, aku cuma khawatir kamu sakit. Dari semalam perut kamu belum di isi makanan berat.” Alena takut pria itu tidak senang dengan sikapnya yang mungkin kelewatan.

Tapi tidak, pria di depannya malah tersenyum menggelengkan kepalanya. " Makasih, selamat makan.” Sean akhirnya mengkonsumsi makanan yang lebih layak untuk memenuhi energinya nanti.

Alena tersenyum senang, keduanya melanjutkan makan dalam suasana yang ceria.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Proporsal siapa ini?” Sean membanting setumpuk kertas di meja rapat.

" ssa-saya pak…” seorang wanita takut-takut mengangkat tangannya.

" Sudah survei?” Amarah Sean mulai mencuat.

Alena yang sudah memulai pelatihannya dengan Mark berusaha untuk mengenyahkan pikirannya, ia harus fokus pada pekerjaannya, ia harus profesional. Tangannya sibuk mengetik notulen di laptopnya dengan bimbingan dari Mark.

" sudah pak…” Wanita itu menjawab dengan suara yang pelan dan ragu.

" Saya enggak dengar, lebih keras!” Sean menatap tajam pada wanita yang berdiri di ujung meja.

" Sudah pak.” ulangnya

" Kalau sudah survei kenapa anggarannya masih tidak masuk akal seperti ini!” Bentak Sean.

" Saya tidak mau tahu, saya mau sore ini juga anggaran yang terbaru harus sudah di kirim ke email saya. Rapat selesai!” Sean berdiri, laki-laki itu dengan marah menapakkan kakinya keluar ruangan di ikuti oleh pegawai lain yang mengikuti rapat, kecuali Alena, Mark, wanita yang ditegur tadi, juga pembimbingnya.

Alena sempat terburu-buru menyimpan notulennya, merapihkan dokumen, takut Sean sudah berjalan terlalu jauh. Asisten seharusnya selalu berada di samping atasannya.

" Tidak usah terburu-buru Bu Alena, Pak Sean akan selalu menunggu di mobil atau di ruangan kerjanya setiap selesai rapat.” Mark menenangkan Alena yang panik.

" Ohh begitu… baik saya mengerti, makasih Mark. Sama tolong jangan pangggil bu, rasanya aneh banget, panggil nama aja, Sean enggak akan marah.” ujar Alena.

" Baik, A-alena.” Mark bersikap kikuk, membuat Alena tak dapat menahan senyumannya.

Namun, begitu ia siap beralih keluar ruangan, matanya menangkap sosok wanita yang baru selesai di nasehati oleh pembimbingnya. Wanita itu sepertinya dengan sengaja memperlambat gerakkannya saat merapihkan barang miliknya yang ada di meja rapatnya.

Senyuman Alena memudar, ia berbalik meminta Mark untuk pergi lebih dulu, masih ada hal ia ingin lakukan.

Alena melangkahkan kakinya ke ujung ruang rapat. Dengan laptop dalam pelukannya ia berusaha menenangkan wanita yang ternyata adalah anak magang.

" Hai, kamu gak apa-apa?” Alena bertanya pelan-pelan takut wanita itu tersinggung.

" Ah, aku enggak apa-apa kak!” wanita itu dengan cepat mengangkat kepalanya, menggoyangkan kedua telapak tangannya, juga menujukkan senyuman palsunya. Jelas-jelas ia sedang menahan tangisnya.

" You did great sweet heart, for interns, being able to participate in meetings like this is already a great thing in itself, not to mention that you also prepare a proposal. "

( Kamu ngelakuin hal yang bagus, untuk anak magang, bisa berpartisipasi ke dalam rapat seperti ini sendiri sudah sebuah hal yang hebat, belum lagi kamu juga menyiapkan proposal. )

" Tapi salah…” Wanita itu kembali menunduk, bersedih atas kesalahan yang ia buat.

" Enggak, itu enggak salah, hanya kurang tepat. Kamu perlu ingat dari sekian banyak hal yang kamu ajukan, permasalahanya hanya berada di anggaran. Itu susah loh, kamu udah hebat, tinggal revisi anggaran aja, setelahnya kamu bebas.” Ujar Alena dengan riang, menekankan kata bebas.

" Makasih banyak kak, selama ini usaha aku kira semua hal yang aku lakuin itu salah.” Wanita muda itu kembali tersenyum, kali ini lebih asli, lebih tenang.

" Sama-sama, oh iya, aku Alena, salam kenal.”

" Aku Leya, salam kenal juga kak!” Gadis yang ceria dan energetik itu gambaran yang Alena miliki terhadap Leya.

" Kalau begitu aku ijin pergu duluan ya, semangat revisinya!” Ujar Alena menyemangati.

Gadis itu membalas ucapan Alena dengan memberikan dua jempol, Alena tertawa gemas melihatnya.

1
Prima Tania
menghidangkan
Eva Nietha✌🏻
Semangat thor
Straw Berry: makasih banyak yaa/Kiss/
total 1 replies
Eva Nietha✌🏻
Seru
Eva Nietha✌🏻
Merapat
Rhina Abdulhakim
suka bangettt sama cerita nya...nyambung dn bikin traveling Mulu 🙈🙈
Elminar Varida
hi, thor. aku nyimak novelmu ya.
Greenenly
lumayan
Greenenly
dasar ngk peka/Chuckle/
Vitamincyu
..
Rosdiana Diana
ok ka aku baru mampir ni kaya y cerita y bgus
Ci Thin
Luar biasa
Ci Thin
Bucin abis
Ci Thin
bener, licik
Ci Thin
hahaha langsung banting pintu gak tuh/Chuckle/
Ci Thin
Sabar ya Alena
Ci Thin
Tekadnya Sean patut di kasih jempol /Good/ cuman caranya salah
Andalia Yuswar
Bagus sampai tahap ini,semangat...
Arissa Aliya
Terima kasih ya Author udah update cerita nya..terus semangat untuk berkarya ya Author..semangattt.../Smile/
Aulia Nova
Luar biasa
Arissa Aliya
Terus semangat untuk berkarya ya author..semangat.../Smile//Smile/
Straw Berry: makasih banyak dukungannya ya, aku beneran terharu, ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!