Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kenyataan
Raihan sengaja mencari celah dimana dia bisa bicara berdua saja dengan Adnan yang sekarang ini merupakan kakak iparnya. Dia ingin menuntut sebuah cerita yang mungkin saja bisa merusak rumah tangganya yang bahkan belum selesai membangun pondasi. Karena terlalu lama tinggal di rumah Papa Bagus, Raihan dan Kirana sekarang ganti menginap di rumah Papa Nandar karena Mama Cecil kan juga ingin merasakan punya menantu katanya.
Semakin sulit lagi Raihan untuk bertemu dengan Adnan. Hingga pada suatu hari, Raihan bisa bertemu dengan Adnan ketika patroli gabungan. Seusai patroli itu, Raihan menahan Adnan dan tanpa basa basi dia langsung menanyakan apa yang dia dengar ketika itu di rumah. Awalnya Adnan ragu, tapi pada akhirnya dia menceritakannya pada Raihan.
“Sorry Han, gue memang bener udah bohong sama Kirana soal Keenan,” aku Adnan.
“Lo bohongin adek lo sendiri? Lo tega bohongin Kirana yang selama ini setengah mati sayang sama lo?”
“Lo harus denger dulu penjelasan gue Han. Gue juga nggak punya pilihan lain. Posisi gue bikin gue sendiri nggak berdaya apa-apa,” jawab Adnan.
Raihan dan Adnan pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk keduanya bisa bicara berdua. Raihan berusaha tenang mendengarkan semua penjelasan Adnan agar lurus semua permasalahannya. Raihan merasa masih banyak hal yang harus dia ketahui dan harus iparnya ini ceritakan padanya. Terutama semua yang terkait dengan Kirana dan Keenan yang merupakan mantan terkasih istrinya itu.
“Keenan yang memintaku buat melakukan itu. Dia sendiri yang memutuskan hubungannya dengan Kirana secara sepihak. Dia bilang dia ingin Kirana melupakannya dan dia memilih cara itu untuk membuat Kirana lupa padanya. Dia selalu meracau, dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia selalu beranggapan jika hal mengerikan itu terjadi pada Kirana karena kelalaiannya. Dia sendiri juga nggak berdaya apa-apa. Hingga akhirnya Papa Mama dan Ayah Bunda memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.”
“Jadi maksudmu Keenan menyetujui hal itu tapi Kirana tidak?”
“Kirana bahkan tidak tahu. Kami semua sepakat untuk tidak mengatakan kebenarannya pada Kirana agar dia tidak semakin mengutuk dirinya sendiri. Kamu sendiri tahu seberat apa perjuangan Kirana untuk survive. Dia sudah terlalu tersiksa dengan itu dan ditengah-tengah kegalauanku kamu datang Han dengan janji untuk membangkitkan Kirana kembali,” kata Adnan.
“Jadi lo yang maksa Kirana buat suka sama gue juga? Ini nggak bener Nan. Kalau hatinya masih untuk Keenan mau aku berusaha sampai berdarah-darah pun nggak akan berguna. Sia-sia semuanya,” Raihan sudah mulai kehilangan kesabarannya.
“Ditambah lagi kenyataannya Keenan memang masih menyayangi Kirana. Hati mereka masih terikat erat walau cincin sudah tidak melingkar di tangan. Lo sadar nggak lo bikin posisi gue, posisi Kirana dan Keenan serba salah,” jawab Raihan.
“Lo harus percaya sama gue. Gue nggak pernah maksa Kirana untuk menerima elo. Dia sendiri yang memutuskan itu. Andai ketika itu Kirana memaksa untuk menunggu Keenan, gue juga akan sampaikan ke elo apa adanya. Tapi satu waktu Kirana datang dan mengatakan jika dia ingin berusaha sayang sama elo.”
“Kirana bahkan nangis kejer sampai sakit hanya karena ketemu sama Keenan itu artinya hatinya masih buat Keenan. Terus gue apa? Gue suami tapi gue nggak bisa miliki hatinya. Lo sama aja bohongin gue kalau kaya gini caranya Nan.”
“Jujur Han, gue sendiri nggak berdaya apa-apa. Gue lihat sendiri gimana adek gue berjuang, dan di satu sisi ada Keenan yang sekarang kerja sama gue. Ketika lo ada diposisi gue apa yang bakal lo lakuin?” tanya Adnan.
