Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi mie pedas
Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik dari orang tersebut.
🥰🥰🥰
Dua tatapan tajam tercipta nyata. Lelaki yang sama-sama berbadan tegap saling pandang memancarkan aura negatif. Suasana berubah menegangkan. Alina merapatkan bibirnya, takut. Melihat sendiri sosok Adnan yang terkukung emosi.
"Lo kira gue takut!" sergah Rio sembari melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi kanan Adnan.
Seketika Alina yang berdiam diri, maju ke depan. Lalu, menghadiahi sebuah tamparan manis di pipi kiri Rio. "Jangan berani sentuh suami gue! Lo lelaki bejat!"
Sifat bar-bar Alina kembali bangkit. Netranya menyorotkan kebencian. Sakit hati ini semakin menumpuk. Saat ini, ia bukan hanya berjalan sendiri. Bagaimanapun, ia dan Adnan adalah dua partikel yang harus saling melindungi satu sama lain.
"Berani Lo!" Tangan Rio hendak menampar balik Alina. Namun, secepat kilat setelah Adnan menyimpan ponselnya di saku jas, ia menahan tangan Rio. Menghujani beberapa kali pukulan pada lelaki di hadapannya. Jujur, ia bukan orang menyukai kekerasan. Namun, saat terdesak maka tak ada pilihan lain.
"Jangan sentuh istri saya!" hardik Ardan tegas. "Anda boleh memukul saya, tapi jangan harap sentuh satu inci pun dari tubuh Alina. Ingat itu!"
Deru napas Adnan memburu. Alina menarik tangan Adnan, mengelus pelan punggung suaminya. Berusaha meredakan amarah yang semakin mendekat puncak. Gelombang emosi yang terus naik tanpa terhentikan.
Adnan memejamkan mata, beberapa kali mengucap istighfar di hati. Memohon ampun, karena terpancing emosi sesaat. Elusan tangan Alina di punggungnya berhasil melenyapkan seketika rasa amarah tersebut.
"Ayo, pulang." Adnan menarik tangan Alina. Wanita itu meminta izin, untuk mengendari motor besarnya sampai rumah. Adnan mengangguk, lalu kembali ke mobil. Sedangkan Rio memandangi kepergian mereka dengan hati berantakan. Harga dirinya terluka.
"Gue pastikan kalian hancur berdua!" seru Rio sembari melangkah kembali masuk mobilnya. Ia tak sengaja bertemu Alina di jalan. Kendaraan mereka hendak bertabrakan, karena Alina tidak melihat kedatangan mobil Rio saat di belokkan.
Sepanjang jalan pulang, Rio terus memaki kedua orang tersebut. Otaknya merangkai sebuah rencana gila yang bisa meretakkan rumah tangga keduanya. Setidaknya, ia harus menghancurkan Adnan sebelum lelaki itu menghancurkan dirinya.
Sesampainya di rumah, Rio segera masuk sembari membanting pintu. Bu Sinta yang sedang duduk di sopa pun menatap heran. Ada apa dengan anak lelakinya?
"Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Sinta lembut.
"Biasa, Mah. Alina sama suaminya itu berani ngancem Rio!" sahut Rio masih dalam suasana kesal.
Pak Willy tak ada. Sejak kepulangan Alina dari rumah, ia memilih berdiam diri kamar. Merenungkan garis takdir yang terjadi padanya.
Bu Sinta mengajak Rio duduk. Mengelus pelan punggung anak lelakinya. "Emang mereka ngancem apaan sama kamu?"
Seketika Rio terdiam. Ia tak mungkin jujur. Bagaimanapun, video itu tidak boleh bocor pada siapapun. Termasuk ibunya sendiri. Mak, habislah dia.
"Rio capek, Mah." Beranjak dari tempat duduk. "Rio ke kamar dulu."
Bu Sinta memandangi punggung Rio yang perlahan menjauh, lalu menghilang dari pandangan mata seperti di telan bumi. Sedikit rasa penasaran hadir mengusik hati, menimbulkan beberapa pertanyaan di benak. Apa ada yang anaknya sembunyikan?
🍀🍀🍀
Di rumah Adnan. Alina baru saja membersihkan diri. Adnan pun demikian. Besok adalah hari libur. Adnan berencana membawa istrinya honey moon, meski tidak lama. Setidaknya mereka melakukan seperti pasangan lainnya.
"Mas, kebutuhan rumah habis," tutur Alina sembari mengeringkan rambut. "Kita ke supermarket, yuk? Mumpung belum terlalu malam."
Adnan yang baru saja selesai memakai pakaian datang menghampiri, melingkarkan tangannya di pinggang Alina. Sontak saja Alina kaget, lalu berterik, "Mas!"
"Apa?"
"Kamu kebiasaan."
"Sebentar saja. Aku butuh sandaran." Semakin memeluk erat. "Kamu hebat tadi."
Alina mengerutkan kening. Mematikan pengering rambut, lalu menyimpannya di meja rias. Melihat ke arah cermin. Pantulan dirinya dan Adnan tampak serasi. Allah telah mengirimkan seorang manusia berhati malaikat padanya. Sosok Adnan begitu sempurna bagi Alina. Bukan hanya suami, Adnan pun bisa menjadi Teman, Ayah, jug Kakak.
"Tetap jadi dirimu sendiri, Sayang," lanjut Adnan.
Sayang. Apa telinga Alina tidak salah dengar? Lelaki di belakangnya mengucapkan kata sayang. Bagi sebagian wanita mungkin melelah. Namun, Alina merasa merinding jika itu Adnan yang mengucapkan. Pasalnya, lelaki ini dulu begitu dingin dan datar. Alina tak menyangka, justru Adnan bisa berubah menjadi seorang perayu wanita sejati.
"Mas, kamu panggil aku sayang?" tanya Alina sembari membalikkan badan. Dua manik indah itu memandangi netra Adnan. Ah ... selalu begini. Rasa teduh, nyaman, dan tenang. Seperti itu yang Alina rasakan.
"Ada yang salah?" Adnan bukan menjawab, ia justru mengajukan pertanyan balik. "Apa aku keliatan kurang romantis, ya?"
Alina mengangguk.
"Terus biar keliatan romantis. Aku harus apa?"
Seketika otak Alina berpikir lebih keras. Menggoda suaminya mungkin tampak menyenangkan malam ini. Bukankah ia belum membalaskan rasa kesalnya waktu itu.
"Kalau Mas bisa makan mie pedas buatanku malam ini. Aku bakal tunduk selama seminggu. Maksudnya, ngikutin apa pun keinginan Mas tanpa protes," usul Alina sembari tersenyum miring.
Alis kiri Adnan terangkat. Imbalan yang istrinya berikan memang menggiurkan, akan tetapi sepadan dengan tantangan yang Alina berikan. Mendengarnya saja membuat bulu kuduknya berdiri. Seram.
Alina tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya di leher Adnan sembari mengedipkan satu mata. "Gimana? Berani engga?"
"Ayo, siapa takut."
"Jangan nangis, ya?"
"Memang aku anak kecil."
Akhirnya, sesuai rencana. Malam ini mereka tidak jadi pergi ke supermarket. Keduanya pergi ke dapur. Alina mulai membuat mie pedas level 10, sedangkan Adnan hanya bisa menelan ludah membayangkan rasa pedas yang akan segera menggerogoti tenggorokannya.
Mie siap. Alina membawa dua piring mie goreng pedas gila ke meja makan, lalu mempersilakan suaminya untuk makan. Perlahan tangan Adnan bergerak mengambil garpu, matanya memperhatikan warna mie yang merah bercampur bumbu pedas.
"Kalau bukan karena istri. Gue mana mau," batin Adnan.
"Semangat, Mas" ujar Alina menyemangati suaminya.
Perlahan mie itu mulai di makan Adnan. Pertama memakan, masih biasa. Begitu suapan ketiga, barulah telinganya terasa panas. Lidahnya mati rasa. Namun, rasa ingin menang mengalahkan rasa pedas di lidah. Sekuat tenaga Adnan menahan rasa ingin minum, dan menelan mie tanpa banyak dikunyah.
Alina tertegun. Bukankah suaminya tidak suka pedas? Mengapa malam ini Adnan begitu santai saja? Sudah pasti ia harus menepati janji.
Piring Adnan kosong, tak tersisa satu pun mie. Lelaki itu meraih segelas air, dan meminumnya sampai habis. Adnan tetap tenang, meski perutnya mulai merasa mulas. Tersenyum menggoda pada Alina. "Jadi ... kamu kalah?"
Alina menghela napas kasar. Bagaimanapun ia harus menepati janji. Alina mengangguk. "Ya sudah, sesuai kesepakatan. Aku tunduk tanpa protes selama seminggu."
Adnan berdiri, menghampiri Alina. Adnan berbisik, "Jangan harap, aku memberimu keringanan. Kamu harus patuh. Aku menantikan masa jayaku, Sayang."
Usai mengatakan itu, Adnan segera pergi ke kamarnya. Ia berpura-pura mengantuk, nyatanya perut terus meminta setor tunai di toilet. Sementara Alina mematung setelah Adnan berbisik. Hembusan napas Adnan masih terasa. Tiap untaian kata lelaki itu terus teringang di telinga. Berhasil membuat wajahnya merah merona.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa kasih aku apa?
Tekan tombol like.
Ketik komentarmu.
Vote aku seikhlasnya.🤗