Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa salahku? part 2
Dalam perjalanan menuju pulang alesia terus saja diam. Alesia juga terus memalingkan wajahnya menatap jalanan ramai yang di laluinya dari samping kaca mobilnya.
Leon yang melihat kediaman istrinya tidak tau harus bagaimana. Tetapi pria tampan itu yakin istrinya pasti sempat beradu mulut dengan santi sebelum pergi dari rumah.
“Kamu udah makan?” Tanya leon pelan.
Alesia menolehkan kepalanya menatap sebentar pada leon kemudian meluruskan pandanganya ke depan.
“Sudah.” Jawabnya.
Leon mengangguk pelan. Leon tau suasana hati istrinya sedang tidak baik baik saja.
“Kakak dari mana tau alamat panti asuhan?”
Leon terdiam. Harusnya leon tidak langsung ke panti asuhan menjemput alesia karna itu akan membuat alesia curiga padanya. Tapi leon tidak tau lagi harus bagaimana, hp alesia tidak bisa di hubungi dan leon sudah kepalang khawatir.
“Aku nggak merasa pernah kasih tau kakak tentang panti asuhan sebulan ini..” Lanjut alesia pelan.
Leon menelan ludahnya. Pria itu mencoba menenangkan pikiranya agar tidak terlihat gugup di depan istrinya. Sandiwaranya harus tetap berjalan sampai santi dan alesia bisa benar benar akur.
“Eemm.. Aku liatt di artikel tentang kamu di media online.”
Satu kebohongan lagi terlontar dengan sangat apik dari mulut leon. Kebohongan untuk menutupi kebohongan lainya agar alesia mempercayainya.
“Artikel? Memangnya ada?” Tanya alesia bingung.
“Ya. Ada. Kamu bisa lihat sendiri kalau nggak percaya.” Senyum leon berusaha untuk tenang.
Alesia mengangguk pelan. Wanita cantik dengan dress pink nya itu melirik sekilas pada leon kemudian kembali memalingkan wajahnya.
“Kak.. Kenapa sih kamu nggak pernah mau kalau kita tinggal di rumah yang sudah lama kamu beli?”
Leon mengangkat sebelah alisnya.
“Rumah yang mana?”
Alesia menghela nafas. Lagi lagi dirinya lupa bahwa suaminya sedang lupa semua tentangnya.
“Rumah yang dulu kakak beli sebagai kado pernikahan kita.” Kata alesia lagi dengan sangat pelan.
Leon terdiam. Leon sebenarnya ingin. Tapi leon juga tidak mungkin meninggalkan santi sendiri di kediaman sanjaya. Santi pasti akan merasa kesepian tanpanya.
“Memangnya kenapa kalau kita tetap di rumah yang saat ini kita tinggali?” Tanya leon menatap sekilas pada alesia yang enggan menoleh padanya.
“Kamu tau bukan bagaimana sikap tante sama aku? Terkadang aku berpikir tentang semuanya. Apa salahku? Kenapa tante tidak pernah sekalipun menyukai aku?”
“Alesia, tapi tante terlihat perduli sama kamu. Tante bahkan mengajak kamu pergi bukan saat aku marah dan berbicara kasar sama kamu?”
Alesia tertawa pelan. Semua itu seperti mimpi. Begitu singkat dan cepat berlalu. Kebaikan santi padanya seperti pelangi. Begitu indah namun cepat menghilang.
“Ya. Itu kemarin kemarin. Sekarang tante sudah kembali seperti sedia kala. Kamu tau kak? Tante bahkan mencurigai aku mempunyai hubungan dengan rico.”
Leon tidak bisa membalas. Leon juga sangat tidak suka pada rico. Tapi leon percaya alesia setia padanya. Alesia tidak mungkin mempunyai hubungan di belakangnya seperti apa yang di katakan tantenya. Leon tau siapa dan bagaimana istrinya.
“Aku tau kamu lagi nggak inget kak. Tapi apa hati kamu tidak bisa merasakan?”
Leon menepikan mobilnya di jalanan yang cukup ramai itu. Pria itu menghela nafas. Leon juga tidak mau tantenya terus terusan membenci alesia. Tapi untuk saat ini leon benar benar tidak bisa bertindak. Leon harus bisa membatasi dirinya.
Leon menghadap alesia kemudian merentangkan kedua tanganya. Senyuman di bibirnya mengembang menatap wajah sedih istrinya.