“Maksudnya Keenan sekarang anggota?”
“Ya. Dia anggota brimob. Seminggu sebelum lo dan Kirana sebar undangan dia dan dua orang kawannya datang sebagai perwira muda yang bertugas di markas komando brimob,” jawab Adnan.
“Itu artinya dia tahu semua kabar tentang Kirana dan pertemuan keduanya di Bogor kemarin bukan karena ketidaksengajaan?” tanya Raihan membuat Adnan mengangguk lemah.
“Kalau tentang pertemuan mereka gue nggak paham. Setahu gue Keenan ngabisin cutinya di Bandung. Gue nggak expect mereka bakal ketemu di sana,” kata Adnan.
“Good. Terjawab sudah pertanyaan gue. Gue udah curiga sama elo dari awal. Lo dititipin undangan sama Kirana kan? Dan lo bisa dengan mudahnya kasih undangan itu ke Keenan padahal selama ini nggak ada satupun yang tahu kabar Keenan dimana dan gimana. Gue nggak paham sama elo Nan. Gue nggak paham sama maksud dan tujuan lo sebenernya apa,” kata Raihan.
“Terus lo mau gue gimana sekarang?”
“Yang tepat dilakukan adalah lo temuin Keenan dan Kirana lagi. Gue bakal lepasin adek lo,” kata Raihan membuat Adnan memucat.
“Nggak. Nggak mungkin. Lo mau lihat mereka kembali ke titik nol lagi? Keenan sekarang sudah bahagia dengan dirinya sendiri dan adek gue…, dia…, lo…,”
“Ngomong yang bener Adnan!”
“Kirana sayang sama elo. Dia suka sama elo dan dia sudah menerima elo sebagai suaminya. Bisa nggak sih lo pura-pura nggak tahu aja. Lo bisa lanjutin rumah tangga lo sama adek gue. Gue sendiri yang akan jagain bahtera lo. Andai seumur hidup gue nggak bisa bahagia gue ikhlas asal lo dan Kirana tetap sama-sama,” kata Adnan.
“Gue yang nggak mau. Karena sedihnya elo sakitnya elo juga sakit untuk Kirana dan apapun yang Kirana rasain bakal gue rasain juga. Gue suaminya Nan. Memastikan kebahagiaannya sudah jadi tanggung jawab gue,” kata Raihan.
Dari pada Raihan semakin emosi karena merasa dibohongi, dia memilih untuk pergi. Raihan langsung pulang ke rumah dan mencari keberadaan Kirana yang ternyata sedang membantu Mama memasak di dapur. Raihan yang melihat Kirana langsung memeluknya dan mencium keningnya seperti orang yang tidak mau kehilangan.
“Abang? Abang kenapa?” tanya Kirana yang bingung. Dia tidak membalas tapi juga tidak menolak pelukan suaminya. Dia hanya mampu diam dan mematung ketika Raihan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Dek…, Abang capek,” katanya.
“Abang istirahat gih, mandi dulu. Abang bukannya harus patroli malam ini?” tanya Kirana.
“Kamu temani Abang istirahat ya,” ajak Raihan.
“Tapi aku lagi…,”
“Udah nggak papa Mama masak sendiri bisa. Sana kamu temani suamimu dulu,” jawab Mama dengan penuh pengertian.
Kirana duduk di tempat tidurnya sedangkan Raihan yang baru selesai mandi langsung merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di pangkuan Kirana. Beberapa minggu treatment Raihan membuahkan hasil. Lambat laun Kirana mampu menerimanya dan tidak lagi bergetar ketika di dekatnya. Kirana bahkan sudah sanggup tidur dengan tenang di sampingnya dan sesekali mau memeluknya.
“Abang lagi capek banget ya?” tanya Kirana yang terus mengelus kepala Raihan.
“Hmm…, kamu nggak keberatan kan Abang tidur begini?”
“Nggak lah,” jawab Kirana.
“Nanti kalau Abang sudah tidur kamu boleh turunkan Abang. Abang nggak mau kamu kecapekan,” kata Raihan.
“Nggak papa Abang. Udah Abang tidur aja, Nanti kalau sudah mau maghrib Kirana bangunkan,” kata Kirana yang terus mengelus kepala Raihan dengan lembut. Kirana terus menemani Raihan hingga dia sendiri ikut tertidur pada akhirnya.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor