Terpaksa menyetujui sebuah tawaran yang membawanya pada kehidupan pernikahan yang sangat rumit untuk dijalani.
Begitu banyak masalah dan kerumitan dalam kehidupan rumah tangganya yang harus Viona lewati. Dia tetap bertahan dan mengikuti alur takdir yang entah akan ke mana membawanya untuk melangkah. Merelakan dan bahkan mengizinkan suaminya untuk berpacaran menjadi salah satu kerumitan yang dia alami. Selama orang-orang di sekelilingnya bahagia, dia sanggup melakukan apapun untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Sinha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat bangun
"Apa yang sedang Nona lakukan?"
Rio sangat terkejut. Begitu memasuki dapur melihat Viona berada disana dengan apron menempel ditubuhnya dan tangan sibuk menggasak peralatan dapur.
Viona berbalik. Dan tersenyum pada Rio. "Pagi, Rio!" Sapanya ramah disertai senyuman.
"Pa..gii..." sahut Rio lirih. Masih mematung ditempat. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Nona memasak? Apa-apaan ini. Kenapa Nona memasak. Disini kan banyak pelayan.
"Nona. Apa yang Nona lakukan?"
"Memasak" sahut Viona santai sembari terus melanjutkan aktivitasnya.
"Nona tidak perlu melakukan itu. Disini banyak pelayan. Nona bisa menyuruh mereka" Rio celingukan melirik kiri kanan sekitar dapur.
Nahloh... kemana semua pelayan?
"Kemana para pelayan, Erni? Kenapa membiarkan Nona mengerjakan pekerjaan seperti ini?"
Erni melirik Viona. Dia tak tahu harus menjawab apa pada Rio. Erni tahu, Rio juga akan terkejut jika mengetahui apa yang Viona lakukan.
"Aku meminta mereka pergi. Aku ingin memasak sendiri tanpa bantuan mereka" sahut Viona membuat Rio menganga.
Nona benar-benar melakukan itu? Lalu apa gunanya pelayan jika dia mengerjakan semuanya sendiri?
"Nona, Anda tidak perlu melakukan pekerjaan seperti ini. Ini bukan pekerja-"
"Tidak apa, Rio. Aku yang ingin melakukannya sendiri" Viona mencuci semua peralatan masak di kitchen sink. Dia tidak terlihat kesulitan melakukannya. Tidak terlihat jijik juga mencuci peralatan kotor itu.
Erni benar-benar tak bisa berbuat banyak. Viona tak mengijinkannya membantu banyak. Semua pekerjaan itu didominasi Viona. Erni hanya bisa terdiam dengan perasaan tidak enak. Majikannya melakukan pekerjaan itu sendirian, sedangkan dirinya hanya bisa diam. Sekarang terlihat, siapa majikan yang sebenarnya?
Rio akhirnya diam. Dia tak ingin bertanya lagi. Sikap majikannya yang satu ini memang penuh kejutan. Banyak hal yang kadang tak bisa dipercaya dari sikap Viona. Seperti sekarang, Rio tak percaya jika Viona pandai memasak dan tak keberatan untuk mencuci peralatan masak yang kotor. Mengingat Viona anak orang terpandang, rasanya tidak mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu. Yang Rio tahu, anak orang kaya hanya bisa tahu cara menghabiskan uang saja. Mereka manja dan tidak bisa apa-apa. Tapi kenapa Viona bisa melakukan semuanya?
"Maaf, Nona. Apakah tuan sudah siap untuk segera berangkat?" Tanya Rio pada Viona yang kini tengah menyiapkan semua hasil karya tangannya diatas meja makan.
"Aku tidak tahu, Rio. Dari tadi aku disini, tidak melihat tuan. Mungkin masih di kamarnya?"
Rio terbelalak. "Masih dikamar?" Rio melihat jam yang melingkar ditangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:57. Tidak mungkin Marshal masih tidur.
Dengan segera Rio naik ke kamar Marshal. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Marshal pasti masih tidur, pikirnya.
Dengan ragu Rio membuka pintu kamarnya. Karena Rio sudah lama bekerja dengan Marshal dan mereka sudah sangat dekat. Jadi Rio memang kadang bersikap seperti seorang teman pada Marshal. Karena Marshal juga yang memintanya. Marshal ingin supaya Rio bisa menjadi teman bukan hanya sekedar sekertaris pribadinya. Jadi Rio memang berani untuk masuk ke kamar Marshal.
Saat masuk, Rio menghembuskan napas kasar. Ternyata benar dugaannya. Marshal meringkuk diatas kasur dengan bergelung selimut. Tidak seperti biasanya Marshal seperti ini. Biasanya setelah sholat subuh Marshal akan berada diruangan Gym yang ada dirumahnya. Tapi sekarang, Marshal jam segini masih tidur. Tidak seperti biasanya. Setiap hari Marshal sudah rapi dengan pakaian kerjanya di jam enam lebih tiga puluh. Tapi ini sudah jam tujuh, Marshal masih tertidur? Ada apa dengannya?
"Tuan" Rio memanggil-manggil beberapa kali. Tapi Marshal tetap tak bangun.
