Beautiful girl dan Handsome boy
dua geng yang selalu mendapatkan perhatian dari para murid SMA Nusantara.
#####
Beautiful girl adalah geng yang terdiri dari 6 gadis cantik yaitu :
( Dinda, Fanya, Maya, Aulia, Cika, jesika )
Mereka ini adalah murid baru dari SMA Nusantara, karna sebuah tantangan mereka harus berpenampilan cupu dan mereka juga harus menyembunyikan identitas mereka.
Geng ini juga geng yang memiliki anggota yang sangat jahil, mereka selalu memiliki ide cerdik di kepala cantik mereka untuk menjahili seseorang.
Bawahannya saja jahil apa lagi pemimpinnya?
#####
Handsome boy adalah geng yang terdiri dari 6 laki-laki tampan yaitu :
( Hendri, Fandi, Dafit, Dafa, Faris, Marsel )
Mereka adalah murid laki-laki SMA Nusantara yang sangat di idam-idamkan oleh para murid perempuan disana.
#####
Namun bukan hanya geng disekolah saja, kedua geng ini juga masuk ke dalam geng mafia yang sangat terkenal di dunia bawah.
Dan jangan lupakan dengan kejahilan-kejahilan yang akan mereka buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. overprotektif ???
Saat dalam ruang BK sedang ribut dengan perdebatan antara Sasa Dinda, sedang di luar ruang BK juga tak kalah ribut dengan perdebatan antara teman-teman Dinda dan juga Dafa CS.
Saat tadi Dinda berjalan mengikuti siswa itu ke ruang BK, yang lainya juga mengikuti Dinda dari belakang, tanpa di ketahui oleh Dinda tentunya.
"WOY, KALAU NGOMONG KERASAN DIKIT DONG! GAK DENGER NIH GUE."
Marsel sialan, batin mereka semua yang mengumpat, saat mendengar teriakkan Marsel yang sedang menguping di pintu.
"Woy, lo gila ya? Kalau sampai Bu Wini tau......" ucap Fandi sambal menggelengkan kepalanya.
"Kena dah lo," ucap Dafa yang melanjutkan ucapan dari Fandi.
"Iya-iya, gue salah," ucap marsel mengalah. "Gue tuh cuman kesel aja, masak mereka ngomong pelan banget. Eh, apa mereka bisik-bisik ya? Kok gue gak bisa denger?" lanjutnya sambil menempelkan telinganya ke pintu.
"Lo tuh gimana sih, di ruang BK kan di pasang alat penyedap suara. Tajar lah, kalau Lo gak bisa denger. Mau lo nguping gimana pun, ya gak bakal kesengsaraan oneng," geram Fandi pada Marsel.
"Ya kali aja kedengaran gitu," ucap Marsel membela diri.
Dengan geram Dafa memukul kepala Marsel. "Eh, Kalengan kerupuk. Lo tuh selam ini sekolah ngapain aja ha? makan-nin kursi?"
"Apaan sih lo, enak aja muka setampan ini di bilang kaleng kerupuk, muka Lo tuh yang keleng kerupuk. Dan tadi lo bilang apa? Di sekolah gue makan-nin kursi? Bukan kursi yang gue makan tapi mejanya! Gak kenyang gue kalau cuman makan kursi, lebih kenyang dan bervitamin makan mejanya ketimbang kursinya," ucapanya sambil bersandar pada pintu, dan menatap yang lainya yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Woy, Kamera mana sih? Yerah gue yerah, gak kuat gue ngadepin nih anak," ucap Dafa sambil mengangkat tangannya.
"Lo tuh buta apa giman sih ha? kamera ada di atas noh," ucap Marsel sambil menggerakkan dagunya pada kamera yang tertempel pada atap yang ada di atas kepala mereka.
"Sialan lo," ucap Dafa memukul kepala Marsel lagi.
"Sakit woy, lo fikir ini gak sakit apa?" ucap Marsel kesal.
Cekrikkk
Bukkk
"Aduh..." ringis Marsel yang merasa kesakitan karena terjatuh.
Akibat dirinya yang bersandar di pintu, membuatnya terjatuh terjungkal ke belakang dengan tidak elitnya saat pintu di buka oleh Bu Wini.
"Wahahaha," tawa semua orang yang ada di sana saat melihat Marsel yang sedang merintis kesakitan.
"Astagfirullah, Marsel! Kamu ini apa-apaan sih?" ucap Bu Wini dengan geram.
"Lagi berenang Bu," jawabnya ngaco.
"Berenang itu di kolam renang Marsel, bukan di sini tempatnya."
"Ah Bu Wini, Terserah ibu aja lah," ucap Marsel yang kesal dengan Bu Wini karena leluconnya di anggap serius oleh Bu wini.
"Yaudah Dinda ibu tinggal dulu ya, untuk parfum kamu ini ibu akan sitah karena disekolah ini dilarang membawa alat make up, kamu mengerti kan?" tanya Bu Wini.
"Iya Bu," ucap Dinda dengan senyuman manisnya.
