NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Aku duduk di tepi kasur, tepat di hadapan Jalal yang masih saja terus memandangiku tanpa berkedip. Sisa-sisa air mata penyesalan tampak masih mengalir lambat di sudut matanya yang mulai dihiasi kerutan halus.

​"Apa Bapak tidak malu? Masa sudah tua begini masih menangis sesenggukan," ucapku sedikit sinis, berusaha menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang.

​Bukannya tersinggung, Pak Jalal justru tersenyum lalu terkekeh pelan. "Maaf, Yas... Saya memang mendadak cengeng kalau di depanmu. Mulai hari ini, saya janji akan bertanggung jawab penuh pada kalian berdua. Saya juga telah memutuskan akan meresmikan dan mengesahkan pernikahan kita secara hukum negara. Kamu akan jadi istriku, bukan lagi sebagai istri kedua, melainkan satu-satunya..." ucapnya dengan nada penuh keyakinan dan binar mata yang tegas.

​Aku mengerutkan jidatku, menatapnya tidak percaya sebelum rasa cemas kembali menyergap. "Lalu bagaimana dengan Zulaikha, Pak? Dia pasti akan sangat kecewa. Dia pasti akan semakin membenci saya kalau tahu hal ini..." ucapku lirih, teringat pada anak perempuan Pak Jalal.

​Tangan kekar Pak Jalal bergerak pelan, mengusap pipiku dengan lembut. "Sudah... Urusan Zulaikha biar jadi urusan saya sepenuhnya. Dia sudah dewasa, dia pasti lambat laun akan mengerti," ucap Jalal dengan suara rendah yang menenangkan.

​Belum sempat aku mencerna kalimatnya, tanpa aba-aba pria itu dengan cepat menarik tubuhku masuk ke dalam dekapan hangatnya. Dada bidangnya bersentuhan langsung dengan badanku.

​"Apa kamu dengar detak jantung saya, Yas?" tanya Jalal rendah, berbisik tepat di dekat telingaku.

​Aku hanya berdehem pelan sebagai jawaban, enggan mengaku jika jantungku sendiri pun sedang berdegup tidak karuan.

​"Dulu, saat saya pertama kali menaruh rasa pada mendiang Laila, saya juga merasakan debaran jantung yang sehebat ini," lanjut Jalal lagi dengan suara yang teramat lembut.

​"Terus, maksud Bapak apa?" tanyaku bingung, mencoba mendongak menatap wajah matangnya.

​"Maksud saya... kalau jantung saya berdetak sekeras ini, itu tandanya saya sudah jatuh cinta sama kamu, Yasita," bisik Jalal pelan, diakhiri dengan kekehan hangat yang terasa bergetar di dadanya.

​Kesadaran langsung menghantamku. Dengan cepat aku mendorong dadanya dan melepaskan diri dari pelukan itu. Aku langsung memasang mode stecu' setengah mati.

​"Dih, gombal! Hati-hati saja, barangkali itu bukan jatuh cinta, tapi gejala sakit jantung!" ketusku sinis sembari memutar bola mata.

​Aku segera berjalan cepat menuju pintu kamar, sengaja meninggalkannya yang kini hanya bisa mengerucutkan bibir dengan wajah cemberut karena gagal bermesraan.

​Begitu langkah kakiku berhasil keluar dari kamar dan pintu tertutup rapat, pertahananku runtuh. Sebuah senyuman lebar yang tulus merebak di wajahku. Senyuman hangat yang entah sejak kapan sudah tidak pernah menghinggapi bibirku lagi selama tiga tahun ini.

​"Kak, kenapa senyum-senyum sendiri?"

​Teguran tiba-tiba itu membuatku terlonjak kaget. Andra rupanya sedang berjalan lewat di depanku sambil membawa sisa kardus sembako.

​"Eh? Ndak... ndada ji!" sahutku gugup dan cepat, menggunakan dialek lokal untuk mengelak.

​Tanpa menunggu Andra bertanya lebih jauh, aku berjalan setengah berlari menuju dapur untuk menyusul Mama, berusaha menyembunyikan rona merah yang kini pasti sudah membakar kedua pipiku.

"Yas, pergimi panggil dulu suamimu. Kita makan sama-sama... Mungkin dia sudah lapar itu," ucap Mama sembari menata piring di atas meja dapur.

​"Tidak mau tunggu Bapak kah, Ma?" tanyaku bingung.

​"Janganmi. Kasihan betul menantuku, dia sudah jauh-jauh datang menyeberang pulau. Masa mau disuruh tunggu orang tua yang masih di kebun," sahut Mama tangkas, sukses membuatku mengerutkan jidat.

​Menantu? Hadeh... Terlalu mudah sekali Mama disogok. Mentang-mentang pria itu datang membawa sembako dan oleh-oleh sekeranjang penuh, gerutuku gondok dalam hati.

​Namun, seolah bisa membaca isi pikiranku, Mama langsung menyambar cepat, "Mama terima dia karena dia ganteng, Yas! Heh, kau lihat nanti nah, ibu-ibu di kampung sini pasti langsung iri sama Mama. Apalagi itu mamanya Ican, langsung panas pasti hatinya kalau tahu kau menikah sama orang yang mukanya bule begitu. Eheh! Dia pikir mungkin cuma anaknya saja yang bisa dapat laki-laki ganteng dan kaya. Kau juga bisa! Jadi, Mama minta samamu, kau jaga betul-betul itu suamimu. Biar dibilang dia sudah berumur, tapi penampilannya masih kelihatan sangat muda."

​Ucapan Mama yang kelewat jujur itu membuatku melongo sesaat. Aku tidak bisa menahan tawa melihat tingkah kocak wanita yang melahirkanku ini.

​"Iye, sudahmi, Ma. Janganmi bicara terus... Saya jaga baik-baik ji suamiku," ucapku sembari terkekeh lucu.

​Aku segera melangkah menuju kamar untuk memanggil Jalal. Begitu pintu kubuka, netraku langsung menangkap sosok Jalal yang sedang duduk di tepi kasur sembari fokus membuka laptopnya. Dia mendongak menatapku, dan saat itulah dadaku berdesir aneh. Pria itu tengah mengenakan kacamata berbingkai tipis.

​Astaga... ganteng betul kalau dia pakai kacamata begini, batinku memuji dalam hati, buru-buru menepis rasa kagum itu sebelum mukaku memerah.

​"Kenapa, Yas?" tanya Jalal dengan nada suara yang teramat lembut.

​Aku berdehem pelan, berusaha mengontrol kegugupanku. "Kita dipanggil sama Mamaku, disuruh makan siang sekarang."

​Jalal mengangguk paham. Dia segera menutup laptopnya, lalu melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Pria itu bangkit berdiri, lalu dengan langkah pelan yang berwibawa, dia berjalan mendekatiku.

​"Yas... bisa ajari saya bahasamu?" bisik Jalal dengan suara rendah yang terdengar seksi di telingaku.

​Aku kembali mengerutkan jidat, bingung dengan permintaannya yang mendadak. "Maksud Bapak?"

​Jalal hanya tersenyum misterius melihat kebingunganku. "Ah, sudahlah. Mama kamu mungkin sudah menunggu di luar." Dia langsung menggenggam jemari tanganku dengan erat, menuntunku keluar kamar bersama-sama.

​Begitu tiba di ruang tengah, kami berpapasan dengan Andra. Adik kembarku itu langsung menatap ke arah tangan kami yang bertautan sambil melempar senyum mengejek yang menyebalkan. Aku membalas tatapannya dengan melotot galak, memberi isyarat agar dia diam.

​Setibanya kami di dapur, aku sudah melihat keberadaan Rudi. Pria itu berdiri menyatukan kedua lengannya di depan perut, tampak sungkan dan canggung untuk bergabung.

​"Eh, Bapanya Jayan, makan dulu," sapa Mama dengan ramah. Sudah menjadi kebiasaan di kampung kami untuk memanggil seorang pria dengan sebutan 'Bapaknya' diikuti nama anak pertamanya jika sudah berkeluarga.

​Kami semua akhirnya duduk bersama mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan khas rumahan.

​"Kita makanmi. Eh, Mas... di rumahku ini tidak ada perbedaan, nah? Semua sama. Bawahan sama tuan itu tidak ada bedanya kalau di meja makan, jadi jangan sungkan. Iye toh, Bapanya Jayan?" ucap Mama ramah kepada Jalal, karena menyadari gerak-gerik Rudi yang sejak tadi masih tampak agak canggung.

​"Iya, benar, Ma," jawab Jalal setuju. Dia lalu menepuk bahu Rudi dengan santai, memberi isyarat agar asisten pribadinya itu tidak perlu merasa segan dan langsung menikmati makanan yang ada.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!