Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Salah Pegang
"Woy, Mas Kumis! Ini kita mau lari sampai ke Jakarta Barat apa gimana?! Kaki gue udah mau copot, nih!" teriak Kiano megap-megap di sela hantaman angin hutan.
Cittt!
Kaki Kalasugih mendadak mengerem horizontal di atas tanah kering, menyisakan kepulan debu tipis. Alhasil, efek rem mendadak itu memicu tabrakan beruntun di belakangnya. Ki Saron dan Kiano yang tidak siap langsung bertubrukan hebat seperti gerbong kereta ekonomi yang anjlok.
Bruk! Dug!
Anehnya, Dharma yang bertubuh paling besar justru sudah lepas landas tanpa rem sama sekali. Dengan mode autopilot karena panik, pengawal malang itu terus melesat maju layaknya atlet lari maraton Kenya, meluncur jauh ke depan sendirian tanpa sadar kalau ketiga rekannya sudah tertinggal di belakang.
"Aduh! Kenapa berhenti mendadak sih? Kepala gue sakit nih, kejedot punggung lo, Mas! Punggung apa papan gilasan sih, keras amat!" umpat Kiano kesal sambil mengusap dahinya yang memerah.
Kalasugih tidak langsung menjawab. Pemuda bertubuh mungil itu malah tampak cengengesan kaku sembari buru-buru membenarkan posisi kumis palsunya yang sudah turun ke dagu.
"Eh... aku lupa," ucap Kalasugih dengan wajah tanpa dosa. "Kenapa juga kita malah berlari seperti orang bodoh begini, ya? Kenapa tidak terbang saja atau sekalian menggunakan ilmu menghilang?"
Mendengar ucapan super enteng itu, mata Kiano langsung melotot sampai mau keluar.
"Heh, Mas Kalasugih yang terhormat! Dari tadi kek ngomongnya! Kalau lo inget dari awal, gue kan enggak perlu repot-repot capek lari estetik begini!" Kiano protes dengan napas satu-satu yang megap-megap mirip ikan maskoki kekurangan oksigen. "Mana kaki gue udah pegel banget, rasanya udah minta resign dari sendinya! Lo kira lucu apa?!"
"Maaf, Aku juga panik tadi," bela Kalasugih sembari menepuk keningnya pelan.
Sadar posisinya masih rawan, ia buru-buru merogoh saku celana besarnya. "Nih, cepat makan semuanya!" Tanpa perasaan, Kalasugih langsung menjejalkan beberapa buah Malaka Hitam sekaligus ke dalam mulut Kiano yang masih menganga megap-megap.
"Uhukk! Uhukk! Pelan-pelan napa, Mas! Gue hampir aja keselek bijinya, nih!" protes Kiano dengan wajah memerah, sibuk mengunyah buah misterius bertekstur aneh tersebut.
"Masih untung kau cuma keselek!" balas Kalasugih ketus sembari berkacak pinggang. "Bagaimana jika buah-buah bom ini tidak sengaja terjatuh dari sakuku lalu meledak di jalan? Bisa hancur berkeping-keping tubuhku yang berharga ini!"
Kiano bersusah payah menelan sari buah itu setelah mengunyahnya sampai lumat. Ajaibnya, rasa sesak di dadanya mendadak terasa sedikit mendingan. "Udah gue telen semua, nih. Sekarang gue mau terbang lagi aja, Ki, kayak sebelumnya. Ogah gue kalau disuruh jalan kaki lagi," ucap Kiano, berpaling menatap Ki Saron.
"Aduh, mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan... tapi saya sudah lelah lahir dan batin," sahut Ki Saron lemas. Jin jawara itu bahkan sudah duduk bersila di tanah sambil memijat betisnya yang kram, melupakan total wibawa supranaturalnya.
Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, Kalasugih akhirnya menawarkan diri. "Biar aku saja yang membawa kalian. Sekarang, aku akan menggunakan kekuatan sihirku agar kita bisa cepat sampai ke Istana Mandala Hyang dengan cara berpindah tempat dalam sekejap."
"Wah, ide bagus tuh! Ya udah, gercep, Mas, buruan!" seru Kiano girang. Namun, sedetik kemudian matanya celingukan ke sekitar. "Eh, tapi tunggu dulu... si Dharma ke mana, ya? Kok ilang?"
"Sepertinya dia sudah melesat jauh di depan sana, Tuan. Tidak menengok ke belakang lagi sejak tadi," ucap Ki Saron sembari menunjuk ke arah kegelapan hutan yang sunyi.
"Ck!" Kiano berdecak kesal, menepuk jidatnya berulang kali melihat kelakuan pengawal pribadinya yang super kocak itu. "Woy, Dharma! Balik lagi ke sini, woy! Majikan lo ketinggalan di belakang, curut!"
"Dia tidak akan mendengarmu," ucap Kalasugih sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Biarkan saja. Bukannya dia itu seorang pengawal kerajaan yang tangguh? Pastinya pria itu akan sampai ke kerajaan dengan selamat. Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Kemari, merapatlah di dekatku!" perintah Kalasugih mutlak.
Ki Saron langsung bangkit berdiri dan ikut merapat patuh di sebelah kanan Kalasugih.