Alesia yang memang sedang memerlukan dekapan hangat leon pun langsung berhambur memeluk tubuh kekar suaminya. Air matanya langsung menetes deras membasahi kedua pipinya. Bahunya bergetar dengan isak tangis memilukan yang lolos begitu saja dari bibirnya.
“Maaf... Aku minta maaf kalau buat kamu sedih.”
Kedua mata leon ikut berkaca kaca. Apa yang di rasakan alesia saat ini adalah salah satu akibat dari kebohonganya. Jika saja leon tidak sedang berbohong mungkin leon bisa dengan mudah menenangkan istrinya. Tapi sayangnya keadaan memaksa leon harus melakukan kebohongan yang semakin hari semakin leon pupuk dengan kebohongan baru.
Tuhan.. Aku harap jika suatu saat aku jujur nanti alesia bisa mengerti.
Leon memejamkan kedua matanya. Air matanya meluncur dengan bebas membasahi kedua pipinya. Leon merasa hatinya seperti di iris dengan pisau berkarat mendengar isak tangis memilukan istri tercintanya.
“Apa salah aku kak? Kenapa tante nggak pernah mau menerima aku? Kenapa tante selalu memusuhi aku?”
Pelukan alesia semakin mengerat seiring dengan derasnya air mata yang menetes dari kedua mata indahnya. Alesia tidak tau harus bagaimana menghadapi santi. Wanita itu sedikitpun tidak pernah mau mendengarkan apapun yang ingin alesia katakan. Santi selalu meyakini apa yang bersarang di pikiranya tentang alesia.
Leon mengusap lembut punggung istrinya. Posisinya selalu serba salah. Jika leon membela alesia santi pasti akan merasa sedih dan tidak di anggap juga tidak di hargai begitu pula sebaliknya. Alesia juga akan salah mengartikan maksudnya jika leon menasehatinya untuk sabar menghadapi santi.
Leon mengusap air matanya sendiri tidak mau jika alesia sampai tau dirinya pun ikut merasa terluka.
“Istriku.. Yang aku tau kamu wanita yang hebat. Yang tangguh. Aku nggak melarang kamu untuk menangis. Tapi aku melarang kamu untuk lemah dan menyerah. Aku yakin kamu wanita yang berhati besar. Kamu pasti bisa menghadapi semua ini. Aku janji alesia. Aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan berusaha semampu aku untuk selalu melindungi kamu.”
Alesia langsung melepaskan pelukan eratnya pada leon. Dengan isak tangis yang masih terus lolos dari bibirnya alesia menatap wajah tampan suaminya.
“Kak..”
“Kamu tau nggak kenapa aku yakin kamu istri aku meskipun aku lagi nggak ingat semua tentang kamu?” Tanya leon sambil mengusap lembut pipi basah alesia menggunakan kedua ibu jarinya.
“Kenapa?” Tanya alesia lirih.
Leon menurunkan kedua tanganya dari wajah cantik alesia. Di raih dan di tariknya lembut tangan kanan alesia. Leon menempelkan tangan alesia tepat di dadanya.
“Karna hati ini alesia. Hati ini juga yang menuntun aku untuk melakukan apa yang mungkin memang seharusnya aku lakukan. Hati ini selalu meyakini bahwa kamu memang takdir terindah yang tuhan berikan untuk aku. Tidak perduli meskipun tante selalu berkata apa tentang kamu.”
Senyum alesia mengembang bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya. Alesia benar benar merasa terharu dengan apa yang di katakan suaminya. Alesia tau bagaimana kerasnya santi melarang leon untuk berhubungan denganya dulu. Tapi leon tetap yakin untuk menjalani kisah cinta itu dengan alesia. Leon bahkan nekat menikahi alesia meskipun santi kukuh melarang dan tidak menyetujuinya.
“Jangan nangis lagi yah.. Mulai sekarang setiap apapun yang keluar dari mulut tante, kamu harus bisa mengabaikanya. Anggap saja itu hanya angin lalu. Kamu hanya perlu ingat kebaikan apa yang pernah tante lakukan buat kamu. Dengan begitu kamu tidak akan merasa sedih. Aku percaya kok sama kamu.” Senyum leon tulus.
Leon tidak berbohong kali ini. Leon percaya istrinya adalah wanita yang baik. Wanita yang tepat untuk dia jaga dan dia sayangi.
sukses
semangat
mksh