NovelToon NovelToon
PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Masalah Pertumbuhan
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Renita Wei

Ini adalah sebuah cerita tentang persahabatan, cinta, keluarga dan bagaimana nasib membawa pada sebuah pilihan.

Tiga orang pria yang menjalani kehidupannya sendiri. Walaupun mereka dari keluarga yang sama, tapi itu tidak membuatnya harus serupa. Membiarkan hati mereka menuntun pada sebuah pilihan. Yang mereka yakini dan mereka perjuangkan.

Baskara Namu Perkasa, si sulung yang bijaksana dan gagah seperti namanya. Namun sesungguhnya ia selalu merasa tersisih oleh latar belakangnya. Semua itu membuat pria tampan ini menjadi pribadi yang perfeksionis.

Haidar Mandala Wirayudha, sang adik yang mempunyai kecerdasan dan ketampanan diataa rata-rata. Namun sayang, ia memilih jalan menjadi dokter bengal yang tak henti membuat kekacauan di rumah sakit. Tapi hatinya sangat lembut, dan tidak banyak orang yang mengerti.

Narendra Raka Dipa, seorang adik yang terbebani dengan nama-nama besar saudara dan saudarinya. Membuatnya memilih hidup dalam penyamaran demi menemukan yang tulus mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renita Wei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengurai Masai, Menggenapi Janji

Wisya masih terpaku dengan kobaran rasa cemburunya yang menyulut amarah. Bahkan hingga mobil yang ditumpangi Yulia bersama Haidar telah mulai melaju, ia baru saja tersadar pada kenyataan. Ia pun bergegas menghampiri mobilnya sendiri. Lalu melajukan kendaraan itu, bergerak menuju satu tempat yang sudah sangat diyakininya sebagai tujuan Yulia dan Haidar.

Buku-buku jarinya memucat karena ia mencengkram begitu kuat. Rasa yang tak dimengerti kini sedang menguasai. Cemburu ? .... mungkin lebih dari itu, karena terasa begitu sakit. Marah ... pada siapa? dirinya sendiri ? mungkin ?. Karena selalu menjadi yang gagal. Sangat benci dengan satu nama itu.

" Tidak seharusnya kau melibatkan anak-anak dalam masalah berdasarkan prasangka yang kau buat sendiri ", hardikan dari ayahnya menggema.

" Kau yang membuat masalah !!!!.... siapa yang selalu membanding-bandingkan aku dengan wanita itu ??... kau mas !!! ", suara sang ibu pun melengking penuh amarah. " Bilang saja ... kau menyesal telah menikahi ku ... ".

" Siska !!!!! ". Dan suara sang ayah pun menggelegar beriringan dengan isakan dari wanita yang melahirkannya.

Gemeretak dari rahang yang diketatkannya berharap mampu meredam sedikit saja tentang ingatan itu. Satu hal yang mulai dipahaminya kini, bagaimana seorang wanita menyusup di sebuah hubungan ayah dan ibunya dan memulai percikan-percikan kecemburuan. Menahun, dan kemudian seperti sebuah bom waktu yang tinggal menunggu pemicunya tersentuh. Untuk kemudian meledakkan amarah dari rasa cemburu, rasa diabaikan dan rasa ketidakpercayaan yang mulai menguasai.

Kini Wisya pun harus ikut menanggung imbas dari semua percikan rasa itu. Seperti genetika yang menurunkan sifat, keadaan itupun seolah diturunkan. Seorang Haidar yang datang menyusup bagai parasit dihubungan dirinya dan Yulia. Apakah memang takdir sudah menggariskan demikian ?. Menjadi bagian yang tersakiti dan terabaikan karena kehadiran yang lain. Kini Wisya memahami bagaimana sakit yang dirasakan Fransiska ibunya. Ia mengerti jeritan hati sang bunda, dan ia pun semakin tak kuasa membendung segala luapan emosi.

Menunggu dengan sebongkah kemarahan yang menggumpal membuntukan nalar. Tidak memperdulikan bagaimana ramainya kondisi jalan malam itu. Menarik dengan cepat Haidar yang baru saja keluar dari mobilnya.

" Ada apa ? ", Haidar bertanya dengan dingin.

" Kau !!!!.... berhenti ikut campur urusan ku ".

" Kau selalu begitu .... aku tidak tahu maksud mu ".

" Kau dan ibu mu itu sama saja.... penganggu !! ", amarah itu meluap tak terbendung.

" Jaga ucapan mu...". Haidar yang biasanya bersorot mata lembut itu pun mengganas. " Ada urusan apa kau dengan ibuku? .. berani sekali kau menjelek-jelekkannya ".

" Cih ... kau ... anak dari dokter Adonia Orlin bukan? .... sampaikan salam dari ibu Felia Fransiska Dharmawan dan juga ayahku ... dokter dokter Pradipta... sampaikan pesan ibuku untuk tidak mengajari anaknya ... menjadi duri dalam daging, penganggu hubungan orang .. ".

Dugh!!!..... dan Wisya pun terhuyung saat pukulan keras itu menghantam rahangnya.

" Kau boleh menghinaku ..... tapi tidak dengan ibuku ", Haidar masih mengepalkan tangannya dengan erat.

" Kalian sama saja .... berhenti mengejar Yulia. Aku yang menemukannya .... dan dia milikku .. kau tidak berhak ... ".

" Tahu apa kau tentang Yulia ?!!! ", Haidar semakin tersulut emosinya.

Dengan gerakan cepat, Wisya mendorong tubuh Haidar dan bersaranlah pukulan balasan itu dengan telak. Kini Haidar yang terhuyung dengan sudut bibir yang mengalirkan darah sama seperti yang sudah dialami Wisya.

" Kau pengganggu ... kalian penganggu ... kau dan ibumu itu ", Wisya dengan geram kembali melayangkan tinjunya.

Tapi kali ini Haidar lebih sigap menangkis. Dan dipinggir jalan itu, kedua pemuda tampan itu saling baku hantam. Para pejalan kaki yang melintas mulai teralihkan perhatiannya pada perkelahian itu. Kemudian beberapa orang datang dan berinisiatif melerai mereka. Haidar dan Wisya nampak sangat berantakan dengan darah di sudut bibir dan juga lebam membiru di tulang pipi mereka.

Masih dengan nafas yang memburu keduanya yang telah berhasil dilerai oleh beberapa orang, kini masuk kedalam mobilnya masing-masing. Berusaha menenangkan dirinya sendiri-sendiri. Haidar memilih segera menjauh dari sumber masalah. Ia pun segera melajukan kendaraannya cepat. Sementara Wisya memilih menuju tempat tujuan semula, menemui Yulia.

Beberapa saat kemudian nampak dua insan saling terpaku berhadapan. Yulia menatap sudut bibir membiru dengan tetesan darah yang belum mengering itu. Sementara Wisya pun tak bergeming menatap sembab di kedua mata gadis di hadapannya.

" Maaf Yulia ..... ", desis Wisya. " Seharusnya .... aku membelamu ".

" Kau berkelahi dengan siapa ? ". Yulia tidak memperdulikan perkataan Wisya, ia justru balik bertanya. " Apakah kau memukul Anelis ? ".

" Tidak !!... tapi pasti aku pastikan dia akan menerima akibatnya jika..... berkata buruk tentang mu lagi Maafkan aku Yulia.... ".

Dan Yulia hanya terdiam dengan tetap menatap dalam pada Wisya. Ia hanya mencari sesuatu dari dalam sinar mata pemuda itu. Sesuatu yang kecil bersinar dan mampu menjadi sebuah jembatan rasa bagi keduanya.

" Yulia ..... aku .... aku menyayangimu..... kupikir, aku benar-benar sangat menyukai mu . Dan aku cemburu..... saat kau berlari ke pelukan Haidar ", kesungguhannya terpancar hangat dari sinar mata yang menatap tanpa jeda.

Wisya perlahan mengulurkan tangannya, meraih pundak Yulia dan membawa gadis itu dalam dekap lembut yang tak tertolak. Yulia seperti terhipnotis oleh rasa yang tidak dimengerti. Tapi persaan nyaman dan hangat itu, ia tidak dapat mengingkarinya.

Keduanya pun larut dalam perasaan yang mengalir tenang. Tapi suara degupan jantung itu semakin keras terdengar. Tanpa kata seolah mereka berdua cukup mewakilkan sang jantung yang bedegup untuk saling bercerita. Ini adalah tentang sebuah perasaan, jangan dikatakan.... cukup dirasakan saja, kau akan memahami

....................

Sementara itu sebuah mobil yang membawa Haidar di dalamnya kini telah terparkir di sebuah basemen gedung bertingkat. Pemuda itu berjalan dengan langkah pasti menuju sebuah cafetaria yang terlihat mulai bersiap tutup.

" Ibu ...", sapanya pada seorang wanita seusia ibunya yang nampak sedang menekuni sebuah catatan. " Bisa saya minta lemon tea panas dan makan malam .... jika masih ada ?".

