"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saldo Istri, Nafkah Suami
Senin pagi di Gang Rejeki disambut dengan riuh rendah semangat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sinar matahari yang baru saja merekah seolah membawa energi baru bagi seluruh warga kampung. Di bawah komando Pak RT, balai RW sejak pukul tujuh pagi sudah dipenuhi oleh ibu-ibu kampung dan para janda tua. Wajah-wajah mereka memancarkan binar harapan yang besar, tak sabar menanti kedatangan Arumi.
Arumi sendiri melangkah keluar dari kediaman Bu Ida dengan perasaan yang sangat ringan. Pagi ini, kedua jagoan kecilnya, Bintang dan Langit, sudah berangkat pagi-pagi sekali menuju sekolah dasar mereka untuk belajar.
Kebebasan finansial yang kini dimiliki Arumi membuat kedua anaknya bisa fokus bersekolah dengan fasilitas terbaik tanpa perlu lagi mendengar keluhan biaya SPP atau buku pelajaran yang dulu selalu diributkan oleh Pras. Cukup dengan berjalan kaki menyusuri gang kampung yang akrab, Arumi tiba di balai RW dengan penampilan bersahaja namun memikat, mengenakan blus batik modern berwarna pastel. Aura anggunnya sebagai calon bos besar benar-benar memancar sempurna.
"Selamat pagi, Ibu-Ibu!" sapa Arumi dengan senyuman paling manis yang ia miliki begitu memasuki ruangan.
"Pagi, Mbak Rum!" sahut ibu-ibu serempak dengan nada penuh suka cita.
Tidak berselang lama, sebuah mobil SUV hitam mewah yang sangat berkelas bergerak perlahan dan berhenti tepat di depan balai RW. Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok Dimas yang tampil sangat segar dengan kemeja polo kasual berwarna putih yang membungkus tubuh atletisnya. Dimas turun sendirian, langsung menyapa warga dengan senyuman ramah, lalu mengeluarkan beberapa kotak besar berisi bubur ayam premium dari bagasi mobilnya untuk sarapan bersama.
Setelah sesi sarapan pagi yang penuh kekeluargaan selesai, Pak RT membuka acara sosialisasi pendirian Dapur Industri Katering Korporat PT. Arumi Dimas Sejahtera.
Arumi berdiri di depan warga dengan tenang, memaparkan visinya. "Ibu-Ibu sekalian, mulai minggu depan, lahan kosong di samping proyek rumah saya akan mulai dibangun dapur industri modern. Di sini, kita tidak sedang membuat katering rumahan biasa, melainkan menyuplai ribuan porsi makanan untuk pabrik dan instansi besar setiap harinya. Semua ibu-ibu yang ada di ruangan ini akan saya rekrut sebagai karyawan tetap produksi dapur. Kita akan bagi ke dalam beberapa tim tim potong bahan, tim masak, tim packing, dan tim kebersihan."
Arumi menjeda kalimatnya, melirik Dimas yang memberikan anggukan penuh dukungan. "Semua karyawan akan mendapatkan seragam masak yang bersih, jaminan kesehatan, dan yang paling penting... setiap awal bulan, ibu-ibu akan menerima gaji tetap bulanan resmi yang layak sesuai dengan standar kerja profesional. Tidak ada lagi yang boleh menangis karena bingung besok mau beli beras pakai apa."
Mendengar kata gaji tetap bulanan yang layak, beberapa janda tua di barisan depan langsung menutup wajah mereka dengan kedua telapak tangan, menangis sesenggukan karena rasa haru yang tak terbendung. Hari itu, sebuah ekosistem bisnis yang memiliki jiwa kemanusiaan resmi lahir di Gang Rejeki berkat kolaborasi Arumi dan Dimas.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasana di dalam rumah keluarga Pras justru laksana neraka jahanam yang siap meledak. Angin pagi yang sejuk sama sekali tidak mampu mendinginkan tensi tinggi yang sedang terjadi di ruang tamu yang berantakan.
Plak!
Mama Pras menghempaskan selembar kertas tebal berwarna putih dengan logo bank swasta besar ke atas meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Wajah wanita paruh baya yang biasanya penuh bedak tebal itu kini tampak kuyu, pucat, dan dihiasi gurat kepanikan yang luar biasa.
