NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Perjodohan

Cinta Dalam Perjodohan

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Romansa / Tamat
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Fi

Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Akhirnya, mobil itu pun sampai di rumah. Temy menuntun Rani untuk turun dari mobil. Wajah wanita itu masih terus ketakutan, mengingat betapa traumanya ia ketika mengalami hal yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Temy menuntun Rani untuk duduk di sofa ruang tamu. Sedari tadi, mereka berdua tak pernah berbicara.

 Walaupun begitu, Temy masih maklum karena Rani masih teringat akan kejadian itu. Tugasnya sekarang adalah menenangkan wanita itu agar tak ketakutan lagi. “Kau tunggu di sini, biar aku buatkan teh.” Seolah tahu apa yang bisa membuat istrinya tenang, Temy berjalan menuju ke arah dapur, membuatkan teh kesukaan Rani. Diam-diam pria itu tahu apa minuman kesukaan dari istrinya. Semua itu berawal ketika beberapa kali Temy melihat Rani yang sedang bersantai di teras rumah sembari menyeruput teh.

Temy membawa secangkir teh hangat itu ke ruang tamu, menyuguhkannya di hadapan Rani. Pria itu kembali menepuk istrinya, menenangkannya. “Kamu aman sekarang, sayang. Tak ada lagi yang akan mencelakaimu, kamu aman ....” Temy mencium kening Rani dengan lembut. Kemudian, pria itu mendekat tubuh wanita itu erat-erat.

“Aku ... aku kotor, aku sudah kotor.” Temy menoleh, melihat wajah Rani. Pria itu mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu.

“Kenapa kamu bicara seperti itu?” Tiba-tiba saja sebuah dugaan terbesit di otak Temy. “Apa yang sudah pria bejat itu perbuat kepadamu? Hei, jawab,” seru Temy lirih. Ia tak tahan lagi dengan rasa penasarannya. Pastilah ada penyebab besar mengapa istrinya itu trauma berat.

Rani menggelengkan kepala, pertanda bahwa ia belum siap untuk menceritakannya sekarang. Namun, wanita itu menunjuk beberapa bagian di tubuhnya, memberi kode kepada Temy agar pria itu mengetahui apa yang ia maksud. Dada, paha, serta leher, tiga bagian sensitif yang ditunjuk oleh Rani. “Dia ... dia ....” Isak tangis kembali terdengar, Rani benar-benar tak bisa melupakan kejadian itu.

Temy mengangguk, berbisik di telinga Rani sembari terus mengucapkan kata-kata lembut. “Tak apa, kamu tak bersalah. Ini semua bukan kesalahanmu. Aku ... aku sama sekali tak marah,” ucap Temy, meyakinkan Rani agar wanita itu tak menyalahkan dirinya sendiri. Temy mendekatkan bibir ke bagian-bagian yang ditunjuk oleh Rani. Kemudian, pria itu mengecup setiap bagian itu dengan lembut.

Tatapannya kembali beralih kepada Rani. “Sudah kuhilangkan semua bekas-bekas itu, kamu tak perlu cemas lagi, ya.”

Hari ini, mereka berdua menghabiskan waktu untuk bermesra-mesraan. Temy tak pernah melepaskan pelukannya dari Rani, begitu pun dengan istrinya itu. Mereka berdua saling melindungi satu sama lain, berusaha menghilangkan kejadian-kejadian yang masih terus berputar di otak mereka hingga saat ini. 

Tak kunjung menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkan trauma Rani, sebuah ide terbesit di otak Temy. Tiba-tiba saja pria itu membopong tubuh Rani yang ringan, berjalan menuju ke arah kamar mandi. Di sana, Temy mengisi bak mandi dengan air hangat, lalu menceburkan seluruh tubuh Rani ke dalamnya.

Tak hanya itu, Temy juga mendampingi istrinya itu untuk mandi, saling berpelukan satu sama lain di dalam air hangat yang sangat menenangkan. “Kamu ... merasa baikan?” Rani menoleh ke arah Temy. Kemudian, wanita itu menyunggingkan senyumannya. Temy membalas senyuman itu dengan perasaan lega.

“Baguslah, aku kira butuh waktu seminggu untuk melakukan hal itu.” Rani terkekeh. Kemudian, wanita itu memeluk Temy.

“Maaf, maaf karena tak mau mendengarkanmu. Aku ... aku sudah memilih jalan yang salah, yakni mengunjungi rumah Sandra untuk bicara baik-baik kepadanya. Aku kira wanita itu masih bisa diajak bicara baik-baik dan semua masalah ini bisa terselesaikan dengan musyawarah, tapi ... Sandra sama sekali memiliki jalan pikiran yang berbeda. Aku ... aku minta maaf ....”

Temy mengangguk mengerti. “Ya, aku juga salah karena lupa memberitahumu bahwa Sandra adalah wanita yang sangat licik dan kejam. Wanita itu tak segan-segan menghabisi orang yang ia anggap sebagai musuh. Selama bersama dengannya, beberapa kali aku melihat wanita itu membabat habis musuh-musuhnya dengan cara yang keji.”

 Temy menjeda pembicaraan sejenak, menatap Rani lekat-lekat. “Menyelesaikan masalah hanya dengan membuka mulut, itu semua sama sekali tak ada di kamus penyelesaian masalah miliknya, sayang ....” Rani membalas tatapan Temy, mengerti akan maksud dari pria itu.

Suasana menjadi hening sejenak. Hanya ada bunyi keran air yang menyala, mengisi bak mandi yang mereka berdua tumpangi. Di tengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba sebuah pikiran terbesit di otak Rani. Wanita itu menyunggingkan senyum penuh arti kepada suaminya itu. “Ngomong-ngomong, bagaimana jika kita melakukannya lagi untuk hari ini?”

***

Sudah dua hari yang lalu semenjak kejadian itu berlangsung. Kini, Rani tampak menjadi lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Semua kejadian menjijikkan yang dialaminya kemarin sudah sirna secara perlahan. Siapa sangka, itu semua berlangsung dalam waktu dua hari saja.

Ting! Tung!

“Iya, sebentar!” Rani berjalan menuju ke arah pintu rumahnya. Tak lupa, wanita itu masih mengenakan celemek, mengingat Rani sedang disibukkan dengan kegiatannya di dapur, yakni memasak.

Kedua mata Rani terbelalak kaget. Namun, ekspresi itu segera tergantikan oleh keramahan yang terpancar dari dalam dirinya. “Eh, Mamah!” Rani segera menyalami wanita paruh baya itu dengan penuh hormat. Kemudian, tatapannya tertuju ke arah seorang gadis yang ada di sampingnya. “Dan ini ... pasti Yura, ‘kan?” Gadis itu mengangguk, segera menyalami Rani dengan senyuman manis di bibirnya.

“Iya, Tante,” balas Yura.

“Ayo, silakan masuk! Kebetulan hari ini Rani lagi masak agak banyak, kalian bisa makan siang di sini,” jelas Rani. Kedua tamu itu segera memasuki rumahnya. Sepasang mata Ira tak pernah luput memandangi setiap sudut rumah, mencari-cari seseorang yang tak dilihatnya.

“Di mana Temy? Bukankah hari ini dia libur kerja? Kenapa tidak ada di rumah?” Rani menoleh ke arah Ira dengan ekspresi gugup. Tentu saja, Rani tak mungkin mengatakan jika Temy baru saja keluar rumah untuk pergi ke kantor polisi, menyelesaikan urusannya dengan Cassandra dan juga Jodhi.

Mau bagaimana pun, Temy, Rafael, dan Rani sepakat untuk tidak menceritakan masalah mereka semua kepada Ira. Bukan apa-apa, Temy berkata jika dirinya tak mau membuat sang mamah khawatir. Oleh kalian itu, Rani memutuskan untuk menghormati permintaan suaminya itu. “Oh, tadi izin pergi sebentar. Katanya ada urusan mendadak di kantor, sore nanti pulang,” jelas Rani, dengan keringat dingin yang menetes dari keningnya. Syukurlah, wajah Ira tampak tak memancarkan aura kecurigaan.

“Umm ... mari, duduk dulu, Mamah, Yura. Sebentar lagi masakannya matang, kalian pasti suka.” Yura menoleh ke arah Ira, lalu menatap Rani kembali.

“Sebaiknya aku bantu saja, ya, biar cepat. Bagaimana, Tante?” tawarnya.

Rani mengernyitkan dahi. “Memangnya kamu bisa memasak?”

Tepat sebelum Yura membuka mulut, Ira lebih dulu menyela ucapannya dengan nada mengejek. “Iya, dong! Rata-rata orang yang pandai memasak itu, makannya juga cepat sekali! Dalam waktu lima menit, sudah habis dua piring!” Tawa mereka semua menyembur, menggema di seluruh ruangan. Siapa sangka, rumah yang sama sekali tak pernah memancarkan aura kebahagiaan selama dua tahu terakhir, kini menjadi berubah. 

1
falea sezi
terlalu baik dan bodoh itu sama
Lastri Naila
Bagus
Hozaimatul Jamilah
hmm
Edelweiss🍀
didesak oleh mama Ira, panik kan kalian😅
Edelweiss🍀
menurutku sebaiknya batalkan saja perceraian itu, karena Temy bukannya KDRT bukannya Selingkuh tp dia hanya hampir terlambat menyadari perasaannya. Jd gak ada salahnya mereka mulai lagi dari awal
Chocolla: Hai kak, mampir yuk ke ceritaku 😊
total 1 replies
Novianti Wulandari
Kecewa
Sandigit
jgn bilang ni Yura calon pelakor awalnya baik2 saja lama2 JD tertarik SM temy
Sandigit
jgn sampe saran Rafael mlh menjadi bumerang n membawa petaka
Sandigit
untuk apa bertahan dg org yg SDH tdk menginginkan kita n mempertahankan buang2 waktu
Edelweiss🍀
ku pikir pernah terjadi malam panas di antara mereka, syukurlah tidak
Edelweiss🍀
Benarkah mereka akan membina rumah tangga yg harmonis kembali😌 ku harap Rani segera hamil🤭
Edelweiss🍀
tak dapat dipercaya inu saran Rafa, semoga gak gatot yah🤨
Edelweiss🍀
Apakah Rani berhasil luluh🤔 tak semudah itu ku rasa.
Edelweiss🍀
Ajakin kekamar aja tuh si Rani, pasti ketahuan perasaan yg dia rasa😅
Edelweiss🍀
gak ada kekerasan dari Temy ke Rani tp rasanya jd kek trauma sama pernikahan😥😥😥
Li Xian LinLu
huhuhu geram
Edelweiss🍀
merindukan, merindukan, dsar Temy benar2 kau ya😣
Edelweiss🍀
mungkin kata yg tepat ialah Menyeruput secangkir kopi🙏🏻☺️
Nuraini Gs09
jangan lm" upnya
sigit daryanto
datang bantuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!