Raihan, mahasiswa yang sempurna harus berurusan dengan seorang gadis yang memiliki kasta jauh lebih rendah darinya namun berprinsip kuat.
Rena sudah terbiasa disakiti oleh Raihan yang tak lain adalah suaminya. Namun bukan berarti Ia menjadi lemah dan tenggelam dalam kesedihan terus menerus. Ia bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Saat Rena sibuk dengan dirinya sendiri, Raihan mulai menyadari seberapa penting kehadiran Rena dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Addicted 31
Raihan menuruti apa yang diinginkan sang istri. Ia mengantar Rena ke rumahnya yang sangat sederhana itu.
Motor dimatikan, pandangan Raihan beralih pada rumah di depannya. Ini pertama kalinya Ia datang ke sini.
"Kenapa melihat rumahku seperti itu? kecil sekali ya? tapi aku merasa nyaman," ujar Rena sebelum Ia turun dari motor terlebih dahulu.
Ia berdiri di samping motor, Raihan masih duduk di motornya, menatap kaki Rena. Alisnya terangkat bingung.
"Kakimu masih sakit tadi. Sekarang sudah baik-baik saja?"
"Tadi kamu seret dan kaki ku belum sepenuhnya sembuh,"
Mereka terdiam beberapa saat. Raihan menatap sekitar rumah istrinya. Sepi sekali namun memang menghadirkan ketenangan.
"Terima kasih atas kebaikannya. Aku masuk dulu,"
Rena berjalan kemudian membuka pintu rumahnya. Setelah Ia masuk ke dalam rumah dan akan menutup pintu, tiba-tiba saja ada sosok Raihan yang menahan pintu. Rena terkejut dan langsung bertanya-tanya kapan suaminya mengikuti? dan kenapa dia turun dari motor bukankah seharusnya langsung pulang saja?
Raihan masuk sembarangan, Ia mendorong pintu yang masih ditahan Rena. Kemudian tanpa disuruh, Ia duduk di sebuah sofa lusuh yang ada di ruang tamu kecil itu.
"Kamu kenapa masuk? pulang saja. Aku mau istirahat,"
"Jangan datang lagi ke sana. Kamu akan membuatku malu,"
"Maksudmu?"
"Jangan datang lagi ke kafe," jawab Raihan dengan singkat.
"Memang kenapa? itu membuatmu malu? mereka tidak ada yang tahu tentang kamu kecuali Nathalie,"
"Cari pekerjaan lain!"
"Iya, tapi setelah semuanya selesai dulu. Aku harus menjelaskan pada Nyonya Della bahwa aku bukanlah wanita yang ingin merebut suaminya,"
"Kamu pikir dia akan percaya?" tanya Raihan seraya menatap Rena yang masih berdiri.
Rena menghela bahunya tidak yakin. Della sudah membencinya. Apa mungkin ketika dijelaskan Ia akan percaya?
"Kamu sudah menjelaskan semuanya tadi,"
"Tapi Nyonya Della belum percaya padaku,"
"Sampai kapanpun tidak akan percaya kalau kamu tidak punya bukti,"
Raihan mengalihkan matanya ke seluruh sudut rumah. Jadi di sini istrinya tinggal selama ini? berbeda sekali dengan rumah yang Ia tempati. Tapi walaupun kecil, tetap ada kenyamanan di dalamnya. Terlihat bersih dan semua barang nya tertata dengan rapih.
Lelaki itu bangkit berdiri. Kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Berhubung kamu sudah mengusirku, aku pulang sekarang,"
Rena mengangguk dan sedikit menyingkirkan tubuhnya dari sisi yang akan dilalui Raihan untuk keluar dari ruang tamu.
Mereka layaknya teman saja. Raihan tidak ada niat sedikitpun untuk membawa istrinya kembali ke rumahnya untuk tinggal bersama lagi.
****
Xander dan Della benar-benar terlibat perang dingin. Mereka tinggal di bawah atap yang sama namun seperti tidak saling mengenal. Della pun tidur di kamar anak perempuan nya. Anak-anak mereka sempat bertanya ada apa dengan Della dan Xander namun keduanya masih kompak untuk tutup mulut.
Xander bersiap untuk pergi ke kafe. Ia sarapan bersama anak-anaknya saja, tanpa Della.
Setelah sarapan dan anak-anaknya pergi ke sekolah dan ada juga yang bekerja, Ia pamit pada Della sebelum berangkat ke kafe. Namun respon Della sangat berbeda dari biasanya.
"Aku sudah mengajukan perpisahan kita," ujar Della sebelum suaminya keluar dari kamar.
Xander tak mengatakan apapun. Hatinya panas sekali mendengar Della kembali membahas perpisahan. Ia ingin marah namun tak ingin rumah tangganya semakin retak. Ia memilih untuk mengusut tuntas kejadian kemarin agar Ia punya alasan untuk mempertahankan pernikahannya. Ia akan membuktikan pada Della bahwa Ia tidak selingkuh.
****
"Hallo, Rena kamu baik-baik saja?"
Malam ini Nathalie menelpon sahabatnya untuk menanyakan kabar Rena yang tadi siang baru saja diterpa masalah.
"Aku baik-baik saja, Nath. Kamu tidak usah memikirkan aku. Fokus saja bekerja,"
"Kamu tidak usah sedih ya, Rena. Aku percaya, kamu tidak mungkin melakukan itu. Kamu adalah orang yang baik,"
"Terimakasih, sudah menjadi sahabat yang luar biasa untukku," Rena mengatakan itu dengan menahan tangis. Peran Nathalie dalam hidupnya memang sangatlah besar. Mereka saling menyayangi padahal tidak bersahabat dari kecil. Mereka belum terlalu lama saling mengenal, namun sudah sedekat ini. Nathalie selalu ada untuknya. Nathalie orang pertama yang percaya padanya.
"Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Nyonya Della. Aku ingin meminta maaf sekaligus menjelaskan semuanya,"
"Aku rasa itu sulit, Rena. Nyonya Della dan Tuan Xander juga ingin berpisah. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka kemarin,"
Mendengar itu, Rena sontak menutup mulutnya tak percaya. Astaga, karena peristiwa kemarin, pernikahan Xander dan Della yang sudah bertahan sekian lama akan hancur?
"Ini bukan salah kamu Rena. Kamu tidak usah merasa bersalah. Karena aku yakin, ada yang sengaja menjebak kamu dan juga Tuan Xander,"
*****
"Denrio, kamu sudah punya kekasih belum?"
Seperti biasa, setiap bekerja, Carra selalu tidak benar-benar bekerja. Ada kesibukan lain yang Ia lakukan seperti bermain ponsel atau mengajak rekan kerjanya bicara. Seperti saat ini. Ia mengajak Denrio berbincang dengan topik yang terdegar aneh di telinga Denrio karena mereka baru mengenal, tapi topik pembicaraan Carra sudah terlalu jauh.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Hmm...tidak apa, hanya bertanya saja. Kalau tidak mau dijawab, tidak apa,"
"Belum," jawab Denrio singkat.
Nathalie memperhatikan mereka berdua. Nathalie menggeleng pelan. Mereka berdua sepertinya sama saja. Sama-sama malas dan sekalinya bekerja malah tidak fokus.
Kenapa Nathalie bisa menilai Denrio itu sama seperti Carra? karena Denrio itu harus disuruh dulu barulah dia bekerja. Persis seperti Carra dulu sebelum menjadi kepala waitress. Dan semenjak jadi kepala waitress, Carra jadi gemar memerintah teman-temannya.
"Bekerja yang benar! menegur orang paling bisa, tapi menegur diri sendiri tidak pernah," Nathalie mengencangkan suaranya guna menyindir Carra. Sekarang Nathalie semakin berani dengan Carra, tidak seperti dulu. Karena Ia sadar bahwa Carra itu adalah ular yang harus dilawan. Kalau Ia lemah terus, maka Carra akan semakin besar kepala dan tidak akan berhenti menginjak harga dirinya serta mencari masalah.
Carra menoleh karena Ia merasa ucapan Nathalie tertuju untuknya. Ia menyentak Nathalie.
"Tidak ada urusan nya dengan kamu!"
"Oh begitu? baiklah, berarti kalau nanti aku mengobrol dengan teman-temanku seperti Rena misalnya--"
"Rena tidak akan bekerja di sini lagi,"
"Oh ya? kenapa kamu seyakin itu?"
"Kamu lihat sendiri kemarin. Nyonya Della benar-benar membenci sahabatmu itu. Dan aku yakin, selamanya Rena tidak akan dipekerjakan lagi di sini,"
Nathalie sengaja memancing berharap Carra berbicara seperti ini, 'karena aku sudah membuat dia bermasalah dengan Nyonya Della.'
Tapi ternyata tidak. Carra masih pandai menyimpan kejahatannya. Meski begitu, Nathalie yakin sekali kalau kejadian kemarin adalah perbuatan Carra. Gadis itu memang benar-benar jahat dan gila. Dia merusak pernikahan boss mereka dan dia juga membuat sahabatnya benar-benar merasa dipermalukan.
Haihai yg udh nungguin mana nih? coba absen dolooo kelean dr daerah mana aja?
Up
Semangat
Semangat
Denrio ga seperti rayhan yg sudah bisa cari uang sendiri
Semangat
Semangat