Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Sakit Dada
Kiano yang menyadari hal itu langsung membalikkan tubuhnya, melirik malas ke arah Kalasugih. "Lo enggak mau ikut tidur, Mas? Sini, enggak usah malu-malu kucing. Tidur bareng gue aja di kasur. Lo kan udah sah gue angkat sebagai asisten pribadi gue. Jadi mulai sekarang, lo tidurnya di sini," ucap Kiano santai sembari menepuk-nepuk sisi kasur mewahnya yang masih kosong.
Kalasugih seketika melotot tak percaya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Sebagai seorang putri terhormat dari Kerajaan Gunung Kidul, mana pernah ia tidur seranjang dengan seorang laki-laki? Apalagi berada dalam jarak sedekat itu dengan lawan jenis yang baru dikenalnya beberapa jam.
"A-apa... tidak ada kamar lain untuk kutempati di istana sebesar ini?" tanya Kalasugih dengan nada ketus yang kentara dibuat-buat untuk menutupi kepanikannya.
"Ada banyak sih, cuma gue lagi mager aja keluar buat manggil dayang. Lagian ini udah malem banget, Mas! Tidur di sini aja kenapa sih? Ribet amat. Kita kan sama-sama batangan, sama-sama laki-laki, jadi enggak masalah dong?" sahut Kiano logis, setidaknya menurut otaknya yang polos.
Kalasugih semakin gelagapan, meremas ujung bajunya sendiri. "Ta-tapi... aku tetap tidak mau tidur seranjang denganmu! Kau bisa lihat sendiri, pakaianku ini kotor dan penuh debu hutan. Rakyat jelata sepertiku sangat tidak pantas tidur di atas ranjang mewah seorang pangeran kerajaan!"
Kiano memutar bola matanya jengah. "Kan udah gue kasih tahu berulang kali tadi di hutan, Mas Kalasugih... kalau gue ini bukan pangeran asli! Gue Kiano, anak Jakarta!"
"Iya, aku tahu! Tapi tetap saja fisik kamar ini milik Pangeran Wirasada. Aku... aku tidur di kursi yang ada di sana saja!" tukas Kalasugih cepat sembari menunjuk sebuah sofa panjang yang terletak agak tersembunyi di balik lemari besar, cukup jauh dari tempat rebahan Kiano.
Melihat keras kepalanya si pemuda berkumis, Kiano yang dasarnya berporos pada sumbu pendek pun langsung kesal. Sambil mendengus, ia turun dari kasur, melangkah lebar, dan langsung menyambar pergelangan tangan Kalasugih secara sepihak.
"Ngeyel banget sih lo, Mas!"
"Eh—lepas!"
Brukk!
Tubuh mungil Kalasugih langsung ambruk kehilangan keseimbangan, terjatuh tepat di atas kasur empuk bersamaan dengan tubuh Kiano yang ikut condong di atasnya.
Sial bagi Arum, karena jarak wajah mereka mendadak terkikis menjadi hanya beberapa sentimeter, Kiano spontan menyipitkan mata penuh selidik.
Untuk pertama kalinya dalam pencahayaan kamar yang terang, Kiano menyadari sesuatu yang janggal. Kumis tebal pemuda di bawahnya ini tampak miring sebelah, hampir lepas dari kulit atas bibirnya. Lebih mengejutkannya lagi, sepasang manik mata pemuda itu ternyata berwarna hijau jernih—sebuah warna mata yang terasa sangat familiar di ingatan Kiano.
Sementara itu, Kalasugih sudah mati kutu dan salah tingkah ditatap sedekat itu. Wajahnya memerah sempurna hingga ke leher.
"Sembarangan kamu main tarik tanganku! Ini terlalu dekat!" bentak Kalasugih dengan suara tertahan. "Aku... aku sedang gerah! Jangan ganggu atau paksa aku untuk tidur di ranjang ini lagi!"
Menggunakan refleks bela dirinya, Kalasugih dengan tangkas mendorong dada Kiano, melompat turun dari kasur, lalu berlari terbirit-birit bersembunyi di balik sofa yang berada di belakang lemari besar.
Kiano yang ditinggal sendirian di kasur hanya melongo, memandangi langit-langit kamar dengan kening berkerut dalam. Pikiran modernnya mulai berputar mencari kecocokan data.
"Kok bisa ya kumisnya miring kayak stiker murah gitu? Terus... matanya juga kayak familiar banget. Sumpah, gue pernah lihat warna mata indah kayak begitu di mana, ya...?" gumam Kiano teka-teki, mencoba mengingat-ingat kembali memori masa lalunya.
