'Erlangga Saputra' atau yang biasa di panggil 'Rangga' adalah anak payah, bodoh, pemalas, dan sangat tidak berguna!
hingga suatu saat, ketika ia terbangun dari koma, dan perlahan-lahan menyadari keanehan dalam dirinya.
"sejak kapan aku bisa ini itu? sejak kapan aku bisa melakukan semua hal?"
"apakah kau terbangun dan menemukan sistem?"
"tidak!"
"apakah kau manusia dari dunia lain dan merasuki tubuh Rangga?"
"tentu saja ini adalah diriku sendiri, mana mungkin aku tidak mengenal diriku sendiri?!"
lalu mengapa tiba-tiba dia menjadi jenius dan serba bisa?
penasaran?
silahkan di baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airis28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dia jenius
Akhirnya masalah terselesaikan.
Awalnya setelah Siska selesai menghajar para penculik ini, dia berbalik dan ingin memukul William yang langsung pucat pasi. Untung aku berhasil mencegahnya duluan. Kalau tidak, sudah pasti William akan berakhir di rumah sakit.
“tolong lepas dulu topeng itu” Meski para penculik itu sudah pingsan semua, namun aku masih berbisik-bisik berbicara dengan Siska setelah Siska melepas topeng menyeramkannya “kak, dia adalah William”
Siska menjerit begitu mendengar perkataanku, dia berjalan cepat ke arah William dan menggenggam kedua tangannya. “William... kau keren sekali, bahkan kau mau membantu sepupuku yang payah ini dengan berpura-pura menjadi pangeran berkuda putih”
Dasar Siska, cepat sekali dia berubah pikiran. Padahal tadi dia ngamuk-ngamuk sampai ingin memukul William, tapi lihatlah sekarang, sikapnya langsung berubah 380° begitu mengetahui kalau dia adalah William.
“Kakak malaikat....” anak yang sedari tadi kupeluk akhirnya kembali mengeluarkan suara.
Aku menunduk menatapnya. Awalnya aku ingin menghiburnya karna takut dia jadi memiliki trauma akibat kejadian ini. Namun... sudahlah... sia-sia aku khawatir. Jangankan takut, anak ini malah menatapku dengan sinar gembira.
“kyahahaha... akhirnya aku bisa ketemu kakak malaikat lagi!”
Aku menghela nafas lega. Dan menepuk kepalanya ringan. Syukurlah dia tidak takut dan sedih. Aku selalu khawatir kalau dia akan memiliki trauma di masa kecilnya ini. Karna trauma yang di miliki masa kecil itu akan sangat sulit di sembuhkan jika sudah dewasa.
Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengan bocah ini. “adik kecil, kau sangat hebat! Kau pemberani” aku memujinya dengan tulus. “tapi, bolehkah kakak minta tolong sesuatu padamu?”
Anak itu langsung mengangguk.
“Kedepannya, kalau kita bertemu lagi, tolong jangan panggil kakak dengan sebutan ‘Kakak Malaikat’ oke?”
“kenapa ga boleh?” tanyanya polos.
“soalnya nanti banyak orang menyebalkan yang akan mengerubungi kakak bagai tawon.” Aku membayangkannya saja sudah mengerikan. “dan lagi, jika kau memanggil kakak seperti itu lagi, kakak tidak mau bertemu denganmu lagi!” aku membuat expresi seakan-akan marah.
Anak itu langsung menggeleng cepat. “jangan... ok. Aku ga akan manggil kakak ‘kakak malaikat’ lagi” tampangnya jadi memelas. Wajahnya jadi terlihat lucu. Mengingatkanku pada almarhum adikku saat dia masih kecil.
“jadi aku harus manggil kakak apa?”
“panggil saja kak Rangga, ok?” aku mengangkat tangan kananku ke atas dan di balas tos san oleh anak ini.
“Siap kak Rangga. Hihihi...” dia tersenyum lucu.
Dasar anak kecil. “oh ya, satu lagi. Kau tidak boleh memberitahu siapapun soal siapa kakak yang sebenarnya pada orang lain, termasuk pada ibumu sendiri. Kau mengerti?”
“siap grak” anak itu memakai pose hormat saat upacara.
William sedari tadi membeku saat melihat Siska mendekatinya sepertinya sudah tersadar kalau nyawanya masih aman, jadi dia menghampiri kami. “dik, bagaimana kau tau kalau aku bukan pangeran berkuda putih yang asli?”
“apa maksudmu?” aku mengerutkan kening.
“Saat dia melihatku, dia sama sekali tidak memanggilku dengan sebutan ‘kakak malaikat’ wajahnya juga terlihat kebingungan. Tapi saat kau datang, dia langsung tersenyum dan memanggilmu kakak malaikat.”
“Itu gampang!” anak itu menjentikkan jarinya. “tinggi kakak lain.”
