➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32#Dilema Papa Zaf, Laporan Medis
Di saat telah memutuskan untuk melakukan pernikahan ulang dan sudah ditetapkan juga akan adanya larangan pertemuan selama seminggu ke depan atau yang biasanya di sebut pingitan. Lalu kenapa Al justru berdiri di depan kamar menantunya, sedangkan kamar sang putra sudah di pindah ke kamar sebelah.
Tidak ingin menaruh curiga karena ia tahu betapa besar rasa cinta Al untuk sang menantu, "Al, malah melamun. Cepat balik ke kamarmu dan jangan coba-coba masuk ke kamar putriku."
"Ma, anak mama itu aku atau Shine?" Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia tak ingin wanita yang berdiri di depannya saat ini curiga dengan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dan Asma hingga pernikahan menjadi keputusan dadakan. Alibi yang diberikan pun sudah tepat yaitu ingin mencoba mengingatkan pujaan hatinya tentang pernikahan yang terdahulu. Alasan sempurna bukan?
Pertanyaan Al membuat Mama Khadijah mengangkat tangan kanannya, lalu menarik telinga kiri pria dewasa di depannya tanpa basa-basi. "Jangan nakal deh, atau mama sendiri larang kamu setahun gak boleh ketemu Shine. Mau?"
"Aduh, sakit, Ma." Al berusaha melepaskan tangan mamanya, meski tidak sesakit itu karena jeweran sang mama menggunakan perasaan. "Al cuma mau lihat keadaan Shine, dikit aja kok, Ma ...,"
"GAK BOLEH!" ucap tegas Mama Khadijah menyela pembelaan Al yang hanya modus saja.
Perdebatan antara ibu dan anak itu menghangatkan hati tapi wanita itu tidak menyadari badai yang melanda. Dimana keputusan Al menikahi Asma bisa saja menyakiti banyak orang. Wanita itu hanya melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata sang putra sedangkan Papa Zafran sibuk berbicara di telepon dengan seseorang.
Pria itu berbicara dengan begitu serius membicarakan sesuatu. Wajahnya yang tegang, bibir berkerut, mata menyipit seraya mengepalkan tangan. Ujian macam apa yang Allah SWT limpahkan untuk keluarganya. Kekayaannya yang berlimpah justru menjadi kekuasaan tanpa dasar kebenaran.
Apakah ada yang salah dengan didikannya hingga Al berani merenggut hak orang lain. Sebagai ayah, ia bisa memahami cinta putranya tetapi sebagai sesama manusia. Ia tak bisa mentoleransi tindakan anaknya sendiri. Apa Al sebodoh itu sampai tidak tahu kebenaran tentang masa lalu sang menantu palsu.
"Oke tetap kabari aku dan berikan informasi selanjutnya." ucapnya lalu mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.
Semalaman ia mencoba untuk mencari informasi dari gadis yang saat ini dianggap sebagai menantu. Awalnya dia tak percaya hingga mendapatkan beberapa bukti yang mengungkap kebenaran. Satu pertanyaannya adalah apakah benar Al mencintai gadis itu atau hanya ingin menjadikannya sebagai tahanan saja.
Sebenarnya tidak memungkiri betapa besar rasa cinta Al terhadap gadis itu hanya saja hubungan yang dijalani disebut kepalsuan. Apalagi setelah mengetahui status gadis itu bukanlah single lagi. Hubungan yang diinginkan sang putra sangatlah tidak benar. Apalagi ke depan nanti pasti terkena masalah.
Namun bagaimana ia menghentikan pernikahan? Ketika Al saja menginginkan pernikahan tertutup dengan tamu undangan keluarga saja. Apakah harus membawa orang dari masa lalu sang menantu atau mengatakan secara langsung saja?
Sebagai seorang ayah, dia ingin memiliki menantu yang bisa menjaga putarannya tetapi yang dilakukan Al sudah di luar batas. Sadar akan kesalahan besar sang putra hanya saja Ia juga menyadari betapa putranya mencintai Shine tanpa ada syarat. Semua itu pasti karena karakter si gadis yang memang duplikat Khadijah.
Al, kamu ini. Di usia papa yang harusnya menimang cucu malah harus kebingungan karena ulah nakalmu. Sekarang bagaimana caraku menyelesaikan masalah ini tanpa menyakiti anak sendiri dan gadis yang sudah ku anggap sebagai putri.~keluh hati Papa Zafran seraya mengembuskan napas kasar.
Dilema hati karena dua sisi memiliki hatinya. Dimana Al yang menunjukkan cinta untuk Shine, sedangkan Shine sendiri gadis baik yang terlihat polos dengan sisa ingatan saat ini. Jujur saja gadis itu juga mencuri hatinya untuk menyayangi tanpa pamrih. Selama beberapa hari tinggal bersama saja sudah bisa akrab bahkan berdebat untuk menyampaikan argumen masing-masing.
