NovelToon NovelToon
Midori High School

Midori High School

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yoru Akira

Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.

Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?

Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.

Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.

Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 : New Face

Semesta Arata

Peluncuran Midori Magz digital tertunda selama satu minggu sejak peristiwa yang menggemparkan Midori High School. Hari ini yang ditunggu para anggota ekskul Midori Magz, setelah menunggu kasus yang melibatkan Ayyara diproses oleh pihak sekolah dan kepolisian. Cewek itu terlihat lebih sehat dari terakhir kali ditemukan. Bekas luka sayatan di wajahnya sudah mengering. Malam ini tersamarkan oleh make up yang sengaja dipoleskan tipis di wajahnya.

Dia terlihat sangat cantik dibalut dress berenda warna hitam selutut. Rambutnya yang lebih panjang dari biasanya disanggul dengan gaya modern. Anak-anak rambutnya dibiarkan tergerai di kening.

“Kirei ne31),” sapa seorang cewek membuat pandangan Arata teralihkan.

Metha berdiri sambil tersenyum manis. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit akibat luka parah bekas penganiayaan, malam ini ia menghadiri peluncuran Midori Magz digital. Yang membuat Arata terkejut, Metha memberikan komentar dalam bahasa Jepang.

“Jangan heran gitu deh, itu hasil googling barusan.”

“Kamu sudah baik-baik saja?”

“Yups, kayaknya memang aku nggak bisa menyaingi Ayyara dari segi apa pun. Btw, aku dulu sempat ingin mengagalkan niat Ayyara bergabung di Midori Magz.”

“He?”

“Ingat prakarya yang akan dia kumpulkan untuk seleksi masuk Midori Magz? Itu aku yang ambil. Yah mulanya nggak sengaja nemu jatuh di koridor, tapi entah kenapa aku merasa terancam dengan keberadaannya. Kamu tahu, kalau aku nggak bisa memiliki Jojo, berarti orang lain pun tidak. Yah tapi sekarang aku sadar, ada orang lain yang benar-benar peduli padaku. Sampaikan ini pada Ayyara ya.”

Metha memberikan prakarya hasil kerja keras Ayyara untuk seleksi Midori Magz. Cewek itu tersenyum sebelum meninggalkan Arata sendirian. Arata kembali mengagumi kecantikan Ayyara yang kini berjalan ke arahnya.

“Kak Metha udah sembuh?” tanya Ayyara saat berhenti di depannya. Arata hanya mengangguk setuju. “Eh, itu bukannya prakaryaku?”

“Ya, dia yang menemukannya.” Arata menunjuk ke arah Metha yang kini berbelok di koridor ke arah ruang ekskul fotografi.

“Aku sih lebih percaya kalau dia yang menyembunyikan.”

Arata tertawa menanggapi komentar Ayyara. Cewek itu sepertinya belum bisa menerima jika Metha juga memiliki sisi baik.

“Tapi dia mengakui karau tidak bisa menyaingi kamu dari segi apa pun.”

Senyum Ayyara mengembang. “Itu udah pasti. Enak aja dia mau kalahin aku begitu aja. Selama aku masih punya Arata, siapa pun nggak akan ada yang bisa kalahin aku.”

“Kenapa begitu?” tanya Arata penasaran. Namun, sebelum Ayyara sempat menjawab, seseorang menghampiri mereka.

“Hei, waktunya pencetus ide memberi sambutan. Ayo ke panggung.”

Jonathan menginterupsi pembicaraan Arata dan Ayyara. Berat hati Arata melepas Ayyara untuk pergi ke arah panggung bersama Jonathan.

“Nanti aku bakal bilang ke kamu. Tunggu ya!”

“Hai.”

Punggung Ayyara menjauh bersama Jonathan yang menggandeng tangannya. Meski terasa nyeri, Arata tidak ingin memalingkan pandangannya.

