Saat Reyhan menerima jabatan yang sudah ia kejar. Ternyata Mama sudah menyiapkan calon istri untuknya. Lalu bagaimana Rere yang sudah 2 tahun ini bersamanya?
Pernikahan itu pun sangat hambar. Tak ada kehangatan didalamnya. Bahkan jiwa Reyhan rasanya ingin membludak saat Aisyah sudah berani memarahi Rere. Apa salah jika Rere selalu bersamanya? Rere kekasihnya! pertengkaran setiap harinya tak mereka hindari. Hingga keduanya putus asa dan tak kuat dengan pernikahan mereka, mamah malah mengirim sebuah tiket bulan madu.
Saat senja menjadi siluet bagi Aisyah, Reyhan terdiam, desiran halus dihatinya terasa. Keringat dingin dan deru nafasnya tak beraturan menjadi bukti kepanikannya. Ia teringat mimpinya sendiri, Aisyah meninggalkannya, hatinya menjadi hampa dan begitu sakit. Ia tak ingin merasakan itu lagi, ia pun bangkit dan berjalan dengan tergesa kearah balkon. Aisyah tengah menatap senja dengan damai, wajah cantik itu seakan menyentuh hatinya.
"Jangan tinggalkan aku Aisyah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Menjelaskan
“Dev, gue udah jelasin ini sama lo, gue dan Rere bakalan jadi temen, Rere pun udah setuju. Kalo Rere udah keluar dari rumah sakit pun gue gak akan terlalu deket lagi sama dia, Rere bakalan sibuk sama karir nya dan udah bebas tanpa gue. Lagian kalo gue gak kesini, beban pikiran gue berat, Dev. Rere sakit karena gue, dan lambat laun keadaan pun bisa berubah, Rere terlalu shock gue tinggal gitu aja. Jadi please, jangan ganggu keputusan gue lagi," ucap Reyhan mencoba untuk mengeluarkan semua yang dia rasakan saat ini, dia pun ingin menghentikan semuanya namun waktu seakan belum tepat untuk saat ini.
Devi tampak menghembuskan nafasnya dengan pelan, “Rere besok pagi pulang, jadi hari ini lo udah bebas dari Rere.” Ucapan yang terkesan dingin itu mampu menarik perhatian Reyhan, bahkan ia tidak bisa menutupi rasa bahagia itu diraut wajahnya.
“Beneran? Jam berapa?” Tanya Reyhan sigap.
“Jam sepuluh pagi. Lo gak perlu ikut nganterin Rere pulang, ada Evan yang nganterin kita," ucap Devi terkesan malas. Dengan senyum tipis yang Devi berikan menjadi sebuah pukulan keras bagi Reyhan, keberadaan dirinya tampak tidak diperlukan.
“Gue akan tetep dateng dan anterin Rere pulang,” jawab Reyhan dengan nada dingin.
“Rey! Lo gak mikir kalo istri lo tahu gimana? Bisa-bisa Rere dilabrak, gue gak mau ya Rere dicap jadi perebut suami orang,” geram Devi, bagaimana pun Devi adalah sahabat Rere, hubungan mereka sudah begitu terikat layaknya seorang kakak yang menjaga adiknya sendiri.
Reyhan tak membantah, ia menarik tas kerjanya dan berdiri. Ia pun tidak ingin seperti ini, namun dorongan dirinya yang ingin melihat dan menemani Rere begitu besar. Ia tidak bisa fokus dan selalu memikirkan Rere, dan penolakan batin yang ia terima membuat pikirannya terganggu. Reyhan tidak pernah menyangka, bagaimana bisa dua wanita dihadirkan dalam satu hati yang kecil ini. “Gue gak akan dateng, kalo Rere gak minta.”
...🦋...
Ketukan pintu membuat Aisyah dengan cepat berdiri, tampak Mbak Nur hendak membuka pintu namun dengan cepat Aisyah cegah. “Mbak, biar Aisyah aja yang buka, kayaknya itu mas Reyhan," ucap Aisyah sedikit bersemangat.
Mbak Nur pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk, “Tuh kan bu, Mbak bilang juga apa, pasti sebentar lagi pulang,” ujar Mbak Nur dengan nada senang, melihat Aisyah hanya tersenyum malu karena begitu terlihat mengkhawatirkan Reyhan.
Setelah Mbak Nur berlalu, Aisyah membukakan pintu rumah. “Mas. Alhamdulillah kamu pulang,” ujar Aisyah tak menutupi rasa khawatirnya saat melihat Reyhan berdiri didepan pintu.
“Assalamu’alaikum. Maaf gak ngabarin kamu, Mas baru buka chat kamu tadi, Aisyah,” jelas Reyhan.
Aisyah mengangguk pelan mencoba untuk memaklumi, “Wa’alaikumsalam Mas.” Ia menarik pelan tangan Reyhan dan menciumnya dengan lembut. Lalu ia mengambil tas kerja Reyhan sambil mereka berjalan masuk kedalam rumah. “Mas udah makan?” Tanya Aisyah.
“Udah tadi dijalan,” jawab Reyhan dengan lembut sambil tersenyum kecil.
“Maaf Aisyah gak bawain Mas makan siang. Soalnya Mama pernah bilang kalo setiap hari Sabtu, Mas kerjanya setengah hari.”
Reyhan menghentikan langkahnya, ia menatap Aisyah ragu. “Gak apa-apa Aisyah, salah mas gak kasih kabar ke kamu dulu. Mas keatas dulu ya, mau istirahat sebentar.”
luuuu kan yg udah manggil reyhan buat nemiun Rere....