Lyan adalah seorang anak lemah yang tinggal bersama seorang kakek tukang kayu. Kehidupan sehari-harinya selalu ditindas oleh teman-temannya karena Lyan dianggap sampah yang tidak memiliki kekuatan sama sekali. Namun itu tidak membuat Lyan putus asa, dia selalu berusaha berlatih keras agar dia menjadi kuat. Sampai pada akhirnya Lyan bertemu dengan arwah seekor rubah pertapa ribuan tahun dan mengangkatnya menjadi murid. Kisah petualangan Lyan pun akhirnya dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rubahkecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Lyan, akhirnya kau siuman setelah tak sadarkan diri selama 2 hari." Kata Mei.
Mendengar itu Lyan terkejut. "Apa? Aku tak sadarkan diri selama 2 hari?"
"Ya, itu wajar karena melihat dirimu memang terluka parah sejak melawan Gremio." Kata Angel.
"Lalu.. Bagaimana keadaan Gremio? Dimana dia sekarang?" Tanya Lyan.
"Dia sudah kembali siuman sejak kemarin, sekarang dia sedang mencari makanan dengan berburu dihutan. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali."
"Padahal aku yang menyerangnya terakhir kali sampai dia roboh, tetapi malah dia yang siuman lebih cepat dariku dan sekarang malah berburu, dia benar-benar memgerikan." Gumam Lyan sambil menggaruk kepalanya.
"Lyan. Kau sudah siuman? Syukurlah kau baik-baik saja." Kata Gremio yang terlihat berjalan mendekati mereka.
Melihat Gremio begitu mengkhawatirkan dirinya, Lyan lalu tersenyum. "Tentu saja aku baik-baik saja. Jangan khawatir, aku ini kuat."
"Maaf, karena aku kau jadi seperti ini Lyan."
Lyan memegang pundah Gremio. "Sudahlah, lagipula kau tidak sadar dengan yang telah kau perbuat. Kan sudah kubilang juga kalau aku baik-baik saja."
"Oh iya, kapan kita akan berangkat ke Kota Angin? Kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi." Ucap Lyan.
"Jika kau merasa dirimu benar-benar sudah pulih sekarang, mungkin setelah makan siang ini kita akan melanjutkan perjalanan." Tutup Mei.
Keesokan harinya, mereka akhirnya tiba di Kota Angin. Setelah sampai disana, mereka mencari sebuah restoran untuk beristirahat. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang, karena belum menemukan cara untuk memasuki Kastil milik Jendral Ular, akhirnya terjadi perdebatan diantara mereka.
"Kita tidak bisa dengan gegabah pergi kekastil Jendral Ular, itu terlalu berbahaya." Ucap Mei.
"Bukannya aku hanya perlu menyerahkan kalung ini kepadanya..!!!" Ucap Lyan dengan nada meninggi.
Angel memukul meja karena kesal mendengar ucapan Lyan. "Itu bukan kalung biasa. Kenapa kau akan menyerahkannya dengan begitu mudah..!!!"
"Kenapa tidak? Ini untuk keselamatan kakekku..!!! Mau sehebat apapun kalung ini. Itu tidak ada artinya dibandingkan nyawa kakekku..!!!"
"Yang dikatakan Mei benar. Lagipula, kau sendiri sudah mengetahuinya bukan, seberapa mudahnya mereka membunuh penduduk desa kita. apa kau pikir dengan menyerahkan kalung itu, mereka akan melepaskan kakekmu dan membiarkan kita pergi begitu saja?" Ujar Gremio.
Mendengar hal tersebut, Lyan hanya bisa terdiam.
Melihat Lyan berwajah murung, Gremio lalu memegang pundak Lyan. "Tenanglah Lyan, kita harus memikirkan cara lain untuk menyelamatkan kakekmu."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Lyan.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Lyan, karena mereka belum menemukan rencana untuk masuk kekastil Jendral Ular. Setelah beberapa saat, akhirnya Gremio menemukan sebuah rencana.
"Bagaimana kalau kita menyusup kesana?" Usul Gremio.
"Bagaimana caranya kita menyusup kekastil sebesar itu? Itu terdengar seperti rencana bunuh diri." Ucap Mei.
"Ini memang terdengar seperti rencana bunuh diri, tapi tak ada cara lain lagi yang bisa kita lakukan." Ucap Gremio.
