"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Rumah Singa
Malam yang harusnya penuh kehangatan instan berubah jadi neraka bagi Nabila. Di dalam taksi yang membawanya membelah jalanan Jakarta yang sepi, air matanya tak berhenti mengalir, membasahi piyama sutra putihnya yang kini terasa mencekik. Dadanya sesak. Bayangan video hitam-putih di balkon hotel tadi terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.
“Pastikan kau yang pegang kendali perusahaan setelah suamimu 'pergi'...”
Suara itu nyata. Itu suara ayahnya. Pria yang selama sepuluh tahun ini dia tangisi kehilangannya, pria yang dia bela mati-matian di depan Kenzo, ternyata adalah dalang di balik pembunuhan ayah Kenzo.
"Nggak mungkin... Ayah nggak sekejam itu," bisik Nabila di antara isak tangalnya. Supir taksi di depan sampai sesekali melirik dari spion, merasa iba sekaligus bingung melihat pengantin baru yang menangis histeris di jam dua pagi.
Sementara itu, di belakang taksi Nabila, sebuah mobil sport hitam melaju kesetanan. Kenzo mencengkeram setir dengan rahang yang mengatup rapat. Buku-buku jarinya memutih, dan matanya merah karena menahan kombinasi antara amarah dan rasa takut yang luar biasa. Dia takut Nabila melakukan hal nekat, tapi di sisi lain, jiwanya terguncang hebat.
Bagaimana bisa dia berbagi ranjang dan memberikan hatinya kepada anak dari pria yang merenggut nyawa ayahnya? Ego dan dendam masa lalunya berontak, tapi logika dan cintanya pada Nabila menolak untuk melepaskan gadis itu.
Taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah milik Ardiansyah—rumah yang baru saja dibeli dari hasil gabungan aset X-Corp. Nabila turun tanpa memedulikan kembalian, berlari menerobos gerbang yang untungnya tidak terkunci.
"Ayah! Ayah keluar!" teriak Nabila sambil menggedor pintu jati rumah itu dengan brutal.
Pintu terbuka, menampilkan Ardiansyah yang masih mengenakan jubah tidur sutranya. Wajah paruh bayanya tampak tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang rumahnya didatangi anaknya yang sedang histeris di tengah malam.
"Nabila? Ada apa, Nak? Kenapa kamu basah kuyup dan menangis seperti ini? Di mana Kenzo?" tanya Ardiansyah sambil memegang pundak putrinya.
Nabila menepis tangan ayahnya dengan kasar. Tubuhnya gemetar hebat. "Ayah... Nabila mau tanya satu hal. Dan tolong, demi ibu yang udah tenang di surga, Ayah jangan bohong sama Nabila!"
Ardiansyah menghela napas pendek, menatap Nabila dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Tanya apa, Sayang?"
Nabila mengeluarkan ponselnya, menunjukkan salinan video yang sempat dia kirim ke nomornya sendiri sebelum tablet Kenzo dihancurkan. "Ini apa, Yah?! Video sepuluh tahun lalu di gudang pelabuhan! Kenapa Ayah bilang ke Ibu Sofia buat mastiin rem mobil Papa Kenzo blong?! Kenapa Ayah tega?!"
Melihat video itu, senyum kebapakan di wajah Ardiansyah perlahan memudar. Garis wajahnya mendadak berubah dingin, persis seperti sosok pria yang ada di dalam rekaman tersebut. Tidak ada kepanikan, tidak ada penyangkalan.
"Jadi, Kenzo sudah menerima video itu?" ucap Ardiansyah datar.
Nabila melangkah mundur, tangannya menutup mulutnya sendiri karena syok. "Jadi... itu beneran Ayah? Ayah nggak dijebak? Ayah beneran pembunuh?!"
"Nabila, dengarkan Ayah!" Ardiansyah mencoba mendekat, tapi Nabila berteriak histeris.
"Jangan sentuh aku! Ayah jahat! Karena perbuatan Ayah, Ibu meninggal dalam kesedihan karena mikirin Ayah yang jadi buronan! Karena Ayah, aku harus hidup menderita dan dihina sebagai anak pencuri! Dan karena Ayah... aku nggak pantas bahagia sama Kenzo!"
Tepat saat itu, pintu rumah didobrak kasar dari luar. Kenzo masuk dengan napas memburu, pakaiannya berantakan, dan aura membunuhnya memenuhi seluruh ruangan. Begitu melihat Ardiansyah, Kenzo langsung menerjang maju dan mencengkeram kerah jubah tidur pria paruh baya itu, menyudutkannya ke dinding.
"Bajingan! Jadi bener lo yang bunuh bokap gue?!" bentak Kenzo, suaranya menggelegar seperti petir. Tangannya sudah melayang, siap menghantam wajah Ardiansyah.
"Kenzo, stop! Jangan!" Nabila berteriak, menahan lengan kekar Kenzo. Walau benci, pria di depan mereka tetaplah ayahnya.
Ardiansyah malah terkekeh, sebuah tawa sinis yang memicu kemarahan Kenzo di titik tertinggi. "Pukul saja, Kenzo. Pukul pria tua ini. Tapi asal kamu tahu, video itu sengaja dipotong oleh pengacara Bram."
Kenzo tidak menurunkan tangannya, tapi matanya menyipit tajam. "Maksud lo apa?!"
Ardiansyah menghempaskan tangan Kenzo dari kerahnya, lalu merapikan bajunya yang kusut. "Sepuluh tahun lalu, Sofia mengancam akan membunuh Nabila dan ibunya jika aku tidak mau ikut dalam rencananya. Aku berpura-pura menyetujui sabotase itu di depan kamera yang sengaja Sofia pasang untuk menjebakku sebagai jaminan. Tapi malam itu, aku berniat memberi tahu ayahmu, Kenzo!"
Suasana ruangan mendadak hening. Nabila menahan napas, menatap ayahnya dengan secercah harapan.
"Tapi aku terlambat," lanjut Ardiansyah, suaranya mendadak melemah, ada penyesalan nyata di matanya. "Saat aku dalam perjalanan menuju rumah ayahmu, mobilnya sudah meledak di jalan tol. Sofia bergerak lebih cepat dari dugaanku. Aku panik, dan akhirnya memilih kabur karena tahu Sofia punya bukti video itu untuk mengambinghitamkanku. Selama sepuluh tahun aku sembunyi, membangun X-Corp, hanya untuk membalas dendam pada Sofia dan Bram."
Kenzo terdiam. Otak jeniusnya mencoba memproses semua informasi ini. "Lo pikir gue bakal percaya cerita dongeng lo ini?"
"Kamu bisa cek sisa rekaman aslinya di brankas pribadi Sofia yang sekarang disita polisi. Di menit selanjutnya, aku dengan jelas mengumpat dan mengatakan akan melaporkan hal ini ke interpol," Ardiansyah menatap Kenzo lurus. "Aku memang pengecut karena memilih lari dan membiarkan anakku menderita, Kenzo. Tapi aku bukan pembunuh ayahmu."
Nabila langsung ambruk ke dada ayahnya, menangis sejadi-jadinya karena rasa lega sekaligus perih yang luar biasa. Rahasia masa lalu itu ternyata jauh lebih berlapis dan penuh darah daripada yang terlihat di permukaan.
Kenzo mundur beberapa langkah. Tangannya yang memegang pistol perlahan turun. Dia menatap Nabila yang sedang menangis di pelukan ayahnya. Rasa bersalah karena telah membentak Nabila tadi mulai merayapi hatinya.
"Bil..." panggil Kenzo lirih.
Nabila mendongak dengan mata yang bengkak, menatap pria yang beberapa jam lalu baru saja mengikat janji suci dengannya. "Kenzo... aku butuh waktu. Pernikahan kita... semuanya terlalu cepat. Aku nggak tahu siapa lagi yang harus aku percaya sekarang."
Kata-kata Nabila seperti hantaman godam di dada Kenzo. Sang CEO yang ditakuti itu kini hanya bisa berdiri terpaku, melihat wanita yang paling dicintainya memilih untuk tinggal di rumah ayahnya dan membiarkannya pulang sendirian ke kamar pengantin mereka yang kini terasa seperti kuburan kosong.
Malam itu, di dalam mobil sport-nya menuju jalan pulang, Kenzo memukul kemudi berulang kali sampai tangannya berdarah lagi. Musuh mereka bukan lagi Sofia atau Bram yang sudah di balik jeruji besi, melainkan bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Dan di sudut kegelapan kota, seseorang yang memegang sisa video asli itu sedang tersenyum puas, siap memainkan bidak catur selanjutnya untuk memisahkan Kenzo dan Nabila selamanya.