NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:364.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sandrila Patilima

"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"


Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.

Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.

Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.



Genre : Romantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Makan Malam Terindah

Suasana rumah ramai dengan tingkah anak-anak yang ikut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan kami besok pagi.

Teriakan demi teriakan menggema, serasa memecah gendang telingaku. Senyum ikhlas hanya mampu kusunggingkan atas sikap mereka. Maklum mereka masihlah anak kecil yang bergantung sepenuhnya pada ibunya.

Syamil dan Syafiq, dua bocah cilik yang tak ada habisnya meneriakkan namaku yang mereka sebut ummi. Terkadang mereka berantem hanya demi merebutkan kepedulianku. Berharap mereka menjadi yang pertama untuk diurusi olehku. Begitulah, dari segi umur mereka hanya beda satu tahun. Jadi tidak heran jika mereka lebih cenderung memiliki sifat yang sama-sama ingin menang sendiri.

"Aku dulu ummi. Aku kan Abang, jadi urusi pakaianku dulu ummi," teriak Syamil dengan terus menarik tanganku menuju lemarinya.

"Ihhh Abang, Syafiq dulu," celoteh Syafiq tak kalah besar dari abangnya. Bahkan ia sudah mengambil alih tangan yang tadi sudah tergenggam kakaknya.

Di rumah ini hanya mereka berdualah yang sama sekali tidak akur. Berebutan mainan menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Padahal aku dan mas Hafizh sudah berusaha untuk membelikan mereka mainan secara adil. Namun namanya juga anak-anak, lihat sedikit yang baru mereka lebih cenderung ingin memilikinya. Meski itu bahkan sama sekali tidak menarik jika dipandang dari sudut pandang orang dewasa.

"Sini Syamil sama Abi," ucap mas Hafizh sembari berjalan mendekati kami.

Mas Hafizh terlihat lelah. Ia baru pulang dari mengurusi urusan pekerjaannya sebelum berangkat liburan besok.

"Mas, kamu sudah pulang?"

Saking sibuknya menghadapi tingkah Syamil dan Syafiq, sampai aku tidak menyadari kedatangan suamiku ini. Biasanya aku sudah duduk manis di teras depan untuk sekedar menungguinya kembali dari bekerja.

"Iya sayang. Alhamdulillah urusanku sudah selesai." Mas Hafizh segera menuju lemari Syamil untuk memilih beberapa pakaian yang layak di bawa keluar negeri.

"Maaf ya sayang. Aku tidak menyambutmu. Kau lihatkan aku sedang apa."

"Tidak apa-apa sayang." Ia tersenyum manis padaku. Dan melanjutkan memilah baju Syamil yang kini sudah sedikit tenang di sampingnya.

"Aku mau bawa yang ini Abi," titah Syamil manja pada ayah sambungnya itu.

"Siap bos kecil Abi," jawabnya sambil memberikan gerakan hormat pada Syamil.

Gerakan itu sontak saja membuat Syamil tertawa. "Ihh Abi lucu." Syamil mencubit gemas pipi ayahnya, kemudian menghamburkan diri pada pelukannya.

Aku hanya bisa memandang haru dari kejauhan. Tak terasa setetes bulir bening lolos begitu saja dari netraku.

"Ummi kenapa nangis?" tanya Syafiq menyentakkanku dari lamunan.

Mas Hafizh dan Syamil secara bersamaan memalingkan wajah melihatku saat mendengar pertanyaan Syafiq. Keduanya kemudian mendekatiku.

"Sayang, kenapa menangis?" Mas Hafizh membelai pipiku yang telah basah dengan air mata bahagia.

"Aku terharu Mas. Kau begitu tulus menyayangi anak-anakku." Tak tahan, akhirnya semakin banyak tetesan bulir hangat terus mengaliru wajahku.

"Hey. Jangan menangis begitu sayang. Mereka juga anak-anakku, jadi tidak perlu lagi kau mengukur ketulusan kasih sayangku pada mereka."

Mas Hafizh menarikku dalam pelukannya dan mencium puncak kepalaku. Diikuti Syamil dan Syafiq yang juga memelukku.

"Udah beres-beresnya?" Sahut mas Hafizh masih dengan memelukku.

"Sedikit lagi Mas. Emang kenapa?"

"Aku mau ajak kamu membeli gaun untuk kau pakai di pernikahannya Raymond dan Alice besok malam."

"Benarkah? Baiklah, aku segera selesaikan pekerjaanku." Dengan gerakan sedikit dipercepat, aku mengemasi setiap pakaian Syafiq ke dalam koper kecil bergambar Hulk.

Mas Hafizh juga sama. Mempercepat pekerjaannya mengatur semua keperluan Syamil.

