7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mama Nina menangis di pelukan seorang wanita yang seumuran dengannya, wanita paruh baya itu tidak kuasa menahan kesedihannya setelah menceritakan keadaan putri semata wayangnya
Wanita yang merupakan sahabat baik mama Nina itupun ikut menangis merasakan kesedihan yang tengah di rasakan oleh mama Nina
" Kamu yang sabar ya Nin, semoga putrimu Mia cepat sembuh aku turut prihatin dengan kejadian yang menimpa putrimu!" ucap sahabat mama Nina seraya mengurai pelukannya
" Kau harus kuat Nina, kesabaran dan ketegaran mu adalah salah satu penyemangat putrimu untuk sembuh, untuk masalah warga disini sudah jangan diambil hati, yakin saja kalau Mia tidak akan melakukan hal buruk justru ia akan segera sembuh " tutur suami sahabatnya
Mama Nina mengangguk pelan kedatangan sahabatnya yang tidak pernah ia sangka sebelumnya membuat hatinya sedikit lega setidaknya selain bu Khodijah masih ada sahabatnya yang mau menerima kehadirannya dan juga putrinya di kampung itu
" Terimakasih banyak, kedatangan kalian sungguh membuat aku sangat senang dan juga lega!" ucap mama Nina
" Sama-sama" sahut pasangan suami isteri itu secara bersamaan
" Oiya Nin dimana sekarang Mia nya? apa boleh kami melihat keadaannya?"
Mama Nina mengangguk " Tentu saja boleh, saat ini putriku sedang berada di dalam kamarnya, dan hampir setiap hari ia hanya melamun di dalam kamar" sahut mama Nina seraya beranjak berdiri dan mengajak sahabat baiknya untuk bertemu dengan Mia
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan seperti biasa pemandangan yang dilihat pertama kali adalah Mia yang sedang duduk di dekat jendela sambil melihat ke arah luar dengan tatapan mata yang kosong
" Assalamualaikum!" ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walaupun usianya sudah tidak muda lagi
Tidak ada jawaban, Mia masih belum memberikan respon
" Assalamualaikum Mia!" ucapnya kembali setelah berada di dekat Mia
Mama Nina menghela nafasnya lalu mengusap bahu Mia dengan lembut karena putrinya tidak memberi respon
''Sayang coba lihat siapa yang datang!" ucap Mama Mia seraya mengusap lembut bahu sang putri
Mia bergeming tatapannya begitu kosong tapi tiba-tiba mulutnya menggumamkan sesuatu
" Mas Sendy... maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku...!" gumamnya pelan namun masih dapat didengar oleh mereka yang berada di dekatnya
" Sepertinya Mia mengalami tekanan yang cukup berat, seperti ada sesuatu yang tidak berani dia ungkapkan pada siapa-siapa, dan hal itu mungkin yang membuatnya menjadi seperti ini, ada sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang belum sempat tersampaikan kepada suaminya !" tutur pria paruh baya yang sempat mendengar gumaman Mia dan menyimpulkan pemikirannya sendiri
" Aku juga tidak tahu kang, sebelum suaminya meninggal Mia memang sudah jarang sekali datang ke rumah, setiap kali ditanya selalu bilang baik-baik saja, tapi pernah ada salah satu yang mengaku temannya cerita kalau Mia sangat menginginkan anak karena sudah lama menikah tapi mereka belum juga dikaruniai anak dan temannya itu mengatakan kalau Mia sampai meminta suaminya untuk menikah lagi demi memiliki anak" tutur mama Nina yang sempat mendengar kabar tentang Mia yang ingin suaminya menikah lagi dan tentu saja berita itu dari Siska
" Mungkin karena masalah itu yang membuat Mia menjadi seperti ini" tutur pria yang tidak lain adalah pak Didin
"Tidak ada wanita yang ingin di madu, tapi Mia justru yang memaksa suaminya sendiri untuk menikah dengan wanita lain demi mendapatkan anak" ucap bu Dedeh yang merupakan sahabat baik mama Nina
Wanita paruh baya itu benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran putri dari sahabatnya itu
" Kita tidak tahu bagaimana perasaan yang dialami Mia bu, dia juga mungkin tidak ingin seperti itu tapi mungkin karena merasa putus asa jadi pikirannya menjadi buntu sampai-sampai memiliki pikiran seperti itu" tutur bijak pak Didin
Mama Nina hanya menghela napas berat, seandainya besannya tahu apa yang sudah Mia lakukan pasti besannya itu akan sangat marah dengan Mia
Bu Dedeh yang melihat sang sahabat melamun langsung memegang bahunya hingga membuat mama Nina tersentak dari lamunannya
" Semua yang terjadi tidak bisa di ubah lagi, meskipun ini berat untuk Mia dan kamu hadapi percayalah semua tetap akan indah pada waktunya!" ucap mama Dedeh menghibur dan memberi dukungan kepada mama Nina
" Semoga saja!" ucap mama Nina
Mia merasa mengantuk dia menguap berkali-kali, mama Nina yang melihatnya langsung membantu putrinya untuk berjalan menuju tempat tidur
" Istirahat ya sayang!" mama Nina menyelimuti Mia sebatas dada, setelah itu keluar menyusul bu Dedeh dan pak Didin yang sudah keluar lebih dulu
Mereka kembali berbincang sebentar di ruang tamu, karena merasa sudah terlalu lama pergi meninggalkan rumah pasangan suami isteri itupun pamit pulang