"Pertama-tama, kita harus mencari tahu terlebih dahulu kapan mereka melakukan pergantian penjaga, karena disaat itulah penjagaan dikastil tersebut akan lebih lengah. Kita harus secepatnya menghabisi mereka dan membiarkan seseorang dari mereka hidup untuk mendapatkanninformasi dimana kakek Lyan dikurung." Lanjutnya.
"Lalu, darimana kita bisa mengetahui kapan terjadinya penggantian penjaga?" Tanya Lyan.
"Tentu saja dengan mencari informasi dari orang-orang yang berada direstoran ini." Kata Gremio.
"Tapi, ada satu masalah dalam merencanakan ide gila ini." Sambil menyandarkan tangannya didagu.
"Kurasa masalahnya adalah kita belum tentu bisa mengalahkan para penjaga itu, karena yang terlemah diantara mereka mungkin kekuatannya setingkat dengan kita." Kata Mei.
"Benar. Lagipula ini adalah Kota Angin, kota yang terkenal dengan memiliki ahli bela diri yang kuat. Meskipun kita biaa mengalahkan mereka, aku ragu itu akan selesai dengan cepat. Jika terlalu lama, mungkin bala bantuan musuh akan datang dan kita akan dalam keadaan berbahaya."
"Soal itu, serahkan saja kepadaku." Ucap seorang wanita yang berjalan mendekati mereka. Wanita ini tingginya sekitar 165cm, memiliki rambut berwarna perak dan memancatkan kharisma yang sangat luar biasa. Wanita ini sangat cantik, bahkan kecantikannya membuat para pria (termasuk Gremio dan Lyan) yang berada direstoran itu terpana melihatnya. Hal itu membuat Mei dan Angel terlihat kesal. "Dasar para pria hidung belang...!!!" Gerutu mereka berdua dalam hati.
"Ca-cantiknya..." Gumam Gremio dalam hati.
"Si-siapa kau?" Tanya Lyan dengan wajah memerah.
"Aku adalah Gresia, salah satu dari 3 Pahlawan Maut." Jawabnya.
"Aku Lyxus. Pria yang akan menjadi masa depanmu kelak." Ucap Lyxus yang telah mengambil alih tubuh Lyan sambil menunjukkan wajah yang keren.
Gremio, Mei dan Angel kaget dengan mulut ternganga karena tidak menyangka Lyxus akan keluar disaat seperti ini.
"Tu-tunggu dulu...!!! Enak saja kau Lyxus...!!! Justru akulah masa depannya karena nama depan kami sama-sama 'GRE', mungkin ini seperti yang dikatakan orang-orang kalau jodoh tidak akan lari kemana-mana. Bukan begitu Nona Gresia?" Ucap Gremio yang berusaha memancarkan kharisma yang tak kalah dari Lyxus.
"Oh, jadi kau ingin merebut jodohku nih ceritanya? Apa kau tidak takut mati?" Geram Lyxus dengan wajah bengis sambil menyenggol-nyenggol Gremio.
Gremio juga terlihat memasang wajah bengis dan menyenggol balik Lyxus. "Heh.. Kau pikir aku takut denganmu? Apa kau lupa aku memiliki Teknik Iblis Gila?"
"Kalian berdua hentikan...!!! Kalau Lyxus aku sudah memaklumi sifatnya memang bodoh, tetapi, kau Gremio. Sejak kapan sifatmu berubah sama seperti dia...!!!" Teriak Angel sambil memukul Lyxus dan Gremio.
"Sialan kau Sesepuh...!!! Kau memanfaatkan tubuhku disaat yang tidak penting seperti ini. Kau benar-benar menghancurkan nama baikku...!!! Sekarang, keluar kau dari tubuhku...!!!"
"Oh, ayolah Lyan, biarkanlah sesepuhmu ini bersenang-senang sedikit." Katanya.
"Tidak...!!! Apa guna ya juga kau keluar sekarang...!!!" Sambil memukul kepala Laxus.
"Ough, itu sakit. Senior, lihatlah anak didikmu ini. Dia tega memukul Sesepuhnya sendiri." Ucap Laxus dengan wajah memelas.
Master Gyo menggeleng-geleng kepalanya. "Aku sebenarnya tidak mau terlibat dengan lelucon aneh kalian. Tapi, kau juga kenapa mengambil alih tubuh Lyan disaat seperti ini Laxus. Sebagai seorang pertapa, kau benar-benar membuatku malu juga."
"Huh..!!! Bahkan Senior berpihak pada anak didiknya. Baiklah, baiklah kalau begitu, aku akan keluar sekarang dari tubuhmu, dan aku tidak akan membantumu meskipun kau dalam keadaan berbahaya." Gerutu Laxus dengan wajah cemberut.