Wanita itu menatap Haidar, wajah lembutnya kemudian mengulas senyum. Ia sangat mengenali pemuda dihadapannya. Putra kedua dari tuan besar pemilik gedung dan kantor ini. Pemuda yang sedikit bicara', tapi sebenarnya sangat ramah dan sopan.

" Tentu saja..... tapi untuk makan malam, hanya ada mie instan. Mau yang kuah atau yang goreng ? ".

" Yang goreng saja... double ya ".

" Baiklah .... mau dimakan disini atau diantar ke ruangan mas Haidar ? ".

" Emhh.... di sini saja ".

Si ibu itu tersenyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Haidar yang kembali duduk termenung di sebuah kursi pojok ruangan. Ia sedang mencerna sebuah peristiwa yang baru saja dialaminya tadi. Lalu dengan refleks, iapun segera meraih telepon selulernya.

" Halo Ma... assalamualaikum ", sapanya kemudian.

" Wa'alaikumsalam ... kau dimana nak ? ".

" Baru sampai dikantor papa. Aku pulangalam ya ma'... ada tugas dari papa yang harus diselesaikan malam ini juga. Bahan meeting besok... papa sudah sampai rumah ma ? ".

Dari seberang sana terdengar suara ibunya menarik nafas panjang.

" Ya nak .... jangan lupa makan malam ya. Papa mu belum sampai, tapi tadi dia bilang sudah perjalanan pulang kok ".

" Oh ... aku ini baru pesen makan malam dikantin kok ".

" Bu Firman masih buka.... syukurlah, sampaikan salam dari mama ya ".

" Iya ma'... Mah, punya teman bernama dokter Pradipta ? dan Felia Fransiska Dharmawan ? ", nada penuh kehati-hatian begitu kentara pada kalimat yang disampaikan Haidar .

" Loh ?! ... kenal kamu ? mereka berdua teman satu angkatan dengan mamah ".

" Itu ... anaknya juga seangkatan dengan ku ".

" Oh ya ? ", nada suara itu terdengar ceria. Haidar seolah dapat melihat binaran cemerlang dimata ibunya. " Waaah ... kalian harus berteman baik ya... siapa namanya ? ".

" Namanya Wisya Damara .... dan mereka berdua kirim salam buat mamah ".

" Ah ya... ya... syukurlah ternyata persahabatan ini bisa dilanjutkan oleh anak-anak juga. Dulu saat mereka menikah, papa mama hadir juga loh. Kita beberapa kali pernah double date ..... ".

Haidar mendengarkan semua penuturan ibunya dengan seksama. Terdengar ringan dan penuh semangat, tidak ada kesan ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Ia tahu pasti bagaimana sikap dan pembawaan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Sepertinya ia sangat bahagia menemukan fakta jika kini anak-anak mereka adalah teman. Lalu bagaimana dengan tuduhan yang disampaikan Wisya? ... 'sang penganggu hubungan'.

" Haidar .... kok diem sih ".

" He.... he.... he.... asyik dengar mama' cerita. Udah dulu ya ma', mau makan dulu. Assalamualaikum ...".

" Wa'alaikumsalam .. ".

Haidar termenung sambil menimang-nimang teleponnya. Saat itulah Bu Firman datang menghampiri dengan membawa sebuah kotak kecil. Wanita itu tersenyum, kemudian duduk di hadapan Haidar.

" Bersihkan dulu lukamu nak... dan obati juga, itu ada cream anti lebam ".

" Ya Bu terimakasih, maaf merepotkan ... ", Haidar mulai meraih dan membuka kotak P3K itu.

" Ini gunakan untuk mengompres juga ". Bu Firman kembali mengulurkan kantong bebahan kain tebal dan halus yang di dalamnya sudah diisi beberapa potong es batu.

Haidar menerimanya dan segera melakukan apa yang diminta oleh wanita itu. Bu Firman menatapnya dengan sebuah senyuman lembut. Saat itulah datang seorang remaja dengan sebuah nampan berisikan seporsi besar mie goreng berwarna coklat mengkilap dengan taburan cabe rawit dan dua telor mata sapi menggoda, lengkap dengan sawi hijau dan irisan tomat segarnya.

" Loh.... mas Haidar kenapa ? berkelahi ? ", gadis remaja itu tidak dapat membendung rasa ingin tahunya.

" He... he... latihan judo tadi ... terlalu bersemangat ", Haidar berusaha berkelit.

" Ooh... kirain berantem karena belain cewek. Kayak di film- film itu loooh..... waaah pasti keren, terus ceweknya pasti seneng banget deh ...di tolongin Abang ganteng kayak mas Haidar ".

" Hus!!! kamu ini ngaco .... sudah sana belajar lagi, jangan kebanyakan nonton film Korea... ingat... sudah hampir masuk SMA loh ... ".

" Iih ... ibu ... ", gadis remaja itu menggerutu.

Sementara itu Haidar tertawa kecil melihat bagaimana gadis remaja sepantaran Kirana adiknya itu begitu dekat dengan ibunya. Gadis itu adalah putri kedua dari Bu Firman, bernama lengkap Hanin Hanania tapi lebih akrab disapa dengan Nania. Haidar mengenalnya sejak beberapa tahun tahun yang lalu. Dari masih semenjak anak SD yang lugu dan sangat rajin membantu ibunya. Ia bahkan terlecut semangatnya saat melihat gadis kecil berseragam merah putih itu dengan riang membantu menyajikan minuman pada para karyawan kantor langganan kantin ibunya ini. Saat itu Haidar duduk di kelas dua SMA dan baru saja mulai bekerja 'paksa' di kantor ayahnya ini.

Kehadiran Nania seperti menampar egonya yang begitu tinggi. Ia merasa sangat malu dengan sikap penuh semangat gadis kecil itu yang tersenyum tulus dan ceria, menyapa dan menyajikan pesanan para pelanggan. Nania begitu bahagia menjalani pekerjaannya. Dan saat ditanya cita-citanya, sangat sederhana ....

" Aku mau sekolah jadi koki terkenal ... makanya aku bantu ibu, biar bisa nabung buat sekolah ".

Dan Haidar seperti dibuka mata hatinya melihat sisi keberuntungan dirinya yang jauh dari seorang Nania yang harus bekerja keras. Mulai saat itulah Haidar mulai akrab dengan Bu Firman dan putri keduanya ini.

" Mie nya enak ..... sudah makin jago kamu ", puji Haidar sambil mengunyah perlahan-lahan.

" Ya' elah ... mas, timbang mie doang. Siapapu juga bisa bikin. Oh ya ... Na' tadi bikin churros ... mau coba ? ", sepasang mata itu berbinar. " Buat temen lembur ..... ".

" Boleh .... ".

" Aku bungkusin ya .... tunggu ".

Dan gadis itu segera melesat dengan cepat menuju dapur kantin. Haidar dan Bu Firman saling melempar senyum.

" Sebenarnya dia sedang bersedih ", kata Bu Firman pelan.

" Loh kenapa ? ".

" Sstt.... dia sedih karena kakaknya akan segera menikah. Raya sudah dilamar Minggu lalu, sebulan lagi akan menikah. Kita terbiasa bertiga selama ini .... Nania sedih, makanya dia masaaaak terus ".

" Ooohhh..... ".

Dan malam itu Haidar pun menyelesaikan semua pekerjaan yang dibebankan padanya dengan berteman si Snack kecil berbahan dasar pastry dough goreng dengan taburan keju. Lewat jam sembilan malam menjelang jam sepuluh saat Haidar menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan ia pun bergegas untuk pulang. Sebelumnya ia menyempatkan melihat luka sobek diujung bibirnya dan juga lebam di tulang pipinya. Cream dan kompres dari Bu Firman cukup membantu, walaupun tetap masih terlihat.

Sesampainya di rumah, Haidar menemukan sang ibu masih sibuk di dapur. Ia pun menghampiri dan memeluk wanita tersayang itu.

" Kok jam segini belum istirahat mah ? ".

" Ini ... Bu Sri pamit besok, menantunya melahirkan. Jadi mamah siap-siap aja sekarang .... belum ngantuk juga ".

" Oh.... ada yang bisa dibantu ? ".

" Nggak usah .... sudah hampir selesai kok. Kamu langsung mandi saja sana, terus istirahat .... hei.... itu wajah kenapa ? ", Orlin terpekik kaget melihat wajah putra keduanya.

" He... he... nggak konsentrasi pas Judo tadi, jadi kena tonjok deh ", Haidar terkekeh.

" Hadeeeeh.... akhirnya menurun juga. Kalian bertiga ini sama saja ". Tentu saja yang dimaksud Orlin adalah suami dan kedua putranya.

" Mama tau aku latihan dengan siap tadi ? ".

Orlin menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap Haidar penuh rasa ingin tahu. Senyuman usil sang putra pada akhirnya membuat jemari wanita itupun bergerak mencubit gemas hidung menjulang Haidar.

