Kisah cinta remaja yang manis
Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.
Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.
Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.
Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.
Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Gibran
Gibran menatap.pantulan dirinya di cermin.
Setelan jasnya sudah rapi. Tapi dia enggan untuk.pergi.
Malam ini keluarga Marsha mengundang mereka.untuk makan malam di salah satu hotel bintang lima milik mereka.
Teringat lagi saat membonceng Aninda. Degup jantung gadis itu yang ngga tenang memukul mukul punggungnya membuat Gibran mengembangkan senyumnya.
Rasanya saat itu Gibran ingin menarik tangan Aninda agar memeluk pinggangnya.
"Gibran ngga pergi ya, mam," tolak Gibran ketika bertemu maminya di luar kamar.
Papanya saling pandang dengan istrinya. Sementara Fatia, kakaknya hanya tersenyum miring.
'"Jangan, dong. Jarang banget, kan, Marsha pulang," cegah maminya.
Kakak perempuannya terkekeh.
Tapi mami melototkan matamya membuat Fatia langsung melangkah pergi.
"Harus pergi," lanjut mami membuat Gobran membuang nafas kesal.
"Hanya makan malam biasa. Kan, udah lama ngga ketemu," kata Papi menengahi suasana yang mulai tegang.
Gibran ngga menjawab, hanya bisa mengikuti kemauan orang tuanya tanpa protes lagi. Percuma.
Kakak perempuannya menatapnya kasian. Dalam hatinya dia ngga rela adiknya bakal jadi kacung anak kecil itu.
Padahal dia udah senang karena mereka putus. Adiknya terbebas dari anak perempuan kecil yang mengerikan itu
Tapi undangan ini rasanya seperti ada udang di balik bakwan. Mengandung kopi sianida buat adiknya.
Mereka pun akhirnya tetap berangkat dengan keterdiaman Gibran.
Ternyata Marsha dan orang tuanya sudah datang. Bahkan Fatia melihat ada laki laki yang ngga dia kenal berada di sana.
"Halo, sayang," sapa mami Marsha pada Fatia dan langsung memeluknya.
"Baik, tante," senyum Fatia hangat. Terhadap mani Marsha, Fatia menaruh hormat dan sayang. Tapi anaknya yang pernah jadi pacar Gibran membuatnya ilfeel abis dan hilang respek.
Mami Gibran pun memeluk Marsha hangat. Calon mantu kesayangannya.
Sedangkan papi Marsha merangkul hangat pundak Gibran yang sudah melebihi tingginya
Papi menepuk pundak laki laki muda yang ngga dikenal Fatia. Dia adalah Zaki, keponakan papi Marsha.
"Papimu apa kabar, Zak?"
"Baik, Om," sahut Zaki hangat.
"Kebetulan Zaki lagi ngurus perusahaannya yang di sini," jelas papi Marsha dengan senyum lebar.
"Oooh, kakakmu belum balik ke sini? Malah ngutus anaknya," kekeh papi Gibran.
"Iya, dia ngirim Zak jadi CEO perusahaannya yang ada di sini," jelas papi Marsha lagi.
"Ya ya. Oh iya, kenalin putra putri Om, Zak. Gibran dan Fatia."
Zaki tersenyum hangat pada keduanya sambil mengangguk kecil.
Fatia dan Gibran pun membalasnya.
Dalam hati Fatia berdebar, mulai berprasangka. Dia jadi takut kalo harus dijodohkan. Laki laki itu memang tampan. Tapi kalo sepupu Marsha, pasti wataknya ngga bakal jauh jauh dari menyebalkan juga. Pikiran Fatia sibuk dipenuhi dugaan negatifnya.
Belum apa apa dia pun sudah ilfeel duluan.
Para orang tua saling mengobrol dengan gembira. Yang muda muda sesekali menjawab kalo ditanya.
"Om, Gibran banyak yang naksir di kampus," adu Marsha manja.
"Ya pastilah. Maka jangan ditinggalkan," sambar mami Gibran kemudian terkekeh.
"Iya, sih, tante. Tapi Gibran yang ngga mau ikut Marsha," rajuk Marsha lagi
"Tenang, dua tahun lagi bisa nyusul kamu," bujuk mami Gibran.
Fatia dan Gibran saling pandang.
"Masih lama tante. Keburu Gibran naksir sama.cewe cewe di sana," masih dengan nada merajuk Marsha mengungkapkan isi hatinya. Teringat cewe yang bernama Reva yang jelas jelas menyukai pacarnya. Belum lagi fans fans perempuan Gibran yang tambah banyak jumlahnya dan juga sangat agresif.
Dalam diam Zaki melihat reaksi enggan Gibran dan Fatia. Dari situ dia langsung tau kalo keduanya ngga menyukai sepupunya.
Tapi setau Zaki, sebelum putus Marsha sering bercerita tentang betapa nurutnya Gibran padanya. Apapun yang diminta.Marsha, Gibran akan menurutinya dan melakukannya seolah tanpa beban.
Mungkin sekarang Gibran sudah punya kekasih baru, apalagi tadi di dengarnya laki laki itu banyak penggemarnya di sekolah.
Wajarlah, dia sangat tampan dan menurut sepupunya merupakan atlet renang nasional. Siapa pun perempuannya pasti akan memujanya.
Ditambah kelakukan manja sepupunya. Dia pun salut ada laki laki yang sangat berkualitas begini mau menuruti segala keinginannya. Mungkin sekarang dia sudah lelah.