"Aku juga tidak memerlukan bantuanmu..!!! Disaat kau muncul, kau selalu membuat diriku terlihat seperti orang gila..!!!" Teriak Lyan.
Lyan akhirnya mengambil alih kembali tubuhnya.
"Uh, maaf, yang tadi itu bukan aku, tapi kepribadianku yang satunya pagi." Jelas Lyan.
"Oh, kau memiliki dua kepribadian? Kau benar-benar pria yang unik." Ucap Gresia sambil tersenyum.
Melihat senyum Gresia, wajah Lyan kembali memerah dan jantungnya berdetak dengan kencang. "Di-dia tersenyum padaku. Senyumnya manis banget...!!!" Lyan kemudian tersadar dan berusaha mengendalikan dirinya sendiri dengan memukul kepalanya sambil bergumam. "Oh, ayolah Lyan. Hatimu hanya milik Cleo seorang, kenapa kau jadi pria mesum seperti Sesepuh sekarang..!!!"
Mei yang daritadi hanya diam saja akhirnya tidak bisa menahan diri lagi melihat tingkah rekannya. "Sudah cukup...!!! Mau sampai kapan kalian bertingkah bodoh seperti itu...!!!"
"Maaf atas tingkah aneh yang telah mereka perlihatkan Nona Gresia." Lanjutnya.
"Hahaha.. Tidak apa-apa, mereka terlihat sangat lucu." Ucapnya sambil tertawa.
"Ngomong-ngomong, Nona adalah salah satu dari 3 Pahlawan Maut? Bukankah berarti kekuatan Nona Gresia setingkat dengan Tuan Light?" Tanya Gremio.
"Itu terlalu berlebihan, kami memang sama-sama 3 Pahlawan Maut. Tapi meskipun begitu, perbedaan kekuatanku dengan Tuan Light sangat jauh. Bahkan aku dan salah seorang dari 3 Pahlawan Maut yang satunya lagi pernah menghadapinya secara bersamaan, dan dia dengan mudahnya mengalahkan kami meskipun itu cuma latih tanding."
"A-Apa kau bilang? Orang itu benar-benar monster." Ucap Lyan.
"Lalu ada yang ingin kutanyakan padamu." Ucap Angel.
"Silahkan.."
"Sejak kapan kau mengikuti kami?"
"Sejak kalian berada di Desa Rumput, aku telah bersama kalian."
Mendengar itu, Mei lalu angkat bicara. "Apa kau bilang? Kalau begitu, saat di Gunung Bandit, kau mengetahui jika kami berada dalam bahaya, tetapi kau hanya menonton dan diam saja?"
"Ya, itu benar " Jawab Gresia sambil tersenyum.
Angel sangat kesal melihat Gresia dengan santainya menjawab seperti itu. "Sebenarnya apa maksudmu? Kenapa tidak menolong kami disaat kami mengalami kesulitan di Gunung Bandit?"
"Itu dikarenakan Tuan King hanya memintaku melindungi kalian di Kota Angin, dia tidak pernah berkata jika aku harus melindungi kalian disepanjang perjalanan."
"Aku sebenarnya berencana untuk membantu kalian saat itu di Gunung Bandit. Tapi, bayaran yang kuterima tidak setimpal dengan yang harus kukerjakan. Jadi maaf jika saat itu aku hanya bisa menonton saja." Lanjutnya sambil tersenyum.
Mereka hanya bisa terdiam setelah mendengar penjelasan dari Gresia. Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengeluarkan kekesalan mereka lagi mengingat wanita ini bukanlah orang sembarangan. Satu hal yang mereka tau dari wanita ini, dia benar-benar mata duitan..!!!.
"Baiklah, kita kembali pada rencana kita.. Ayo kita mencari informasi dari orang-orang yang berada direstoran ini." Ucap gremio.
Angel lalu menoleh kearah Gresia. "Nona.. Apakah kau juga mau membantu kami untuk mencari informasi?"
Gresia lalu memandang kearah Angel sambil melemparkan senyum. "Maaf ya, tugasku hanya melindungi, bukan mencari informasi.. Jika kalian ingin aku membantu dalam hal ini. Kalian harus membayarku lebih dari apa yang kudapatkan dari Tuan King."
"Grrr... Benar-benar wanita mata duitan yang menyebalkan...!!!" Gerutu Angel dalam hati.