Dara Lazora yang saat itu masih berusia 18 tahun, harus menerima kenyataan pahit mengetahui dirinya hamil. Ia pun meminta pertanggungjawaban dari Cakka Haztoro, kekasihnya.
Hanya saja, ibu dari Cakka tidak merestui hubungan mereka dan tidak mengakui bayi yang ada di kandungan Dara sebagai cucunya. Ia juga menghina Dara sebagai wanita murahan. Hingga Dara memutuskan untuk pergi dari kehidupan Cakka dan membesarkan anaknya tanpa sang kekasih.
Tujuh tahun kemudian, keduanya bertemu kembali, dan anehnya Cakka tidak mengenali Dara sama sekali. Akan tetapi Cakka sudah tertarik pada Dara di perjumpaan pertama mereka. Semenjak itu, Cakka terus berusaha untuk menarik perhatian Dara.
Akankah Cakka berhasil membuat Dara mencintainya? Lalu kenapa Cakka tidak mengingat Dara sama sekali? Ada kejadian apa setelah Dara pergi meninggalkan Cakka?
Yang penasaran sama ceritanya. Cekidot!
Follow ig : @yoyotaa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Kenapa?!
Dua hari kemudian, Cakka pergi ke rumah sakit mengambil hasil tes DNA. Hasilnya Revan adalah anaknya karena memiliki kesamaan hampir 99%. Cakka benar-benar senang menerima kabar baik itu. Ia akan segera menemui Dara dan meminta Dara untuk tak lagi membohongi dirinya.
Setelah dari rumah sakit, Cakka kembali ke perusahaannya. Ia berjalan dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya sambil membawa hasil tes DNA di tangannya.
"Kenapa lo senyum-senyum nggak jelas gitu? Lo masih waras kan?" tanya Gavin yang berpapasan dengan Cakka.
Cakka mengangguk menanggapi ucapan Gavin. Ia bahkan terus berjalan hingga menuju ke ruangannya.
Gavin yang merasa terabaikan hanya melongo dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Dasar aneh!"
Pintu ruangan terbuka, Cakka duduk sambil membuka kembali hasil tes DNA itu. Ia kemudian memanggil Jeslin.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Jeslin.
"Tolong panggilkan Dara! Ada hal penting yang akan saya bahas dengan dia," perintah Cakka.
"Ada urusan apa antara kamu dengan dia Cak?" tanya Jeslin yang tiba-tiba berbicara non formal.
"Jaga bicaramu! Kita sedang di kantor. Jangan bicara non formal begitu!"
Jeslin tak memperdulikan ucapan Cakka itu, ia langsung pergi dari ruangan Cakka dan dengan langkah malas ia menuju ke meja kerja Dara.
"Heh! Wanita genit! Sebenarnya apa yang kamu lakukan, hah? Kenapa Cakka terlihat begitu tertarik padamu!?" kesal Jeslin.
Dara yang sedang fokus kerja langsung mendongak dan menatap Jeslin.
"Tolong jangan ganggu saya bekerja. Anda bisa pergi jika tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan saya," tolak Dara dengan tegas.
"Cih! Memang seharusnya aku tidak kesini! Kamu disuruh ke ruangan Cakka!"
Setelah mengatakan itu, Jeslin berlalu pergi dari hadapan Dara.
"Cakka? Memanggilku? Ada apa?" ucap Dara bertanya-tanya.
*
*
Cakka duduk sambil menunggu kedatangan Dara ke ruangannya. Ya, meskipun peluangnya kecil Dara akan datang ke ruangannya, mengingat Jeslin yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengiyakan perintah Cakka. Namun Cakka yakin, Jeslin tidak sejahat itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Cakka diketuk oleh seseorang.
"Masuk!" ucap Cakka.
Terlihatlah Dara yang masuk ke ruangan Cakka. Cakka tersenyum sumringah melihat wanita pujaannya yang datang.
"Siang pak, tadi sekretaris bapak menemui saya, katanya bapak menyuruh saya untuk kemari. Apa ada hal yang ingin bapak sampaikan?" ucap Dara.
Cakka tidak menjawab. Ia justru menyerahkan dokumen yang ada di dalam amplop cokelat.
"Ini apa ya pak?" tanya Dara yang tidak tahu apa-apa.
"Lihat dan bacalah!" pinta Cakka.
Dara pun mengikuti kemauan Cakka. Ia membuka amplop itu dan membaca dokumen yang ada di dalamnya. Jantungnya bergemuruh dan berdetak dengan kencang.
"Aku sudah melakukan tes DNA dengan Revan. Jadi kau tidak usah lagi mengelak bahwa Revan bukan anakku. Hasil tes DNA itu sudah menjelaskan semuanya," ucap Cakka.
Dara mendongak.
"Kenapa? Kenapa bapak melakukan ini?" tanya Dara dengan sedikit menahan rasa sedihnya.
