seorang gadis SMA menyukai seorang polisi ganteng yang memberikan surat tilang kepadanya saat dia mengendarai mobil nya tanpa SIM, perjuangan berat yang harus dia lakukan untuk melepaskan sang polisi ganteng dari masa lalunya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
...
"Hana, aku sudah membicarakan tentang pernikahan kita dihari diamana kamu dibawa ke Melbourne, dan orang tua ku sudah setuju, jadi secepatnya aku akan menikahimu"
"Kak Nathan serius..."
"Panggil aku 'Nathan' Hana" bisiknya.
"Nathan..."
Nathan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hana... Rasanya begitu hangat dan manis. Nathan melepaskan ciumannya dan menatap wajah cantik Hana.
Wajah merah Hana dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya membuat Hana tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya ingin Nathan menyentuhnya saat ini
"I'm yours" ucap Hana tepat didepan wajah Nathan yang juga memerah karena panasnya api gairah yang mereka ciptakan.
Nathan kembali mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium bibir Hana.
"Kriingngng...!!!"
Dering handphone Nathan berbunyi, menghentikan apa yang akan Nathan lakukan.
"Shit!!!" Umpatnya
Nathan menghentikan aksinya dan meraih handphone nya yang berada di saku celananya.
Nathan dia menjawab panggilan yang masuk ke handphonenya yang telah mengganggu kegiatannya.
Hana menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dia benar-benar malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Halo!" Ucap Nathan ketus saat menerima panggilan itu
"Kalem bro, sekarang balik ke kantor polisi dulu, ada sedikit masalah yang perlu diselesaikan disini" jawab si penelfon.
"Arghh sial!! Apa kamu tidak bisa menyelesaikannya?!" Nathan masih sangat marah karena dia sedang menikmati waktu yang sangat berharga dengan Hana, namun terganggu begitu saja
"Hei!!! Respon mu seperti aku telah mengganggu saat kamu sedang mengeluarkan 'kecebong' mu saja!" Ucap si penelfon yang juga kesal dengan sikap Nathan
"Memang aku sedang melakukannya dan kamu mengganggu nya, dasar brengs*k!!"
"Kenapa marah-marah bro, udah gue bilang kalem, cepetan kesini gue tunggu, elo bisa lanjutkan nanti oke" si penelfon yang tidak lain adalah Arlan mengakhiri panggilannya.
Nathan menggenggam kuat handphonenya, ingin sekali dia membantingnya, Hana membelit tubuhnya dengan selimutnya, bergerak untuk menenangkan Nathan yang masih begitu kesal.
Hana memeluknya dari belakang mencoba untuk membuat Nathan kembali rileks.
"Kita bisa melakukannya nanti setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu, aku selalu siap untukmu" bisik hana
"Kamu harus pergi bukan?" Ucapnya
Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Sungguh menyebalkan!!" Umpatnya
"Pergilah, aku akan menginap di rumahmu nanti malam" wajah Hana merona saat mengatakannya.
Nathan tersenyum senang mendengar ucapan Hana, dia memeluk tubuh Hana yang dibalut selimut dengan erat
"Aku akan segera kembali dan menjemputmu untuk menginap di rumahku, aku sudah tidak sabar untuk segera berduaan bersamamu" bisik Nathan disela pelukannya, Hana hanya bisa tersenyum dengan malu-malu saat Nathan mengatakan hal itu.
"Baiklah aku harus segera pergi" Nathan melepaskan pelukannya.
"Jangan keluar rumah, atau aku akan menghukummu nanti" ucapnya.
"Siap komandan" tangan Hana memberi hormat kepada Nathan, membuat Nathan tersenyum dan mengacak-acak rambut panjang Hana.
"Aku sungguh ingin memakanmu" ucapnya lagi, Nathan mencium bibir Hana sekilas kemudian mengecup keningnya.
"Aku berangkat sekarang"
"Iya, hati-hati" Hana memberikan senyuman termanis dan terbaiknya pada untuk mengantar Nathan keluar dari kamarnya untuk segera melesat menuju kantornya meninggalkan Hana yang masih berdiri di depan kaca jendela kamar nya menatap kepergian calon suaminya.
Hana merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya, menatap langit-langit rumahnya, tersungging senyuman manis diwajahnya saat mengingat kejadian apa yang terjadi barusan
"Akhirnya perjuangan gue enggak sia-sia" ucapnya dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya.
---------
Mau di 'END' apa belum nih? Lanjut aja ya 😝
Jangan lupa tap jempolnya 😉
ceritanya sangat menarik