Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.
Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.
Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu
Happy reading..
Nayaka menatap sekilas pada pria yang duduk di pinggiran ranjang.
"Apa sebenarnya tujuan Tuan Gapian menyewa aku dengan harga fantastik dari di lantai VVIP Hotel Pasific," Nayaka menghela nafas, kemudian bertanya kembali. "Siapa dia sebenarnya?"
Sebelum menjawab pertanyaan Nayaka, Sadewa sempat menggaruk tengkuk lehernya. "Sebentar, aku tanya dulu ke kamu sebelum menjawab pertanyaanmu," Nayaka menyipitkan matanya ke arah Sadewa.
"Maksud aku mau bertanya, siapa Tuan Gapian? Aku bingung," kata Sadewa.
"Ohh, Tuan Gapian itu, ya Tuan Narendra," sahut Nayaka.
Sadewa membelalakkan kedua bola matanya, mendengar jawaban aneh Nayaka. "Kenapa Narendra jadi Gapian?"
"Ya, karena dia pria yang ganteng tapi aneh. Makanya aku menyebut dia Tuan Gapian," jawab Nayaka sejujurnya.
"Hahaha.." Sadewa langsung terkekeh, mendengar sebutan baru untuk sahabatnya yang dia berikan julukan Mr. Gelato, sekarang berubah Gapian.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Nayaka dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir manyunnya.
"Kamu itu lucu, gemesin. Makanya Narendra terpikat hatinya olehmu," seru Sadewa yang keceplosan.
Nayaka mendengus sambil berpaling ke arah yang berlawanan dari Sadewa. "Jawaban kok begitu!" Nayaka tidak pu4s dengan jawaban yang dilontarkan oleh Sadewa. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
"Ya sudah, jangan dibahas lagi!" suara Nayaka terdengar malas.
"Hei, tunggu dulu. Aku belum juga menjawab pertanyaan kamu. Kenapa sudah cemberut begitu," Sadewa berusaha mengembalikan mood Nayaka kembali.
"Okay, terserahmu lah," Nayaka menggerakkan bahunya.
"Narendra adalah putra bungsu dari Keluarga Guinandra. Mempunyai kakak perempuan yang bernama Nindy dan kamu juga sudah tahu, kalau kakak perempuannya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu," Sadewa menjeda ceritanya dengan melirik ke arah pintu yang bercat cokelat itu. Dia juga tidak terlalu kencang dengan suaranya.
"Lanjut," pinta Nayaka.
"Aku harap setelah kamu mengetahui tentang Narendra. Kamu tidak akan membenci dirinya."
Kening Nayaka berkerut. Dia bertanya lewat tatapan matanya. Apa maksud dari ucapan pria yang menjadi dokter pribadi nya Narendra itu?.
Tak terasa Sadewa dan Nayaka telah bercakap-cakap hampir menghabiskan waktu satu jam lamanya.
Tapi saat Nayaka bertanya kembali pada Sadewa tentang kenapa Narendra menyewanya dengan harga setinggi itu. Pria yang hendak berdiri dari duduknya itu ditarik kasar oleh Nayaka. "Kamu belum boleh pergi, Dokter. Sebelum kamu memberitahunya padaku!" marah Nayaka.
"Maaf, kalau bagian yang itu, aku tidak mengetahuinya, Naya," jawab lembut Sadewa, dia tidak ingin menimbulkan kekecewaan pada diri Nayaka.
"Huuftt.." desis Nayaka. "Apa kamu takut dengan dia?"
Sadewa tertawa keras, dia tidak menduga mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Nayaka.
"Takut di---," Nayaka tidak meneruskan perkataannya, tapi dia berbicara dengan gerakan tangan seolah mengorok lehernya.
"Jujur sekali kamu, Naya," Sadewa masih tertawa hingga sudut matanya mengeluarkan air mata. "Tetap berhati-hati dalam bicara, Naya. Karena kita tidak tahu mood seseorang."
"Biarkan saja, kalau dia mau melenyapkan aku dari dunia ini. Aku tidak perlu berlama-lama mengantri," balas Nayaka.
"Hai, kau semakin terang-terangan," kekeh Sadewa. "Awas hati-hati, jika kamu mengumpatnya. Bisa jadi dia sedang menyiapkan hukuman yang sangat spesial untukmu."
"Hmm.." Nayaka melemahkan suaranya, menatap lelah pada Sadewa.
"Kau sudah mendengarkan cerita masa kecilku kan. Jadi kenapa aku harus takut jika hidupku harus berakhir di tangan Tuan Gapian," ujar Nayaka dengan tatapan sendu. "Entahlah, harus berapa lama lagi aku tetap tinggal di penjara yang dibuat oleh dia."
"Kau wanita hebat, Nayaka. Kau berani melawan Narendra. Tidak ada wanita selain kamu yang akan dipertahankan oleh seorang Narendra. Jika ada seseorang yang menyinggung hatinya. Dia tidak akan segan untuk menghabisi nyawanya, biar itu wanita sekalipun," ujar Sadewa.
"Kau benar-benar sangat akrab dengan dia. Hingga tahu sikap dan sifat dia," ujar Nayaka lugas.
"Kau bisa bercerita dengan Narendra, tentang siapa saja yang menyakitimu di masa lalu. Pasti dia akan menghabisinya. Karena dia tidak ingin melihat orang yang disayangi dan dicintai nya, disakiti oleh orang lain."
"Tapi, aku tidak ingin membalas dendam pada masa laluku, dokter. Karena masa lalu itu bukan untuk diingat, tapi masa lalu itu lebih baik dikubur dalam-dalam. Agar rasa sakit di hati tidak semakin kronis. Nanti bisa menjadi penyakit komplikasi, gagal move on dan yang parahnya lagi, kita seperti menggali lubang kubur sendiri. Mendendam itu tak ubahnya seperti memperpendek usia. Lebih baik kita menikmati sisa hidup kita saja tanpa ada kata dendam lagi di hati dan pikiran kita," ujar Nayaka menatap Sadewa, lalu membuang pandangannya ke samping.
Sadewa mengangguk-angguk sambil bersedekap. "Apa sesakit itu, luka yang menggores hatimu?" tanya Sadewa lagi.
Nayaka mengedikkan bahu. "Sudah jangan diperpanjang lagi, karena waktunya sudah habis. Dan pengawasnya akan datang kemari."
Sadewa tercengang. Pria itu menatap pada Nayaka, lantas berkata. "Bangkitlah untuk masa depanmu bersama Narendra. Aku yakin kalian berdua akan menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan itu."
Sadewa beranjak pergi dari ruangan itu dengan senyum mengembang.
"Aku tidak ingin terlalu bermimpi, dokter!" sahut Nayaka dengan senyum manisnya.
-
-
-
Sementara waktu Narendra bisa bernafas lega. Ia berhasil menjadikan seorang Heru gelandangan di luar sana. Tapi putra Guinandra itu tidak akan membiarkan pria yang telah membunuh kakak perempuannya itu, berkeliaran bebas begitu saja. 'Nyawa harus diganti dengan nyawa!' gumam Narendra, beranjak masuk ke dalam kamar untuk mengecek keadaan Nayaka. Karena Sadewa berpesan padanya, masa lalu Nayaka sangat mengganggu psikisnya.
Jika ada sesuatu yang menekan batin dan pikirannya, rekaman masa lalu yang sudah melekat di otak dan hatinya akan berputar kembali tanpa diminta oleh dirinya sendiri.
☘️☘️☘️☘️
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
ganbatte, nay 💪💪💪
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM
awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .
jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