Tumben sekali tuan tidur sampai lupa waktu kayak gini? Apa tuan sangat lelah sampai nyenyak seperti ini?..
"Tuan. Bangun!" Rio mengguncang lengan Marshal. Dan akhirnya Marshal menggeliat. Dia membuka matanya dan langsung melolot melihat Rio berada didepan yang sudah rapi dengan pakaian formalnya.
Marshal langsung terduduk. "Kenapa kamu kesini, Rio?"
Tidak biasanya Rio masuk kekamarnya jika tidak ada urusan yang genting.
"Ini sudah pukul tujuh, Tuan"
Marshal terbelalak. "Jam tujuh?" Rio mengangguk.
Marshal mengusap wajahnya kasar. Biasa-bisanya dia tertidur pulas sampai jam segini.
"Kemana dia?" Rio mengernyit. Siapa yang Marshal tanyakan? Dia mencari siapa?
"Istriku. Dimana dia?" Ujar Marshal cepat. Dia tahu apa yang Rio bingungkan.
Marshal menggerakkan kepala kekanan dan kekiri guna membuang pusing.
"Nona ada dibawah"
"Panggil dia kesini!" Tanpa banyak bicara Rio keluar kamar memanggil Viona.
"Tuan memanggil saya?" Viona masuk kedalam kamar Marshal diikuti Rio dibelakangnya.
Marshal yang masih duduk diatas tempat tidur menoleh ke ambang pintu. Sorotan matanya sangat tajam.
"Kenapa tidak membangunkanku!" Bentaknya membuat Viona terkejut. Dia mematung seketika. Sungguh sangat kaget dengan bentakkan Marshal yang tiba-tiba.
"Kenapa hanya diam?"
"Kenapa tidak membangunkanku?"
Lha, tadi kan dia udah bangun. Kenapa dia sekarang malah memarahiku?
"Kemari!" Marshal menjentikkan jarinya meminta Viona mendekat.
Meskipun masih terkejut juga takut, Viona tetap memberanikan diri untuk mendekat pada Marshal. Dia berdiri disamping ranjang Marshal dengan menunduk.
Setelah ini, apalagi yang akan dia lakukan? Apa dia akan menyiksaku?
"Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Tanya Marshal untuk ketiga kalinya. Kini nada suaranya tidak membentak. Sudah sedikit lembut.
Viona menghela napas. Masih menunduk. "Maaf, tuan. Saya tidak tahu jika tuan tidur lagi. Yang saya tahu, tuan sudah terbangun subuh tadi"
Mata Marshal membulat. Dia menghembuskan napasnya pelan.
Benar juga. Kenapa aku jadi marah padanya?
"Aku mau mandi" ujar Marshal lirih.
Dia mengaku kalah dari Viona. Memang benar, Viona tidak tahu jika Marshal tidur lagi. Dan memang pantas jika Viona tidak membangunkannya. Viona memang tahunya Marshal sudah terbangun saat subuh tadi.
Viona langsung menuju ke kamar mandi menyiapkan air. Menaruh beberapa aroma terapi.
Saat berbalik badan hendak keluar , Viona terkesiap. Dia terkejut mendapati Marshal yang sudah ada di depannya.
"Ma maaf, tuan. Airnya sudah siap" jantung Viona terasa akan copot. Dia sungguh kaget dengan kehadiran Marshal.
Sejak kapan dia disini?
"Siapkan baju untukku. Aku akan berangkat bekerja" Viona mengangguk kemudian keluar dari kamar mandi menuju ruang wardrobe.
"Tuan Marshal style pakaian kerjanya gimana ya?" Dia melihat semua pakaian yang berjejer. "Kalo aku yang pilihkan, apa dia akan suka dengan pilihanku?"
Bingung sekali rasanya untuk memilih pakaian yang sesuai dengan selera dari Marshal. Viona tidak tahu style seperti apa yang Marshal sukai. Akhirnya dia keluar dari ruang wardrobe. Dia ingat Rio ada dikamar Marshal juga. Viona berniat menanyakannya pada Rio, atau sekadar meminta saran.
"Rio.." panggil Viona setengah berbisik.
Rio menoleh dengan alis terangkat. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Viona melambaikan tangan supaya Rio mendekat.
"Aku ingin bertanya" Rio sudah didepan Viona. "Style pakaian kerja tuan seperti apa? Aku takut salah memilih dan tuan tidak suka dengan selera pilihanku" lirihnya kembali.
Rio malah mengardikkan bahu. "Saya tidak tahu pasti" jawabnya asal.
Sebenarnya dia tidak mau ikut campur akan hal ini. Dia tahu betul selera Marshal. Secara, Rio bekerja dengan Marshal sudah lama.
Wajah Viona terlihat kecewa.
"Pilih saja apa yang menurut Nona pantas dipakai tuan" ujar Rio. "Tuan pasti akan memakainya. Tuan pasti suka dengan pilihan Nona"
Viona menghela napas. Kemudian kembali kedalam ruangan wardrobe. Memilih pakaian yang menurutnya akan terlihat bagus dibadan Marshal.