****
Keesokan paginya, di tempat yang sangat jauh dari Istana Mandala Hyang, kegemparan luar biasa justru sedang melanda Negeri Bunian Gunung Kidul. Tepatnya di dalam aula Istana Megah milik Prabu Jayasengara, seluruh penghuni istana dibuat panik setengah mati akibat hilangnya sang putri mahkota, Arum Rengganis.
Sang Prabu tampak cemas, mondar-mandir dengan raut wajah tegang dan panik. Di sudut ruangan, Nyi Ratu Ratih Kemuning juga ikut menampakkan wajah panik—meski sebenarnya itu hanyalah akting belaka. Sementara itu, Ginanda dan Ninanda, kedua kakak tiri Arum, diam-diam menyunggingkan senyum puas di dalam hati, walau wajah mereka dipaksa cemberut seolah-olah ikut mengkhawatirkan adik tiri mereka.
"Bagaimana ini, Kakanda? Arum tidak ada di manapun!" ucap Nyi Ratu Ratih dengan suara bergetar.
Air mata palsunya seketika mengucur deras, seolah-olah dialah sosok ibu yang paling hancur dan kehilangan di dunia ini. "Seluruh pengawal utama dan dayang istana sudah menyisir setiap sudut, tapi tetap tidak menemukannya. Kamarnya kosong melompong. Bahkan, para penjaga gerbang tidak ada yang tahu atau melihat kapan putri kita itu keluar dari kamarnya!"
Prabu Jayasengara menghela napas berat, lalu merengkuh pundak istrinya. "Tenangkan dirimu, Adinda. Pasti para pengawal terbaik kita akan segera menemukannya," ucap Prabu berusaha menenangkan, meski guratan frustrasi tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Anak keras kepala itu memang selalu membuat kita kewalahan. Kerjanya setiap hari hanya bisa membuat orang tua khawatir saja!"
"Jangan mengatakan hal kejam seperti itu, Kakanda!" potong Nyi Ratu Ratih, berpura-pura membela Arum dengan nada dramatis. "Meskipun Arum bukan anak kandung yang lahir dari rahimku sendiri, tapi aku adalah ibunya sekarang! Aku tidak akan pernah rela jika terjadi sesuatu yang buruk padanya di luar sana!"
"Maafkan aku, Adinda. Padahal anak itu selalu saja menuduh yang tidak-tidak tentangmu. Jelas sekali kalau dia yang salah karena sudah berani menuduh wanita sebaik dirimu, yang menyayanginya setulus dan sepenuh hati," ucap Prabu Jayasengara dengan nada penuh penyesalan.
Sang Prabu menepuk-nepuk punggung istrinya, lalu melanjutkan dengan tegas, "Aku akan mengerahkan seluruh pasukan elit kerajaan untuk menemukannya secepat mungkin. Sebelum raja dan ratu penguasa Negeri Mandala Hyang datang berkunjung ke kerajaan kita, Arum harus sudah berada di sini!"
"Iya, terima kasih, Kakanda," sahut Nyi Ratu Ratih sembari membalas pelukan sang suami dengan erat.
Di balik pundak Prabu Jayasengara, senyum puas Nyi Ratu Ratih mengembang sempurna. Sepasang matanya berkilat penuh kemenangan.
'Syukurlah anak sialan itu pergi dengan sukarela dari istana ini. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot lagi menyusun rencana untuk menyingkirkannya! Hahaha... Pergilah, Arum! Pergilah untuk selamanya dan jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi! Ayahmu dan seluruh isi kerajaan ini akan segera menjadi milikku seutuhnya!' batin Nyi Ratu Ratih bersorak gembira.
****
Sementara itu, di Istana Mandala Hyang, matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar yang megah.
"Duh... dada gue kenapa tiba-tiba sakit banget, sih?!" Kiano mendadak terbangun sembari meringis kesakitan, kedua tangannya spontan memegangi bagian dadanya yang terasa berdenyut nyeri. "Padahal semalem udah enggak apa-apa setelah makan buah itu. Kenapa sekarang jadi begini lagi?"
Dengan kening berkerut dalam, Kiano mencoba memanggil jin khodam yang bersemayam di dalam tubuhnya melalui batin. 'Ki... Ki Saron! Lo udah bangun belum, sih? Ini kenapa dada gue sakit lagi? Kan semalem gue udah makan buah Malaka Hitam dan sempet mendingan. Lo tahu enggak ini dada gue kenapa sebenarnya?!'