"Karena aku ingin tahu kebenarannya Dara. Aku tidak mau dihantui rasa bersalah. Aku sudah kehilanganmu saat itu, sudah kehilangan momen tumbuh kembang anak kita. Aku bahkan melupakanmu hampir 7 tahun lamanya. Dan sekarang aku mengingat semuanya. Aku ingin menebus semuanya. Ayo kita mulai dari awal lagi," ucap Cakka.
Dara menggeleng.
"Revan memang anak bapak," ucap Dara yang tidak bisa mengelak lagi dengan bukti-bukti yang ada.
"Ya, kalau tidak dengan cara seperti ini, kamu pasti tidak akan jujur padaku."
"Tapi, untuk kembali dengan bapak, saya tidak bisa. Maaf."
Dara keluar dari ruangan Cakka dan meletakkan dokumen itu kembali di meja Cakka. Ia keluar dengan menahan air mata yang sudah ia bendung sejak Dara membaca hasil tes DNA itu. Tidak ingin dicurigai oleh pegawai lain, Dara memilih pergi ke toilet dan menumpahkan air matanya disana.
Menangis, hanya itu hal yang bisa dara lakukan sekarang. Hatinya bahagia ketika Cakka menginginkan hubungan mereka kembali, akan tetapi ia masih begitu ingat dengan Mama Mira. Betapa kejam dan tidak sukanya wanita tua itu padanya.
"Sampai kapan pun kita tidak akan bisa bersatu, Cak. Mama kamu tidak akan pernah merestui kita," lirih Dara.
*
*
Sementara Cakka, ia uring-uringan di ruangannya karena Dara pergi dengan menolak ajakannya.
"Dara! Sebenarnya kenapa? Kenapa kamu susah sekali menerima permintaanku? Padahal di antara kita ada Revan. Seharusnya itu bisa jadi alasanmu untuk kembali. Haish!"
Cakka mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Apa maksud dari di antara lo dan Dara ada Revan, Cak?"
Gavin yang tiba-tiba masuk tanpa permisi langsung menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
Cakka terdiam. Ia tidak tahu harus mulai menceritakannya darimana. Gavin memang sahabatnya akan tetapi ia tidak mengetahui masa lalunya, karena Cakka memanglah amnesia ada saat Gavin mengenalnya.
Karena Cakka terus terdiam, Gavin melihat dokumen yang tertera di atas meja Cakka. Ia ingin tahu apa isinya yang bisa membuat Cakka uring-uringan.
Gavin terkejut ketika melihat dokumen itu. Apalagi melihat nama Cakka dan Revan tertera dalam dokumen tersebut. Seketika amarah dalam diri Gavin muncul. Ia berjalan mendekat ke arah Cakka menarik kerah kemeja Cakka dan meminta penjelasan tentang dokumen tersebut.
"Jelasin!" pinta Gavin dengan tatapan membunuhnya.
Cakka hanya bisa meneguk ludahnya. Gavin terlihat sangat menyeramkan sekarang.
"Ya, seperti yang terlihat di dokumen," jawab Cakka.
Gavin membuang dokumen itu dan menaruh tangan satunya lagi di kerah kemeja Cakka.
"Kenapa? Kenapa harus lo orang yang menyakiti dara!? Kenapa lo meninggalkan dia saat dia sedang hamil, hah? Kenapa lo bahkan tidak ingat bahwa lo sudah punya anak? Kenapa? Kenapa Cak!? Kenapa lo sejahat itu! Gue bahkan tidak menyangka lo yang gue kenal tidak menyukai wanita selama ini, tiba-tiba punya anak! Dasar br*ngsek!"
Bug!
Satu pukulan mendarat di perut Cakka.
"Pukulan itu bahkan tidak sebanding dengan rasa sakit dan kesedihan yang dialami Dara selama ini. Gue bener-bener nggak nyangka Cak!"
Gavin pergi dengan membawa kemarahan dan kekecewaan pada Cakka.
Cakka yang memegang perutnya dan berusaha duduk di kursinya. Menahan sakit yang teramat sangat. Meski pukulannya hanya sekali, tetapi rasanya sungguh luar biasa.
"Gue emang br*ngsek! Gue b*go! Laki-laki tidak bertanggungjawab!"
Cakka menghina dirinya sendiri sambil meringis. Apa yang diucapkan oleh Gavin benar. Rasa sakit ini memang tidak sebanding dengan apa yang telah dara lalui selama ini. Ia bahkan tidak tahu apapun tentang Dara setelah tujuh tahun tak pernah bertemu. Dan dengan gampangnya, ia malah mengajak Dara untuk kembali padanya. Jelas Dara akan menolak. Cakka akhirnya sadar, apa yang ia inginkan, tak akan mudah tercapai.
*
*
Ramaikan kolom komentarnya teman-teman. Jangan lupa untuk like, vote dan beri dukungannya.
Love you all ❣️
makasih ya author 👍👍👍👍😍😍😍