Selera Viona memang tinggi juga dalam berpakaian. Dia punya style yang lumayan bagus juga dalam hal Fashion. Tapi untuk kali ini, dia bingung. Karena dia tidak tahu selera Marshal seperti apa.
Akhirnya Viona memilihkan setelan jas berwarna navy yang senada dengan celananya. Kemeja yang dia pilih berwarna putih. Dan dasi berwarna hitam dengan corak garis-garis.
Marshal selesai mandi. Langsung masuk keruangan wardrobe dimana Viona sedang duduk dikursi yang ada disana. Tangannya memegang dasi dan tampak melamun.
"Mana bajuku?" Suara Marshal membuat Viona langsung berdiri.
"Ini tuan" Viona menunjukkan pakaian yang sudah dia siapkan. Marshal mendekat padanya. Kemudian memakainya dibantu Viona.
Jantung Viona berdebar tak karuan. Dia membantu Marshal mengenakan pakaiannya.
Apa hal seperti ini akan aku lakukan setiap hari?... uh, memakaikan pakaiannya ternyata menjadi tugasku.
Tangannya terulur memasangkan kancing kemeja Marshal. Setelah itu memakaikannya dasi. Untuk memakai celana, tetap Marshal melakukannya sendiri dan Viona akan berbalik badan saat Marshal tengah memakai celananya.
Viona tetap tidak mau memakaikan hal itu. Mau ditaruh dimana mukanya yang cantik ini. Masa iya dia harus memakaikan celana pada Marshal. Sama dalemannya? Oh, tidak. Dia tidak mau melakukan hal itu.
Setelah selesai berpakaian. Marshal turun diikuti Viona dibelakangnya. Dia sangat terlihat tampan saat ini.
Marshal duduk di meja makan ditemani Rio. Karena Rio memang tak dianggap orang asing oleh Marshal. Jadi dia memang selalu diajak makan bersama. Bisa dibilang hubungan Marshal dan Rio itu sudah seperti saudara, bukan hanya sekadar majikan dan asisten saja.
............
Saat Viona hendak pergi kedapur, Marshal menarik tangannya membuat Viona mengernyit.
Apa lagi yang dia inginkan?..
"Duduklah!" Suruh Marshal sembari melihat kursi disampingnya. Supaya Viona duduk disana.
Viona tak banyak bicara. Dia hanya menurut dan duduk dikursi samping Marshal duduk. Dan Rio berada disebrangnya.
Saat Marshal hendak mengambil sarapannya, dengan segera tangan Viona terulur menghentikan tangan Marshal. "Biar saya yang ambilkan, tuan" serunya disertai senyuman.
Marshal hanya menatapnya dingin dan membiarkan Viona yang melakukannya.
Nona memang sudah sangat pantas menjadi seorang istri. Terlihat dari Nona yang sangat telaten melayani tuan.
Rio hanya menyaksikan itu dengan senyuman yang tak berhenti merekah. Dia teramat bahagia melihat sikap Viona.
"Tuan ingin apa?" Marshal menunjuk beberapa makanan yang tersaji. Dan Viona dengan sabar mengambilkannya.
"Cukup!" Viona pun berhenti mengambilkan makanannya.
Dan mereka sarapan dalam diam.
"Ambilkan itu lagi!" Suruh Marshal pada Viona. Dia menunjuk cumi balado.
"Ini?" Viona memastikannya. Marshal mengangguk kemudian Viona mengambilkannya untuk Marshal. Dan dinikmati dengan damai olehnya.
Rio menyaksikan cara makan Marshal yang tak biasa, dia menoleh kearah Marshal dengan heran. Marshal makan sangat lahap. Bahkan minta nambah. Tidak seperti biasanya.
"Itu!" Suruh Marshal kembali menunjuk satu menu makanan lainnya. Viona menghentikan makannya. Menoleh pada Marshal. "Yang mana, tuan?" Marshal menunjuk pada makanan yang diinginkannya.
Viona mengangguk dan mengambilkannya. Viona senang melihat Marshal mau memakan masakannya. Bahkan Marshal terlihat lahap.
Kenapa makanku kali ini terasa sangat nikmat? Masakannya juga sangat lezat. Sampai aku minta nambah. Apa aku sangat kelaparan sampai nambah banyak seperti ini.
Marshal melirik Rio dan Viona bergantian. Mereka terlihat damai makan. Namun Rio, dia melirik-lirik pada Marshal.
Apa karena aku sudah beristri makanya nafsu makanku jadi bertambah? apa karena ditemani olehnya?.. ah, tapi tidak mungkin. Makan dengan siapapun sama saja. Kali ini mungkin saja aku sedang kelaparan, aku dari kemarin tidak makan. bahkan makan malam pun terlewatkan.
Marshal menikmati semua masakan yang tersaji. Entah mengapa sarapannya kali ini terasa begitu nikmat.
Rio yang memperhatikan hal itu, tetap merasa heran dengan cara makan Marshal. Namun dia tetap diam. Mungkin Marshal sangat kelaparan 'pikirnya.
BERSAMBUNG.....