Namun, sial bagi Kiano. Saat hendak melangkah merapat ke sisi kiri, cowok absurd itu malah tersandung oleh kakinya sendiri yang masih lemas. Kehilangan keseimbangan dalam radius sedekat itu membuat tubuhnya langsung maju ke depan dan menubruk telak tubuh bagian depan Kalasugih.
Duk!
"Eh... kok empuk?"
Sialnya, reflek tangan Kiano yang kurang disekolahkan itu malah mendarat tepat dan meraba aset berharga milik Kalasugih yang tersembunyi di balik baju jelatanya.
Seketika itu juga sepasang mata Kalasugih melotot sempurna. Jantungnya hampir copot saat menyadari tangan kurang ajar Kiano malah meremas pelan benda sensitif tersebut.
Plak!
Dengan wajah memerah menahan malu dan amarah, Kalasugih menepis kasar tangan Kiano hingga terlempar. "Kurang ajar kau! Tidak sopan!"
"Ya... sorry, Mas! gue beneran kagak sengaja," sahut Kiano membela diri sembari mengusap tangannya yang digebuk. Namun otaknya yang kepoan malah membuat mulutnya ceplas-ceplos, "Tapi sumpah deh, Mas. Tadi itu apaan, ya? Kok rasanya kenyal-kenyal mirip boba?"
Sontak Kalasugih yang sudah bersiap ingin mencabik-cabik Kiano langsung mengerem lidahnya. Ia mendadak panik setengah mati.
Tidak mungkin ia mengaku kalau benda kenyal itu adalah dada seorang perempuan! Bisa gawat darurat level nasional jika rahasia identitasnya sebagai Putri Arum Rengganis terbongkar di depan manusia gesrek ini.
"Emm... i-itu... itu bisul!" kilat Kalasugih dengan suara yang agak gugup. "Dada saya lagi bisulan parah! Makanya menonjol! Jadi kamu jangan sembarangan pegang-pegang, karena itu sakit sekali kalau tersentuh!"
Dalam hati, Arum merutuki kebodohannya sendiri habis-habisan. Ia baru ingat kalau tadi terburu-buru kabur dari istana sampai lupa melilitkan kain kemben yang ketat untuk meratakan dadanya.
"Hah? Bisul?" Kiano diam sedetik, lalu seketika menyemburkan tawanya sampai terpingkal-pingkal. "Bwahaha! Sumpah demi apa?! Gue baru tahu kalau jin bunian sakti mandraguna kayak lo bisa bisulan di dada! Gede bener lagi bisulnya, Mas! Lo kagak pernah mandi, ya?!"
Ki Saron yang berada di sisi lain pun tidak tahan untuk tidak ikut menutup mulut dan tertawa kecil. "Mungkin si Mas Kalasugih ini kebanyakan makan telur buaya rawa, Tuan. Makanya bisulnya tumbuh di tempat yang tidak biasa."
Wajah Kalasugih sudah berubah matang mirip kepiting rebus akibat kombinasi rasa malu dan kesal yang memuncak. "Sudahlah! Berhenti tertawa dan jangan banyak bertanya lagi! Jika kalian masih berisik, bersumpah demi langit kalian berdua akan kutinggalkan sendirian di hutan angker ini!" ancamnya dengan tatapan membunuh.
Seketika itu juga Kiano dan Ki Saron langsung bungkam rapat-rapat, mengunci mulut mereka dengan tangan masing-masing.
Tidak mau membuang waktu lebih lama sebelum emosinya meledak, Kalasugih langsung menyambar pergelangan tangan Kiano dan Ki Saron secara kasar agar mereka merapat sempurna dalam jangkauan sihirnya.
Wushhh!
Sinar keperakan samar membungkus tubuh mereka bertiga, dan dalam kedipan mata, mereka langsung lenyap menghilang dari tempat itu tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
****
Akhirnya, lewat sihir teleportasi kilat milik Kalasugih, mereka bertiga pun mendarat darurat di dalam kamar mewah Pangeran Wirasada di Istana Mandala Hyang. Kamar megah itu tampak sunyi dan tenteram, berbanding terbalik dengan kekacauan di hutan keramat tadi.
"Aduh, emak... akhirnya! Gue capek banget, pengen langsung bobo ganteng," racau Kiano yang tanpa babibu langsung ambruk menengkurapkan tubuhnya ke atas ranjang empuk berselimut sutra.
Wushhh!
Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya hitam melesat masuk kembali ke dalam dada Kiano. Itu adalah Ki Saron. Jin jawara tersebut sudah tidak sanggup lagi berkata-kata karena seluruh energi gaibnya telah terkuras habis setelah berduel sengit melawan Ki Maung. Demi memulihkan kekuatannya, jin tersebut memilih mode hibernasi total di dalam tubuh Kiano.
Sementara itu, Kalasugih justru berdiri mematung di tengah ruangan. Pemuda berkumis itu tampak kebingungan dan kikuk, celingukan menatap kemegahan kamar tersebut tanpa tahu harus berbuat apa.
Kiano yang menyadari hal itu langsung membalikkan tubuhnya, melirik malas ke arah Kalasugih. "Lo enggak mau ikut tidur, Mas? Sini, enggak usah malu-malu kucing. Tidur bareng gue aja di kasur. Lo kan udah sah gue angkat sebagai asisten pribadi gue. Jadi mulai sekarang, lo tidurnya di sini,"