Kehidupan Zhen Yuan yang mendapatkan tadir bersama dengan Xiao, dewa pengetahuan agung yang mendapat berkah dari surga sekaligus kutukan pembawa kehidupan roda kelahiran kembali...
update tiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Nurwahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 32
Sementara itu Zhen Yuan telah bertemu dengan Zhen Cong, ia
segera menyuarakan keluhannya pada pamannya itu.
“Paman, tujuan saya sebenarnya untuk mendapatkan posisi
patriak tidak lain karena ingin mendapatkan beberapa informasi penting mengenai
desa Cenglou dan dunia luar. Saya sedikitpun tidak pernah berpikir untuk
serakah dan menginginkan kursi patriak semata- mata. Bagaimanapun tujuan saya
bukanlah desa Cenglou melainkan dunia luar. Mungkin beberapa tahun kedepan saya
telah akan meninggalkan desa Cenglou”
Zhen Yuan memilih untuk berterus terang, ia tidak menutupi
tujuan sebenarnya untuk mendapatkan informasi pada Zhen Cong. Ini diharapkan
agar Zhen Cong dapat luluh dan mencari cara agar Zhen Yuan mampu mendapatkan
informasi yang ia inginkan.
“Oh jadi seperti itu..” Zhen Cong mengangguk paham dengan
penjelasan Zhen Yuan. Ia awalnya juga mengira Zhen Shi memberikan perintah seperti
itu kepada Zhen Yuan karena ingin anaknya, Zhen Yuan mewarisi kursi patriak
keluarga Zhen. Namun jawaban Zhen Yuan sekarang telah memutar balikkan
pandangannya.
“Benar paman wakil, apakah paman mengetahui cara untuk
mendapatkan informasi?”
Zhen Cong menggelengkan kepalanya, ia menghela nafas pelan
“Yuan kecil, anda telah bertanya pada patriak Zhen namun seorang seperti dia
bahkan hanya bisa mengusulkan cara tidak masuk akal seperti sebelumnya. Lalu,
bagaimana dengan saya? Jika patriak Zhen tidak memiliki cara maka akan mustahil
bagi wakilnya untuk mendapatkan hal itu”
Dihadapkan dengan permintaan Zhen Yuan, wakil Zhen Cong
hanya bisa tersenyum pahit. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Zhen Yuan kembali
merasa kecewa.
Namun itu bukan berarti tidak seorang pun bisa, sekarang
yang perlu diperhatikan oleh keduanya adalah seseorang yang memiliki
pengetahuan dan kekuatan yang lebih besar dari patriak Zhen. Disitulah mungkin
Zhen Yuan bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan.
“Yuan kecil, jika anda memang ingin mendapatkan informasi
mengenai desa Cenglou, kenapa tidak menanyakannya pada pemiliknya? Seperti
pepatah, seekor anjing, hanya tuannya yang mengetahui dengan pasti. Di dalam
desa Cenglou, tuan bisa dikatakan adalah Cenglou Ye, anda mungkin bisa mencoba
untuk meminta tolong padanya.”
Mendengar saran dari Zhen Cong, wajahnya segera bersinar. Ia
mengutuk dirinya karena tidak memikirkan hal ini. jika ia bisa mendapatkan
bantuan dari kepala desa Cenglou Ye maka informasi apa yang tidak dapat ia miliki?
Dengan perasaan gembira, Zhen Yuan memilih pamit dan
meninggalkan wakli Zhen Cong. Ia kembali ke dalam kediaman utama keluarga dan
bersiap pergi menemui kepala desa Cenglou Ye. Tidak lupa ia memberikan perintah
pada seorang pelayan disana untuk mencari Liu.
Liu merupakan satu- satunya teman yang ia miliki juga anak
itu memiliki ingatan yang kuat hingga mengenal desa Cenglou dengan baik. Dengan
bantuan Liu, Zhen Yuan akan menemui kepala desa yang biasanya berada di balai
desa setiap hari.
Namun yang tidak diketahui oleh Zhen Yuan adalah setelah
kepergiannya, wakil Zhen Cong kembali mendapatkan tamu. Seorang pria tua mirip
dengan seorang biksu sederhana, mengenakan pakaian putih tulang. Tamu tersebut
tidak lain adalah Grand Elder Zhen Li.
Kedatangan Grand Elder Zhen Li membuat wakil Zhen Cong
heran. Sebab Grand Elder Zhen Li tidak pernah sekalipun mengunjunginya di
kediaman, sehingga kedatangannya yang tiba- tiba membawa perasaan yang buruk
pada Zhen Cong.
“Grand Elder, apa yang kau butuhkan sampai kakimu melangkah
ke dalam kediamanku?” wakil Zhen Cong berucap dengan tidak sopan. Semenjak
kejadian dalam aula keluarga, sikap sopan wakil Zhen telah lama menghilang dari
wajahnya jika bertemu dengan Zhen Li.
Menurutnya orang tua itu tidak layak dihormati karena
mementingkan sifat egoisnya semata. Terlebih ketika di dalam aula, Zhen Li
dengan mudah menyerangnya dengan serangan penuh membuat Zhen Cong sedikit
terluka.
“Saya heran mengapa anggota keluarga sekarang telah
melupakan aturan sopan santun?” Zhen Li menyindir. Ia menatap Zhen Cong
bermusuhan. Jika bukan karena rencana keduanya yang berharga, ia tidak akan mau
menginjakkan kaki kemari.
“Wakil Zhen Cong, jika kau masih memikirkan kejadian di aula
keluarga maka tidak pantas bagimu untuk menjadi wakil disini. Saya telah lama
melupakan kejadian itu, dan tentu saja tujuan saya kemari demi kepentingan
keluarga.” Zhen Li dengan ringan dan nada tak bersalah berucap.
Mendengar hal ini wakil Zhen Cong semakin marah, jelas Zhen
Li yang salah namun dirinya sekarang yang dipersalahkan? Orang tua itu sungguh
tidak tau malu.
“Kedatangan saya kemari adalah untuk membahas undangan
kontes bakat yang diadakan tahun ini oleh keluarga Cenglou. Saya melihat
keluarga kita mendapatkan tiga kursi dan dua kursi tambahan untuk posisi patriak
kita sebagai tetua terhormat.”
Wakil Zhen Cong teralihkan, memang benar apa yang dikatakan
oleh Zhen Li. Keluarganya memiliki total 5 kursi.
“Wakil Zhen Cong, disini saya sebagai grand elder keluarga
Zhen berhak untuk meminta beberapa kursi. Juga karena patriak belum keluar dari
budidaya tertutup, ada baiknya kita untuk segera membahas anggota generasi muda
keluarga yang akan berpartisipasi.”
Zhen Cong mengerut, “Grand Elder, tapi maaf saja ini
bukanlah waktunya untuk membahas masalah itu. Yang memiliki wewenang untuk
memutuskan adalah patriak bukan kita.” Ucap Zhen Cong tegas.
Kali ini ia tidak akan mundur dengan mudah, jelas Zhen Li
ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dengan prinsip kebenaran yang ia
jalankan selama bertahun- tahun, Zhen Cong telah berhasil menahan kemakmuran
keluarga Zhen dengan peraturan yang ketat bersama dengan patriak.
Mereka telah menetapkan keputusan- keputusan yang diambil
akan mempengaruhi posisi keluarga akan diadakan rapat pertemuan dengan seluruh
tetua. Namun untuk masalah ini mereka hanya perlu mendapatkan keputusan dari
patriak.