Tanpa sadar sudut bibir Zaki tertarik sedikit.
Fatia meliriknya.
Jangan jangan dia akan dijadikan tumbal kalo perjodohan adiknya ngga jadi, batinnya ngga terima.
Laki laki di depannya memang tampan, ditambah sikap dinginnya membuat dia tampak menarik. Tapi Fatia ngga akan mau menerimanya. Dia bisa mencari jodohnya sendiri.
"Gimana Gibran? Kamu setuju kalo secepatnya kalian bertunangan?" tanya papi Marsha menembak langsung.
Gibran sangat terkejut. Begitu juga Fatia. Dia menatap adiknya kasian.
Gibran menghela nafas panjang. Walau sudah menduga makan malam ini akan berujung ke sana, tapi ngga disangkanya, kalo papi Marsha akan sefrontal itu bertanya padanya.
Dia menatap sebentar pada Mrasha, gadis yang dulu dicintainya sampai dikatakan goblok oleh kakaknya. Gibran mencoba mengingat rasa itu lagi. Tapi rasanya sudah hilang ngga tau kemana.
Yang ada hanyalah pendar pendar cinta dan harapan untuk Aninda sekarang.
Walaupun Gibran belum tau sebesar apa cinta dan harapan yang dimilikinya untuk Aninda, tapi Gibran ingin memperjuangkannya
"Gibran?" panggil mami sambil menyentuh tangannya karena melihat Gibran hanya diam saja.
"Saya sudah putus, Om, dengan Marsha, setahun yang lalu," jawabnya membuat keadaan hening.
"Kita hanya break sebentar Gibran," seru Marsha ngga terima, setelah kekagetannya hilang akan pernyataan Gibran yang di luar perkiraannya.
"Kamu ngga bilang begitu waktu itu, Marsha. Padahal aku sudah bilang tunggu aku setahun saja, nanti aku pasti akan ikut kamu. Tapi kamu ngga mau. Kamu ngga pernah mau mengerti tanggung jawabku. Bukan kamu aja yang ingin punya masa depan cemerlang. Aku juga," tandas Gibran membuat Marsha terhenyak dengan wajah pucat. Dia merasa kata kata Gibran sangat menyudutkannya.
Ini bukan seperti Gibrannya.
Gibrannya ngga begini.
Gibrannya akan selalu meng iya kan apa pun permintaannya.
Yang mendengar ucapan Gibran pun ngga bisa berkata apa apa. Seakan sedang menyelami kata kata Gibran yang sangat panjang dan menyiratkan kalo dia sudah sangat bersabar dan akhirnya lelah.
Fatia dapat merasakan betapa sakitnya hati adiknya yang pasti merasa diremehkan oleh pacar kecilnya.
Selama ini kurang bucin apa Gibran menuruti segala permintaan Fatia. Adiknya hanya sekali itu saja meminta, mungkin memohon agar pacar egoisnya sedikit memikirkan keinginannya juga. Tapi tetap ngga digubris. Jangan salahkan kalo Gibran sudah ngga mau lagi. Bahkan mungkin berpaling ke gadis lain.
"Karena perempuan yang namanya Reva, kan? Iya, kan!" tuduh Marsha mulai emosi. Sepasang mata lentiknya mulai memerah menahan tangis.
"Aku malah ngga pernah meliriknya," jawab Gibran tenang.
"Bohong! Kamu bohong!" seru Marsha dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Gibran!" sentak mami panik melihat keadaan Marsha. Saat ini mami Marsha sedang memeluk putrinya dan tangis Marsha langsung pecah.
Untung mereka mereservasi ruangah private.
Papi Gibran dan Papi Marsha masih diam. Seolah masih memikirkan kata kata Gibran tadi.
Papinya mulai sadar mungkin harga diri putranya sudah terluka. Karena papi tau secinta apa Gibran dengan Marsha dulu
"Saya permisi," pamit Gibran sambil bangkit dan melangkah pergi. Ngga ada yang menahannya. Kecuali teriakan mami yang memanggil manggil namanya tapi ngga dipedulikannya.
"Maaf, saya juga pernisi, mau lihat Gibran," pamit Fatia sambil bangkit.
"Bujuk adikmu, Fati," pinta mami sangat berharap walau dia tau harapannya tipis. Mami tentu sadar kalo Fatia pun mendukung apa pun keputusan Gibran.
Fatia ngga menjawab, tapi melangkah cepat menyusul adiknya.
"Kamu mau pulang?" tanya Fatia begitu berhasil menyusulnya.
"Iya, kak. Aku udah pesan taksi online. Tuh, udah datang," jawabnya senang karena ngga perlu menunggu lama.
Gibran ingin ke rumah temannya sementara ini, ngga pulang ke rumah dulu.
"Oke, kabari kamu dimana. Nanti kakak kirimkan seragam sekolah dan baju baju kamu," kata Fatia mengerti.
"Terima kasih, kak. Memang terbaik," kekehnya sambil.mengecup pipi kakaknya yang juga tertaa mendapat perlakuan manis dari adik satu satunya.
Karena inilah mereka selalu dianggap sebagai pasangan kekasih jika sedang hang out berdua
Fatia balas melambaikan tangannya ketika adiknya membuka jendela taksi onlinenya saat pergi meninggalkan halaman hotel bintang lima tersebut.
.CKK kegantung nih...😭😭
Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
MAMPIR THOR 🙋
hihihi