" Aduuh ... duh .... jangan kau tambah pukulan mah' ... ", seringai Haidar menahan sedikit nyeri.

" Halaaah.... gaya kamu. Jadi siapa yang menonjokmu ? ".

" He... he... he... Wisya, anaknya temen mamah itu ".

" Ooh.... terus nangis nggak ?? ", Orlin balas menggoda anak keduanya.

" Nangiiiiiis... doooong ... ". Haidar mencebikan bibirnya lalu meletakkan kepalanya di pundak sang ibu sambil berpura-pura terisak-isak.

Orlin tertawa geli sambil membelai-belai punggung putranya. Sementara Haidar benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk bermanja-manja dengan sang ibu.

" Ehm ... ".

Suara berdehem yang datang menyeruak tidak membuyarkan aktivitas penuh kasih sayang dari ibu dan anak itu. Orlin menyeringai lebar melihat kehadiran Mandala suaminya.

" Berani-beraninya kau mencuri pelukan wanita ku ", suara Mandala yang berat terdengar penuh kesungguhan.

" Hei ... Bapak yang mulai ubanan, wanita mu ini mencintai ku lebih daripada mu. Tanyakan saja ", Haidar membalas tanpa melepaskan pelukan dari sang ibu.

" Ku hajar kau nanti ... ".

" Sudah ... Sudah ... Kalian ini selalu membuat ku bahagia ", Orlin tertawa kecil seraya melepaskan pelukan putranya.

" Kenapa mukamu ? ... Kau kalah duel ? Bagaimana bisa ? ..... Bonyok begitu ".

Mandala mencecar putranya, terdengar nada kurang puas begitu juga dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh pria lewat paruh baya itu. Sementara itu Orlin dan Haidar saling pandang dengan menyampaikan sebaris senyuman. Sungguh ibu dan anak yang sangat kompak.

1
Nai's Mom 💞2
Udah mau 2 tahun ya gak kerasa belum ada update dari Mba Renita... Sehatkah mba??
Euis Mardiani
othor kapan nih update lagi kangeeennn kitaaa🤣
Trituwani
mb ren aq kira ad up lg g kenotif lohh ternyata yg aq buka bab sebelumnya 😭😭
Trituwani
calon mantu papa mandala ini
Trituwani
g da notif dihpq mb ren.. saking lamanya 😭😭😭
Trituwani
si anggrek bulan kan mas haid mb hanin...
Trituwani
abang haid n abang namu terdebest 😘
Trituwani
turunan si papa mandala ini
Asnah
sangat bagus, aku sllu menunggu up nya mba renita
titik pandit
Dan ini sudah baca yg ke 5x ... rasanya tetep penasaran....mbak Ren ditunggu up nya....😍😍😍Mas Alend and Qirun juga....
Asnah
sllu ditunggu up nya dek,,,🙏🙏
Agna
mba Author blm lupa kan klonada novelx blm tuntas? kisah sebagus dan sekeren ini sangat sayang dilewati
Agna
itulah yg namanya Kk, setiap Kk² punya cara sendiri mengekspresikan sayang mereka
Agna
mbak Author Renita kok blm dilanjut ya.. selalu teringat Ibu Orlin bila baca kisah perselingkuhan suaminya tp sang isteri dg tenangx bersikap
Esti Purwanti Sajidin
msh blm up ka
Hadrah Rara
ini masih lanjug atau pindah lapaj ya??
Trituwani
sesakit itu na..untung masih ada bang haid yg bisa buat sandaran untk sebentar karna bang namu dahada yg punya ya na/Cry/
Trituwani
ya allah dah hampir setahun q blm baca saking mb ren jarang up, kangeeeeen bgt mb ren.... sehat selalu mb ren dn ttp semangat
Erna P
aq baca pake akun baru hu hu...saking nungguin up nya.emailnya lupa sandi pun aq jabanin😭mbak Ren jangan lama2 up nya😭nungguin bgt lho sampe ahir kisah mereka.Kirana sabar y sayang.sakit bgt pasti emang.ayah yg kita kira tanpa cela malah justru udah punya cucu😭yg bahkan dari istri sah aja blm ada😭tapi dibanding Kirana harusnya sih Orlin yg merasakan sakit yg jauh lebih sakit.tapiiii Orlin kan emang berhati malaikat😭legowo bgt hatinya.murni sekali Orlin.smoga happy end buat hidupmu Lin.kalo aq di posisi Orlin meskipun dah tua g tau d3h sanggup enggak nerimanya
Asnah Saidan
kelamaan up nya dek. ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!