Perempuan mana yang tidak bahagia mempunyai suami baik, mapan, dan kaya raya? Itulah yang yang dirasakan Namira di hari pertama pernikahannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun, fakta mengejutkan membuat Namira harus mengubur jauh-jauh harapan itu.
Jatah Mantan!
Itulah trend masa kini, dimana Namira harus memberikan jatah kepada mantan untuk menutupi aibnya di masa lalu, dan tepat di malam pertama, Namira baru mengetahui kalau kesalahan bodohnya menghasilkan setitik nyawa di dalam perut.
Bagaimanakah reaksi suami Namira saat mengetahui hal itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Macam Apa?
Namira baru saja hendak masuk kamar saat Saga tiba-tiba memanggilnya. Dia menoleh. Langkahnya kembali maju ke arah Saga yang masih duduk di sofa.
"Ada, apa?" tanya perempuan itu. Saga sedikit ragu menanyakan soal Ivan, tapi daripada rasa penasarannya semakin jadi hingga membuatnya gelisah di tempat tidur, jadi lebih baik ia menanyakannya secara langsung pada perempuan itu. Toh tidak ada salahnya juga, bukan. Mau bagaimanapun Saga masih suaminya. Dia berhak tahu apa pun yang terjadi dengan Namira.
"Apakah tadi Ivan ke sini?"
Mendengar itu Namira tidak terkejut sama sekali. Ia hanya tidak menyangka, ternyata Saga adalah orang yang memata-matai Namira selama ini.
Sudah berapa lama dia melakukan itu?
Kalau dipikir secara logis. Sepertinya belum lama Saga melakukan itu. Soalnya ia baru tahu kalau Ivan mendatanginya kali ini.
Namira tahu persis watak Saga bagaimana. Jika ia tahu sebelumnya Ivan pernah datang ke sini, pasti Saga sudah bertanya dari dulu. Dan untungnya sekarang Namira sudah menyiapkan alasan yang tepat supaya Saga tidak curiga kepadanya.
"Iya. Tadi Ivan ke sini."
Dua alis Saga mengernyit. Kecurigaan lelaki itu seketika luntur mengetahui Namira berkata jujur semudah itu.
"Mau apa memangnya dia ke sini?" Tatapan mata Saga menggambarkan tanda tanya karena penasaran. Ada sedikit curiga, tapi tidak sebanyak sebelumnya.
"Dia disuruh Mama mengantar makanan sehat untukku. Mama membuat banyak, katanya supaya bayiku sehat," ucap Namira. Entah kenapa keterampilan berbohongnya kali ini cukup bagus. Namira tidak menyangka dia bisa menjadi manusia pecundang seperti ini.
"Oh, mana makanan sehat itu?"
"Sudah aku makan. Itu hanya berupa sup," ujar Namira.
Kali ini kepala Saga sedikit berputar, rasanya di video itu Ivan tidak membawa rantang atau apa pun. Bagaimana caranya dia memberikan sup sehat itu?
Rasa curiga yang sempat menguar itu kembali hadir. Tapi dia tahan sebisa mungkin. Nanti Saga akan menanyakannya sendiri kepada ibunya secara hati-hati.
"Kalau begitu masuk kamarlah. Aku juga mau istirahat," ucap Saga. Setelah mengatakan itu dia membawa jas dan tas kerjanya ke kamar. Pintu tertutup rapat dan ia tidak tahu apakah Namira juga masuk ke kamarnya atau tidak.
Saga buru-buru merogog ponsel. Secepat kilat ia menghubungi ibunya.
"Hallo Saga, ada apa? Tumben kau menghubungi Mama malam-malam begini. Apa terjadi sesuatu dengan Namira?" Suara ibunya terdengar panik dari ujung sana.
"Namira baik-baik saja, Mah. Aku cuma ingin tanya. Apakah aku mengganggu, Ma? Mama sudah tidur?"
"Belum Saga, ada apa? Kamu mau tanya apa?"
Saga menarik napas panjang. Dalam hati dia berdoa semoga ucapan Namira tadi sama dengan penjelasan sang Mama.
"Aku cuma mau tanya bagaimana caranya membuat sup sehat untuk ibu hamil. Besok aku ingin membuatnya untuk Namira."
"Sup sehat? Mama tidak tahu, Saga."
Mendengar itu tangan Saga sedikit gemetar. Dadanya seketika bergemuruh seolah ada angin ribut di dalamnya.
"Bukannya Mama pernah membuatkan sup sehat itu untuk Namira?"
"Hah, kapan? Mama mana bisa membuat itu Saga. Kamu ada-ada saja." Terdengar tawa renyah Nyonya Nora menggema. Jantung Saga semakin berdentam tak karuan. Pikirannya melanglang buana entah ke mana.
"Soalnya tadi aku melihat Namira makan sup sehat. Aku kira itu kiriman dari Mama," ucap Saga berusaha terlihat baik-baik saja.
"Bukanlah sayang. Mungkin Namira beli di luar."
Saga spontan mereemas ponselnya penuh emosi. Napas lelaki itu naik turun. Sejenak dia terdiam sambil mengatur kestabilan emosinya supaya kembali normal.
"Saga, apa kau masih di sana?"
Karena Saga masih diam, akhirnya Nyonya Nora bertanya kembali.
"Saga!" panggil perempuan paruh baya itu. Saga terjaga dari pikiran yang berkecamuk.
"I iya, Mah. Kalau begitu Saga mau mandi dulu. Mama jangan lupa istirahat dan jaga kesehatan. Selamat malam."
Lelaki itu langsung mematikan ponselnya begitu saja. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Tubu Saga seolah tak bertulang hingga lelaki itu terjatuh ke atas ranjang. Saga menerawang langit-langit kamar sambil sesekali menarik napas panjang.
Permainan apa yang sebenarnya sedang kau mainkan Namira?
Saga tidak lagi mampu berpikir jernih. Otaknya terlalu negatif untuk memikirkan Ivan dan Namira tidak melakukan apa-apa di rumah ini.
***