Seorang pemuda titisan dewa dari dunia tiny, merangkak maju demi meminta ke adilan untuk keluarga nya hingga membawa pemuda itu ke pertarungan hidup dan mati bersama dewa penguasa tertinggi yang mengusai alam itu.
Qin yan, seorang pemuda tegar, jenius dan berbudi pekerti harus menerima kenyataan kalau diri nya adalah seorang cacat. Namun takdir berkata lain, dewa merencanakan kehidupan nya agar mampu mengalahkan Kaisar dewa sage yang menguasai ruang dan waktu. Hingga ia di bawa pulang oleh di mensi dan mengalami kebangkitan kedua.
Di sini ia akan membangun kembali semua nya dan merubah takdir semua orang termasuk diri nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwin Stayly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Roh
Jangan lupa like, komen, dan vote yah.
"Qin Lei hentikan itu, kau sudah melewati batas. Jika kau tidak menghentikannya maka lebih kau kembali saja ke keluarga." Ucap gadis yang di sana.
'Qin Xing er.' Gumam Qin yan dalam hati.
Qin Lei berbalik, menatap wanita itu dengan tajam. Namun ia tidak lama kemudian ia jadi lembut.
"Nona Xing er, maafkan aku jika telah mengganggumu. Namun, anak ini harus diberi pelajaran. Karna telah berani meremehkan keluarga utama kita." Qin Lei berbalik menatap Qin yan.
"Dia tidak meremehkan keluarga utama kita, tapi kaulah yang meremehkan keluarga mereka." Bantah Xing er.
"T-tapi...." Qin lei tidak terima.
"Itu benar, kami tidak meremehkan keluarga utama. Tapi kaulah yang telah merusak nama keluarga utamamu sendiri." Qin yan menatapnya sambil menyeringai.
"K-kau, kau masih berani bicara padaku?" Qin lei kembali menggenggam lehernya.
"Kenapa tidak. Kau kira siapa kau? Kau kira kau itu dewa, dan aku harus berlutut padamu. Sorry yah, meskipun kau dewa aku tidak akan berlutut. Apalagi orang sepertimu."
"AAARGGHH......, Hei sialan, kau seharusnya bersyukur karena kami mengijinkamu berada di sini."
"Hahah.... Bersyukur, peraturan yang sudah di tetapkan sejak lama. Kau bilang harus bersyukur. Tentu saja kami bersyukur, bersyukur karna kami memang bisa masuk ke menara kuno ini. Tapi siapa kau, asal kau tau saja yah. Bahkan jika keluarga utama ingin menghapus peraturan itu tetap akan tidak bisa. Karna keluarga Bulu Biru sebenarnya awalnya dari satu, bukan banyak cabang seperti ini. Mengerti kau?"
"AAAAARRRGG.... Anak bangsat.!!"
Cincin biru langsung naik ketubuhnya. Ia hendak memukul Qin yan.
"Qin lei hentikan." Panggil Xing er yang disana.
Tapi Qin lei tidak mau memperhatikan gadis itu lagi, di karenakan Qin yan terlalu memprovokasinya.
"Pukul, pukul saja. Ini pipi nih, aku sudah siapin. Pukul."
Qin lei tiba tiba berhenti, ia menyadari sesuatu.
Qin yan langsung memandangi nya dengan tatapan rendah dan jijik.
"Apa kau takut, kau itu pria atau bukan?"
Amarah Qin lei jadi membara sekali lagi.
"Qin lei, hentikan. Dia hanya memancing amarahmu." Gadis itu sekali lagi memperingatkan nya.
"Aku tidak perduli lagi. Bocah ini harus mati. HIYAAAAAHH...."
BOOOOMMM....
Qin lei terlempar kebelakang dalam keadaan menyedihkan. Serangannya terkena diri sendiri. Bukan hanya itu, ia juga terkena hukum di menara ini.
Dengan menyemburkan darah segar, badannya yang tidak dapat bergerak. Ia menatap Qin yan dengan penuh kebencian.
Qin yan perlahan berjalan ke arahnya.
"Heh... Kau ini pendatang baru yah. Apa kau tidak tau kalau di sini itu punya hukum tersendiri. Kau menyombongkan diri seolah olah kau adalah pemilik menara ini. Tapi tidak bisa apa apa. Kau bilang status keluargamu lebih tinggi. Justru kau harus mengerti, keluarga utama itu adalah keluarga yang paling kami hormati dan patut jadikan panutan.
Bukannya merusak namanya, menggunakan namanya demi kesombongan dan menjadikan perbedaan agar kau dapat menekan kami semena mena. Tentu saja disini kami sadar akan perbedaan kami dan kalian, tapi yang kau lakukan sudah melewati batas. Tidak mungkin bagi kami meminta maaf untuk kesalahan yang kami tidak lakukan. Kau melakukan kesalahan sendiri, tapi jangan menutupinya. Apalagi melemparnya keorang lain. Jadi selamat tinggal."
Qin yan mengangmbil kalung batu giok di lehernya.
"K-kau, apa yang ingin kau lakukan?"
"Tentu saja mengeluarkanmu."
Qin yan hendak memecahkan batu itu.
"Tunggu. Kau tidak boleh melakukan itu ." Seorang pria kekar menghentikan tangannya.
Qin yan berbalik, tentu saja ia mengenal orang ini. Jenius kedua dari keluarga utama, ia juga kakak sepupunya. Di mana ayahnya dulu adalah dermawannya. Mereka orang yang sangat peduli dengan keluarga Qin yan. Apalagi ayahnya yang sering ia panggil paman Shao. Bahkan walau ribuan tahun pun berlalu ia takkan melupakan jasa mereka.
Qin yan melepaskan kalung batu giok itu, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Qin lei. Menuju ke teman temannya.
'Anak itu.' Pria kekar itu menatap Qin yan dengan heran. Ia kira,berurusan dengan nya akan sulit . Tapi ternyata tidak.
"Wah, bos kau keren sekali bos."
Qin yan berbalik, melihat Qin feng yang menatapnya dengan mata berbinar.
"Ada apa bos?" Tanyanya lagi.
"Jangan panggil aku bos, kau itu lebih tua dariku."
"Tidak apa apa kok bos, aku memang sudah memutuskan hari ini aku akan memanggilmu sebagai bosku."
"Sudah kubilang, jangan panggil aku bos."
"Oke bos, aku tidak melakukannya lagi."
"Itu kau masih memanggilku bos."
"Tidak lagi bos, aku janji."
"Lupakan saja."
Tiba tiba sebuah tangan mencubit pinggangnya. Ternyata Qin Ruo sedang menatapnya dengan tajam.
"Bukankah patriak sudah bilang kalau jangan mencanri masalah."
Qin yan langsung melepaskan tangannya yang sedang mencubit.
"Itu tidak berarti kita bisa diganggu seenaknya." Tatap Qin yan dengan tajam.
"Itu benar bos."
"Qin yan memang benar."
Qin feng dan Qin mo menjawab bersamaan.
"Jujur saja, aku merasa senang. Kalau pria itu bisa diberi pelajaran. Dia terlalu sombong." Qin feng menimpali.
"Heh, kau ini."
Ketika mereka sedang bercakap cakap, semua orang yang tempat itu memandangi Qin yan dan terus memperhatikannya. Baik dari keluarga cabang maupun keluarga utama. Itu karna perbuatan Qin yan tadi membuat tatapan orang seolah olah ia berbeda dengan yang lain.
Tiba tiba segel yang di pintu menara kuno telah terbuka.
"Lihat, pintunya telah terbuka. Mari kita masuk."
Semua orang berbondong bondong pada masuk kedalam. Dan kelompok Qin yan adalah yang terakhir.
"Ayo, kita juga harus masuk." Ucap Qin yan bagaikan komando di tim itu.
Entah sejak kapan, mereka semua mendengarkan perkataan Qin yan. Padahal jika dilihat dari sudut pandang mereka. Qin yan adalah orang yang baru pertama kali masuk ke menara ini.
Ketika masuk, Qin yan melihat sesepuh tua yang berdiri di sudut ruangan. menatapnya sambil mengelus jenggotnya. Ia pun memberi hormat pada sesepuh itu. Kemudian lanjut masuk kedalam.
"Tampaknya, keluarga Bulu Biru akan naik sampai ke puncak dunia nanti." Gumam sesepuh itu.
......
"Qin yan, kenapa kau lama sekali. Untung saja, kau tidak tersesat." Omel Qin ruo.
"Ayolah, aku tidak apa apa. Kenapa kau marah marah seperti itu?"
"Hmph..." Qin ruo berbalik kesal, berjalan kedepan.
Qin yan hanya menggeleng kepalanya, lalu mengikuti teman temannya.
Di depan, ada sebuah ruangan yang sangat luas. Seperti layaknya singgasana. Dan ada sebuah busur biru yang terletak di atas batu.
Busur biru itu tampak sangat kuno, karna selama ratusan tahun belum ada yang menjadi pemiliknya.
"Itu adalah senjata Roh tingkat Divine. Jika seseorang memlikinya maka masa depannya akan cerah." Qin ruo sengaja menjelaskan pada Qin yan. Padahal Qin yan tidak memperhatikan nya sama sekali, karna ia sendiri sudah tahu tentang senjata itu.
'Busur Illahi milik kaisar dewa laut.' Gumam Qin yan dalam hati.
"Hei, Qin yan. Apa kau mendengarkanku? hei."
Qin Ruo berusaha menyadarkan Qin yan yang dari tadi menatap senjata kuno dengan rakus.
Plak...
Suara tamparan sangat jelas di pipi Qin yan, hingga semua orang di seluruh ruangan mendengarnya. Dalam sekejap, Qin yan jadi pusat perhatian lagi. Sampai sampai melupakan Qin Xing er yang sedang berusaha mengangkat busur itu.
Awalnya Qin yan tertegun dengan tamparan itu, ia langsung melotot pada Qin Ruo.
"Kenapa kau menamparku?." Tanya Qin yan.
Qin ruo melipat tangan didadanya.
"Lagian, tatapanmu disana terus. Bahkan jika itu di dalam mimpimu, kau pun juga takkan bisa mengambilnya." Ia sangat kesal dengan anak ini, orang yang tidak pernah memperhatikannya sekalipun.
"Jadi, apakah aku harus menatapmu terus. Begitu? Jangan mimpi."
Qin yan berjalan pergi ke depan, menuju ke arah senjata kuno itu sambil memegangi pipinya merah dengan bekas lima jari.
"Hei, kau mau kemana?" Tanya Qin ruo lagi.
"Memangnya mau kemana lagi, aku ingin mengambil senjata itu."
*******
Tingkatan senjata.
Senjata di bagi menjadi empat.
*Senjata biasa (Buatan langsung dari seorang pandai besi). Seperti pedang, panah, tombak, dan lain lain.
Tingkatan:
senjata level 1 sampai level 9
*Senjata roh. (Sama halnya dengan senjata biasa), hanya saja senjata ini mempunyai roh didalamnya. Dan bisa memilih tuannya sendiri. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa memiliki senjata seperti itu.
.
Tingkatan:
Senjata roh tingkat bumi.
Senjata roh tingkat langit.
Senjata roh tingkat Surgawi.
Senjata roh tingkat Illahi (Divine)
*******
tapi di komik menjadi alkemis dan bisa bertarung