Semesta Ayyara

Tak lelo lelo lelo le dung

Cup meneng aja pijer nangis

Anakku sing ayu rupane

Yen nangis ndak ilang ayune

Tak gadang bisa urip mulya

Dadiyo wanita utama

Ngluhurake asamane wong tuwa

Dadiyo pandekare bangsa ...

Rasanya kaku, terlalu biasa apabila kuawali kisah ini dengan sajak. Apalagi penggambaran suasana. Membaca awalnya saja, mungkin ribuan orang langsung membuangnya. Maka biarlah aku menembang. Kan kubawakan kisah mengalir seperti mimpi. Menyihir hingga membuatmu tak bisa berpaling.

Wis cep menengo anakku

Kae bulanne ndadari

Kaya buta nggegilani

Lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledung

Cep menengo anakku cah ayu

Tak emban slendang batik kawung

Yen nangis mundak ibu bingung

Aku tak terlahir dari cerita-cerita lama macam Mahabarata ataupun Ramayana. Tapi aku merasa ada bagian dalam tubuhku yang diwariskan dari kitab-kitab usang. Bukan mereka yang beradu alur dalam tokoh pewayangan. Kisah mereka yang menjelma dalam tubuhku terasa lebih baru.

Ken Arok, patih yang bersumpah Palapa, empu pembuat senjata yang pernah menghuni desa tempat kelahiran ibuku, putri yang rela nyepi dan akhirnya moksa, bidadari swargaloka, semua terpatri di setiap inchi tubuhku.

Pernahkah kau mendengar cerita tentang bidadari Nawang Wulan?

Atau membuka kitab-kitab yang diturunkan pewarismu?

Bagiku, nama Nawang Wulan tak lagi asing. Sejak sekolah dasar, aku sudah terbiasa mendengar kisah raja-raja, putri kerajaan-kerajaan Jawa, bahkan mereka yang menjelma dari gaib.

Aku tumbuh bersama cerita tentang mereka. Entah dari lisan bunda atau buku-buku yang telah menguning di perpustakaan sekolah dasar.

Mungkin itu semacam pembelaan agar aku tak dianggap terlalu modern. Entah mengapa pula, aku juga tak ingin dianggap anak zaman milenial atau bahkan dianggap anak generasi Z yang katanya lebih suka melakukan apapun melalui dunia berlayar enam inchi. Aku takut orang lain mencemooh hanya karena istilah milenial atau “hei, Z”.  Aku lebih suka dikenal sebagaimana seutuhnya diriku. Ayyara Ratri. Perempuan Jumat Pahing yang ingin selalu hidup dalam tradisi meski tak juga menolak modernisasi.

Maka anggap saja aku seorang perempuan jawa yang ingin berpandangan modern tanpa melupakan dari mana akarku berasal. Tanah para raja menguasai nusantara.

Atau anggap diriku seperti Faust yang dikawinkan dengan Arjuna. Kedua tokoh itu digunakan Sanusi Pane untuk mengawinkan budaya barat (Faust) dengan budaya timur (Arjuna) pada masanya. Semacam benteng pertahanan agar sebagai orang timur bisa memilah apa yang ditawarkan barat—orang-orang kulit putih tanpa melupakan akarnya. Maka aku lebih suka menyebut diriku sebagai hasil perkawinan Faust dan Arjuna.

Kupertegas sekali lagi. Aku hasil perkawinan dari Faust dan Arjuna.

“Itu resume yang kutulis saat bergabung dengan Midori Magz tiga bulan yang lalu. Meski sempat menghilang, secara ajaib resume ini kembali padaku tepat sebelum menyampaikan pidato di hadapan bapak/ibu guru serta teman-temanku semua. Terima kasih untuk orang yang sudah mengembalikan tepat waktu. Berkat ini aku memiliki kekuatan berdiri di sini.

