Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : TANPA ISTRI
Perjalanan Surabaya ke Desa Bumiraya memakan waktu kurang lebih 7 jam. Dan waktu tersebut Bimo gunakan untuk tidur di sepanjang perjalanan. Singgah sekali untuk melakukan sholat dan makan malam, kemudian tidur lagi.
Tidak Bimo pungkiri bahwa beberapa hari di Surabaya memang banyak menguras dana, waktu, tenaga bahkan juga pikirannya.
Hanya Bimo yang mampu menutupi kegundahan yang sesungguhnya melanda hatinya. Kesalahan yang ia akibatkan sendiri dan tentu akan ia tanggung sendiri pula resikonya.
Suasana pagi merekah cerah ceria di desa Bumiraya tercinta. Ya... Bimo sudah sangat mencintai warga desa di Kecamatan itu. 4 tahun sudah ia bertugas sebagai Kapolsek di Desa itu. Karena sebelumnya ia sempat bertugas di Desa lainnya. Sebagai seorang perwira polisi yang masih lajang, tentu bukan suatu masalah baginya untuk di tugaskan mengabdi di daerah yang lumayan terpencil seperti desa Bumiraya ini.
Namun, ternyata berbeda saat kini ia telah beristri. Ternyata ia tidak boleh hanya memikirkan kenyamanan dan pekerjaannya. Sekarang ia memiliki istri yang tidak serta merta mau dan sanggup untuk selalu mendampinginya di tempatnya bertugas.
Apalagi, istrinya berpendidikan tinggi, tentu ilmu yang di sandangnyaa tidak dapat berkembang jika harus tinggal di desa terus menerus.
"Mungkin ibu benar, sudah waktunya aku meminta pindah dari Kecamatan ini, minimal aku harus ke Kabupten atau Provinsi sekalian. Agar Mba Dwini tetap bisa menjalankan pekerjaannya. Tetapi, bukankah mereka sudah di angkat sumpah bahwa akan selalu mendampingi suami dan mengikuti kemanapun suami bertugas? Tapi... ah bagaimana kelak jika rumah tangga kami di karuniai anak, masa juga mengeyam pendidikaan di desa?" Bimo bermonolog dalam hatinya.
Pagi itu Bimo baru merasakan bahwa ada yang kurang dalam rumah dinas jabatannya. Bimo baru menyadari tidak ada lagi kopi yang telah di seduh di meja untuknya, tidak ada lagi wangi masakan untuk sarapan pagi seperti saat ada istri di rumah, untuk pakaian kerja. Sepertinya Dwini sudah menyiapkan semuanya untuk seminggu ke depan. Sama dengan sepatunya, tampak sudah bersih dan mengkilap semua.
"Ya Tuhan, aku benar benar memperlakukannya bak seperti seorang pembantu dalam rumah ini." Batin Bimo.
Bimo melangkah gontai menuju kantornya dengan berjalan kaki. Ia hanya sarapan telur ceplok seadanya, itupun agak gosong, sebab ia memasak sambil mengkhayal. Memikirkan hidupnya yang kini tanpa istri.
Sesampai di kantor seperti biasa Bimo hanya memaasang wajah datar bahkan cuek kepada seluruh anggotanya, sangat jauh berbeda saat mereka berada di luar jam dinas. Itulah kebiasaan Bimo.
Tok...
Tok..
"Ijin ndan. Menyampaiak undangan pertemuan rutin Bhyangkari untuk ibu. Titip ya Pak." Ucap seorang anggota polisi yang bertugas menyampaiakan undangan pertemuan itu pada Bimo.
"Oh, iya terima kasih. Tapi tolong sampaikan kepada pengurus agar tetap melaksanakan pertemuan tersebut. Dan Untuk kehadiran Ibu. Untuk pertemuan kali ini beliau ijin ya. Sebab ibu sedang ada tugas di luar daerah. Kebetulan ibu sekarang telah mendapat pekerjaan di Surabaya." Bohong Bimo pada anggotanya.
"Siap ndan, akan di sampaiakan. Permisi." Ucap anggota tersebut dengan penuh hormat dan tanggung jawab besar pada pekerjaannya.
Bimo mengusap wajahnya dengan kasar.
Tatkala, lagi ia menyadari betapa banyak yang menjadi korban keegoisannya selama ini.
