"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Arka memarkirkan mobilnya dengan asal, kemudian ia turun dari mobil dan sesaat kemudian Mentari juga ikut turun. Arka langsung masuk bahkan Linda sampai kebingungan dengan Arka dan Mentari.
"Kak Arka!" Mentari berlari mengejar Arka, dan sesaat kemudian ia ikut masuk kedalam kamar bersama dengan Arka, "Kak, lu sengajakan! Sekarang Tari harus apa? Gimana kalau temen-temen Tari tau kalau kita udah nikah," Mentari berdiri di depan Arka, dan tangannya mendorong dada bidang Arka. Kekesalan yang ia rasakan masih pada puncaknya, hingga ia terus ingin membuat Arka mengerti tentang ia yang tidak siap dengan status istri yang ia sandang.
Arka hanya diam, ia bahkan membuang pandangannya kearah lain. Ada rasa kesal yang masih ia rasakan, dan menurut Arka Mentari sudah sangat keterlaluan.
"Kak jawab! Jangan diem aja.....lu punya mulut kan Kak!" teriak Mentari, yang kesal karena Arka sangat sulit untuk menjawab setiap pertanyaan yang ia berikan, "Besok Tari haru gimana sama temen Tari, Tari harus jawab apa? Kakak sengaja kan? Kaka sengaja jemput Tari, narik Tari, nyuruh Tari pulang dengan cara tadi terus mereka nanti tanya dan penasaran? Kakak sengaja biar mereka tau iya kan!" tutur Mentari dengan suara penuh amarah, dan sesekali ia berteriak di hadapan Arka, "Jawab dong Kak Arka jangan diam aja!"
"Lalu kenapa kalau mereka tahu?" tanya Arka dengan suara berat dan tertahan, karena ia tidak ingin berbuat kasar pada Mentari sungguh kekasaran pada wanita bukanlah hal yang melekat pada nya.
Mentari menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Arka, "Tari masih sekolah! Dan Tari nggak mau orang-orang tahu kalau Tari udah menikah!" terang Mentari lagi dengan jelas.
"Kenapa? Apa kau masih ingin bebas?"
"Iya!"
Linda yang memang tidak sengaja melewati kamar Arka, tanpa sengaja mendengar keributan sebab pintu memang terbuka dengan lebar. Hingga ia langsung masuk dan ingin tahu apa yang terjadi.
"Arka.....Mentari.....ada apa ini?" tanya Linda dengan bingung, karena ia dapat melihat emosi dari wajah keduanya.
Arka hanya diam saja dan melihat arah lainnya, sedangkan Mentari langsung menatap Linda.
"Ada apa Nak?" dengan lembut Linda kembali bertanya sambil ia mendekati Mentari.
Mentari menatap Arka, "Mi Tari mau pulang aja ke rumah Mama," kata Mentari, kemudian ia menatap Linda.
"Lho....lho.....ada apa ini, kalau ada masalah ya di selesaikan baik-baik Nak," kata Linda yang ingin menengahi pertengkaran tersebut.
"Tari pulang aja ke rumah Mama.....Tari pamit Mi," kata Mentari pada Linda lalu ia pergi begitu saja tanpa berbicara dengan Arka lagi.
"Mentari......." Linda mencoba menghentikan Mentari, tapi Mentari sudah pergi dengan cepat-cepat tanpa bisa di tahan, "Arka ini ada apa Nak?" tanya Linda yang kemudian mendekati Arka.
Arka menatap Linda, dan ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Linda, "Arka cuman mau Mentari tahu posisinya Mi," jelas Arka.
"Maksud kamu apa Arka?" Linda sepertinya bel mengerti dengan apa yang di maksud Arka, dan ia butuh penjelasan.
"Apa Mami di bebaskan oleh Papi pergi tanpa pamit, dan apa Papi membebaskan Mami pergi dengan siapa saja termasuk teman pria?" tanya Arka, tapi ia tidak butuh jawaban dari Linda. Hingga Arka masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan Linda yang masih berdiri di sana.
"Arka tunggu Nak," Linda sejenak mengerti maksud Arka, namun Linda juga sadar dengan usia Mentari yang masih cukup muda. Hingga akhirnya Linda keluar dari kamar Arka.
Sementara Mentari mulai keluar dari gerbang rumah mewah milik Arka, dan ia mulai memasuki gerbang rumah kedua orang tuanya. Dengan langkah kaki yang berat dan perasaan kesal Mentari terus melangkah masuk.
"Tari kamu kenapa?" tanya Ranti yang tengah duduk bersantai di ruang tahu, namun matanya tiba-tiba melihat Mentari datang dengan wajah kusut.
Mentari menghentikan langkah kakinya, ia menatap Ranti, "Ma Tari mau cerai!" kata Mentari tanpa basa-basi.
"Ada apa ini?" Ranti bangun dari duduknya ia berjalan mendekati Mentari, "Kamu kenapa?" tangan Ranti memegang pundak Mentari, dan ia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga sang putri.
"Mama.....pokonya Tari mau cerai titik," Mentari langsung 9ergi menuju kamarnya.
"Mentari......" Ranti masih bingung dan ia masih terlalu penasaran dengan anaknya itu, hingga Ranti menyusul Mentari yang sudah masuk kedalam kamar, mata Ranti melihat Mentari sudah naik ke ranjang dengan posisi terlungkup, "Tari semua masalah ada solusinya Nak, Mama sama Papa aja yang udah tua begini sering berselisih paham, apa lagi rumah tangga kalian yang belum seumur jagung," terang Ranti lalu ia duduk di sisi ranjang.
"Beda Ma, kalau Mama dan Papa nikah karena saling cinta.....bukan kepaksa," tutur Mentari tanpa menatap Ranti.
"Coba ceritakan pada Mama sebenarnya kalian kenapa? Mama nggak mau kamu ngomong cerai-cerai karena semua bisa di selesaikan dengan baik," kata Ranti dengan tegas.
"Kamu mau minta bercerai Tari?!" tanya Arya yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar putrinya.
"Papa....." Mentari turun dari ranjang dan ia mendekati Arya, "Pa, Tari sama Kak Arka itu nggak ada kecocokan....." rengek Mentari, karena ia tahu jika Arya mengatakan setuju Mentari bercerai maka semua akan berjalan dengan sangat mudah.
"Mentari mulut kamu itu ya Nak, kamu mau jadi janda memangnya?" tanya Ranti lagi.
Mentari mengusap wajahnya dengan kasar, "Mama, Tari memang nikah sama Kak Arka....tapi kan orang-orang nggak tahu, mereka pikirkan yang nikah itu Kak Ulan," terang Mentari.
"Siapa bilang orang-orang tidak tahu, memangnya sewaktu izab kabul nama Kakak kamu yang di sebutkan Arka? Bukan kan dia menyebut nama Mentari dan Mentari itu kamu!" jelas Ranti agar putrinya itu sadar.
"Tapi Ma...."
"Tidak ada tapi-tapi.....dan Papa tidak mau dengar kata-kata cerai kamu itu!" tambah Arya tanpa bisa di bantah.
"Tapi Kak Arka selalu marahin Tari Pa, tadi aja Kak Arka bentak Tari....."
"Dia marah sama kamu pasti ada sebabnya, dan Papa tahu sipat kekanakan-kanakan kamu yang sulit di rubah itu," jawab Arya lagi.
"Tari kan emang masih anak-anak Pa, tapi Tari terpaksa harus nikah karena gantiin Kak Ulan, sekarang kan Kak Ulan udah balik, nijahin aja Kak Ulan sama Kak Arka lagi...."
"Diam!" kata Arya dengan nada yang semakin meninggi hingga membuat Mentari benar-benar tidak berani berbicara, "Kamu pikir menikah itu mainan, kalau kamu bercerai abis kamu sama Papa!" tegas Arya agar putri bungsunya itu mengerti jika ia sangat tidak ingin ada perceraian, dan ia pun tidak ingin putri bungsunya harus menjadi janda.
***
Jangan Lupa Like dan Vote.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.