Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutukan
Sekarang Edo sadar sepenuhnya bahwa Jill sama sekali tidak menyukai Jeff. Edo mengerti sifat Jeff yang garang dan lidahnya seperti cabe rawit, pedas.
“Apa kau pernah diomelin Jeff?” tebak Edo.
“Ya. Dan itu nyebelin banget,” jawab Jill dengan nada manja.
Edo tersenyum lagi. “Sekarang temuilah dia dulu. Jeff memang suka bikin gemas orang kalau sudah marah. Tapi akan lebih buruk jika kau melawannya.”
Jika bukan karena butuh uang untuk menyambung hidup, jika bukan karena demi nama baik Veny, Jill sudah mengobrak-abrik meja Jeff. Tapi yang sekarang ia lakukan hanyalah patuh. Ini berkebalikan dengan prinsip hidupnya, mematuhi orang yang menindas. Menyedihkan.
Jill kembali berjalan menuju ruangan Jeff setelah berhasil mengatur napas. Edo mengikuti.
Jill mengetuk pintu dan masuk.
Jeff tampak berdiri di dekat jendela sembari menyeduh kopi hangat. Pandangannya mengedar ke luar.
Jill hanya menatap punggung Jeff dan diam membisu. Lebih baik ia diam dari pada angkat bicara namun kata-katanya justru hanya akan membuat Jeff marah.
“Jeff!” panggil Edo.
Jeff menoleh.
“Jill sudah datang.”
Jeff mengarahkan pandangan ke wajah Jill.
“Oo,” jawabnya.
Sudah? Begitu saja? Jill ingin melempar kaleng ke jidat Jeff.
Jeff berjalan menuju sofa yang berjarak beberapa meter dari meja kerjanya. Lalu duduk santai dan meletakkan kopi ke meja.
Jill semakin menekuk wajah melihat Jeff yang santai tanpa mengutarakan apa maksudnya memanggil Jill.
Merasa jengah dengan perlakuan Jeff, akhirnya Jill angkat bicara dengan gigi mengerat kuat, “Apa keperluan Bapak memanggil saya? Kalau nggak ada perlu, saya keluar sekarang.”
Jeff menatap Jill heran. Nada bicara dan kata-kata yang diucapkan barusan terdengar tidak menyenangkan.
“Apa yang kau katakan?” tanya Jeff dengan tatapan tajam.
Jill mengalihkan pandangan saat bersitatap dengan mata tajam itu. Rasanya iris matanya seperti ditusuk. Lebih baik melihat ke arah Edo. Wajah Edo jauh lebih manis untuk dijadikan objek pemandangan.
“Apa ada jadwal rapat ke kentor pusat minggu ini?” tanya Jeff, ia membuka topik lain.
“Nggak ada, Pak.”
“Oke, kamu boleh pergi.”
“O ya, Pak. Bisakah Bapak perhatikan laporan ini?” Jill menyerahkan laporan miliknya, meletakkannya ke meja depan Jeff.
Jeff menarik laporan itu, lalu memperhatikan isinya. “Ini kan laporan yang kemarin. Ada apa dengan laporan ini?”
“Apakah ada yang salah? Sebab laporan yang saya email ke pusat sama seperti itu.”
Jeff menatap Jill tajam. “Bukankah ini pekerjaanmu? Seharusnya kamu yang mengecek laporan ini. kenapa malah kamu tanyakan ke saya?” tegas Jeff. Dengan nada bicaranya yang khas, datar tapi kesannya galak.
“Saya sudah cek laporan itu tapi tidak ada yang keliru. Lantas, di meja rapat kemarin Bapak lemparkan laporan itu ke saya dengan mengatakan kalau laporan itu keliru,” jawab Jill dengan nada gondok.
Jeff menangkap kekesalan Jill dengan jelas melalui ekspresi wajah dan nada bicaranya.
“Di sini, kamu yang atasanku, atau aku yang atasanmu?” tegasnya membalas nada bicara Jill yang dongkol dengan sorot mata yang jauh lebih tajam.
Jill langsung membalikkan badan dan berjalan menuju ke pintu sambil merutuk pelan, “Sialan!”
Namun indra pendengaran Jeff yang tajam mampu menangkap rutukan itu hingga dadanya langsung terasa panas. “Heh, kenapa kau pergi?”
Bentakan barusan membuat Jill langsung menghentikan langkah dan memutar badan.
“Lalu, apakah saya harus diam menjadi pendengar yang baik di sini?”
TBC