Dalam beberapa hal aku keliru. Kita kini hidup di masa serba digital, tak mungkin bisa berkembang jika ketinggalan zaman. Setiap hari, setiap peristiwa bisa sampai dengan cepat kepada seluruh orang di dunia karena kecanggihan teknologi. Untuk itu, meski berat hati mengakui kami pun harus bergegas mengejar ketinggalan di bidang TI. Oleh karenanya malam ini akan kami persembahkan New Face : Midori Magz dalam genggaman.”

Suara tepuk tangan meriah menutup pidatoku. Pak Sastro berjalan ke arah panggung didampingi Kak Jonathan. Melalui ponsel masing-masing yang sudah disambungkan ke layar LCD, mereka mengunduh aplikasi Midori Magz digital dan berselancar dalam dunia enam inchi itu.

“New Face : Midori Magz dalam genggaman sudah bisa kalian nikmati,” kata Pak Sastro disambut tepuk tangan lebih meriah.

Aku tersenyum puas. Satu mimpiku semakin dekat untuk diraih.

***

Arata menyerahkan cola kaleng saat aku menghampirinya di bawah panggung. Kami berjalan menjauhi panggung ke arah yang lebih tenang dari keriuhan siswa Midori Magz.

“Pidatomu memukau. Mereka mengira kamu akan menyanyi dan sempat terkecoh.”

“Belum pantas lah aku berpidato serius macam Pak Sastro.”

Arata tersenyum menanggapi pernyataanku.

“Ne Ayyara-chan, tsuki ga kirei desu32).” Pernyataan Arata membuatku refleks menatap ke langit. Tapi cowok itu justru tertawa. “Memang belum waktu yang tepat ya.”

“Eh apa sih?”

“Iie.”

“Ne, Arata-kun.”

“Karau sudah waktunya kamu akan tahu.”

“Ish, sok misterius.”

\=\=\=\=\=

31) Cantik memang kata yang pas untuk mengambarkan keadaan Ayyara saat ini. Tapi bagaimanapun keadaannya gadis itu memang selalu cantik di mata Arata.

32) Bertahun berikutnya aku baru tahu maksud perkataan Arata malam itu. Pernyataan ini semacam ungkapan cinta menggunakan majas personifikasi. Cantikmu seperti rembulan malam ini.

1
Icha Akim
kapan dilanjut lagi
Keisya ayu wandira
g sabar nunggu lanjutannya..ganbatte kudasai kak yoru
Jasmine
asiiiikkkkk up ny stlh sekian purnama.
semangaaattttt
Icha Akim
😍😍💐💐💐💐💐💐💐
Icha Akim
alhamdulillah ....semoga sehat terus biar bisa lanjutin MHS dan PULANG💪💪💪💪
Jasmine
ceritany kerreeennn.
dtunggu up ny thor.
semangatttt
Zullya dewi Suryani
tulisan Yoru tu keren2 tp knp yg like sedikit
Zullya dewi Suryani
aku selalu suka tulisan Yoru
Sri Dinar
setia menantimu thor
Icha Akim
masih sabar menunggu
Icha Akim
kapan up lagi thor
rayya oey
like
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
Araya n Ayyara...Miss you all...
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
kpn up LG kak Yoru??aq tungguin....
Ari Eka
semangat up nya thor
bagus cerita2 nya
Jingege54
humm mantap thor 😆 lanjut terooosss jangan patah semangat 💙💪 kutunggu terus kelanjutannya thor 😉 up up up lagi crasy up!

feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆
rayya oey
like
writer in box
salam dari iya dia istriku kisah ketulusan seorang suami yang merawat istrinya yang menderita ganguan jiwa/skizofrenia. Boom like dari iya dia Iya dia istriku💪💪🥰🥰🥰
Rindu F.
jadi inget masa SMA thor. aktif kegiatan ini itu. 😢
Sivia
Thor, Ayyara gak mungkin sama Jo, kan? Duh, plis Thor biarin Ayyara sama Arata aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!