NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Penaklukan di Atas Puing Bara

​"Serbu! Jangan beri ampun bagi mereka yang sudah melukai kakakku!" teriak Jacob dengan suara yang sangat lantang hingga mengalahkan deru kobaran api di depannya.

​Derap langkah ribuan kuda Black Knight bergemuruh hebat saat mereka menerjang masuk melalui gerbang benteng Scolar yang sudah hancur berantakan. Jacob berada di barisan paling depan, memimpin pasukannya dengan pedang yang berkilat tajam karena pantulan cahaya ledakan.

​{Sistem, berikan aku koordinat komandan musuh sekarang juga. Aku tidak ingin membuang waktu dengan membantai prajurit rendahan.}

​[Analisa Panca Indra: Frekuensi suara perintah terdengar dari arah menara pengawas sisi barat. Target terdeteksi sebagai Jendral Barkas dari Scolar. Jarak tempuh: tiga ratus meter melalui jalur samping yang belum runtuh.]

​"Veldora! Ambil alih komando di lapangan tengah! Aku akan memenggal kepala pemimpin mereka sendirian!" perintah Jacob tanpa menoleh sedikit pun ke arah jendralnya.

​Veldora hanya sempat mengangguk cepat sebelum dia kembali mengayunkan kapak raksasanya untuk membelah barisan tameng musuh yang mencoba menghalangi jalan. Dia tahu bahwa pangerannya sekarang bukan lagi sosok yang perlu dilindungi terus-menerus seperti saat pertempuran di awal pekan lalu.

​||||||||||||||

​Suara kaki Jacob terdengar sangat cepat saat dia mulai memanjat puing-puing tembok yang masih terasa panas. Dia bergerak dengan kelincahan yang sangat presisi karena sistem terus mengoreksi setiap posisi tumpuan kakinya agar tidak tergelincir dari bebatuan yang licin oleh oli.

​Seorang prajurit Scolar tiba-tiba melompat dari balik pilar dengan tombak yang siap menusuk dada Jacob. Namun, pandangan Jacob yang didukung sistem langsung berubah menjadi warna biru transparan dalam sekejap untuk mendeteksi lintasan serangan.

​[Mode Auto Pilot: Serangan Balik Instan Diaktifkan.]

​Tubuh Jacob berputar di udara dengan gerakan yang sangat aerodinamis, membuat mata tombak lawan hanya melewati celah di bawah ketiaknya saja. Tangan kanan Jacob bergerak sendiri, menghunuskan pedang pendek ke arah leher prajurit itu dengan akurasi tinggi pada titik saraf vitalnya.

​{Gerakan ini benar-benar efisien. Aku bahkan tidak merasakan hambatan sedikit pun saat pedangku menembus zirah tipis mereka.}

​Jacob mendarat dengan mulus dan terus berlari menuju puncak menara tanpa menghentikan momentumnya sedikit pun. Dia melihat sosok pria tua berzirah emas yang sedang berteriak panik memberikan perintah kepada sisa-sisa pasukannya di bawah sana.

​"Kau pasti Jendral Barkas. Waktumu sudah habis, pak tua," ucap Jacob dengan nada suara yang sangat dingin saat dia tiba di depan pintu ruang komando.

​||||||||||||||

​Barkas terkejut melihat pangeran kedua Helios sudah berdiri di depannya dengan tubuh yang dipenuhi noda darah musuh. Dia segera mencabut pedang besarnya dan memasang kuda-kuda bertarung yang sangat kokoh untuk membela diri dari serangan mendadak tersebut.

​"Berani sekali kau datang ke sini sendirian, bocah sombong! Aku akan mengirim kepalamu kembali kepada Ferdinand malam ini juga!" teriak Barkas sambil menerjang maju dengan kekuatan yang sangat besar.

​Hantaman pedang besar Barkas menciptakan retakan pada lantai marmer menara tersebut namun tidak mengenai sasaran sedikit pun. Jacob tidak menahan serangan itu dengan kekuatan kasar, melainkan hanya bergeser sedikit ke samping sesuai instruksi taktis dari sistem.

​[Peringatan: Target memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Pengguna disarankan untuk mengincar sendi pergelangan tangan kiri target yang terlihat sedikit kaku.]

​"Terlalu lambat untuk seorang jendral yang katanya legendaris," ejek Jacob sambil menusukkan ujung pedangnya ke celah zirah di pergelangan tangan Barkas yang terbuka.

​Teriakan kesakitan terdengar dari mulut jendral tua itu saat pedangnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan suara dentingan keras. Jacob tidak memberikan kesempatan kedua, dia langsung melakukan tendangan berputar yang menghantam dagu Barkas hingga pria itu jatuh tersungkur tak berdaya di hadapannya.

​{Selesai. Sekarang dia akan menjadi sandera yang sangat berharga untuk negosiasi kita nanti.}

​||||||||||||||

​Natali muncul dari balik bayangan atap menara dengan gerakan yang sangat anggun seolah dia baru saja menyelesaikan tugas ringan. Dia melihat Barkas yang sudah tidak berdaya di bawah kaki Jacob dengan tatapan mata yang sangat datar dan dingin.

​"Seluruh jalur pelarian rahasia di bawah benteng ini sudah saya tutup sepenuhnya, Tuanku. Tidak akan ada satu pun tikus Scolar yang bisa meloloskan diri malam ini," lapor Natali sambil membungkuk hormat kepada Jacob.

​"Kerja bagus, Natali. Seret orang tua ini ke hadapan ayahku sekarang juga agar dia bisa segera diadili," perintah Jacob sambil menyarungkan kembali pedangnya ke pinggang dengan mantap.

​Jacob berjalan menuju balkon menara dan melihat ke bawah, ke arah lapangan benteng yang kini sudah sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Helios. Bendera singa emas milik Helios mulai dikibarkan dengan gagah di atas menara utama, menandakan kemenangan mutlak mereka atas musuh bebuyutan kerajaan.

​Raja Ferdinand terlihat berjalan di tengah lapangan dengan wajah yang penuh dengan kebanggaan sekaligus rasa haru yang mendalam. Dia menatap ke arah menara pengawas dan melihat putra keduanya berdiri tegak di sana seperti seorang penakluk sejati yang lahir dari badai peperangan.

​{Ini baru awal, Ayah. Aku akan memastikan tidak ada lagi kerajaan yang berani memandang remeh keluarga kita di masa depan nanti.}

​||||||||||||||

​Sesaat setelah kemenangan dirayakan di lapangan bawah, Jacob masuk ke dalam ruang kerja Barkas untuk mencari dokumen penting kerajaan Scolar. Matanya tertuju pada sebuah surat yang disegel dengan cap lilin yang sangat ia kenali berasal dari lingkungan istana Helios sendiri.

​"Tunggu, kenapa stempel Penasihat Agung kerajaan kita ada di atas meja musuh ini?" gumam Jacob dengan kerutan di dahinya yang penuh rasa curiga.

​Jacob membuka paksa segel tersebut dan membaca isinya dengan mata yang perlahan-lahan membelalak karena terkejut. Surat itu berisi koordinat rute perjalanan George saat hari pengkhianatan terjadi, lengkap dengan instruksi rahasia untuk melumpuhkan George tanpa membunuhnya.

​{Sistem, analisa keaslian stempel dan tulisan tangan dalam dokumen ini segera!}

​[Analisa Selesai: Tingkat kecocokan sembilan puluh sembilan persen dengan aset diplomatik resmi Kerajaan Helios. Kesimpulan: Penyerangan terhadap Pangeran George telah direncanakan dari dalam istana sendiri.]

​Genggaman tangan Jacob mengeras hingga meremukkan kertas di tangannya tersebut karena amarah yang sangat memuncak di dalam dadanya. Dia menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah Scolar, melainkan pengkhianat yang saat ini mungkin sedang duduk santai di samping ayahnya di istana.

​"Jadi, seseorang di rumah kita sendiri yang menginginkan kakakku menjadi lumpuh selamanya," bisik Jacob dengan suara yang gemetar karena menahan amarah yang meledak.

​Cakrawala yang mulai terang oleh fajar kini terasa hambar bagi Jacob saat dia menatap tajam ke arah kejauhan, tempat ibu kota Helios berada.

​||||||||||||||

​Tangan Jacob segera menyimpan kertas itu di balik zirahnya dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak rusak oleh keringat atau darah. Dia tidak boleh gegabah dalam bertindak sebelum memiliki rencana yang matang untuk menjebak tikus besar di dalam istana tersebut.

​"Natali, segera turun dan amankan posisi ayahku sekarang juga. Jangan biarkan siapa pun mendekatinya tanpa seizinku!" perintah Jacob dengan nada bicara yang sangat mendesak.

​Natali tidak bertanya lebih lanjut dan langsung melesat turun dari menara dengan kecepatan yang luar biasa layaknya bayangan merah. Dia menyadari ada ketegangan yang sangat berbeda dari nada suara tuannya barusan, sebuah tanda bahwa ada badai baru yang sedang mendekat dengan cepat.

​{Aku harus sampai di sana sebelum terlambat. Jika surat ini benar, maka nyawa ayah juga sedang berada dalam bahaya besar saat ini.}

​Pangeran muda itu melompat turun dari tangga menara dan berlari sekencang mungkin menuju lapangan tengah benteng yang dipenuhi sorak-sorai prajurit. Dia melihat ayahnya sedang tertawa bangga sambil merangkul pundak seorang pria berjubah mewah yang selalu berada di sisi raja sebagai penasihat terpercaya.

​Penasihat Agung Barnaby tersenyum dengan sangat lebar sambil memberikan ucapan selamat yang terdengar sangat tulus di telinga sang raja. Namun, pandangan mata Barnaby terlihat sangat dingin dan tidak berekspresi saat dia melihat Jacob yang sedang berlari mendekat dari kejauhan.

​Raja Ferdinand yang terlalu larut dalam kebahagiaan kemenangan tidak menyadari bahwa tangan kanan Barnaby perlahan masuk ke dalam balik jubahnya yang panjang dan tebal. Sebuah kilatan logam dari belati kecil yang diolesi racun mematikan mulai terlihat di antara jemari sang penasihat agung tersebut dengan sangat samar.

​Penasihat Agung itu melangkah selangkah lebih dekat ke arah jantung sang raja dengan gerakan yang sangat tenang seolah ingin memberikan pelukan hangat seorang sahabat. Dia menunggu saat yang paling tepat untuk menusukkan belati itu tepat di antara celah zirah sang raja yang sedang lengah karena euforia kemenangan.

​"Untuk masa depan Helios yang baru dan lebih murni, Baginda," bisik Barnaby dengan suara yang sangat rendah tepat di samping telinga Raja Ferdinand sambil menghunuskan pisaunya.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!