Aku Raima Nur Fazluna, gadis yang baru saja menginjak usia 21 tahun. Menikah muda dengan Sahabat Kakakku sendiri yang sudah tertarik sejak awal pertemuan kita.
Namanya Furqan Hasbi, laki-laki yang usianya berbeda 5 tahun di atasku. Dia laki-laki yang sudah menyimpan perasaannya sejak masa sekolah dan berjanji pada dirinya sendiri akan menikahiku suatu saat nanti ketika dirinya sudah siap dan diantara kita belum ada yang menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Kita kembali setelah sarapan selesai, tidak lupa membawa sarapan untuk Ica dan Ibunya Kak Furqan.
Tubuhku rasanya sakit semua karena perlakuan Aksara kemarin, ditambah semalam kurang tidur.
Kak Furqan menoleh padaku, "neng kenapa? Ada yang sakit badannya?"
Aku segera menggelengkan kepalaku, tidak ingin dia khawatir. Sembari menunggunya memberikan bubur ke dalam ruangan, aku duduk di kursi tunggu sedikit meringis merasakan punggung yang tidak karuan.
Sakit banget!
Mengeluh saja aku harus diam-diam seperti ini. Tidak mungkin dengan keadaan seperti ini, aku mengeluh ingin diperhatikan Kak Furqan. Dia sudah banyak terbebani dengan kejadian yang menimpa keluarganya.
Aku tersenyum saat dia keluar dari ruangan Ayahnya lalu duduk di sampingku. Entah dia sudah sadar sejak tadi atau bagaimana.
Dia menyuruhku untuk berbalik darinya, tangannya dengan lembut memijat punggungku yang sejak tadi sakit.
"Enakkan?" tanyanya pelan.
Aku terdiam membisu dengan perlakuannya.
Gimana dia bisa tau?
Dia mendekatkan wajahnya pada telingaku, "sayang mendingan gak?" tanyanya mengulang.
Aku tersadar dan mengangguk mengiyakan, "udah aja Kak Furqan, aku gak apa-apa kok!" sembari melepaskan tangannya dari bahu.
Dia tersenyum dengan tangannya yang mengusak pelan kerudungku, "kalau ada yang sakit kasih tau, jangan disembunyiin kayak tadi. Meringis aja di belakang aku."
"Kakak liat aku meringis?" tanyaku membuatnya mengangguk cepat.
"Aku cuman gak mau Kakak repot lagi, udah cukup kejadian kemarin bikin khawatir dan repot sampe dibawa ke Kantor Polisi," ucapku tetap merasa bersalah.
"Ke Kantor Polisi? Siapa?" tanya Ibunya Kak Furqan yang baru saja keluar dari ruangan Suaminya.
Aku dan Kak Furqan terperanjat kaget mendengarnya. Kita langsung berdiri kikuk, melihat tatapan Ibunya Kak Furqan yang mulai tajam seperti elang.
"Siapa yang ke Kantor Polisi?" tanyanya lagi.
"Itu Mah, temennya Azril dibawa ke Kantor Polisi karena tuduhan pelecehan," jawab Kak Furqan berbohong.
"Kenapa tadi Nur kayak sedih?" tanya Ibunya masih curiga.
"Sedih karena korbannya masih usia dini Mah," jawabku dengan yakin.
"Kasian dong, emang usianya berapa?" tanya Ibunya penasaran.
"12..... Mah," jawab Kak Furqan spontan sembari menoleh padaku untuk meyakinkan Ibunya.
"I-iya Mah," sembari manggut-manggut mengiyakan.
"Kasian banget," ucap Ibunya setuju, "ya udah Mamah mau tebus obat Bapak dulu ya!" Kita berdua segera mengangguk mengiyakan.
Setelah melihat Ibu Kak Furqan pergi, kita langsung jatuh duduk dengan lemas dan helaan napas lega.
"Untung aja Mamah percaya, Kak," ucapku sembari mengatur napas.
"Kamu kayak abis lari aja ngos-ngosan kayak gitu!" ledeknya.
Aku mendelikkan mataku padanya, "gak sadar diri," Dia terkekeh mendengarnya.
Siangnya, aku pergi bersama Kak Furqan ke hotel untuk berganti pakaian.
"Kakak tungguin di sini aja ya!" ucapnya saat berada di lobi hotel.
"Iyalah emang harusnya di sini masa ikut aku ke kamar kan gak mungkin," tukas-ku.
"Berani enggak sendirian ke kamarnya?" tanyanya mulai usil.
"Aku lebih gak berani kalau ke kamar sama Kak Furqan," jawabku membuatnya terkekeh.
"Ya udah sana, cepetan ganti bajunya!" aku mengangguk lalu pergi meninggalkannya di lobi.
Setelah kejadian itu, sepertinya Kak Furqan tidak membiarkanku pergi sendirian. Dia memilih menungguku, baru berangkat kerja.
