Hanya karna melihat dari penampilan saja mereka sepakat untuk menikah karna perjodohan dari orang tua mereka.
Tanpa ada pendahuluan, awalan, pendekatan ataupun suatu ikatan cinta sebelumnya, tapi mereka dengan mantapnya menyetujui perjodohan itu.
Tata adalah seorang gadis yang sangat hyperaktif di segala kondisi dan cuaca serta kehidupannya yang sangat beruntung.
Sedangkan Bara, banyak hal yang dia rahasiakan tentang dirinya.
Mereka hanya melihat apa yang Bara perlihatkan sedangkan jauh disana, sebuah rahasia yang terjaga dengan baik sedang berada di ujung tanduk.
Akankah Bara mulai luluh kepada Tata? atau mungkin Bara yang mulai menceritakan tentang kebenaran dirinya kepada Tata? Apakah Tata bisa menerima semua ini setelah apa yang sudah terjadi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.
"Ini terasa membosankan" keluh Tata yang membuat mereka memutarkan bola matanya malas.
"Hey ****** sialan! Kita bahkan baru saja berkendara lima menit yang lalu! Kau ini"
"Aku hanya bercanda" kekeh Tata pelan.
Sedari tadi Tata terus mengerucutkan bibirnya, rasanya kaya ada sesuatu yang kurang dan mengganggu pikirannya membuatnya merasa bosan dan bercampur malas.
"Ponselmu terus bergetar" Pinkan memberi tahu Tata saat dia sibuk menatap ke arah luar mobil, mengamati jalanan yang terasa aneh baginya padahal dia tidak berpindah planet tapi ini pertama kalinya keluar dari rumah lagi setelah sebulan terakhir ini.
'Apa seburuk ini' batin Tata.
Tata menatap ponselnya, disana nama Ziden tertulis sebagai penelfon.
Tata menolak panggilannya dan kembali menatap kearah jalan, tak lama ponselnya bergetar kembali dengan nama penelfon yang sama.
Tata menarik nafas malas sembari mengangkat telfonnya, Tata menyenderkan kepalanya di kaca mobil dengan ponselnya yang dia tempelkan di telinganya.
Tata itu lagi di fase malas ngomong, malas ngeliat, malas mendengarkan dan berbagai kemalasan di dunia ini semuanya hinggap di dalam diri Tata, intinya dia sedang malas.
"Hm" saut Tata saat mendengar suara dari sebrang sana yang memanggil namanya.
'Apa yang sedang kau lakukan?' tanya Iden.
"Tidak ada"
'Aku baru saja mendapatkan sebuah kata'
"Jangan menelfonku hanya untuk mengatakan hal konyol"
'Aku serius, aku akan mengatakan jika kau mau mendengarnya'
"Cepat aku tidak punya banyak waktu"ketus Tata, ya karna memang ia sedang malas mendengar sesuatu yang tidak ingin dia dengar.
'Aku menyukaimu'
Tata mengerjapkan matanya sembari membenarkan duduknya, tangan kanannya spontan memegang ponsel miliknya.
Aku yang salah dengar atau memang dia yang salah berbicara!?.
'Aku menyukaimu bagaikan bulan mencintai malam' lanjutnya lagi.
Tata setia mendengarkan, ia sesekali melirik kearah teman-temannya yang sibuk bercengkerama dan bermain ponsel.
'Demi waktu, demi yang ada di bumi dan.. '
'Demi dirimu'
'Ini mungkin terdengar konyol, mengatakannya seolah penuh ***** yang membara kepada gadis berbaju hitam'
'Hitam sepekat malam'
Tata lantas menatap baju yang dia kenakan saat ini dan kembali mendengarkan.
'Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet'
'Aku mengorbankan jiwaku dengan kesucian lautan'
'Membara seperti api dan meluas seperti samudra'
'Aku tidak bisa menjaga rahasia, jika itu denganmu'
'Mengatakan kepadanya hal yang aku mau'
'Membinasakan segala peradaban'
'Aku akan menceritakan kepada bulan bahwa matahari cemburu melihatku mencintaimu seperti dinginnya malam'
'Kekasihku, demi bumi, matahari dan bulan aku mengatakan bahwa mereka adalah saksi'
'Saksi bahwa aku mencintaimu'
Tata masih diam, dengan ponsel yang setia dia tempelkan di telinganya.
Dia terkekeh perlahan, mendecih mendengar ucapan konyolnya di seberang sana.
"Apa kau gila! " ucapan yang terlontar dari mulut Tata seolah menegaskan dan memberitahu Iden bahwa omong kosongnya tidak berarti apapun.
Dia yang bodoh atau memang ia yang sedang di bodohi saat ini, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan sekali perucapan dan di situasi seperti ini.
'Itu sebuah bait puisi karya Len Jioha'
'Aku baru saja membacanya kemarin' lanjutnya lagi yang membuat Tata mengerucutkan bibirnya dengan kedua alis yang saling terpaut.
"Sialan kau ini!" Desis Tata pelan.
Disana Pinkan yang duduk di sampingnya menatap bingung kearah Tata dan bertanya tanpa suara kepadanya, menanyakan dengan siapa dia bertelfon namun Tata hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Aku akan mematikan telfonnya"
'Lihat keluar' ucapnya yang membuat Tata langsung menoleh ke arah luar jalan di sampingnya mobil yang dia naiki.
Saat ini mereka berada tepat di lampu merah.
Disana, Iden tengah menatapnya dengan sedikit menurunkan kaca mobilnya.
Kenapa bisa pas sekali seperti ini? Apa memang sebuah kebetulan atau mungkin dia sudah mengikuti mereka sedari tadi.
'Kau sangat cantik' ucapnya lagi dari sebrang sana, mata mereka masih saling menatap satu sama lain.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Tata, mereka hanya saling menatap dalam diam, hanya suara lalu lalang yang mengelilinginya.
'Aku akan menunjukan sesuatu' ujar Iden.
"Apa"
'Itu sebuah tempat'
Tata diam sejenak mencoba berpikir apa yang sebenarnya dia inginkan.
'Kau bisa ikut denganku jika kau mau'
Ucapannya seolah mereka sudah saling mengenal saja, mengajaknya seolah mereka adalah kawan sebaya yang sudah akrab dan sering hang out bersama.
Tata menatap Iden kemudian menatap sahabatnya bergantian, menimang nimang yang mana yang akan dia pilih.
Tapi di sisi lain Tata sadar, kenapa dia tidak langsung menolaknya saja itu seolah mengatakan bahwa Tata menginginkan ajakannya, padahal Tata sedang malas tadi kenapa sekarang dia seperti segar kembali.
Tata ingin sesuatu yang baru, yang mungkin belum pernah dia lakukan sebelumnya, itulah yang ada di pikiran Tata sebagai jawabannya.
Jika bersama sahabatnya sudah sangat jelas kemana tujuan mereka saat ini, tapi..
Tempat apa yang ingin dia tunjukan?.
'Kita tidak punya banyak waktu' ucap Iden lagi dari telfon.
Tata menggigit bibir bawahnya kuat, keputusan mana yang akan dia ambil.
Di satu sisi dia baru saja mengenali Iden dan disisi lain sahabatnya dengan jelas ingin menemani dan menghiburnya, bagaimana ini!.
'Kau harus memilih sekarang' Ucap Iden lagi yang membuat Tata semakin bingung dan gelisah.
Tata memikirkan pilihan mana yang akan dia ambil dan keputusan mana yang tepat untuknya sekarang.
Waktu terus berlalu, suara deru mobil membuat Tata semakin gelisah.
Tata melihat lampu sudah berubah menjadi hijau, tidak Tata bahkan belum memutuskan apapun saat ini.
"Aku akan pergi, kalian bisa pergi tanpaku" Tata langsung keluar dari mobil dan menaiki mobil Iden yang tepat berada di sebelahnya, dia menghiraukan teriakan teman-temannya yang terus memanggilnya.
Mereka pasti mencemaskan dirinya, Ya itu sudah pasti.
Ponselnya terus bergetar, disana nama Pinkan menelponnya.
"Kau bisa bilang padanya bahwa kau bersamaku" Ucap Iden yang langsung dia turuti.
Tata menuliskan pesan teks dan langsung menyimpan ponselnya setelah selesai mengirim pesan.
"Kau bisa duduk di depan, aku bukan supirmu"
Lagi, Tata menuruti ucapannya dan berpindah duduk ke depan dengan kondisi mobil yang masih melaju.
Tata tidak mengatakan apapun ataupun sekedar bertanya kemana dia akan membawanya.
Tata hanya diam menatap kearah Iden yang tengah fokus mengemudi sembari merasakan angin yang bertiup pelan menyisir permukaan kulitnya.
Aku akan mengikutinya, sejauh apapun pria ini membawaku pergi.
Pria asing yang baru-baru ini ku kenali, dengan berawalnya pertemuan dan ketidak sengajaan di antara keduanya.
Entah apa yang membuat Tata yakin dengan pria yang bahkan tidak jelas dia ketahui asal usulnya itu.
Yang jelas, Tata mempercayai pria yang saat ini tengah tersenyum manis padanya.
jangan lupa mampir di karya aku juga ya kk
🥰
My Little Prince dan VCPD
terimakasih 🙏