NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Perempuan di Dalam Kapsul

"Nayra."

Bibir perempuan itu bergerak pelan.

Namun suara itu terasa seperti petir yang menghantam kepala Nayra.

Layar langsung mati beberapa detik kemudian.

Menyisakan keheningan yang begitu berat hingga sulit bernapas.

Tak ada yang bicara.

Karena tak ada yang tahu harus mengatakan apa.

Nayra masih menatap layar hitam itu.

Tubuhnya membeku.

Pikirannya kosong.

Dan jantungnya berdetak terlalu cepat.

Perempuan itu...

Memanggil namanya.

Bagaimana mungkin?

“Tidak mungkin.”

Suara Nayra akhirnya keluar.

Pelan.

Hampir seperti bisikan.

“Ya.”

Arsen mengusap wajahnya.

“Aku juga berharap begitu.”

“Dia mirip kamu.”

kata Reina.

“Mirip?”

Nayra menoleh.

Matanya mulai memanas.

“Itu bukan mirip.”

Tangannya gemetar.

“Itu wajahku.”

Deg.

Sunyi lagi.

Karena semua orang tahu ia benar.

Perempuan dalam kapsul itu bukan sekadar mirip.

Bukan seperti saudara jauh.

Bukan seperti orang yang kebetulan serupa.

Ia terlihat seperti Nayra.

Hampir sempurna.

Seolah seseorang mengambil wajah Nayra lalu menempatkannya di tubuh orang lain.

“Astaga...”

gumam Arsen.

“Sekarang aku ngerti kenapa firasatku jelek.”

“Kamu selalu punya firasat jelek.”

jawab Reina.

“Dan aku hampir selalu benar.”

Sayangnya.

Kali ini juga begitu.

Dokter Han terlihat lebih pucat dibanding siapa pun di ruangan itu.

Matanya tidak lepas dari layar.

Seolah sedang melihat masa lalu yang selama ini ia coba lupakan.

“Dokter.”

Suara Zavian dingin.

“Apa itu?”

Pria tua itu tidak langsung menjawab.

Dan justru itu membuat semuanya makin tegang.

Karena semakin lama ia diam...

semakin buruk jawabannya.

Akhirnya—

ia menarik napas panjang.

“Namanya Aurora.”

Deg.

Ruangan langsung membeku.

“Aurora?”

ulang Nayra.

Dokter Han mengangguk pelan.

“Subjek pertama Project Lazarus.”

Sunyi.

Lalu perlahan—

dada Nayra terasa dingin.

Sangat dingin.

“Subjek pertama?”

bisiknya.

“Kalau dia subjek pertama...”

Tatapannya mulai bergetar.

“…berarti aku bukan yang pertama.”

“Tidak.”

jawab Dokter Han.

“Kamu bukan.”

Deg.

Rasanya seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.

Selama ini Nayra selalu berpikir dirinya adalah awal dari semua kekacauan itu.

Ternyata tidak.

Ada seseorang sebelum dirinya.

Seseorang yang mengalami semuanya lebih dulu.

“Kenapa aku nggak pernah tahu?”

tanya Nayra.

“Karena semua data tentang Aurora dihapus.”

jawab Dokter Han.

“Atas perintah siapa?”

tanya Arsen.

Pria itu diam sebentar.

Lalu menjawab—

“Founder.”

Sunyi.

Nama itu lagi.

Orang yang sudah mati.

Namun bayangannya terus menghantui mereka.

“Kenapa?”

tanya Reina.

Dokter Han menatap meja.

“Karena Aurora gagal.”

Deg.

“Apa maksudnya gagal?”

Pria tua itu menghela napas.

“Project Lazarus bertujuan menciptakan manusia yang bisa beradaptasi dengan perubahan biologis ekstrem.”

“Bahasa manusia normalnya?”

sela Arsen.

“Tubuh yang bisa bertahan dari eksperimen.”

“Oke. Lanjut.”

Dokter Han mengangguk.

“Aurora berhasil bertahan.”

“Bukannya itu bagus?”

tanya Nayra.

“Masalahnya…”

Tatapan pria itu perlahan berubah.

“…dia bertahan terlalu baik.”

Deg.

Tak ada yang suka kalimat itu.

Sama sekali.

“Maksudnya?”

tanya Zavian.

“Tubuhnya mulai berubah.”

Sunyi.

“Berubah bagaimana?”

Dokter Han memejamkan mata sesaat.

Seolah tidak ingin mengingatnya.

“Lebih cepat.”

“Lebih kuat.”

“Dan akhirnya…”

Suara pria itu mengecil.

“…lebih berbahaya.”

Deg.

Tak ada yang bicara.

Karena mereka semua tahu arti kata itu.

Aurora bukan korban biasa.

Aurora menjadi sesuatu yang bahkan penciptanya sendiri takutkan.

“Itu sebabnya mereka mengurungnya.”

gumam Arsen.

“Ya.”

jawab Dokter Han.

“Mereka tidak bisa mengendalikan dia.”

Nayra langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.

Karena ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Kalau Aurora begitu berbahaya...

Kenapa perempuan itu memanggil namanya?

Kenapa terlihat begitu tenang?

Dan yang paling mengganggu—

kenapa Nayra merasa pernah melihat matanya?

Bukan di video.

Bukan di foto.

Tapi di suatu tempat.

Dalam mimpi.

Deg.

Sakit mendadak menyerang kepalanya.

“Ngh—”

“Nayra!”

Reina langsung menangkap bahunya.

Ruangan sedikit berputar.

Dan dalam sekejap—

sesuatu muncul di benaknya.

Ruangan putih.

Dingin.

Sunyi.

Seorang gadis duduk di balik kaca.

Rambut panjang.

Mata yang sama.

Aurora.

Dan suara lembut berkata—

"Jangan takut."

Deg!

Nayra langsung tersentak.

Napasnya memburu.

“Aku pernah lihat dia.”

Semua langsung menoleh.

“Apa?”

tanya Arsen.

“Aku pernah lihat dia.”

ulang Nayra.

“Dalam mimpi.”

Sunyi.

“Mimpi?”

ulang Zavian.

Nayra mengangguk.

“Sejak kecil.”

Tatapannya kosong.

“Aku selalu pikir itu cuma mimpi aneh.”

“Tapi sekarang…”

Deg.

“Itu dia.”

Ruangan kembali hening.

Karena tak ada yang tahu bagaimana menjelaskan hal itu.

Namun satu orang terlihat sangat terganggu.

Dokter Han.

“Tidak mungkin…”

gumamnya.

“Kenapa?”

tanya Reina.

Pria itu menatap Nayra.

Lama.

Sangat lama.

Lalu akhirnya berkata—

“Sinkronisasi.”

Deg.

Kata itu lagi.

Kata yang muncul di file Hyren.

“Kamu bilang proyek itu belum berhasil.”

kata Arsen.

“Belum.”

“Lalu?”

Dokter Han menelan ludah.

“Kalau Nayra bisa melihat Aurora…”

Tatapannya mulai gemetar.

“…berarti prosesnya mungkin sudah dimulai jauh sebelum mereka sadar.”

Sunyi.

Tidak ada yang suka arah pembicaraan ini.

Sama sekali.

Tiba-tiba—

alarm dari laptop Arsen berbunyi.

BIP!

Semua langsung menoleh.

“Apa lagi?”

gerutu Arsen.

Namun kali ini—

ekspresinya berubah.

“Ada sinyal.”

“Sinyal apa?”

tanya Nayra.

“Sumber video tadi.”

Deg.

Ruangan langsung hidup kembali.

“Kamu bisa lacak?”

tanya Zavian.

“Sebagian.”

Arsen mulai mengetik cepat.

Peta digital muncul.

Titik-titik bergerak.

Data terus mengalir.

Lalu—

sebuah lokasi muncul.

Di tengah pegunungan.

Tepat seperti dugaan mereka sebelumnya.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

“Kenapa lokasinya bergerak?”

tanya Reina.

Arsen membeku.

“...hah?”

Semua mendekat.

Dan benar.

Titik sinyal itu bergerak.

Pelan.

Namun jelas bergerak.

“Oke.”

Arsen mengusap wajah.

“Aku resmi nggak suka ini.”

“Kenapa?”

“Karena bangunan biasanya nggak jalan-jalan.”

Deg.

Sunyi.

Lalu perlahan—

Dokter Han terlihat seperti baru menyadari sesuatu.

“Tidak…”

bisiknya.

“Dokter?”

Pria tua itu menatap layar.

Matanya membesar.

“Itu bukan fasilitas.”

Deg.

“Apa?”

“Kalau koordinatnya benar…”

Suara Dokter Han terdengar nyaris tak percaya.

“…mereka ada di Ark.”

Ruangan langsung hening.

“Apa itu Ark?”

tanya Nayra.

Tak ada yang menjawab selama beberapa detik.

Lalu akhirnya—

Dokter Han berkata sesuatu yang membuat semua orang membeku.

“Laboratorium bergerak milik Founder.”

Deg.

“Laboratorium... bergerak?”

ulang Arsen.

“Ya.”

“Kamu bercanda?”

“Sayangnya tidak.”

Tatapan Dokter Han perlahan turun ke layar.

Dan wajahnya terlihat lebih takut daripada sebelumnya.

“Karena kalau mereka berhasil mengaktifkan Ark…”

Ia berhenti.

Lalu menatap Nayra.

“…maka Project Lazarus belum benar-benar berakhir.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Nayra merasa bahwa semua yang sudah mereka lalui selama ini...

mungkin baru permulaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!