Hanya butuh beberapa menit saja untukku bersiap. Aku memang gadis yang tidak terlalu mementingkan penampilan. Terlihat rapih, wangi dan bersih saja menurutku sudah bagus. Aku juga jarang memakai make up yang berlebihan.
Senyumku terbit setelah memakai selesai berdandan dan bersiap untuk segera pergi bersama Kak Furqan.
"Lama ya?" tanyaku setelah menghampirinya yang sedang duduk di sofa lobi.
Dia tersenyum lalu beranjak dari duduknya menggandeng tanganku, "enggak lama, bahkan ini masih normal daripada cewek-cewek lain."
Aku menghentikan langkahku dan menatapnya tajam, "cewek lain siapa? Kak Furqan punya cadangan?"
Dia mencubit hidungku gemas, "lucu banget sih kalau ngambek."
"Ih Kak Furqan," protes-ku menepis tangannya.
"Enggak Sayang, aku sering liat vlog cowok gitu yang nungguin ceweknya lama banget," jelasnya.
"Beneran?" tanyaku memastikan lagi. Dia mengangguk dengan yakin akan hal itu.
Dia kembali menggandeng tanganku dan segera pergi ke tempat kerja dengan motornya.
Sesampainya di sana, aku hanya terdiam duduk di dalam. Membuka Laptop dan mengurusi naskah-ku yang hampir selesai dibuat.
Sedangkan, Kak Furqan menyiapkan beberapa pesanan online bersama Azril.
Azril menyenggol tangan Kak Furqan menunjukku yang sedari tadi tidak berbicara.
"Kamu sekarang bawa pacar Furqan?" tanyanya, "diawasi ya?" lanjutnya.
"Enggak Azril, dia emang gw ajak ke sini," jawab Kak Furqan.
"Kok dia diem terus tumben gak bawel?" tanya Azril heran.
"Lo tau darimana kalau dia bawel?" tanya Kak Furqan langsung menoleh pada rekan kerjanya.
"Jangan cemburu ya! Kemarin kamu yang nyuruh aku buat anterin dia ke Rumah sakit kan. Sepanjang jalan dia terus ngomong Furqan sekalipun aku gak gubris," ungkap Azril.
"Dia emang kayak gitu, mudah akrab sama orang," ujar Kak Furqan.
Aku berdiri dan menghampirinya setelah melihat dia sedikit tidak kerepotan, "Kak pengen ice americano dong!" pintaku di hadapannya.
"Jangan kopi terus Nur! Nanti sakit perutnya," peringat Kak Furqan dengan tatapan tegasnya.
Aku mendecak kesal mendengarnya, "gak tiap hari, selama di sini aja. Kan di rumah enggak."
"Iya karena di larang sama Mamah, bukan berarti kalau gak ada Mamah boleh minum tiap hari," omelnya.
"Ngomelnya kayak ibu-ibu aja, giliran manja aja kayak bayi. Badan aja gede," gumamku sembari kembali duduk dengan wajah yang cemberut.
Dia menggelengkan kepalanya lalu membuatkan aku minuman yang tidak kalah enak dari ice americano.
Kak Furqan menaruh minuman itu di mejaku, "nih cobain minum yang ini. Jangan kopi terus!"
Mataku langsung melihatnya penasaran, minumannya penuh dengan warna-warna cerah dari jelly yang ditambahkan Kak Furqan. Aku mencoba minumannya lalu tersenyum setelah mencoba sekali tegukan.
"Gimana?" tanyanya duduk di sampingku.
"Lumayan," jawabku singkat.
Dia terkekeh mengusak kerudungku lalu kembali bekerja. Aku tersenyum simpul melihatnya dari belakang.
Walaupun berada di dekatnya, tetap saja mata Kak Furqan sesekali memperhatikan aku yang sejak tadi fokus untuk menulis.
Tiba-tiba seorang pelanggan laki-laki datang menghampiriku dengan senyumnya yang menawan.
"Permisi Mbak!" sapanya ramah.
Aku menoleh dan menerbitkan senyumku padanya, "ada apa ya Mas?" tanyaku.
"Enggak, saya cuman daritadi perhatiin Mbak, Mbak kayak sibuk banget gitu. Apalagi sama kertas-kertas yang berserakan ini," ucapnya.
"Oh, saya ganggu Mas-nya?" tanyaku takut merasa dia risih karena melihat meja yang berantakan.
Dia menggelengkan kepalanya, "enggak kok, bukan itu maksud saya. Maksudnya kenapa gak kerjainnya di perpustakaan aja? Kan suasananya juga lebih mendukung," ujarnya.
Aku menoleh pada Kak Furqan yang ternyata sudah menatapku tajam sejak tadi.
merinding jadinya
jangan sampai thor kasihan si ica