Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angga pamit
Di rumahnya, Angga dan Marisa tengah membereskan pakaian. Mereka manaruh semua pakaian ke dalam beberapa koper besar itu. Angga pun menurunkan foto-foto keluarga yang terpajang di sana.
“Ma, apa foto ini akan kita bawa juga?” Tanya Angga, sambil menunjuk foto pernikahan kedua orang tuanya.
Marisa menggeleng.
“Tidak perlu, taruh saja di gudang belakang, Ga.”
Marisa memang sedang menggugat cerai suaminya dan keputusannya itu langsung di dukung oleh kedua putra dan seluruh keluarga besarnya.
Angga mengangguk. Ia juga sudah melupakan sosok itu, ia menganggap sang ayah sudah tiada, seiring luka yang dia toreh untuk keluarganya.
Angga di bantu sang adik yang juga sengaja datang untuk memberi dukungan pada sang ibu pun membawa beberapa foto ayah dan ibunya ke gudang. Mereka hanya membawa foto-foto tanpa sang ayah.
Namun, berbeda dengan Levin, ia tetap memaafkan sang ayah dan hanya Levin juga yang sering mengunjungi sang ayah di lapas. Bagi Levin, Wijaya tetap seorang ayah yang baik dan sosok baiknya tetap akan menjadi panutan.
Angga dan Levin meletakkan semua benda yang dulunya penting itu di gudang belakang.
“Maaf Papa.” Ucap Levin yang tak tega meletakkan foto itu di sini.
“Ayo Vin!” Ucap Angga mengajak sang adik yang masih berdiri di ruang sempit dan pengap itu untuk keluar.
Lalu, Levin pun keluar dan menutup rapat pintu itu kembali.
****
Nisa berbaring di atas tempat tidurnya. Ia membaca buku yang berjudul ‘menjadi wanita yang paling bahagia’ karya Aidh Al Qarni. Buku yang di berikan oleh teman hijrahnya di kampus. Sungguh ia ingin menenangkan hatinya yang masih berkecambuk antara sedih dan kesal dengan sikap Angga padanya.
“Nis.” Ummi membuka pintu kamar Nisa.
“Eh iya, Mi.” Nisa bangkit dan merapihkan pakaiannya yang berantakan.
“Di bawah ada yang nyari kamu.” Kata Ummi.
“Siapa? Lena?’ Tanya Nisa, yang memang sudah janjian dengan Lena yang kabarnya akan main ke rumah orang tuanya yang masih tinggal di daerah ini.
Dua bulan setelah menikah, Lena tinggal di rumah keluarga suaminya, karena rumah sang suami yang cukup besar. Saat ini, Lena pun kabarnya tengah mengandung.
“Bukan.”
“Terus siapa?”
“Angga.” Ucap Ummi, membuat Nisa sangat terkejut.
“Beneran, Mi?” Tanya Nisa lagi.
“Iya, beneran. Cepet kebawah.” Kata Ummi lagi, yang langsung meninggalkan Nisa.
Nisa langsung mengganti pakaian dan memakai hijab instannya. Perlahan ia menuruni anak tangga itu. Ia menatap Angga yang sudah duduk di ruang tamu.
“Hai.” Sapa Angga.
“Hai. Masih ingat denganku?” Tanya Nisa, yang langsung duduk di kursi itu.
Kemudian, Angga pun iut duduk, setelah ia berdiri saat Nisa menghampirinya.
Angga tersenyum.
“Aku datang ke sini ingin pamit, sekalian minta maaf atas sikapku yang tidak berkenan di hatimu selama ini.”
“Kapan kamu pindah?”
“Besok.”
“Aku ikut antar ya.” Kata Nisa.
“Tidak usah, Nis. Aku di jemput Nenek dan kakek. Lagi pula, semua barang-barang juga tidak ada yang di bawa, karena rumah itu di sita beserta isinya.”
“Ga.” Mata Nisa sudah menggenang.
“Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku, Nis. Mulai hari ini, aku mencabut kata-kataku yang akan meminangmu.”
“Kenapa?” Tanya Nisa bingung. Seharusnya apapun yang terjadi, harapan akan masa depan mereka tetap sama.
“Kamu wanita baik, Nis. Semakin baik saat kamu mulai berhijrah. Dan, Aku tidak bisa mengimbangimu. Langkahmu sudah semakin jauh dariku. Walau aku sudah berusaha untuk bisa mensejajarkan diriku padamu, tapi aku tetap selalu berada jauh di belakangmu. Aku menyerah, aku tidak bisa lagi mengejarmu.”
Sontak air mata Nisa tak lagi bisa terbendung. Inikah akhir kisahnya? Kisah yang di bangun sejak duduk di bangku sekolah dasar, bersahabat, kemudian benih-benih cinta muncul ketika mulai beranjak dewasa.
“Maaf, Nisa. Kamu tetap wanita terbaikku, tidak ada wanita sepertimu. Kamu tetap ada di sini.” Angga memegang jantungnya.
Kemudian, ia tersenyum.
“Jangan menangis, Nis!” Ucap Angga, walau ia pun ingin sekali menangis.
“Aku pamit ya.” Ucapnya lagi.
Lalu, Nisa dengan cepat mengahpus air matanya dan memanggil ibunya.
“Ummi, Angga mau pulang.” Teriak Nisa.
“Loh, kok sudah mau pulang aja. Baru Ummi bikinkan minum.” Ummi keluar dengan membawa nampan yang berisi dua minuman serta satu piring kue bolu pisang.
“Ini juga ada kue bolu kesukaanmu, Ga.”
“Terima kasih, Ummi. Terima kasih banyak. Angga sekalian pamit. Mohon maaf jika mama papa atau keluarga Angga ada hal yang kurang berkenan di hati ummi dan ayah.” Kata Angga.
Ummi terdiam. Ia melihat raut wajah sedih pada wajah pemuda di hadapannya itu, juga raut wajah putrinya. Ummi melirik bergantian ke wajah dua orang yang terlihat sedih itu.
“Walau kamu sudah pindah, tetap sempatkan main ke sini ya.” Kata Ummi lagi mencairkan suasana.
“InsyaAllah, Mi.” Angga mencium punggung tangan Ummi.
Lalu, membalikkan tubuhnya untuk pulang. Nisa dan ibunya mengantarkan Angga hingga Angga benar-benar berada di depan jalan.
Ummi mengelus punggung Nisa.
“Kalau jodoh tidak akan kemana, Nis. Kalian masih muda. Fokus saja dengan pendidikan kalian masing-masing, setelah waktunya tiba dan berjodoh, akan ada jalan untuk mendekatkan kalian kembali.”
Nisa mengangguk. “Iya Ummi.”
Keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah.