NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Vampir / Epik Petualangan / Dunia Lain / Romansa / Fantasi Isekai / Light Novel
Popularitas:114.6k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Di sebuah dunia yang bernama Envend dipenuhi oleh pertumpahan darah, kekacauan, kesedihan, kemarahan, kebencian, ada begitu banyak ras yang hidup dan selalu bertarung. Tak ada yang namanya perdamaian, ketenangan, hidup nyaman.

Karena pertarungan terus-terusan berlangsung tanpa akhir, para Dewa mengirimkan pemuda ke dunia itu. Memberinya kekuatan serta merubah rasnya menjadi seorang vampir, sebuah ras yang belum ada di dunia itu. Ras baru, kemampuan yang tak dikenali, kekuatan yang besar, semua itu akan menjadi bekal bagi pemuda itu.

Apakah ia bisa membawa perdamaian di dunia yang dipenuhi oleh kebencian itu? Petualangan seorang Vampir untuk membawa perdamaian dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Pertarungan Di Rawa

Setelah berjalan cukup jauh, rombongan Ferisu sampai di kawasan rawa yang cukup lembab. Jalanan memiliki banyak kubangan air dan berlumpur. Membuat perasaan tak nyaman ketika melalui tempat becek tersebut.

"Tempat ini benar-benar berlumpur dan lembab... ," keluh Shiro yang mengibaskan kakinya yang terkena lumpur.

"Kau benar," sambung Licia.

Saat itu Kurumi terdiam sejenak, telinganya berdiri tegak seolah menangkap suara yang ada di depan. "Di depan... sepertinya ada yang sedang bertarung!" serunya sembari menunjuk ke arah depan.

Ketiga gadis itu melihat ke arah Ferisu. "Apa yang akan kita lakukan?" tanya mereka.

"Kita memang tak punya hubungannya dengan pertarungan itu, tapi karena kita bergerak ke arah sana... kita akan lihat siatuasinya terlebih dahulu," balas Ferisu.

Mereka melanjutkan langkahnya dan bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

Lima ratus meter di depan mereka, ada sebuah kereta kuda yang tengah berada dalam pertarungan. Sekelompok manusia yang memiliki perlengkapan yang bagus seperti kesatria kerajaan sedang menghadapi sekelompok Lizardman yang mengenakan tombak.

"Berani juga kalian manusia melewati kawasan kami dengan santainya."

"Heh! Kadal seperti kalian punya wilayah? Jangan bercanda!"

Akibat kebencian yang dimiliki setiap orang terhadap ras selain mereka, pertarungan tak bisa lagi dihindari. Kereta kuda itu memiliki lima orang kesatria yang mengawalnya sedangkan Lizardman ada sekitar dua puluh orang.

Jika kalian pikir lizardman yang memenangkan pertarungan itu karena jumlah, maka kalian salah. Kemampuan dari kelima kesatria itu sangat hebat, tiap orang dapat mengatasi empat orang Lizardman seorang diri.

Percikan api dari logam yang bersentuhan, suara jeritan orang yang kesakitan, terdengar jelas di rawa yang lembab tersebut. Semua pihak mengalami luka yang sama, pertarungan itu bisa dianggap seri sampai seorang pria keluar dari dalam kereta.

Memiliki rambut putih dan jenggot halus, ia keluar secara perlahan sembari memikul pedang besar di bahunya. Aura yang terpancar dari pria itu membuat semua lizardman tersentak dan kaki mereka gemetaran. Saat pria itu menarik pedang besarnya dan mengayunkan pedang itu ke arah salah satu lizardman.

Tiba-tiba sebuah tombak melesat dengan cepat memisahkan jarak mereka. Tombak itu memiliki warna yang hitam pekat dan memancarkan aura kematian yang mencekam. Ujungnya berbentuk seperti huruf Y yang masing-masing memiliki ujung yang lancip.

"Siapa?!"

Sosok bayangan hitam yang melayang di udaran turun dan menghantam tanah dengan keras, menyipratkan lumpur ke segala arah.

"Hanz-sama!" teriak semua lizardman yang ada disana melihat sosok yang datang menolong mereka.

"Apa kalian tak apa?" tanya Hanz pada kerabatnya yang terluka karena pertarungan.

"Kami tak apa-apa, tapi dia..."

"Aku tahu, dia berbeda dengan ke lima kesatria itu."

"Berhati-hatilah Hanz-sama!"

Hanz seorang lizardman yang memiliki kedudukan cukup tinggi, seperti seorang komandan kesatria. Ia memiliki sisik berwarna ungu kehitaman, mata yang berwarna kuning menyala dengan pupil berwarna merah. Tombaknya yang berwarna hitam merupakan salah satu senjata sihir yang ia dapatkan dari sebuah dungeon.

"Apa kau yang akan jadi lawanku?" tanya pria yang memakai pedang besar.

"Ya! Aku akan meladenimu!" balas Hanz sembari mengarahkan tombaknya ke pria tersebut.

Mereka berdua mulai bergerak dan mengayun senjatanya masing-masing. Pertarungan itu sangat berbeda dengan pertarungan sebelumnya, angin dari ayunan senjata mereka membuat genangan air bergetar.

Hanz terus menyerang dengan kecepatan yang tinggi, ia memutar tombaknya, menusuk, mengayunkan secara terus menerus membuat musuhnya berada dalam mode bertahan. Namun, pria itu menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan keras membuat sebuah retakan kecil.

Hanz yang sedari tadi menyerang mulai berhenti dan kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh. "Sial!" ketusnya saat terjatuh. Saat melihat kedepan, Hanz melihat pria itu sudah mengangkat pedang besarnya dan hendak mengakhiri pertarungan itu.