***

"Sayang, setelah berbelanja gaun, kita makan malam berdua yuk," ajak mas Hafizh antusias.

"Baik sayang. Eh tapi, ini kita beli gaunnya dimana Mas?" Tanyaku penasaran.

"Di butik milik Samuel Wongso. Seorang perancang busana terkenal."

"Samuel Wongso? Aku baru dengar Mas."

"Ituloh, desainer yang ikut merancang baju pengantin milik Baim Wong."

Baim Wong? Aku pastikan harga gaun di butik tersebut berharga mahal.

"Mikirin apa hayo?" Mas Hafizh menepuk bahuku pelan.

"Harganya Mas?"

"Nggak usah mikirin harga sayang. Yang jelas tidak semahal rumahmu." Ia tertawa kecil.

"Apa sih Mas," ucapku dengan membalas senyumannya.

Obrolan kami terus berlanjut. Ditemani dengan lagu romantis milik pasangan muda Anandito Dwis bersama Anisa Rahma. Mas Hafizh kembali bersikap romantis. Menggenggam tanganku dan kemudian mengikuti nyanyian Anandito bersama sang istri.

Suara merdu itu semakin memperkuat debaran cintaku untuk mas Hafizh.

Hingga tanpa terasa mobil kami sudah berada tepat di depan butik mewah dengan kaca transparan sehingga menampakkan beberapa koleksi gaun pengantin indah yang kutaksir harganya bisa mencapai puluhan juta.

Kami sama-sama turun dari mobil. Berjalan beriringan masuk ke dalam butik.

"Selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" Sapa seorang karyawan perempuan dengan sopannya.

"Kami mau lihat gaun panjang untuk dipakai pada pesta perkawinan," ujar mas Hafizh lembut.

Sedang pandanganku fokus menyusuri setiap sudut ruangan butik megah ini. Terlihat beberapa pasangan muda sedang memilih sepasang baju pengantin. Tidak perlu ditebak lagi, pastinya mereka bukanlah orang dari kalangan bawah.

"Mari kesini Pak," ajak sang karyawati tersebut menuju rak khusus gaun-gaun mewah dengan berbagai macam model.

Mas Hafizh langsung memainkan tangannya menelusuri setiap gaun yang tergantung rapi. Kemudian mengambil beberapa gaun tersebut dan menyodorkannya padaku.

"Cobalah sayang," pintanya padaku.

Aku mengambilnya dan memperhatikan gaun indah yang kini berada dalam genggamanku. Selanjutnya menuju tempat khusus untuk berganti pakaian. Masuk dan mulai mencoba gaun yang diberikan mas Hafizh.

Beruntungnya ruangan ini cukup besar untuk aku bisa bergerak bebas. Disini juga terdapat cermin sebesar tubuh orang dewasa, sehingga aku bisa sepuasnya melihat tubuhku dengan balutan gaun panjang berwarna silver dan berbahan brokat ini.

"Sayang, apa kau sudah selesai?" Mas Hafizh menyingkap kecil gorden penutup ruangan. Mengintip dengan hanya kepala yang terlihat.

Tanpa berkata aku langsung berbalik menghadapnya. Tatapan mas Hafizh seperti sedang terpesona dengan penampilanku.

"Wow, kamu semakin cantik sayang," pujinya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan bersamaku.

"Baju ini sangat pas dan cocok di tubuhmu," pujinya lagi.

"Terima kasih sayang." Aku tersenyum dan menjatuhkan diri dalam pelukannya. Kemudian ia mengecup keningku.

Berganti kini mas Hafizh yang mulai melepaskan pakaiannya. Dan mencoba tuxedo silver yang ia pilih senada warnanya dengan pakaianku. Ia bahkan Terlihat bertambah tampan menurutku.

Selanjutnya kami berdiri sejajar menghadap cermin besar. Dengan satu tanganku menggandeng tangannya. Senyum terkembang dari kedua wajah kami.

Setelah merasa cocok dengan pakaian yang sama-sama kami gunakan tadi. Akhirnya kami membayarnya dan berlalu pergi dari butik mewah tersebut.

"Sekarang kita kemana Mas?"

"Kita makan malam yah sayang. Dinner gitu."

"Baiklah. Kita makan malam dimana?" Sahutku menatap wajahnya.

"Kita ke Le Bridge sayang. Makan malam sekalian menikmati pemandangan laut saat malam hari."

"Bagaimana, kamu setuju?" Tanya sambil memalingkan wajahnya padaku.

"Aku setuju Mas. Sudah lama aku ingin kesana. Kapan-kapan kita ajak anak-anak yah Mas?"

"Iya sayang."

Suasana kembali hening. Tidak ada percakapan lagi antara aku dan lelaki tampan yang saat ini fokus mengendarai mobil menuju Le Bridge. Sebuah cafe unik yang terletak di tengah-tengah laut taman impian Ancol. Cafe ini terkenal dengan jembatannya yang super panjang dan suasananya yang membawa kesan romantis untuk setiap pasangan yang mengunjunginya.

***

Mobil kami sudah menempi di tempat parkir taman impian Ancol. Turun bersamaan dan berjalan bergandengan tangan menuju cafe Le Bridge. Melewati panjangnya jembatan kayu yang banyak dilewati banyak pasangan. Dari yang muda sampai yang dewasa turut menikmati pemandangan pantai Ancol.

"Indah yah Mas." Aku lepaskan tanganku yang bertaut dengan mas Hafizh. Beralih menggandeng tangannya. Kemudian menyenderkan kepala pada bahunya.

Hembusan angin malam menambah suasana ramai ini menjadi lebih romantis. Mas Hafizh melingkarkan tangan yang aku gandeng tadi di pundakku. Sejurus kemudian ia mencium keningku.

Bahagia, aku sangat bahagia bersuamikan ia kini. Aku bersyukur, masih memberikan kesempatan untuk hatiku agar bisa menerima pinangannya dulu.

Tepat memasuki cafe Le Bridge, kami disuguhi yang cukup menyenangkan mata. Sebuah bangku berjejer rapi ditepian pantai.

Kami memilih untuk duduk di sudut ruangan yang berdampingan langsung dengan pagar jembatan yang menjadi pembatasnya. Menikmati pemandangan laut yang begitu indah jika dinikmati di malam hari.

"Kamu mau pesan apa sayang?" Sahut mas Hafizh yang mengambil posisi duduk di sampingku. Dan memegang menu yang telah diberikan pelayan perempuan padanya.

"Aku mau Moon and Black Burger, Spaghetti dan jus mangga."

Pelayan dengan cekatan menulis setiap pesananku dan mas Hafizh.

"Masih ada lagi yang mau dipesan pak?" Tanya pelayanan tersebut.

"Tidak ada Mbak."

Pelayan tersebut tersenyum pada kami. Kemudian pergi untuk menyiapkan setiap makanan yang kami pesan tadi.

"Aku sayang kamu," bisik mas Hafizh saat aku dengan syahdunya memandangi lautan luas.

Aku tidak berkata apa-apa. Hanya menyandarkan diri ini tepat dalam pelukannya. Ia memelukku dari belakang. Tidak peduli dengan banyaknya orang meramaikan tempat ini.

Kami hanyut dengan perasaan cinta masing-masing. Sesekali ia menempelkan bibirnya pada pipiku.

"Terima kasih Mas," ujarku tersenyum.

"Terima kasih telah hadir dalam hidupku." Setetes bulir bening mengiringi ucapanku. Menerawang masa lalu yang membuatku bersyukur. Sebab karenanya, aku bisa bertemu sosok imam seperti mas Hafizh.

Terima kasih atas pengkhianatanmu mas Galih. Terima kasih, karenamu aku bertemu dengan lelaki yang memelukku erat kini. Lelaki yang benar-benar Menjadikanku ratu dalam kehidupannya. Terima kasih!

Pelukan mas Hafizh semakin erat, bersamaan dengan kata cinta yang ia bisikan sempurna.

Bersambung 😁😁

1
Maritza Hanan
asik gerah juga akunya🙊🙊
Nuraini Nuraini
ayo lanjut ko lama
Senja🌻
semangat ❤️ ditunggu feedback nya kk ♥️
Senja🌻
semangat ❤️
Ishiba Aoi
semangat thor!
Khai Rudin
gila parah banget aku nangis dan meleleh terus air mataku
Ishiba Aoi
semangat thor! next
Ishiba Aoi
semangat thor!
vi
knp ga ada lanjutannya ???
Baca Aja
kenapa thor ngga lanjut?
Baca Aja
ini pindah atau bagaimana ?
Baca Aja
seprrtinya kira harus kasih vote rame rame biar lanjut
Baca Aja
smg semua sehat ya thor ..bisa lanjut ceritanya... suka nih ma novel beda dari y lain. sarat makna..
Baca Aja
seneng ni novel banyak hikmah.. ingin belajar mrnulis tlg di bimbing ya
Baca Aja
puaa bisa, nampar galih....
Endang Purwati
wweeuuhhh.....26 M itu tas harganya...
Endang Purwati
sungguh...rahasia Alloh memang tidak ada yg pernah bisa menebak...

dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...

karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....

banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...

keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...

lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
Endang Purwati
dan terima kasih author...sudah menghibur kami para readers dengn cerita indah ini...

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
A͙y͙u͙💖DA
kok g d lanjut kan kk
Endang Purwati
gak mau komentar...lagi osi saya sama suami Rianti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!