Satu bulan sebelum pernikahan, calon suami Lisa yang bernama Rafli, ketahuan berselingkuh dengan sepupunya sendiri, yaitu Mela.
Hal itu membuat Lisa menjadi sangat hancur. Saat ia dan ibunya mengadukannya kepada orang tua Mela, mereka malah membela Mela dan menyuruh Lisa untuk merelakan Rafli.
Orang tua Lisa yang selalu ditindas oleh orang tua Mela karena miskin, hanya bisa mengalah dan bersabar.
Namun, hal tak terduga terjadi. Mantan pacar Mela yang juga menjadi korban, Amar, mendatangi Lisa dan memintanya untuk menjadi pengantinnya agar membalas Rafli dan Mela atas apa yang mereka lakukan. Amar ingin menunjukkan bahwa ia dan Lisa bisa bangkit tanpa mereka.
Satu hal yang Lisa tahu menjadi penyebab Mela meninggalkan Amar adalah karena dia seorang yatim piatu dan seorang kuli bangunan.
Hingga suatu hari, saat mereka diusir dari kontrakan karena ulah Rafli dan Mela, seorang pria berjas dan bermobil mewah datang, lalu membungkuk memberi hormat pada Amar seraya berkata, "Tuan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Setelah itu, Bu Yati pun pergi.
"Nah, gini kan enak, sering-sering aja ajak Bu Yati berantem, Mbak, biar dia nggak berani hutang lagi sama saya, takut malu," ucap tukang sayur sambil mengibas-ngibaskan uangnya ke atas dagangannya.
"Duh, saya juga nggak bermaksud mau ngajak berantem sih, Bang. Cuma saya nggak suka aja orang tua saya dijelek-jelekkan," sahut Lisa sambil berusaha menahan emosinya. Dia masih menghargai Bu Yati karena orang tua hingga tak menggunakan kata kata yang lebih pedas lagi.
Tukang sayur mengangguk mengerti. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan itu pesan masuk dari temannya. "Oh ini udah ada list harganya. Jadi semuanya total lima puluh delapan ribu, Mbak," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Ini, Bang. Kembaliannya ambil aja." Lisa menyerahkan uang sebesar enam puluh ribu.
"Alhamdulillah, udah nggak nawar, malah dilebihin. Semoga murah rezeki, ya Mbak." Tukang sayur kegirangan dibuatnya.
"Iya, Bang, amin." Lisa segera membawa belanjaannya ke dalam rumah.
Ira yang sudah selesai belanja langsung menghampiri Lisa.
"Mbak, maaf soal tadi, ya, Ira cuma kesel aja sama Bu Yati yang suka ceritain keburukan orang."
"Oh ya? Tapi aku liat kamu malah menanggapi, Ra, tapi ya udahlah, nggak penting juga." Lisa tersenyum memaksa. Ia tak ingin berlama-lama dengan Ira.
"Mbak, tadi aku sempet denger kata Bu Ana Mbak lagi hamil, ya?" tanya Ira dengan ragu.
"Ya belum tau sih, soalnya belum periksa. Kenapa?" tanya Lisa yang heran melihat ekspresi Ira tiba-tiba berubah masam.
"Ya nggak apa-apa, sih, Mbak. Cuma,,,,baru nikah ngapain hamil cepet-cepet Mbak, kan sayang masa-masa romantisnya cuma sebentar."
"Nggak apa-apa, toh kami emang mau cepet-cepet punya anak. Apalagi suami saya itu ganteng banget, jadi pengin deh punya anak laki-laki."
Ira semakin kesal dengan ucapan Lisa.
"Ya, Mbak jangan percaya gitu aja, belum tentu Mas Amar setia sama Mbak. Bisa aja kan dia sukanya sama perempuan yang pintar dan pekerja keras kayak Ira."
Lisa menatap Ira dengan tatapan heran. Bisa-bisanya ada orang sepercaya diri seperti ini.
"Insyaallah dia setia kok. Dia nggak mau jauh-jauh dari aku. Tiap malem selalu peluk dan cium sebelum tidur, kebayang kan gimana enaknya dipeluk sama Mas Amar. Udah ganteng, badannya bagus, aduh, jadi kangen." Lisa tersenyum sendiri.
Hal itu pun membuat Ira semakin panas saja.
"Halah, jangan sok romantis, deh, Mbak. Belum tentu Mas Amar tetap sama Mbak selamanya, dia pasti akan mikir nantinya buat cari istri kayak Ira. Yang cantik, berpendidikan, dan pintar cari uang." Ira sudah tersulut emosi.
"Ya dengan kamu ngomong gini, kelihatan kok siapa yang mati-matian mengejar suami orang. Emangnya nggak ada laki-laki perjaka di sini sehingga kamu ngejar-ngejar Mas Amar?"
"Ya emang kenapa kalo Ira suka Mas Amar. Ira lebih pantas untuk Mas Amar daripadanya Mbak. Mbak itu udah miskin, belagu, sesuai sama yang dibilang Bu Yati."
Bukannya marah, Lisa malah menatap Ira dengan tatapan penuh prihatin. "Kasihan, udah ditolak, ngejar mati-matian, kayak nggak laku aja."
Setelah mengatakan hal itu, Lisa pun masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Ira yang sedang menatapnya dengan begitu tajam.
agar kita jgan mempunyai sifat iri dan dengki yg hanya akan membuat kesengsaraan buat kita sendiri.