Ia sudah berdosa di hadapan Tuhan karena telah menelantarkan istrinya, iapun yang kini terbengkalai menjadi suami tanpa istri yang menemaninya, juga kembali menjalani hari-hari sepinya dalam kesendirian.
"Apakah dengan begini Anin yang aku puja akan datang untuk menolongku?
Akankah aku bisa mengembalikan kepercayaan Dwini seperti sedia kala?
Semua jawaban tidak.
Dan yang lebih parah aku sudah merenggut paksa kehormatannya karena nafsu bej@tku sendiri. Kini aku hanya bisa memohon agar aku mendapatkan kesempatan kedua dari istriku, agar dia benar benar memaafkanku.
Benar saja yang sering orang katakan, bahwa penyesalan memang selalu datang belakangan, yaa... karena kalau di awal adalah pendaftaran, dodol!!!" Bimo menghabiskan hari nya hanya untuk meruntuki semua kebodoahnnya sendiri.
"Siang istri cantikku, sudah makan siang?" Bimo memberanikan diri mengirim chat melalui WA ke nomor istri yang mulai di rindukannya.
Jangankan centang biru, terbaca saja tidak. Centang satu berwarna abu-abu.
Nasib.
Bimo tidak menyalahkan istrinya, ia sadar sepenuhnya bahwa itu murni kesalahannya, karena itu, kini ia lebih banyak merenung dan berpikir langkah apa yang dapat ia ambil untuk mengembalikan kepercayaan istrinya kembali.
"Satu-satunya yang secepatnya aku buang adalah bayangan masa laluku dengan Anin. Memang aku saja yang lebay, toh Anin kini justru telah bahagia dengan Emil, pria yang memang sangat ia cintai itu, aku bahkan hanya sebagai ban serepnya saja. Jangan-jangan ia tidak mau aku sentuh, karena memang sudah di sentuh oleh lelaki pilihannya itu." Umpat Bimo di dalam hatinya.
Di Surabaya
Dwini kini masih tampak berada di dalam apartemennya seharian, setali tiga uang dengan Bimo. Sebenarnya Dwini pun meruntuki keputusannya yang sebenarnya terlalu berlebihan.
Namun, egoisnya merasa perlu di tunjukkannya. Agar Bimo tau bahwa iapun pantas untuk di hargai.
Dwini tampak sibuk membersihkan kopernya, terpaksa pakaian Bimo pun ia susun rapi di dalam lemari pakaiannya. Sebab, saat pulang kemaren Bimo memang tidak membawa serta pakaiannya.
Yang membuat Dwini agar repot bukan masalah menyusun pakaiannya, namun Dwini kehilangan buku hariannya.
Buku di mana ia menumpahkan semua uneg-unegnya selama ini, bahkan di sana segala rentetan peristiwa ada.
Bermulai dari ia di jodohkan pada Bimo, kisah klasiknya selama kuliah, ada nama Irwan di sana. Juga akhirnya ia bertemu dengan Bimo, pernikahannya, bahkan segala rasa cintanya yang begitu besar terhadap Bimo lengkap dengan segala penindasan Bimo semua ada di sana, bagai sebuah catatan kilas balik dari tahun ketahun semua lengkap, bagai sebuah sekenario kehidupan percintaannya.
Dwini tidak habis pikir mengapa ia bisa seceroboh itu, melupakan untuk membawa serta buku yang sudah lebih mirip jimatnya iitu.
"Bagaimana jika mas Bimo mendapatkan buku itu? Ia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal saat tau betapa aku memujanya, betapa aku begitu bodoh yang telah 10 tahun hidup tanpa bercinta demi untuk menantikan cintanya yang ternyata sia-sia. Iiiih... dapat ku bayangkan, bahwa nantinya ia akan semakin menindasku. Jika tau aku akan mudah tertipu dengan rayuannya. Karena sesungguhnya aku sangat mencintainya, tidak...!!!
Biar saja Mas Bimo menertawai kebodohanku yang mencintainya. Tapi aku tidak akan mau menjadi budak cintanya, cukup perawanku hilang olehnya, anggap saja itu hanya kecelakaan, tetapi harga diriku sebagai wanita terhormat harus tetap aku pertahankan. Mas Bimo akan menang banyak kalau saja aku menjadi wanita lemah. Aku harus jadi satu-satunya wanita yang di cintai mas Bimo. Aku tak perlu mencinta, sekarang aku harus di cinta." Janji Dwini di dalam hatinya kini.
Bersambung...
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel