Calina Sanders menikahi seorang putra mahkota karena ingin mencari keadilan atas kematian ibunya.
Sedangkan Kama El Barrak menikahi Calina karena ingin mencari seorang pendonor yang sesuai untuk penyakit langkanya.
Siapa yang menyangka, Calina malah terjebak didalam istana megah itu seperti seorang tahanan. Sedangkan Kama perlahan mulai mencintai wanita yang dinikahinya.
Bagaimana mereka bersama setelah kehadiran orang ketiga diantara keduanya? Sedangkan sang Ratu begitu membenci Calina yang hanya seorang wanita dari kasta terendah.
Yuk Simak bersama Kisah Cinta menarik antara Kama dan Calina.
Jangan lupa dukung author berupa like, koment dan vote ya gaes. Jiayou 💪🏻🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi
(Peringatan! Episode ini khusus untuk pembaca 21+, pembaca yang belum cukup umur harap bijak dalam memilih bacaan yang sesuai)
Tiba tiba saja ruangan itu menjadi tenang. Calina memejamkan matanya saat melihat tatapan tajam mata Kama. Nyalinya untuk berbicara sirna, tubuhnya seakan kaku.
Apa yang sudah ku lakukan? Batin Kama saat sadar wanita dihadapan nya begitu ketakutan.
Memar dan darah segar menetes disekitar kepalan tangan Kama usai meninju keras dinding dibelakang Calina.
"Calina," panggil Kama lembut.
"Bawa aku segera ke ruang operasi Kama. Setelah itu hubungan kita benar benar berakhir," ucap Calina.
Kama berjalan lambat mendekat ke arah Calina hendak memeluk gadis dihadapannya itu. Namun tubuh Calina perlahan mundur menjauh dari Kama.
"Membayangkan aku akan berpisah dirimu membuat hatiku perih Calina. Aku bukanlah pria yang layak buat mu. Banyak sekali kesalahan yang telah kulakukan. Dan, dan.." Kama menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga rambutnya menjadi benar benar berantakan. "Mengenai rumor dipertanian, sudah lama aku mendengar cerita itu, namun aku hanya berpura pura tidak tau. Aku janji akan mencari tau masalah ini. Aku akan menebus semua kesalahanku. Tapi aku mohon jangan menjauhiku, jangan membenciku. Aku tak ingin mengambil keuntungan apa pun dari dirimu lagi. Calina. Aku mohon, jangan membenciku" ucapan Kama begitu getir ditelinga Calina.
Calina tak bisa mundur lagi. Wajahnya menunduk berpaling dari tatapan Kama yang bisa saja meluluhkan hatinya. Namun saat itu juga matanya tertuju ke punggung tangan Kama yang berdarah. Segera Calina menarik tangan itu keluar dari kamar. Calina mengarahkan badan Kama ke sofa empuk yang berada diruang tengah.
Calina meraih kotak medis dilaci kemudian membersihkan luka ditangan Kama. Calina tak ingin berdebat lagi dengan pria dihadapannya. Bahkan untuk menatap pria itu dia enggan. Rasa kecewanya pada Kama saat itu sudah mendarah daging.
Usai membalut luka dipunggung tangan Kama, Calina berbalik badanya ke arah meja sambil menaruh kotak medis itu ke atas meja.
"Calina," panggil Kama.
"Kembalilah keruangan mu, sudah terlalu malam," ucap Calina datar kemudian kembali ke kamarnya.
Kama bergegas menyusul Calina dibelaknganya dan menarik badan Calina yang hanya ditutupi selembar handuk kemudian memeluknya erat.
"Bagaimana cara aku dapat menebus setiap kesalahanku?" tanya Kama begitu frustasi.
Calina tak lagi berkeras keluar dari pelukan Kama, pelukan yang terasa begitu hangat. Pelukan yang selalu membuat hatinya bergetar. Namun pelukan itu tak sedikitpun membuatnya merasa aman. Diistana itu, bahkan putra mahkota sekalipun tak bisa membuatnya merasa betah.
"Jadilah seorang pemimpin yang bijak, seorang yang adil dan apa adanya. Karena tahta, kehormatan dan kekayaan tidak menjamin kamu bahagia." Kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Calina.
"Calina, tetaplah berada disisiku. Temani aku menjadi seorang raja yang bijak seperti yang kamu minta. Aku janji aku akan berubah, aku akan menjadi suami yang lebih baik lagi," ujar Kama begitu tulus.
Perlahan mata Calina menatap bening indah dimata Kama. Ucapan itu telah membuat hatinya iba. Calina sadar bahwa pria dihadapannya itu telah membuat dirinya jatuh cinta. Entah sejak kapan Calina telah mencintai putra mahkota. Yang pastinya perasaannya tak bisa menolak untuk memeluk pria itu.
"I Love You sayang," ucap Kama sambil menatap wajah Calina begitu dekat.
Calina merespon saat Kama mulai menciumnya. Ia tak kuasa menolak. Cinta nya terhadap Kama tak bisa menepis hasratnya yang saat itu ikut menggebu. Sebagai istri, Calina berhak mendapatkan kehangatan bersama suaminya saat itu.
"Sayang, i love you," ucapan yang berulang ulang keluar dari mulut Kama.
"Aku lapar," ucap Calina kemudian bergegas menarik bathrobe dari gantungan.
"Aku akan menghubungi Harley untuk membawakanmu seporsi makanan hangat dan penghilang pengar lagi," ucap Kama sambil ikut berjalan di belakang Calina. "Sangat menakutkan saat kamu dalam pengaruh alkohol, kamu bahkan ingin menceraikanku saat itu juga."
"Jadi aku bicara panjang lebar tadi hanya dianggap kata kata dari orang mabuk? Hufffttt sudahlah, jika aku berdebat lagi maka cacing cacing dalam perutku akan semakin mengamuk."
Kama membelai lembut rambut Calina. Sambil pencium pundak Calina. Calina menatap wajah dan senyum indah suaminya dalam jarak begitu dekat.
Disaat seperti ini, kamu menjadi kama milik ku. Tapi saat bersama ibu mu. Kamu akan menjadi Kama yang berbeda. Tahukah kamu? Semakin diperlakukan baik seperti ini, aku semakin sulit untuk bercerai darimu. Batin Calina.
Kama mengambil ponselnya kemudian menghubungi Harley. Namun saat makanannya tiba Calina sudah terlelap.
"Harley, bawa pergi sop nya. Besok buatkan yang baru lagi. Saat dia bangun dia pasti akan sangat kelaparan. Oh ya, jangan bangunkan aku saat pagi, aku takut itu akan membuatnya terbangun," ucap Kama.
"Apa anda tidur disini?" tanya Harley.
"Ya," jawab Kama singkat kemudian masuk kembali ke kamar Calina.
Sepertinya tuan sudah siap mengambil tindakan ini, berarti dia sudah siap melindungi nona Calina. Bagus lah, tuan selalu hidup dibawah pengaruh ibunya. Akhirnya ada seseorang yang membuatnya berani.
🌷🌷🌷
Pagi harinya pukul 7 pagi, Sophia ibu Kama sudah menunggu Kama diruangan makan bersama ayahnya dan beberapa tamu. Setelah meminta orang menjemput Kama diruangannya, Kama pun tak kunjung tiba.
Akhirnya jamuan hidangan pagi berlalu tanpa kehadiran Kama.
Diruangan pribadi Sophia...
"Juan, panggil Kama. Suruh dia menemuiku sekarang," ucap Sophia ada pengawalnya barunya.
"Tadi saya mencari yang mulia putra mahkota, tapi putra mahkota tidak berada ditempat," ucap Juan.
"Asistennya Harley?" tanya Sophia.
"Kediamannya kosong," ucap juan.
Sophia menghubungi Kama melalui telpon genggamnya, namun tidak aktif. Sophia akhirnya menghubungi Harley.
"Harley, mana Kama?" tanya Sophia.
"Yang mulia, pangeran masih tidur," jawb Harley.
"Tidak biasanya dia tidur hingga jam segini, apa dia sedang sakit?" tanya Sophia.
"Saya kurang tau yang mulia, tapi sepertinya pangeran baik baik saja."
"Kalau begitu suruh dia ke sini sekarang," pinta Sophia.
"Baik," jawab Harley.
"Juan, periksa lagi kediaman Kama. Selidiki apa yang dilakukannya, dan lihat apa dia baik baik saja," perintah Sophia pada Juan.
...
Waktu sudah lewat jam sembilan pagi. Kama baru saja keluar dari kamar hanya dengan handuk dibadannya.
"Harley, bawakan aku baju," pinta Kama pada Harley yang saat itu sedang berada diruang depan.
"Baik tuan. Apa saya sekalian siapkan sarapannya sekarang?" tanya Harley.
"Ya, boleh."
"Oh ya tuan, yang mulia Ratu barusan menelpon saya. Dia sedang mencari anda," ucap Harley.
"Saya akan menemuinya sebentar lagi," ucap Kama.
Hampir jam sepuluh pagi, Calina membuka matanya.
Matanya terasa masih begitu berat, namun rasa lapar diperutnya tak bisa dikompromi lagi. Calina segera bangkit dari tidurnya saat mencium aroma makanan dari luar pintu. Saat hendak berdiri kepala Calina terasa pusing dan perutnya agak mual.
Ah begini lah jadinya jika terlalu banyak minum alkohol.
Calina teringat kejadian semalam. Pertengkaran kecilnya dengan Kama dan bergelutnya dia dengan Kama diatas ranjang.
Ahhh, aku. Kenapa aku menjadi wanita maniak seperti itu? Batin Calina saat mengingat semua adegan yang dilakukannya pada Kama.
Calina kembali duduk diatas ranjang yang begitu berantakan, menarik nafas kemudian menuju kamar mandi.
Sambil berdiri dibawah guyuran air hangat, Calina sengaja memperlambat gerakan mandinya.
"Aku kelaparan, aku pengen makan," gerutu Calina dibawah derasnya air.
Selesai mandi Calina telah rapih dengan dress peach yang cantik dibadannya.
Suara gemuruh asik bersahut dahutan didalam lambung dan usus Calina, membuatnya nekat menarik gagang pintu dan keluar dari ruangan kamarnya.
Saat itu Kama tengah asik menonton drama didepan tv. Calina memilih tak menghiraukan Kama akibat perasaan malunya mengingat kejadian semalam. Dirinya berjalan cepat menuju menu hangat diatas meja.
Bunyi piring dan sendok beradu, Kama pun mendekati Calina.
"Sayang," sapa Kama.
Calina menatap pria didepannya yang tak bisa berhenti menatap dirinya.
"Kenapa kamu masih didisini?" tanya Calina.
"Mulai hari ini aku akan pindah ke sini. Aku sudah memberitahu Harley untuk merenofasi kamarku untuk dijadikan dapur," ucap Kama.
"Dapur untuk apa?" tanya Calina.
"Dapur ya untuk masak, bukan untuk mandi kan?" ucap Kama.
"Ya sudah terserah kamu, kamar kamar kamu," ucap Calina datar. "By the way, kamu pindah kesini trus aku?" tanya Calina saat sadar ucapan Kama.
"Kamu kan istriku, mulai sekarang kita akan tinggal bersama."
"Tinggal bersama? Dan ibumu?"
Kama mengangkat kedua bahunya. "Ibu akan jengkel, tapi setelah beberapa hari dia akan terbiasa."
Ibumu mungkin akan shock dan jatuh sakit jika kamu nekat seperti ini. Dan aku? Aku akan menjadi bulan bulanannya setiap hari.
Bersambung...
semangat terus ya thor berkaryanya💪😇