"Pras! Lihat ini! Surat Peringatan Ketiga dari bank sudah datang! Kalau dalam minggu ini cicilan ruko tempat usaha grosir Mama tidak dilunasi tiga bulan berturut-turut, bank akan menyita ruko itu! Mau ditaruh di mana muka Mama kalau ruko itu dipasangi plang sitaan koran?!" jerit Mama Pras dengan suara melengking histeris.
Pras yang duduk di sofa dengan kaos dalam yang melar dan rambut acak-acakan hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut pening. Matanya yang merah menatap nanar ke arah tumpukan tagihan lain di atas meja tagihan kartu kredit atas nama Rika yang membengkak karena gaya hidup sosialita gadungannya, serta surat jatuh tempo cicilan mobil sedan hitam milik Pras sendiri.
"Ma... Pras juga bingung! Gaji Pras bulan ini sudah habis dipotong kantor untuk menutupi uang kas yang kemarin Pras pakai diam-diam!" balas Pras dengan nada frustrasi, suaranya serak. "Kantor sudah mengancam, kalau Pras tidak bisa mengembalikan sisa uang itu dalam bulan ini, Pras bisa dipecat dan dilaporkan ke polisi atas tuduhan penggelapan dana!"
Rika yang baru saja keluar dari kamar dengan daster sutranya langsung mendengus muak mendengar keluhan kakak laki-lakinya. "Halah! Mas Pras ini laki-laki kok tidak becus sekali cari uang! Gara-gara Mas Pras pelit dan sial, kartu kreditku sampai diblokir bank kemarin waktu aku mau arisan! Aku malu setengah mati di depan teman-temanku, tahu!"
"Heh, Rika! Kamu tidak tahu diri ya?!" bentak Pras, emosinya seketika tersulut. "Siapa yang suruh kamu gesek kartu kredit sampai puluhan juta untuk beli tas bermerek palsu itu?! Sekarang saat kita susah, kamu malah menyalahkan aku?!"
"Sudah! Jangan malah bertengkar!" lerai Mama Pras sembari menggebrak meja, napasnya memburu. Wanita tua yang serakah itu menatap Pras dengan tatapan mata yang licik sekaligus penuh tuntutan. "Pras, tidak mau tahu, kamu harus cari jalan keluar. Datangi si Arumi ke kampungnya sekarang! Kita kan sudah tahu dia memegang uang miliaran dari warisan bapaknya, bahkan bisa bangun rumah lantai tiga yang megah. Cari dia, minta uangnya! Pakai alasan anak! Bintang dan Langit itu anak kandungmu, kamu punya hak atas asuh mereka. Ancam si Arumi, kalau dia tidak mau kasih uang seratus juta untuk menutupi utang-utang kita, kamu akan ambil Bintang dan Langit dari tangannya!"
Mendengar nama Arumi disebut, ego dan harga diri Pras sebagai mantan suami seketika terusik. Meskipun ia tahu mantan istrinya kini sudah kaya raya berkat warisan dadakan, sifat kikir dan superiornya membuat Pras merasa bahwa uang Arumi harusnya menjadi milik keluarganya. "Mama benar. Uang miliaran itu harusnya jatuh ke tangan keluarga kita sebagai kompensasi karena aku sudah mau menampungnya selama sepuluh tahun! Aku akan ke Gang Rejeki sekarang, akan aku buat dia tunduk dan menyerahkan uang itu atau aku akan mengancam mengambil hak asuh anak-anak!"
Sore harinya, Pras mengendarai mobil sedan hitamnya menuju ke arah daerah Gang Rejeki. Sepanjang jalan, pikiran Pras dipenuhi oleh bayangan bagaimana ia akan mengintimidasi Arumi, membuatnya ketakutan, lalu memeras uang warisan itu demi menyelamatkan ruko ibunya. Pras merasa di atas angin karena mengira Arumi tetaplah wanita lemah yang bisa ia gertak dengan status hak asuh anak.