Papa Zafran terdiam sibuk melamun, sedangkan di sisi lain. Seseorang baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting. Semua yang dia pikir semudah ucapan ternyata sulit untuk dijabarkan karena yang butuhkan hanyalah tindakan akhir.
Tatapan mata menelisik ke arah depan di mana ada keramaian kota. Sudah beberapa hari setelah melihat Asma tapi hingga detik ini tidak ada tanda satupun yang menunjukkan keberadaan gadis itu. Seluruh CCTV sudah diperiksa bahkan setiap jalanan selalu dipantau oleh semua anaknya.
Bagaimana bisa tidak ada jejak meskipun hanya sekali saja dan hasil akhir tetap nihil. Semua itu aneh bahkan terkesan tidak masuk akal tapi karena itu juga, kini ia bisa menentukan target lebih cepat dibandingkan yang sebelumnya. Apalagi berdasarkan video yang masih disimpan, entah kenapa merasa sangat familiar. Mungkin pernah bertemu di suatu tempat.
Pertanyaannya adalah dimana mereka saling bertemu? Hati meyakini akan pemikirannya yang tidak salah jalan. Apakah mungkin orang terdekatnya atau justru salah satu rekan bisnis, mungkin juga musuh yang selama ini diabaikannya. Di tengah lamunannya tiba-tiba Bagas masuk tanpa permisi.
Pria itu membawa sebuah laporan dari rumah sakit yang berada di Kashmir. Laporan yang sebenarnya di kirim by e-mail oleh Samir. "Rey, kemarilah! Coba lihat ini."
"Nando! Kenapa tiba-tiba datang main nyelonong aja," Rey berbalik menegur saudaranya. Tatapan mata menatap Bagas yang meletakkan file ke atas meja kaca. "Laporan apa yang kamu bawa?"
"Kemari saja! Kamu bisa membacanya secara langsung." timpal Bagas yang tidak ingin basa-basi. Apalagi menjelaskan panjang dengan lebar karena Rey saat ini hanya membutuhkan bukti dan bukan kata-kata manis sebagai pengharapan saja.
Melihat kegigihan Batas untuk membuatnya membaca laporan yang baru dibawa. Rey tak ingin mengabaikan hal sekecil apapun meskipun itu tentang pekerjaan. Langkahnya berjalan menghampiri tempat sang saudara berada. Lalu duduk seraya mengambil kertas yang tergeletak di atas meja.
Sesaat memperhatikan nama yang terlihat asing tetapi karena alamat dari rumah sakit juga jelas membuat detakan jantung kian meningkat. Ia merasa kebenaran semakin dekat sedekat kehidupan dan kematian. Kali ini mungkinkah ada kepastian?
Sisa keraguan tak mengubah ketetapan hati, perlahan membuka file dimana pemandangan pertama jatuh membelalakkan mata. Sebuah foto yang sangat dirindukan. Akan tetapi foto itu menunjukkan kondisi Asma pasca perawatan setelah mengalami kecelakaan.
Peralatan medis yang terpasang di tubuh istrinya dengan tabung oksigen sebagai alat bantu pernapasan. Sungguh hati terasa teriris melihat wajah pucat dengan mata terpejam yang mendapat mendapatkan perawatan sampai seperti mayat hidup. Sesak di dada tak sanggup menahan duka hatinya.
Seketika ia mengingat luka di kepala Asma yang memang parah bahkan ketika ia pergi meninggalkan istrinya untuk mencari air. Darah dari belakang kepala masih saja mengalir. Semua itu terjadi karena salahnya. Kenapa tidak bergegas membawa Asma ke rumah sakit dan justru memikirkan setetes air yang ia pikir bisa mengembalikan kesadaran sang istri.
Andai saat itu ia tidak meninggalkan Asma seorang diri mungkin kini mereka masih bersama. Rey tetap melanjutkan membaca hasil laporan meski hati, pikiran kian tak tenang. Setiap kata dari hasil laporan yang bertuliskan dengan bahasa Inggris dibacanya dengan teliti tanpa melewatkan satu katapun.
Tubuhnya gemetaran dengan bibir kelu tak sanggup mengatakan apapun lagi. Laporan di tangan menjadi bukti kegagalannya sebagai seorang suami. Sekarang apakah masih pantas ia mendapatkan istrinya kembali?
Masa lalu datang tetapi tetap terdiam menikmati kenyataan pahit. Kini semua sudah jelas. Asma pergi dan tak kembali karena ingatannya telah pergi. Laporan medis yang menyatakan istrinya mengalami Amnesia membuat dia tertampar oleh kenyataan.
Sentuhan tangan di pundak mengalihkan perhatiannya. Bagas masih setia bersamanya, "Aku tidak becus menjadi suami kan?"