Demi pergi bersama selingkuhannya seorang wanita bernama Camila tega menempatkan saudari kembarnya bernama Camelia disisi suaminya bernama Dion. Camila lebih memilih pria selingkuhannya lantaran Dion selalu saja bersikap kasar dan menyiksanya saat sedang kesal kepadanya.
Malam pertama ketika Camelia berada di kediaman Dion, semua pelayan merasakan sesuatu yang janggal pada sikap Camelia yang mereka anggap adalah Camila. Tentu saja karena Camelia dan Camila memiliki sikap yang sangat bertolak belakang, lagipula tidak ada yang mengetahui bahwa Camelia dan Camila adalah saudari kembar termasuk Dion.
Bagaimana hari-hari yang akan dijalani Camelia sebagai wanita samaran untuk Dion?
Apakah Camelia bisa menempatkan dirinya sebagai Camila tanpa sepengetahuan Dion?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memancing kejujuran Camelia
Sepulang dari pesta Baren langsung menghubungi Camila yang tengah berbahagia bersama pria pujaan hatinya, Demian. Baren berencana untuk mendapatkan keuntungan besar dengan memanfaatkan kedua putrinya tersebut.
"Halo?"
"Camila, dengarkan Ayah! Ayah ingin kau segera pulang dan kembali menempati posisimu sebagai istri Dion!" kata Baren.
"Aku tidak mau! Aku sangat bahagia disini bersama Demian ... dia memperlakukan aku dengan sangat baik! Setiap hari dia menunjukkan rasa cintanya untukku!" sahut Camila bersikeras menolak permintaan Ayahnya.
"Apa karena cinta kau sudah hilang akal sekarang, hah? Kalau kau tidak kembali, maka Camelia yang akan menguasai sebagian harta milik Dion yang seharusnya kau miliki!" ucap Baren terus berupaya agar Camila menurutinya.
"Aku tidak perduli! Yang aku inginkan hanyalah menikmati kebahagiaan bersama Demian ... aku tidak mau hidup bergelimangan harta tapi aku selalu disiksa sama monster gila itu!" sahut Camila tetap saja menolak.
"Camila ...."
"Sudahlah Ayah! Sebentar lagi aku dan Demian akan menikah disini, jadi apapun yang Ayah katakan aku tetap tidak akan kembali pada monster itu!" ucap Camila telah mengambil keputusannya sendiri.
"Camila dengarkan Ayah sekali ini saja! Kau kembali menjadi istri Dion dan memberikan dia keturunan, nanti setelah kau melahirkan seorang anak untuknya dan mengambil sebagian harta miliknya ... setelah itu kau ingin pergi kemanapun itu terserah kau, yang penting sebagian harta serta aset-aset perusahaan yang Dion berikan sudah menjadi milikmu.". Kata Baren tetap berupaya agar Camila mau kembali sesuai dengan keinginannya.
"Untuk apa aku berusaha keras ingin memberikannya keturunan? Dion itu pria mandul, Ayah!" seru Camila.
"Apa? Darimana kau tau?" tanya Baren.
"Tentu saja aku tau! Sudah lebih dari satu tahun aku menjadi istrinya tapi dia tetap tidak bisa membuatku hamil, berarti bukankah dia pria yang mandul!" sahut Camila.
"Pokoknya apapun yang Ayah katakan tidak akan mengubah keputusanku! Aku tidak akan kembali pada monster gila itu!" sambung Camila seraya menutup teleponnya secara sepihak.
Tut... Tut... Tut...
"Sialan!!!" teriak Baren kesal saat sambungan teleponnya diputuskan Camila begitu saja.
"Anak itu benar-benar sudah dibutakan cinta Demian!" gerutu Baren sangat kesal lantaran tidak bisa membujuk Camila untuk kembali pulang.
Evelin mendekati suaminya tersebut yang terlihat begitu kesal setelah menghubungi putrinya.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau sangat kesal?" tanya Evelin.
"Camila memang benar-benar bodoh! Dia lebih memilih hidup dengan makan cinta bersama Demian ketimbang hidup bergelimangan harta bersama Dion! Dia sungguh bodoh!" ujar Baren begitu kesal.
"Kau dengar sendiri kan apa yang Dion katakan saat di pesta tadi? Dia akan memberikan sebagian harta miliknya kepada istrinya bila mereka memiliki anak nantinya ... seharusnya semua itu akan menjadi milik Camila buka Camelia!" kata Baren.
"Sayang, Camelia kan anakmu juga jadi kalau dia memiliki sebagian harta Dion, maka kau juga akan merasakan keuntungan dari itu semua." ucap Evelin yang belum mengetahui rencana apa yang ada di dalam pikiran suaminya tersebut.
"Aku berencana untuk memberikan Camelia pada tuan Kevin!" kata Baren.
"Apa?" ucap Evelin terkejut.
"Tadi saat di pesta aku tidak sengaja melihat tuan Kevin dan Camelia bersama. Dari wajah tuan Kevin aku sangat tau bahwa dia memiliki perasaan pada Camelia walaupun mereka baru saling mengenal! Jadi aku berniat untuk meminta Camila kembali pada posisinya sebagai istri Dion dan Camelia akan aku berikan pada tuan Kevin! Lalu dengan cara seperti itu, aku akan mendapatkan keuntungan besar yang berlipat-lipat ganda!" kata Baren menjelaskan semua rencananya untuk mengambil keuntungan dari kedua putrinya tersebut.
Senyuman lebar pun mengambang di bibir Evelin yang memiliki sifat ketamakan ada harta sama seperti Baren.
"Tuan Kevin bahkan jauh lebih kaya dari Dion! Dia memiliki banyak perusahaan hingga keluar negeri dan sangat disayangkan jika semua ini tidak dimanfaatkan!" sambung Baren.
"Kau benar, sayang! Jika Camelia menikah dengan tuan Kevin maka kau sebagai ayahnya akan semakin dikenal di dalam dunia bisnis!" kata Evelin.
"Tidak hanya itu saja, aku akan membuat kesepakatan dengan tuan Kevin untuk menukarkan beberapa aset miliknya yang berharga dengan Camelia, hehehe," sahut Baren begitu licik serta serakahnya.
"Aku mendukungmu, sayang! Tidak sia-sia kau memiliki dua orang putri yang mampu memikat dua hati pria yang memiliki kedudukan tinggi di dunia bisnis!" ucap Evelin memuji Baren.
"Ya, kau benar! Aku sangatlah beruntung memiliki mereka, hahaha ...." sahut Baren tertawa bangga.
Disisi lain, Camelia dan Dion masih berada di pertengahan jalan untuk kembali kerumah. Sebelumnya Dion sudah mengatakan pada supir pribadinya untuk mengambil jalan yang akan melewati rumah sakit dimana Shofia dirawat. hal itu sengaja dilakukan lantaran untuk mengetahui reaksi Camelia.
Camelia pun menoleh ke sisi jalan dan menyadari bahwa ia akan melewati sebuah rumah sakit dimana tempat ibunya dirawat pasca operasi.
"Ini kan jalan menuju kerumah sakit itu!" gumam Camelia dala hatinya sembari terus melihat sisi jalanan tersebut.
Dion melirik reaksi Camelia yang tampak antusias ingin melihat rumah sakit yang sudah tidak jauh lagi dari keberadaan mereka. Lalu beberapa saat kemudian Dion meminta supir pribadinya tersebut untuk menghentikan mobilnya ketika berada tepat di depan rumah sakit tersebut.
"Hentikan mobilnya! Aku ingin menghirup udara segar!" seru Dion pada supirnya.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan rumah sakit tersebut. Dion mendekati Camelia yang terus menatap rumah sakit itu lalu serta berbisik padanya.
"Sayang, apa kau tidak ingin turun?" bisik Dion.
"Un-untuk apa aku turun?" sahut Camelia kemudian melirik kearah rumah sakit itu.
"Aku lihat kau begitu tertarik melihat rumah sakit itu! Apa ada sesuatu disana?" tanya Dion sembari menatap reaksi Camelia yang tampak begitu gugup.
"Tidak ada!" sahut Camelia.
"Haaaahh, kalau begitu kita turun bersama dan membeli sesuatu di minimarket itu! Mungkin kau suka membeli cemilan atau sekedar membeli permen mungkin?" kata Dion seolah ingin memaksa Camelia untuk turun bersamanya.
"Tidak, kau saja!" sahut Camelia menolak.
Dion terus menatap wajah Camelia yang tetap saja tidak ingin mengakui semua kebenarannya.
"Heh, dia tetap saja membohongiku!" gerutu Dion dalam hatinya.
Lalu Dion meminta supir pribadinya untuk kembali melakukan mobilnya.
"Jalan!" seru Dion.
"Baik, tuan," sahut supir.
"Eh, kau tidak jadi turun?" tanya Camelia.
"Tidak!" sahut Dion singkat.
"Kenapa?" tanya Camelia bingung.
"Tiba-tiba aku berubah pikiran!" sahut Dion.
"Dasar aneh!" gerutu Camelia sejenak melirik Dion.
Kemudian Camelia kembali menoleh kesamping kanannya untuk melihat rumah sakit dimana ibunya sedang dirawat pasca operasi. Perasaan khawatir mencuat dan Camelia sangat ingin mengetahui kondisi ibunya tersebut.
"Ibu, aku pasti akan datang! Aku akan menjengukmu sebentar lagi!" ucap Camelia dalam hatinya.