Namun, begitu mobil sedan hitamnya mendekati mulut Gang Rejeki, mobil Pras mendadak terhenti. Ia terpaksa memarkirkan mobilnya agak jauh di bahu jalan karena akses masuk ke depan gang dipenuhi oleh kerumunan warga dan sebuah mobil SUV hitam mewah bermerek Eropa yang terparkir gagah di sana.
Dengan langkah kaki yang diatur se kasual mungkin, Pras berjalan mendekat, menyelinap di antara kerumunan warga yang sedang berkumpul di dekat lahan kosong tepat di samping proyek bangunan bertingkat milik Arumi. Di sana, perhatian Pras langsung tersedot oleh sebuah papan pengumuman proyek berukuran besar dari besi yang baru saja ditancapkan dengan kokoh ke dalam tanah.
Pras membaca tulisan di papan tersebut, dan detik itu juga, matanya membelalak lebar.
PROYEK PEMBANGUNAN DAPUR INDUSTRI KATERING
PT. ARUMI DIMAS SEJAHTERA
Investor Utama: Arumi Pragati
Mitra Strategis: Dimas Eka Prasetya (CEO PT. Prasetya Logistik)
Pras menelan ludahnya dengan susah payah. Dada pria kikir itu mendadak terasa sesak. Ia mengira Arumi hanya akan mendiamkan uang warisannya di bank atau sekadar habis untuk membangun rumah pribadi. Namun kenyataan di depannya berbanding terbalik. Arumi justru melompat jauh dengan mendirikan perusahaan industri katering korporat skala besar yang legal dan profesional!
Pandangan mata Pras kemudian beralih ke arah tengah lahan kosong. Di bawah sorot lampu sore yang keemasan, ia melihat mantan istrinya berdiri di sana.
Darah Pras seketika mendidih, bercampur dengan rasa cemburu dan rasa hina yang luar biasa. Arumi yang ada di depannya benar-benar berbeda total dari wanita berdaster lusuh yang dulu selalu ia remehkan di rumah. Arumi tampil sangat cantik, anggun, mengenakan setelan modern yang mahal, dan memancarkan aura wanita karier yang berwibawa dan mandiri.
Yang membuat mata Pras semakin merah membara adalah sosok pria asing yang berdiri di samping Arumi. Pras tidak tahu siapa pria itu ia hanya membaca nama Dimas Eka Prasetya di papan proyek namun penampilan fisik pria itu benar-benar mengintimidasi harga diri Pras. Pria asing itu bertubuh tegap, berwajah sangat tampan, berkharisma dan jelas-jelas jauh lebih kaya serta berkelas daripada dirinya.
Dari kejauhan, Pras menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pria asing bernama Dimas itu dengan sangat lembut dan penuh perhatian merapikan beberapa helai anak rambut Arumi yang tertiup angin sore. Bukannya marah atau menghindar, Arumi justru menerima perhatian itu sembari tersenyum manis dengan pipi yang bersemu merah jambu. Cara pria itu menatap Arumi begitu memuja dan penuh perlindungan, sebuah tatapan dari pria dewasa yang mapan kepada wanita pujaan hatinya.
"Sialan... siapa laki-laki itu?!" desis Pras dengan rahang yang mengeras dan kepalan tangan yang bergetar hebat di balik saku celananya.
Niat awal Pras yang datang dengan kesombongan untuk mengintimidasi dan memeras Arumi seketika runtuh total. Mentalnya hancur berkeping-keping. Jangankan untuk menggertak Arumi dengan alasan anak, melangkah mendekat pun Pras mendadak merasa minder dan tidak punya muka. Mantan istri yang dulu ia sia-siakan dan ia anggap beban, kini tidak hanya menjelma menjadi miliarder, melainkan telah melesat naik menjadi bos besar industri kuliner dan sedang didekati oleh pengusaha muda yang jauh lebih segala-galanya dari Pras. Langkah awal pembalasan karma berkelas Arumi kini terpampang nyata di depan mata Pras, membuatnya hanya bisa berdiri mematung di sudut gang dengan batin yang tercabik-cabik oleh rasa iri dan penyesalan yang terlambat.
nama mantan Suami Arumi adalah PRAS.. bukan nya REVAN 😁🙏
brondong nya juga keren 👍😁