"Apa kau tidak bisa sedikitpun memberikan rasa cintamu padaku?"
Lily Anastasya.
"Tidak karena aku sudah berikan seluruhnya pada gadis masa kecilku, aku sudah menyukainya sejak dulu dan aku tidak akan pernah bisa menyukaimu"
Jason Louvis
Lily Anastasya dikenal sebagai gadis yang ceria, dan dia bertemu seorang pria yang awalnya dia anggap khayalan hingga dia pun bertindak di luar kebiasaannya. Tapi siapa sangka jika awal pertemuan itu membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pria itu.
Tapi bagaimana jika pria itu sudah mencintai orang lain yang tak lain adalah gadis masa kecilnya. Akankah Lily bisa memperuangkan cintanya, atau dia akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
"Makanannya enak sekali Kak," puji Lily dengan mulut yang penuh sambil masih menikmati makanannya.
"Makan dulu baru bicara Lily, nanti kamu tersedak," Al memperingati Lily, Lily benar-benar gadis yang apa adanya, biasanya banyak gadis yang menjaga imagenya saat sedang makan bersama seorang pria.
Lily mengangguk dan terus saja memasukkan makanan ke mulutnya dengan lahap.
"Pelan-pelan, tidak akan ada yang merebut makananmu," peringat Al lagi, melihat Lily yang makan seperti orang yang tiga hari tidak makan.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Lily saat bersama Al, tidak ada pernah yang seperhatian itu sebelumnya padanya, bahkan ibunya saja tidak peduli dia sudah makan atau belum, makan atau tidak.
Tanpa sadar mata Lily berkaca-kaca mengingat itu semua dan kini dia pun menghentikan kegiatan makannya.
Al yang melihat itu, langsung panik. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud apapun Ly, aku hanya khawatir kamu tersedak saja karena kamu makannya seperti itu," Al merasa bersalah melihat Lily yang hampir menangis, sungguh dia tidak ada niat apapun saat mengatakan itu. Al mengira jika Lily hampir menangis karena ucapannya.
"Tidak Kak, kenapa Kak Al minta maaf, aku hanya tidak pernah merasa diperhatikan seperti Kak Al memperhatikanku. Aku tidak pernah mendengar kata-kata itu dari keluargaku," kini air mata Lily tumpah sudah, dia tidak bisa lagi menahannya. Semakin ditahan rasanya semakin sesak saja di dalam hatinya.
Al bangun dan mendekat, setelah itu dia langsung membawa Lily ke dalam pelukannya.
"Jika kamu tidak mendapatkan hal itu dari keluargamu, aku akan melakukannya untukmu, apa yang tidak pernah kamu dapatkan, entah cinta dan kasih sayang, aku akan berikan padamu, jadi tumpahkan segala apa yang kamu rasakan, jadikan aku tempatmu bersandar," Al memeluk erat gadisnya sambil terus mencium puncak kepala Lily tanpa henti, menyalurkan rasa ketenangan untuk gadis yang dicintainya itu.
"Terima kasih Kak, aku akan berusaha untuk bisa membuka hatiku untukmu, aku akan berusaha melupakan dia, dan menyerahkan seluruh hatiku untukmu, kamu pria yang baik Kak, maafkan aku karena pada awalnya aku memanfaatkan kebaikanmu, aku egois karena memintamu untuk membantuku melupakannya, dan tetap mempertahankanmu disaat aku masih mencintainya. Tapi sungguh Kak aku tidak ingin kamu meninggalkanku, aku ingin kau selalu berada di sampingku, dan aku akan berjuang untuk bisa mencintaimu, karena kamu pantas aku perjuangkan," kata Lily dalam hatinya.
"Menangislah sepuasmu jika itu membuat perasaanmu lega, tumpahkan semua rasa sedihmu hanya kepadaku, dan kelak aku akan berusaha untuk mengubah kesedihan itu dengan kebahagiaan," Al mengusap punggung gadis itu yang masih saja terisak dalam pelukannya.
Bi Nia yang merawat Al di tengah kesibukan Ayahnya, apalagi saat orang tuanya memilih untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing, Bi Nia tersenyum melihat Al memeluk seorang gadis, dan bisa Bi Nia lihat sorot mata Al kepada gadis itu yang memancarkan cinta di matanya.
Bi Nia memotret itu diam-diam, Bi Nia tidak tahu saja jika saat ini Lily sedang menangis, karena Bi Nia, melihat itu dari kejauhan. Kemudian Bi Nia mengirimkan hasil fotonya kepada Tuannya, ayah Al.
Bi Nia selalu melaporkan apapun yang Al lakukan kepada sang Ayah, karena itu permintaan dari Ayah Al, karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter dan banyak kehilangan momen kebersamaan bersama putranya, jadi hanya itu yang bisa dia lakukan agar tahu apa saja yang terjadi pada putra kesayangannya.
Setelah merasa lega, Lily melepaskan pelukan Al. Dihapusnya sisa air mata yang membasahi wajahnya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Al menatap Lily sambil mengelus dengan lembut rambutnya.
Lily mengangguk, menjawab pertanyaan Al.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Al lagi menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah Lily.
Lily kembali mengangguk, "Mau, tapi aku mau ke toilet dulu untuk mencuci muka," jawab Lily yang kini sudah merasa lega, setelah menumpahkan rasa sedihnya di pelukan Al.
"Baiklah, ayo kamu bisa memakai toilet di kamarku," ajak Al menggandeng tangan Lily menuju kamarnya.
Kamar Al tampak rapi untuk ukuran kamar seorang pria, banyak buku tersusun rapi di rak. Al menunjukkan Lily dimana kamar mandinya. Kemudian Al memilih duduk di sofa untuk menunggu Lily sambil memainkan ponselnya.
Al melihat ponsel Lily yang tadi di taruh di sofa terus saja bergetar, satu dua kali Al mengabaikannya, tapi ketika panggilan yang ketiga Al pun akhirnya mengangkat panggilan karena gadis itu di kamar mandi cukup lama.
"Halo kamu kemana saja, kenapa telpon dariku tidak kamu angkat, bahkan pesan-pesan yang aku kirimkan dari semalam, hanya kamu baca saja tanpa berniat membalasnya," ucap seseorang di seberang telepon setelah panggilan terhubung.
Al mengernyitkan dahi bingung, bagaimana tidak jika seorang pria menelpon gadisnya dan dia berbicara dengan nada kesal sekaligus khawatir. "Siapa dia?" Dalam hati Al bertanya-tanya.
Al mencoba melihat nama yang ada di layar ponselnya, tapi hanya nomor saja yang tertera, belum ada namanya.
"Halo maaf ini siapa ya," jawab Al.
Jason di seberang telepon memastikan jika dia menghubungi nomor yang benar. Dan memang nomor yang dihubungi nomor Lily. Tapi kenapa seorang pria yang menjawab panggilan darinya, itu yang ada di pikiran Jason saat ini.
"Harusnya aku yang bertanya kau siapa? Kenapa kau yang menjawab panggilan telepon dariku? Dimana Lily sekarang?" Tanya Jason tanpa jeda.
"Kak maaf lama di toiletnya," kata Lily yang tiba-tiba keluar dari toilet.
Al menoleh dan tersenyum, "Tidak apa-apa, yang penting kamu jauh lebih segar dibandingkan tadi," jawabnya, Al lupa jika saat ini dia sedang menerima panggilan di ponsel Lily.
Lily menatap sekeliling kamar Al yang luas, "Pasti nyaman sekali tidur di kamar ini," gumam Lily tanpa sadar. Dan Al masih bisa mendengar apa yang Lily katakan.
"Bagaimana kalau kita tidur saja, kita batalkan saja jalan-jalannya," ucap Al sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Lily.
"Kak Al," Lily akan mencubit Al, tapi Al dengan cepat menghindar dan kini justru menangkap tangan Lily.
"Lihatlah sayang pipimu sudah memerah," Al menunjuk pipi Lily dengan jari telunjuknya.
"Itu gara-gara Kak Al," kata Lily dengan bibir yang mengerucut dan duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Kamu menggemaskan jika seperti itu, jadi ingin menciummu lagi," Lily langsung mengambil bantal dan memukul Al dengan bantal yang ada di sofa yang tadi diambilnya.
Jason mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras saat mendengar pembicaraan dua orang yang ada di seberang telepon, apalagi saat tiba-tiba panggilan itu langsung terputus, dan membuat Jason tidak tahu lagi hal apa yang mereka berdua lakukan selanjutnya di sana.
Jason langsung menghantam kaca yang ada di depannya, tidak peduli jika saat ini dirinya ada di toilet restoran dimana dia menemani Liora makan. Yang saat ini ingin dia lakukan hanya melampiaskan amarahnya.
Jason keluar dari toilet, banyak orang yang menatapnya heran dan penasaran, menebak-nebak apa yang terjadi dengan dirinya, dengan kondisi tangannya yang terluka. Dia berjalan menuju ke ruangan orang yang bertanggung jawab di tempat itu, Jason menemui manager restoran membayar ganti rugi atas perbuatannya tadi, kemudian dia menghampiri Liora.
"Ayo kita pulang sekarang!" Kata Jason berjalan lebih dulu meninggalkan Liora dengan tangan yang terus mengeluarkan darah tanpa berniat mengobatinya terlebih dahulu.