"Selamanya aku tidak akan sudi dinikahkan dengan bocah sepertimu. Kalaupun hal itu sampai terjadi, kau tidak akan pernah bahagia, aku akan membuatmu sengsara dan menyesal telah menikah denganku. Aku akan menjamin hal itu!"
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Chandra menghempas tubuh Margareth. Entah kekuatan sebesar apa yang dia gunakan hingga membuat Margareth tersungkur dan sebuah luka tercipta di ibu jarinya.
broomm~
Tega hati Chandra meninggalkan Margareth begitu saja, melewati dirinya yang masih tersungkur dengan motornya. Margareth menatap sosok Chandra yang semakin menjauh dan menghilang.
"Jika motor bisa membuat ku lebih berani, aku akan mencoba berteman dengannya,"
"Aku akan belajar. Aku akan lebih hebat dari Kak Chan. Dan aku akan membalasnya. Kalau aku tidak bisa menginjak jempol kakinya dengan ban motorku, jangan sebut aku Margareth!"
"Tunggu sampai aku tumbuh besar dan bisa menginjak perseneling!" teriaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little turtle 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.31
Terulang lagi..
Seperti hari itu, Chandra terlambat datang. Margareth terlalu percaya diri. Dia pikir hubungan mereka semakin membaik karena Chandra menerima permintaannya untuk foto bersama.
Saat ini dia berdiri diantara dua tenda yang masing-masing sedang didirikan oleh orang tuanya dan orang tua Chandra.
Seperti pasangan muda mereka bercanda tawa. Melihat hal itu membuat Margareth kesal, karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak punya pasangan disana.
"Mungkin juga tidak ada yang berubah meskipun Chandra ada disini.." gerutunya sambil berbalik dan berjalan ke tepi pantai.
Dia mengambil kacamata yang digantungkan di kerah bajunya, lalu memakainya untuk menghalang sinar matahari yang sore itu sangat mencolok. Lalu melempar tubuhnya untuk duduk di atas pasir.
"Seharusnya aku mengajak Hana saat Papa menyuruh untuk mengundang beberapa temanku.." gerutunya.
Dia menghela napas panjang.
Rasa bosan mulai membunuhnya. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu memakai headphone yang sejak tadi melingkar di lehernya. Sebuah lagu mulai mengalun dari benda yang terpasang di telinganya.
Semilir angin laut menerpa wajahnya, membuat rambut panjang di urainya menari-nari. Sudah lama dia tidak merasakan ketenangan seperti ini.
Dia memejamkan matanya. Merasakan suasana dimana hanya ada dia dan musik.
splash~
Cipratan air menyerang wajahnya, dan bahkan membuat bajunya hampir sepenuhnya basah. Dia membuka matanya dan melepas headphone nya.
"Kau menikmatinya?"
Margareth mendongakkan kepalanya, menatap sosok yang tampak bahagia itu. Ya, Chandra. Dia melempar batu karang yang berukuran lumayan besar itu ke hadapan Margareth saat ombak datang.
Melihat reaksi Margareth membuktikan bahwa rencananya berhasil.
"Kau terlihat seperti anak ayam yang jatuh ke genangan air.." lanjutnya dengan senyum miring diwajahnya.
Margareth mengusap wajahnya, rasa asin juga dia rasakan saat dia menjilat bibirnya. Melihat orang yang mengganggunya tampak bahagia itu, membuatnya ingin membalas dendam.
Dia mengambil air dengan kedua telapak tangannya, lalu berdiri dan melemparnya ke wajah Chandra. Tawa renyah mulai terdengar saat wajah tampan itu mulai basah.
Chandra memejamkan matanya, mengatur pernapasan nya. "Jangan sampai aku menangkap mu, atau aku akan melempar mu ketengah laut!" lirihnya.
"Lihatlah, aku menyerahkan diriku, tangkap aku!" ledek Margareth sambil menjulurkan lidah dan membuka lebar-lebar kedua lengannya.
"Ahh~" teriaknya saat Chandra mulai mengejarnya.
"Berhenti disana kau bocah sialan!" teriak Chandra.
Sedangkan para orang tua yang sedang melihat kedua anak itu dari kejauhan sana, merasa sangat bahagia.
"Sudah lama aku tidak melihat mereka berdua seperti itu.." ujar Vivian.
"Benar sekali," sahut Rosa.
Kembali ke mereka berdua.
Tubuh mungil Margareth itu memudahkannya untuk berlari di atas pasir. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Chandra yang masih jauh di depan sana.
"Kau sangat lambat, Kak!" teriaknya.
Dia mulai santai, mengatur pernapasan dan menatap ombak yang datang dan pergi sambil menunggu Chandra.
Namun..
"Kena kau bocah sialan!" seru Chandra sambil menempeleng kepala Margareth.
Mereka berdua saling tertawa. Ya, dengan jarak yang sedekat itu. Namun, tiba-tiba senyum Margareth mulai memudar.
"Kakak terluka?"
Margareth mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Chandra. Sebuah luka lebam terlihat jelas di pelipisnya. Mungkin karena tadi Chandra memakai topi, jadi Margareth tidak menyadarinya sejak awal.
"Kakak berkelahi lagi?" tanya Margareth khawatir.
"Apakah itu sakit?"
Margareth panik sendiri dengan apa yang dilihatnya itu. Sementara orang yang memiliki luka itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya terdiam dan menatap Margareth yang mengkhawatirkan nya.
plak~
Chandra menepis tangan Margareth. Tatapan tajam itu kembali dia perlihatkan. Baru sebentar mereka terlihat rukun. Masih sebentar perasaan nyaman itu singgah. Namun secepat itu semuanya berubah.
"Bukan urusanmu!" ucap Chandra dengan dingin. Lalu berbalik dan pergi meninggalkan Margareth sendiri dengan perasaan kacaunya.
banyak hal indah d ujung sana, jangan putus asa
mending Juan
atauuu Helmi
asli aku benci bgt sm cowo banci yg bs dilakukan cuma nyakitin cewe..
please kk, buat Chandra nyesel senyesel⁵nya