NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Detak Ganjil di Meja Makan

​Pukul setengah tujuh pagi, kabut tipis masih menyelimuti halaman luas di The Bridle Path. Di dalam dapur bersih bernuansa marmer putih dan aksen emas, Aisya sudah berdiri di depan meja konter yang luas. Setelah menunaikan shalat subuh dan membaca wirid paginya, ia merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri di dalam kamar mewah itu.

​Maka, setelah meminta izin pada kepala pelayan paruh baya yang menyambutnya kemarin, Aisya memutuskan untuk membuat sarapan. Ia sudah mengenakan pakaian rumahannya—sebuah gamis kaos longgar berwarna biru tua—namun kali ini, karena berada di dalam rumah pribadi suaminya yang tertutup, ia memilih tidak mengenakan niqab, melainkan hanya khimar instan yang menutup dada. Kacamata bulatnya bertengger manis di pangkal hidung.

​"Nona Noir, Anda tidak perlu repot-repot—"

​"Ah, tidak apa-apa, Bibi," potong Aisya dengan senyuman tulus, menoleh pada kepala pelayan. "Saya biasa menyiapkan sarapan di rumah Paman. Saya hanya membuat pancake sederhana dan teh hangat."

​Aisya membalik pancake di atas teflon dengan gerakan lincah. Namun, dasarnya Aisya memiliki sedikit sifat ceroboh jika sudah terlalu fokus pada satu hal. Saat ia hendak mengambil piring saji beraksen kristal di rak atas, ujung jarinya tidak sengaja menyenggol botol sirup mapel kaca yang berada di tepi konter.

​"Eh—!" Aisya membelalak kaget. Refleks tubuhnya mencoba menangkap botol itu, namun kakinya justru tersandung ujung keset dapur yang terlipat.

​Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan. Aisya memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai marmer yang dingin. botol sirup mapel itu meluncur bebas dari atas meja.

​Set—!

​Bruk!

​Benturan yang Aisya takuti tidak pernah terjadi. Alih-alih lantai marmer yang keras, tubuhnya justru menabrak sesuatu yang kokoh, bidang, dan beraroma maskulin campuran kayu cendana serta mint yang sangat tajam. Sebuah lengan kekar berselimut kemeja satin hitam menangkap pinggangnya dengan sigap, menahan bobot tubuh Aisya hanya beberapa senti sebelum menyentuh lantai.

​Di saat yang bersamaan, tangan kanan pria itu bergerak secepat kilat di bawah, menangkap botol sirup mapel yang jatuh tepat satu jengkal sebelum menghantam lantai. Eksekusi yang mutlak dan tanpa cela.

​Aisya perlahan membuka matanya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Melalui lensa kacamata bulatnya yang sedikit bergeser miring akibat guncangan, wajah tampan Cassian Noir berada tepat di atasnya. Sangat dekat, hingga Aisya bisa merasakan embusan napas pria itu di keningnya.

​Cassian baru saja turun untuk mengambil kopi sebelum bersiap ke kantor. Ia tidak mengira akan mendapati pemandangan dapur yang riuh ini. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata jernih Aisya. Tanpa hijab panjang dan niqab yang biasa menyembunyikannya, wajah Aisya di pagi hari terlihat begitu bersinar, dengan pipi yang mendadak merona merah pekat seperti buah tomat yang matang.

​Cassian mematung selama beberapa detik. Ada desiran aneh dan ganjil yang mendadak menyengat dadanya saat merasakan betapa kecil dan ringkihnya tubuh gadis di pelukannya ini. Keharuman alami yang manis dari tubuh Aisya mendadak mengaburkan aroma kopi yang biasa ia puja setiap pagi.

​Sial, detak apa ini? batin Cassian, mendadak kesal pada reaksi tubuhnya sendiri yang tidak bisa dikontrol.

​"Kau..." Suara bariton Cassian terdengar lebih serak dari biasanya di pagi hari. "Bisa bertindak lebih hati-hati, Aisya?"

​Aisya yang baru tersadar dari syoknya seketika panik. Ia langsung membetulkan posisi kacamatanya dengan canggung, berusaha berdiri tegak sambil melepaskan diri dari cekalan tangan Cassian. "Ma-maaf, Cassian! Aku tidak sengaja... kakiku tersandung keset. Maaf membuatmu repot!"

​Cassian menegakkan tubuhnya kembali, meletakkan botol sirup mapel ke atas konter dengan ketukan pelan. Ia merapikan lengan kemeja hitamnya, berusaha mengembalikan raut wajahnya yang sedingin es, meski matanya sempat mencuri pandang ke arah rambut hitam Aisya yang terikat rapi di balik khimarnya.

​"Dapur ini bukan tempat bermain. Jika kau butuh sesuatu, biarkan pelayan yang melakukannya," ujar Cassian datar, kembali memasang topeng dinginnya yang angkuh. Namun, alih-alih langsung pergi ke ruang kerja seperti biasanya, Cassian justru menarik salah satu kursi di meja makan pulau tengah. "Kau membuat pancake?"

​"Ah... iya," sahut Aisya gugup, jemarinya saling bertautan di depan dada. "Hanya pancake biasa."

​"Sajikan untukku. Aku tidak punya banyak waktu pagi ini," perintah Cassian, matanya beralih menatap layar tabletnya, berpura-pura sibuk memeriksa pergerakan saham korporasi demi menutupi kecanggungan asing yang masih tertinggal di indra perasanya.

​Aisya menggigit bibir bawahnya, mencoba meredakan debaran jantungnya yang masih berpacu liar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menata tiga tingkat pancake hangat di atas piring kristal, menyiramnya dengan sirup mapel yang hampir pecah tadi, lalu meletakkannya di hadapan Cassian bersama secangkir teh.

​Saat Cassian memotong pancake itu dan menyuapkannya ke dalam mulut, Aisya diam-diam memperhatikannya dari balik konter. Ada rasa hangat yang membuncah di hati gadis naif itu. Ia merasa, momen kecerobohannya tadi justru membawa mereka satu langkah lebih dekat sebagai sepasang suami istri yang nyata.

​Aisya yang malang. Ia tidak tahu bahwa pria yang sedang mengunyah pancake buatannya dengan tenang itu adalah orang yang sama yang malam nanti akan menggunakan dokumen pernikahan mereka untuk memicu badai terbesar di Toronto, meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar sepi ini sebagai pion yang sukses menjalankan tugasnya.

Bab 31: Detak Ganjil di Meja Makan (Bagian 2)

​Suasana di meja makan pulau tengah itu mendadak menjadi area paling sunyi di seluruh mansion. Hanya terdengar denting halus perak pisau dan garpu Cassian yang beradu dengan piring kristal.

​Aisya berdiri agak menjauh di dekat tempat pencucian piring, berpura-pura sibuk mengelap konter marmer yang sebenarnya sudah bersih berkilap. Namun, melalui sudut matanya dan dari balik lensa kacamata bulatnya, ia tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah suaminya.

​Cassian Noir yang legendaris, yang biasanya hanya ia lihat di potongan artikel berita bisnis digital dengan setelan jas formal tiga lapis yang kaku, kini duduk di hadapannya hanya dengan kemeja kancing atas terbuka. Rambut hitam pria itu bahkan sedikit berantakan—tidak seklimis biasanya—memberikan kesan maskulin yang jauh lebih mentah dan... nyata.

​Nyam—

​Cassian mengunyah potongan pancake kedua dengan gerakan elegan yang lambat. Sisi lidahnya yang terbiasa mengecap hidangan koki bintang lima di Toronto mendadak harus menerima kombinasi rasa mentega rumahan dan sirup mapel yang manisnya pas. Sederhana, tapi entah mengapa, terasa sangat pas di lidah paginya.

​"Bagaimana... rasanya?" tanya Aisya akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang teramat pelan dan ragu. Ia meremas kain lap di tangannya, bersiap jika pria sekelas Cassian akan mengkritik masakan rumahannya yang seadanya.

​Cassian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan garpunya, lalu mendongak, menatap Aisya yang sedang memandangnya dengan raut cemas yang sangat kentara.

​"Terlalu manis," bohong Cassian datar. Padahal, piring di hadapannya sudah hampir kosong bersih. "Tapi cukup bisa diterima untuk mengganjal perut sebelum rapat pleno."

​Mendengar itu, sepasang mata bulat Aisya langsung berbinar lega. Sebuah senyuman manis terkembang di wajahnya, membuat kedua pipinya yang bulat tampak menggemaskan. "Alhamdulillah. Kalau begitu, habiskan saja, Cassian. Di teflon masih ada beberapa potong lagi jika kau kurang."

​Cassian menatap senyuman tulus tanpa beban itu dengan pandangan yang mendadak menggelap. Ada rasa tidak nyaman yang kembali mencubit hatinya. Rasa tidak nyaman yang lahir dari sebuah kesadaran bahwa ia sedang menikmati ketulusan dari seseorang yang sebentar lagi akan ia hancurkan harapannya.

​Sialan. Kenapa aku harus peduli? batin Cassian menepis kasar pikiran itu. Sisi Noir-nya kembali mengambil alih. Ketulusan Aisya adalah modal utama agar skenario besok malam berjalan mulus. Semakin gadis ini percaya bahwa mereka adalah pasangan normal, semakin tenang dia di dalam rumah ini, dan semakin bersih jalur Cassian untuk mengeksekusi dokumen hukumnya tanpa intervensi.

​Cassian meneguk sisa kopi hitamnya hingga tandas, lalu bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang setinggi 193 cm seketika mendominasi ruangan, membuat Aisya yang hanya setinggi 150 cm harus mendongak penuh untuk menatapnya.

​"Aku harus pergi ke kantor sekarang," ujar Cassian sambil merapikan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Topeng suaminya yang hangat namun protektif kembali terpasang sempurna. "Kevin akan mengirimkan beberapa keperluan rumah tangga siang ini. Jangan keluar dari mansion sendirian. Mengerti?"

​Aisya mengangguk patuh dengan cepat, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun. "Iya, Cassian. Aku mengerti. Hati-hati di jalan."

​Cassian membalikkan tubuhnya, melangkah tegas meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi. Namun, begitu ia sampai di lorong depan dekat pintu utama di mana Kevin sudah menunggu dengan membukakan pintu mobil limusin hitamnya, Cassian mendadak menghentikan langkahnya.

​Ia menyentuh bagian tengah kemeja hitamnya—tepat di titik di mana tubuh mungil Aisya menabraknya beberapa menit yang lalu. Aroma manis khimar Aisya ternyata masih tertinggal di sana, samar namun memabukkan.

​"Tuan Cassian? Ada yang salah dengan kemeja Anda?" tanya Kevin menyadari gerak-gerik aneh bosnya.

​Cassian langsung menurunkan tangannya dengan cepat, wajahnya kembali bertransformasi menjadi sedingin es, tanpa emosi, dan penuh kalkulasi korporat.

​"Tidak ada," sahut Cassian dingin, melangkah masuk ke dalam mobil mewah tersebut. "Jalan, Kevin. Selesaikan berkas sipil pernikahan itu hari ini juga. Malam ini, kita pastikan dinasti Winston berlutut di bawah kaki kita."

​Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Toronto, Cassian menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Papan catur sudah siap, bidak sudah terkunci di dalam mansion, dan malam ini... badai besar yang sesungguhnya akan segera dimulai.

1
nur project
🫣🤫🤭 mereka butuh waktu berdua saja kk 🙂‍↔️😌🙂‍↕️
nur project
sabar kk sabar Cassian harus tobat dulu 😭🤣
nur project
tapi Aisya normal kk 150 botol yakult 😭 orang-orang diKanada-european tingginya 180 cm keatas wkkk ga jarang yang 190cm wkk😭
Ulvy Ahmad
honeymoon ya Thor Aisya dan cassian 🤣
Ulvy Ahmad
yang sabar aisya
Ulvy Ahmad
Aisya, teruslah berdoa untuk suamimu

semangat jg buat author nya 😍
Ulvy Ahmad
Aisya , please jgn dengerin omongan Julian dan Martha
Ulvy Ahmad
ngeselin si Martha 😏
Ulvy Ahmad
makin seru nih ceritanya
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
Ulvy Ahmad
suka SM sosok tuan noir
tegas dan bertanggung jawab
Ulvy Ahmad
lanjut thor yg banyak 😍
Ulvy Ahmad
keren cassian noir😍
Hatijah Cantik
Thor, hilangkan kecerobohan Aisya karna gak pernah ada orang celaka karna gamisnya , terlalu berlebihan.
nur project: Aisya ini anaknya clumsy yg sabar ya kaka insyaAllah baek2 aja Aisya 🤭😭
total 1 replies
Hatijah Cantik
kelamaan , jadi TDK sabar liat cassian jadi bucin
Hatijah Cantik
biarkan cassian melakukan keinginannya sampai dia merasa sakit hati dan kecewa karna ulahnya sendiri mempermainkan agama
Hatijah Cantik
bikin dia bucin ,Thor !
Hatijah Cantik
Thor tinggi Aisya jangan 150 dong , yg normallah 160 atau 165 , biar lebih natural biar ceritanya sesuai logika👍
Ulvy Ahmad
keren sii cara cassian melindungi Aisya
lanjut thor😍
Hatijah Cantik
semoga tdK ada mata mata tuan Alexander yg akan mengacaukan acara pas hari H .
Hatijah Cantik
membaca scene terakhir ......Ck.....Ck.....Ck kagum dgn argumen dan susunan kalimat tuan Noir ( tepatnya author ) 😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!