Aku melongo mendengar penjelasan anak itu. Ya. Tinggiku dengan William memang beda. Tapi hanya berjarak 2cm loh... bagaimana mungkin bocah 5 tahun ini bisa mengetahui kalau tinggi kami lain?
“Terus.. mata kakak juga lain”
Memang bentuk mata kami sangat beda, tapi kami sama-sama memakai topeng yang menyebabkan bentuk mata tidak terlalu terlihat, bagaimana bisa anak ini melihat perbedaannya?
“kau sangat pintar. Umurmu itu memang masih 5 tahun kan?” tiba-tiba aku bergidik ngeri, bisa saja dia aslinya sudah besar, namun tubuhnya yang masih kecil.
“Iya. Aku masih 5 tahun. Kata bu guru aku sangat pintar. IQ ku 210” dia tersenyum dengan bangga. Agak sedikit sombong menurutku.
Aku langsung menoleh pada William. Menatapnya serius “William.. jangan memberitahu tentang anak ini pada ayahmu!”
William mengerutkan keningnya, heran dengan perkataanku.
“aku tidak ingin ayahmu akan berpikiran untuk menjadikan anak ini, anak angkatnya juga hanya karna dia IQ nya tinggi.”
William mengerutkan kening, dia menatap anak ini, kemudian berbalik. “aku bukan orang yang tidak ada kerjaan sambil menceritakan semua hal” William menaiki motornya dan meninggalkan kami semua.
Aku yakin dia pasti kesal dan tidak akan mungkin mau ayahnya kembali mengambil anak angkat.
Saat William pergi, saat itulah aku menyadari kalau Siska sudah tidak ada. Dia pasti membawa motornya diam-diam dan menyalahkan mesin motornya setelah jarak yang agak jauh dariku, supaya bisa kabur diam-diam.
Hp ku berbunyi, dan kulihat nama yang tertera di layar adalah ‘Kak Siska’. Tiba-tiba aku punya firasat tidak enak. Aku mengangkat telepon itu.
“Halo... kak, kenapa tiba-tiba kau pergi?”
“Hehehehe” Siska terkekeh mendengar ucapanku. Semakin mencurigakan! “Rangga, aku sudah menelepon polisi yang akan segera sampai kesana sebentar lagi. Jadi selamat bersenang-senang” Siska langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Bersenang-senang dari mananya? Kesenanganku itu hanya berada di rumah, di kamarku, sambil rebahan memainkan game atau mendengar musik! Siska... kau jahat!!
Aku berfikir sebentar “apa lebih baik aku kabur saja ya?” lalu melirik bocah di sebelahku yang masih menatapku dengan senyuman.
Haa.... aku tidak bisa meninggalkan bocah ini sendirian. Bagaimana kalau nanti dia di cukik lagi? Haaa... dengan sangat terpaksa aku harus mengikuti permainan Siska.
Eh... tunggu dulu. Aku teringat sesuatu. Dia kan bocah yang jenius. “hei bocah, siapa namamu?”
“namaku Riki”
“Bisakah kau membantuku?”
“tentu saja!” ucap Riki bersemangat.
Aku menyeringai. Maaf Siska, tapi semuanya tidak akan berjalan sesuai keinginanmu. He.. he...
***
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya para polisi sampai di tempatku dan melihatku yang sedang bersama Riki di samping Prince.
“pemuda itu...”
“Bukankah dia yang di sebut ‘pangeran berkuda putih’?”
Bisa tidak sih kalian tidak menyebutkan julukan itu? Setiap kali aku mendengarnya, moodku langsung hilang.
“Sepertinya dia berhasil menyelamatkan anak ini”
“Dan sepertinya dia juga berhasil mengalahkan para penculik ini sendirian” ucap seorang polisi yang melihat para penculik yang sudah babak belur dengan tubuh terikat bersama.
Tidak... kalian salah. Yang menghajar mereka bukan aku. Tapi si Dewi Kematian! Atau sebutan umumnya ‘monster cantik’.
Seorang polisi berjalan menghampiriku. Sepertinya dia seorang kapten. Dan aku langsung naik ke punggung Prince.
Langkah kaki kapten itu terhenti dan menatapku.
“pekerjaanku disini sudah selesai. Tolong urus yang disini. Dan kembalikan anak ini pada orangtuanya” aku menatap Riki yang ada di bawah.
Riki mengangguk, lalu berlari ke para polisi itu.
“Terima kasih untuk kalian yang sudah datang kemari. Dan maaf, aku tidak bisa memberikan penjelasan apapun pada kalian” aku sedikit menunduk dan langsung pergi dengan Prince setelahnya meninggalkan para polisi yang memperhatikanku sampai di kejauhan.
“Pemuda yang pemberani”
“dia hebat”
“Seharusnya aku minta tanda tangannya tadi”