Hanz memejamkan matanya karena ia sudah pasrah akan keadaan dimana sudah tak memiliki harapan untuk menghindari serangan tersebut.

Darah bercipratan mengenai muka pria tersebut. Hanz membuka matanya secara perlahan dan melihat seseorang yang menahan pedang besar itu dengan tangan kosong.

"Hanz-sama, Anda baik-baik saja, kan?! Cepatlah menjauh dari sini!" Seorang lizardman berteriak menyuruh Hanz untuk berlari dari sana.

"Hmph! Kadal sepertimu mencoba untuk menghentikanku?" ucap pria itu dengan sinis, lalu ia menguatkan tangannya mendorong pedang besar itu. "Jangan bercanda!" teriaknya, lalu kedua lengan lizardman yang menahan pedang itu terbelah, menyipratkan darah dengan deras.

"Aaarrrgghh!!!"

Setelah memutuskan tangan lizardman itu, ia menendangnya hingga terpental cukup jauh dan tergeletak di tengah rawa.

"Kisamaaaa!!" teriak Hanz yang terlusut amarah dan menyerang pria itu dengan membabi buta.

Si pria tetap dalam posisi bertahan menghindari dan menahan setiap serangan tombak Hanz. Saat dirasa serangan itu mulai melemah, ia mulai mengayunkan pedangnya dan hendak menghabisi Hanz. Namun, Hanz secara sengaja mengurangi daya serangannya dan meloncat tinggi ke udara, mengayunkan tombak nya ke arah langit seolah sedang mengaduk awan.

"Terima ini! Thunder of Darkness!" teriak Hanz dengan lantang, lalu melemparkan tombak nya dengan sekuat tenaga ke arah pria itu.

Awan hitam yang terkumpul dari adukan tombak itu mulai mengeluarkan sebuah petir hitam yang bergerak searah dengan tombak hitam tersebut.

Pria itu diam berdiri melihat ke arah tombak yang melaju pesat ke arahnya. Mengangkat pedangnya ke atas, pria itu mengayunkan pedangnya secara vertikal dan horizontal secara bergantian. Lalu, muncul sebuah gelombang pedang berwarna merah ke emasan yang menabrak tombak berselimutkan petir hitam tersebut.

Ledakan besar terjadi saat dua energi itu menghantam satu sama lain, membuat angin yang kencang menghembuskan semua yang ada di dekatnya.

Dari kejauhan kelompok Ferisu sudah mulai dekat dengan lokasi pertarungan.

"Apa itu...?" gumam Licia yang terkejut saat melihat cahaya di langit.

"Aku akan pergi duluan!" Ferisu mempercepat langkahnya meninggalkan ketiga gadis itu di belakang.

Dari kejauhan Ferisu bisa melihat sebuah kereta kuda yang memiliki lambang kekaisaran, lima orang kesatria yang terluka dan satu orang pria yang cukup tua sedang memegang pedang besar.

Di arah yang berlawanan ada begitu banyak lizardman yang terluka parah, bahkan ada yang hampir mati. Di depan semua lizardman yang terluka, ada seorang lizardman yang memiliki kulit berbeda sedang berhadapan dengan pria yang memegang pedang besar tersebut.

Hanz yang sudah kelelahan tak sanggup lagi berdiri dan akhirnya berlutut karena tak mampu menahan berat tubuhnya. Pria itu mulai mengayunkan pedangnya, hendak memenggal kepala lizardman yang ada di hadapannya.

Ferisu yang melihat hal itu menembakkan sebuah sihir api yang memisahkan jarak kedua orang itu.

"Cih! Berapa banyak serangga yang ingin mengganggu perjalananku?!" decak pria itu dengan penuh rasa kesal.

1
abdillah musahwi
kok jejak Ban 🤔
Kay
hmmm
Kay
Hmm
Kay
hmmmm
Kay
hmm
azkar044
ditunggu lanjutannya Thor👍
4You
wahai Author knp cerita ini gk ada lanjutannya
4You: oalah udh drop ternyata
total 2 replies
Kaisercipta
Lanjutkan Karyamu Author
fadyla Nurulroro
lanjut thor ceritanya menarik aku tunggu 🥰🥰🥰
Fana Yuki
lanjut thorr semangat
jancookk
wah ini mah tensei..beda nih tensei slime dan Mc nih vampire itu jg perempuan..
Momon-Sama
ya jangan kehilangan semangat!!
Momon-Sama
yg penting gak cabul bang 😅
AnS Duo
Jadi inget empire gw di stellaris. Gw pake ethic authoritarian, xenophile ama militarist. Jadi kayak lu harus akur kalo enggak lu mati. 😅
SweetiePancake
minum darah wanita ternyata malah ngebuatnya berevolusi/Scare/
SweetiePancake
sebuah dinding besar yang merupakan puncak pertahanan, namun disetiap dinding yang ada didalamnya terdapat beberapa pemukiman ras yang memiliki 1 ras disetiap 1 dinding, dengan ras manusia yang berada di dinding terdalam
SweetiePancake
ya wajar, lu kan bukan ras manusia melainkan pampir ;]
SweetiePancake
kalau pahlawan itu utusan dunia, sedangkan yang dimaksud legenda itu jelaslah utusan para dewa. Karena ras baru jelas merupakan kehendak dewa, berbeda dengan pahlawan yang dipanggil oleh suatu kerajaan untuk menyelamatkan dunia
SweetiePancake
bukannya beda?
SweetiePancake
Tiap komik/anime yang kalau mcnya dipanggil kedua lain ( bukan kerajaan yang bertindak tapi dewa ) selalu saja latar awalnya dibawah pepohonan. Sekali-kali kek muncul di pantai atau ga di pintu masuk goa /Hey//Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!