Bu Wini pun pergi dari sana di ikuti oleh Sasa dan siswa yang tadi di ruang BK dengan dirinya.
Marsel lantas berdiri dari jatuhnya yang tidak elit itu, dia membersihkan bokongnya yang kotor dengan cara menepuk-nepuknya.
Dinda memegang bahu Marsel yang sedang berdiri di sampingnya. "Kak Marsel," panggilnya. "Gak papa kan?" lanjutnya.
Marsel menatap Dinda dengan senyumannya yang mengembang Kareena merasa di perhatikan oleh Dinda, sahabat abiknya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Gue gak pa-pa kok. Makasih ya, lo udah mau perhatian sama gue" ucapnya percaya diri dengan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya.
"Haaa, sejak kapan aku tanya ke adaan kak Marsel?" tanya Dinda.
"Lah tadi?" jawabnya binggung.
"Tadi itu aku tanya keadaan lantainya," jawab Dinda.
"Haa apa?" ucapnya tak percaya.
"Gimana sih kakak? Gimana lantainya gak pa-pa kan?" tanya Dinda lagi.
"Gak, keadaannya gak baik-baik aja. Tuh lihat, kentalnya lagi keritis, cepet sono bawa ke rumah sakit, sebelum gue makan dah tuh lantainya!" jawabnya dengan kesal.
"Hehehehe, canda kak," jawab Dinda sambil menunjukkan ke dua jarinya.
"Ngeselin bang----" ucap Marsel yang berhenti karena tangganya yang di cekal oleh Faris saat Marsel ingin menyentil jidat Dinda.
"Kalau tadi tangan lo sampai berain yentuh Dinda, tangan lo bakal gue potong-potong sekarang juga," peringat Faris yang langsung menghempaskan tangan Marsel dengan kasar sampai membuat Marsel mundur ber-berapa langkah.
"Udah lah kak, Dinda gak pa-pa kok," ucap Dinda pada Faris yang terlihat emosi pada Marsel.
"Denger ya Dinda, Gak ada satu orang pun yang boleh yakitin kamu! termasuk lo Dafa!" ucap Faris dengan tegas, dan menatap Dafa dengan tajam.
"Iya-iya, Dinda ngerti, Dinda bakal turuti apa maunya kakak Faris, oke?" ucap Dinda dengan senyuman manis.
"Oke," ucap Faris dengan senyum. Sungguh dia tidak pernah bisa melawan senyuman manis milik Dinda itu, senyuman yang selalu membuat hatinya menghangat.
"Yaudah yuk kita pergi," ajak Dinda.
"Ya udah ayo," ucap Faris menyetujui, dan merangkul Dinda untuk pergi tanpa memperdulikan yang lainya.
"WOY, ITU ADIK GUE!" teriak Dafa mengejar Faris dan juga Dinda yang sedang berjalan pergi.
"Dasar posesif," cibir Fanya.
"Kebiasaan Faris mah emang gitu, selalu overprotektif sama Dinda," ucap Cika memaklumi sifat Faris yang sangat overprotektif terhadap Dinda.
Cika dan fanya berjalan bersamaan menyusul kepagian Dinda, Faris, dan Dafa. Mereka memang selalu merasa aneh dengan ke overprotektifan yang dimiliki Faris pada Dinda dari dulu, namuan mereka hanya bisa memaklumi itu, dan berusaha sabar dengan tingkah Faris yang lebih protektif dengan Dinda dari pada adiknya sendiri atau gebetannya saat ini, yaitu Fanya dan Cika.
Maya dan Jesika yang dari tadi hanya terdiam juga ikut menyusul yang lainya, mereka berjalan sambil berbincang yang entah apa itu.
"Kok Faris bisa kayak gitu sih?" tanya Fandi yang penasaran akarena selama ini Faris sangatlah dingin, meski ke dinginnya itu gak terlalu berlebih saat dia bersama para sahabatnya.
"Si Faris maha emang gitu," jawab Marsel, lalu berjalan menyusul yang lainya.
"Kok aneh ya?" ucap Dafit dan Fandi yang bersamaan.
Fandi dan Dafit saling bertatapan, setelah bertatapan mereaka malah tertawa tidak jelas dan juga ber tos ria bersama.
"Cocok," ucap mereka bersama dan berjalan sambil berangkulan dan menyusul yang lainya.
Hendri hanya berdiri dengan diam sambil bergulat dengan pikirannya. Sungguh dia binggung dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Ada rasa sakit di dadanya saat melihat Faris berperilaku seperti itu pada Dinda.
Kenapa Faris bisa se overprotektif itu ya? Bukanya Dinda itu adiknya Dafa? Bukanya adiknya itu yang bernama Fanya? Tapi kenapa dia malah overprotektif ya sama Dinda? Apa dia suka sama Dinda? Tapi waktu di kantor Tante Sonya dia bilang yang dia suka itu Cika kan? Sebenarnya apa yang terjadi? pikirnya berkecamuk.
"WOY HEN, AYO," Teriak Dafit yang membuyarkan lamunan Hendri.
"Iya," jawabnya dan berlari menyusul yang lainya.